Herman Hanko
Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa (Rm. 5:12).
Introduksi
Satu bagian dari Firman Allah yang sangat penting bagi generasi kita adalah penghakiman berikut ini dari Kitab Suci: dosa tersebar di dalam segala sesuatu dan semakin lama semakin buruk.
Penghakiman ini sepenuhnya bertolak belakang dengan opini yang dimiliki oleh manusia yang belum dilahirkan kembali, yang dengan sombong menyebutkan serentetan pencapaiannya sendiri. Tetapi penghakiman ini juga bertolak belakang dengan kesimpulan yang diberikan oleh dunia gereja pada saat ini ketika gereja melakukan evaluasinya sendiri atas sejarah.
Evolusionisme adalah sebuah ajaran sesat yang optimistik, yang meyakinkan kita bahwa jalan perkembangan evolusioner selalu bergerak naik menuju kehidupan yang lebih baik. Kehidupan mungkin terkadang mengalami kemunduran, tetapi prediksi suram tentang masa depan, menurut mereka, adalah penyangkalan terhadap prinsip-prinsip teori mereka. Kepada koor optimisme ini, banyak pihak di dalam gereja menggabungkan suara mereka. Mereka yang berpegang pada teori anugerah umum berkeyakinan bahwa Allah dengan penuh anugerah mengekang dosa di dalam diri orang yang belum dilahirkan kembali sehingga mereka mampu melakukan kebaikan di hadapan Allah. Kebaikan yang mampu mereka lakukan ini memungkinkan orang-orang percaya untuk bergabung dengan orang-orang yang tidak percaya dalam menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik untuk hidup. Sebagian besar diskusi di rumah-rumah kita sementara anak-anak kita pergi ke perguruan tinggi adalah berkenaan dengan keabsahan bergabungnya orang-orang percaya dengan orang-orang yang tidak percaya dalam menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik dengan memerangi kejahatan-kejahatan dunia, dan berupaya menemukan dan menerapkan solusi-solusi bagi permasalahan sosial. Menurut para pendukung anugerah umum, dengan terlibat di dalam upaya yang luas ini seseorang adalah Calvinis yang sejati, dan dengan upayanya kerajaan Allah akan terealisasi di dalam dunia ini.
Postmilenialisme memiliki mimpi yang sangat mirip. Kita diberi tahu bahwa dengan pekerjaan yang penuh dedikasi oleh kaum Calvinis, secara bertahap prinsip-prinsip Kitab Suci, jika bukannya iman Reformed, akan meresapi setiap kelompok masyarakat dengan ragi Kitab Suci dan secara bertahap merealisasikan surga di bumi ini ketika dunia ditempatkan di bawah pemerintahan Kristus. Menolak posisi ini berarti menjadi seorang pesismis, seorang “Kristen kamikaze”—seperti ada tudingan orang terhadap saya—dan menjadi orang yang otaknya hanya dipenuhi surga sehingga tidak berguna di bumi.
Melawan semua pandangan ini adalah ajaran Alkitab bahwa dunia tidak akan menjadi semakin baik, tetapi, di dalam kenyataannya, justru menjadi semakin buruk. Juga tidak akan ada perubahan apa pun di dalam kemerosotan moralitas dunia yang cepat; sebaliknya, ketika dosa berkembang semakin parah, sejarah akhirnya akan memuncak di dalam satu manusia durhaka, Antikristus. Dengan demikian, Firman dari Allah kepada generasi ini bukanlah: “Pergilah keluar dan berusahalah untuk menyelesaikan berbagai pemasalahan sosial di dalam kehidupan ini.” Sebaliknya, Firman Allah kepada generasi ini adalah Firman di dalam Wahyu 18, sebuah pasal yang secara gamblang menggambarkan Injil tentang runtuhnya Babel:
Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya. Sebab dosa-dosanya telah bertimbun-timbun sampai ke langit, dan Allah telah mengingat segala kejahatannya (ay. 4–5).
Jika gereja memiliki satu perkataan untuk disampaikan kepada dunia yang sekarang, itu adalah perkataan Henokh sang pengkhotbah kuno, yang, menurut Kitab Suci, khotbahnya adalah ini:
Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya, hendak menghakimi semua orang dan menjatuhkan hukuman atas orang-orang fasik karena semua perbuatan fasik, yang mereka lakukan dan karena semua kata-kata nista, yang diucapkan orang-orang berdosa yang fasik itu terhadap Tuhan (Yud. 14–15).
Kebenaran Kitab Suci bukanlah bahwa dosa berkurang, tetapi bahwa dosa justru menjadi semakin buruk. Kebenaran ini vital bagi wawasan dunia Reformed kita.
Alasan-Alasan yang Salah untuk Optimisme
Ada optimisme yang begitu besar di dalam zaman kita mengenai masa depan planet kita. Jika ada orang yang menunjukkan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh generasi kita, solusi-solusinya bermunculan dengan cepat. Di dalam dunia yang tercabik-cabik oleh perang, PBB adalah sebuah lembaga yang kuat untuk perdamaian dan telah mencapai keberhasilan besar dalam mencegah terjadinya kehancuran akibat perang dunia yang lain. Kehidupan dijadikan semakin menyenangkan melalui kemajuan di dalam teknologi yang telah mengurangi beban kerja fisik dengan banyak mesin yang menggantikan kita dalam melakukan pekerjaan. Teknologi bukan hanya memberikan kepada kita banyak waktu luang, tetapi juga telah menghasilkan peralatan dan metode yang tidak terhitung banyaknya untuk mengisi waktu luang kita dengan hiburan dan waktu libur yang lebih panjang di lebih banyak tempat eksotis. Dunia medis terus maju dan semakin banyak penyakit yang bisa disembuhkan dengan keajaiban-keajaiban peralatan diagnostik dan perawatan yang dulu tidak terbayangkan. Komunikasi modern telah membuat dunia mengecil menjadi ukuran yang bisa kita kelola. Penjelajahan angkasa membuka batasan-batasan baru untuk ditaklukkan oleh sains. Berbagai permasalahan sosial tampak terselesaikan secara bertahap ketika gereja, sekolah, dan pemerintah mengambil tugas untuk menyembuhkan rasisme dan mendistribusi ulang kekayaan sehingga kemiskinan semakin menurun dan kejahatan bisa ditangkal.
Kita diberi tahu bahwa semua ini adalah sasaran-sasaran yang baik. Orang Kristen sejati tertarik dengan hal-hal ini dan dipanggil oleh Kitab Suci untuk bergabung dengan dunia non-Kristen untuk mengejar sasaran-sasaran ini. Dasar theologis untuk bekerja bersama dunia untuk kebaikan bersama ini diletakkan di dalam doktrin tentang anugerah umum dan postmilenialisme. Ada ruang bagi kerja sama dengan orang-orang fasik. Ada kemungkinan bahwa kaum Calvinis yang sejati bisa bergabung dengan orang-orang yang belum dilahirkan kembali, karena ada banyak kebaikan di luar sana dan mengabaikannya merupakan kebodohan. Bagaimanapun, apakah yang mungkin salah dari bekerja sama dengan sebuah organisasi seperti Right to Life untuk melenyapkan kejahatan aborsi? Apakah yang bisa salah dari bekerja sama dengan kelompok-kelompok anti-pornografi untuk mengenyahkan wabah buruk ini dari dunia? Bukankah berlawanan dengan semua yang namanya Kristen jika menolak untuk bergabung dengan sebuah organisasi yang sasarannya adalah membersihkan lingkungan di mana narkoba, kejahatan, dan pelacuran merajalela?
Jika ada orang yang menyisipkan ke dalam potret-potret optismistik tentang masa depan ini peringatan tentang pemanasan global, glasier yang menyusut, lingkungan yang tercemar, respons segera diberikan: Tetapi dengan kerja sama Anda yang rajin dengan kemajuan-kemajuan sains, kita bisa mengatasi permasalahan-permasalahan ini dan terhindari dari malapetaka.
Nah, seharusnya sudah jelas bahwa sebenarnya ada dua pertanyaan yang terlibat di dalam semua persoalan ini: Apakah pencapaian yang begitu hebat oleh sains dan teknologi merupakan bukti bahwa dunia sendiri menjadi semakin baik? Apakah orang-orang yang bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan besar ini benar-benar melakukan kebaikan, yaitu kebaikan di dalam pandangan Allah, kebaikan yang Allah perkenan? Apakah sasaran-sasaran mereka identik dengan sasaran-sasaran Allah dan rencana-rencana-Nya bagi ciptaan ini?
Kedua pertanyaan ini bisa dijawab jika kita memahami doktrin alkitabiah tentang perkembangan dosa.
Kebenaran-Kebenaran yang Mendasari Perkembangan Dosa
Seluruh konsep tentang perkembangan dosa harus dipahami di dalam konteks kebenaran-kebenaran tentang kerusakan total dan kedaulatan Allah.
Pertama, kita harus memperhatikan perihal kerusakan total ini.
Kitab Suci mengajarkan doktrin tentang kerusakan total. Artinya, Kitab Suci mengajarkan bahwa manusia natural, yang tidak memiliki anugerah, adalah manusia yang paling fasik. Ia tidak memiliki kualitas-kualitas yang memungkinkan penebusan menurut sudut pandang moral dan etis. Keadaannya sudah paling buruk secara moral. Tidak ada upaya manusia untuk memodifikasi doktrin ini yang bisa mengubah bahasa Kitab Suci yang sedemikian jelas dan tegas tentang hal ini.
Kerusakan total berarti dua hal. Di satu sisi, manusia natural tidak berkemampuan untuk melakukan apa pun yang menyenangkan dan diperkenan di dalam pandangan Allah. Setiap pemikiran, perkataan, dan perbuatan; setiap tindakan, yang internal maupun eksternal, adalah kejijikan yang dikutuk oleh Allah. Di sisi lain, yang manusia bisa lakukan dan memang lakukan hanyalah melawan Allah, merusak kebenaran-Nya, berupaya menggulingkan pemerintahan-Nya, dan menepis setiap perintah-Nya.
Kerusakan total juga berarti bahwa semua yang manusia lakukan adalah fasik karena seluruh naturnya (tubuh maupun jiwa) sudah korup dan rusak. Dari sudut pandang moral dan etis, menemukan kebaikan apa pun di dalam diri manusia adalah hal yang mustahil. Perkembangan dosa tidak berarti bahwa pada masa-masa sebelumnya manusia belum seburuk sekarang, tetapi karakter moralnya mengalami kemerosotan dengan berjalannya waktu. Sejak kejatuhannya ke dalam dosa di Firdaus, manusia telah rusak secara total dan akan terus demikian adanya sampai akhir zaman.
Poin kedua yang perlu disebutkan adalah bahwa Allah berdaulat secara mutlak atas semua yang terjadi di dalam ciptaan ini, termasuk dosa manusia. Artinya, Ia memegang kendali atas perkembangan dosa melalui providensi-Nya dan mengarahkan dosa untuk sasaran dan tujuan-Nya sendiri.
Kendali mutlak atas dosa ini berarti bahwa Allah mengekang dosa di dalam kehidupan orang fasik. Kitab Suci secara pasti mengajarkan tentang pengekangan atas dosa. Kitab Suci tidak mengajarkan tentang pengekangan atas dosa yang disebabkan oleh sikap Allah yang berkenan kepada kaum reprobat, dan Kitab juga tidak mengajarkan pemberian anugerah melalui operasi Roh Kudus di dalam hati kaum reprobat yang olehnya dosa dikekang. Tetapi di dalam providensi-Nya, Allah mengekang dosa. Ia melakukannya dengan beberapa cara. Ia mengekang dosa individu-individu dengan menentukan waktu di dalam sejarah dunia di mana mereka dilahirkan, dan juga keadaan-keadaan yang di dalamnya mereka dilahirkan. Ia mengekang kaum miskin dari melakukan dosa-dosa kaum berada. Ia mengekang warga negara dari melakukan dosa-dosa pejabat pemerintah. Ia mengekang orang-orang yang lahir sebelum Kristus dari melakukan dosa-dosa zaman modern kita. Nuh tidak mungkin bisa berbuat dosa yang melibatkan pesawat TV, radio, atau mobil; dan Constantine Agung tidak mungkin bisa berdosa dengan misil dan bom atom.
Lebih lanjut, Allah mengekang dosa melalui karakteristik-karakteristik pribadi seorang individu. Seorang ilmuwan yang brilian bisa berdosa menggunakan alat-alat yang sama sekali tidak diketahui oleh seorang pegawai toko kelontong. Seorang yang bertubuh kuat bisa berdosa dengan cara-cara yang tidak bisa dilakukan oleh seorang yang sakit-sakitan. Dan orang tua bisa dan memang berdosa dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh seorang anak.
Lebih lanjut, bangsa-bangsa juga dikendalikan di dalam ekspresi dosa mereka oleh providensi Allah. Cara-cara Hitler dan bangsa Jerman melakukan dosa tidak sama dengan cara-cara Kepulauan Britania melakukan dosa. Tiongkok melakukan dosa dengan cara-cara yang sangat berbeda dari Australia. Di dalam satu bangsa, dosa lebih dikekang dibandingkan di dalam bangsa yang lain. Dan Allah berdaulat atas semuanya.
Maka, ketika kita berbicara tentang perkembangan dosa, kita bukan berbicara tentang derajat-derajat kerusakan, dan kita juga bukan berbicara tentang berbagai perbedaan di dalam keadaan-keadaan kehidupan yang memungkinkan seseorang melakukan lebih banyak dosa di bandingkan orang lain. Tetapi kita berbicara tentang ekspresi dari natur berdosa di dalam kehidupan orang-orang, bangsa-bangsa, ras-ras, umat manusia. Dosa ini sendiri berkembang.
Perkembangan Organis Dosa
Judul bab ini adalah “Perkembangan Organis Dosa.” Apakah yang dimaksudkan oleh istilah “organis” di dalam kaitan ini?
Makna istilah ini adalah bahwa semua manifestasi dosa melalui umat manusia berkembang dari satu dosa akar. Dosa akar itu jelas adalah dosa pertama Adam dan Hawa di Taman Eden.
Ada cara-cara berbeda untuk mendeskripsikan dosa [pertama] itu, tergantung sudut pandang dari mana dosa itu dipikirkan. Contohnya, itu adalah dosa menaati Iblis alih-alih menaati Allah. Itu adalah dosa keangkuhan yang olehnya Adam memandang dirinya sendiri lebih bijaksana daripada Allah ketika ia harus memilih dari pohon mana ia akan makan. Itu adalah keinginan manusia untuk bisa menentukan sendiri apa yang benar dan apa yang salah. Di dalam hal tersebut, dengan menaati dusta Iblis, ia berhasrat untuk menjadi seperti Allah. Itu adalah dosa keinginan, yang menjadikan buah terlarang itu tampak begitu memikat. (1 Yohanes 2:16 mendeskripsikan dosa sebagai “keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup.”)
Tetapi yang paling mendasar adalah bahwa dosa di dalam Adam merupakan sebuah pilihan yang sadar dan sengaja untuk tidak lagi merepresentasikan Allah dan kemuliaan nama Allah di dalam ciptaan Allah, tetapi merepresentasikan Satan dan tujuan Satan di dalam dunia. Tujuan Satan mencobai Adam adalah membuat ciptaan menjadi kerajaan Satan sendiri di mana ia akan berkuasa sebagai raja yang berdaulat. Adam, yang mengetahui hal ini, menetapkan untuk bergabung dengan bala tentara neraka untuk membantu mereka mewujudkan tujuan mereka.
Semua dosa yang memanifestasikan dirinya di dalam umat manusia berkembang dari atau, lebih tepat lagi, merupakan perkembangan dari, satu dosa akar Adam itu. Kita harus menyadari ini. Jika kita memercayai tentang kerusakan total, kita juga memercayai bahwa setiap perbuatan manusia, tidak peduli seberapa hebatnya itu terlihat bagi kita dan tidak peduli seberapa bermanfaatnya itu bagi umat manusia, adalah dimaksudkan untuk mencapai tujuan Satan dan menjadikan ciptaan saat ini kerajaan Iblis. Manusia akan membantu Satan mengusir Allah dari dunia-Nya sendiri dan membawa ciptaan Allah ke dalam perbudakan dosa.
Bagaimana Dosa Berkembang
Satu bagian penting dari perkembangan dosa ini di dalam sejarah dunia adalah bahwa perkembangan ini selalu memiliki kaitan dengan “mandat budaya.” Apa yang disebut sebagai mandat budaya ditemukan di dalam Kejadian 1:28:
Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”
Secara umum, mandat budaya berarti bahwa Adam dan Hawa harus memenuhi bumi [dengan manusia-manusia keturunan mereka] dan berkuasa atasnya. Tetapi mereka harus melakukan itu dengan sebuah cara yang sedemikian rupa sehingga seluruh harta dan daya yang telah Allah tempatkan di dalam ciptaan harus digunakan untuk penikmatan oleh manusia dan kemuliaan bagi Allah. Atau, jika dinyatakan dengan cara yang berbeda, seluruh harta dan daya itu harus digunakan oleh manusia untuk memberikan segenap kemuliaan dan pujian kepada Allah, dan, dengan melakukan demikian, untuk menikmati hal-hal menakjubkan yang ada di dalam dunia milik Allah.
Kejatuhan manusia memiliki dampak drastis terhadap pelaksanaan mandat budaya. Panggilan ini tetap sama seperti sebelumnya, saat diberikan kepada Adam dan Hawa, tetapi pelaksanaan perintah Allah tersebut di dalam ciptaan yang sudah terkutuk karena dosa ini adalah jauh lebih sulit; dan manusia memelintir mandat budaya sehingga menggunakan ciptaan Allah beserta semua kuasa dan hartanya melayani Satan dan dosa.
Di sepanjang perjalanan sejarah dunia, manusia telah berupaya dengan rajin untuk menemukan harta-harta dan daya-daya yang telah Allah tempatkan di dalam ciptaan. Harta seperti besi, aluminium, rubi, berlian, perak, emas, dan banyak lainnya telah ditambang dari bumi. Daya angin dan air, panas dan dingin, listik dan atom, semuanya telah ditemukan dan digunakan sehingga semuanya ini sekarang melayani manusia.
Tetapi manusia yang berdosa tidak lagi memandang ciptaan sebagai dunia milik Allah, yang diberikan kepada manusia untuk memuliakan Dia. Manusia sekarang mengklaim ciptaan sebagai miliknya sendiri dan berkonspirasi dalam mengembangkan teori evolusi untuk membuktikan bahwa ciptaan adalah miliknya. Maka ia menggunakan semua yang telah ia temukan dan kembangkan untuk dirinya sendiri dan untuk melayani dosa. Secara mendasar, meskipun tidak selalu secara sadar, manusia sedang bekerja untuk mendirikan kerajaan Satan. Sasarannya adalah mendirikan di dalam dunia ini sebuah kerajaan yang atasnya Satan memerintah sebagai yang tertinggi dan manusia bisa melakukan apa pun yang ia inginkan tanpa harus menghadapi konsekuensi-konsekuensi dari dosanya. Setiap penemuan akan daya lain di dalam ciptaan dan setiap perkembangan di dalam sains dan industri terjadi di bawah kuasa manusia untuk digunakan sesuai kemauan manusia.
Keinginan untuk menjadikan ciptaan sebagai miliknya sendiri juga menjelaskan upaya-upaya manusia untuk membangun rumah sakit, panti asuhan, panti jompo, tempat penampungan bagi tuna wisma; dan ini adalah alasan mengapa manusia berusaha mati-matian untuk membereskan persoalan-persoalan sosial yang menimpa umat manusia dan penyakit-penyakit yang menyeret manusia ke dalam kubur. Ia menginginkan sebuah kerajaan yang di dalamnya semua dampak dari kutuk itu terhapus, semua kejahatan dunia lenyap, dan sebuah kerajaan di mana ia bisa berdosa menurut keinginan hatinya dan tetap menikmati kehidupan ini sepuas-puasnya.
Seiring ditemukannya daya-daya baru di dalam ciptaan dan aplikasi-aplikasi baru dari daya-daya ini, manusia mendapatkan cara-cara baru untuk mengekpresikan kerusakan hatinya. Contohnya, meskipun mengkhawatirkan terjadinya kehamilan, yang sebelumnya menjadi pencegah terhadap tindakan percabulan, sekarang dengan tersedianya aborsi yang “aman” dan metode-metode pengendalian kelahiran secara mudah dan legal, manusia dimungkinkan untuk berkanjang di dalam semua hawa nafsu kedagingannya yang berdosa tanpa perlu, demikian menurutnya, mengalami konsekuensi-konsekuensinya. Ya, memang ada penyakit-penyakit yang ditularkan secara seksual, tetapi medis modern juga menemukan obat-obat untuk penyakit-penyakit itu atau cara-cara untuk bisa terhindar dari penularan. Maka imoralitas menjadi begitu merebak sehingga banyak pernikahan menjadi hancur, kehidupan rumah tangga menjadi rusak, dan anak-anak menjadi korban dengan cara yang tidak terbayangkan. Tetapi bahkan keadaan-keadaan ini pun bisa dibereskan: akses bebas kepada perceraian dan pernikahan kembali, penyediaan bantuan bagi anak-anak, pengasuhan negara atas anak-anak yang ditinggalkan, tunjangan kesejahteraan bagi mereka yang membutuhkan—semuanya adalah alat yang dipikirkan untuk menyediakan jalan bagi dosa yang tidak terkekang.
Jika pada masa-masa sebelumnya ekpsresi dosa secara eksternal bisa ditekan karena penemuan-penemuan modern belum tersedia bagi manusia, sekarang ini televisi, radio, dan internet, telepon seluler dan semua bentuk komunikasi yang cepat dan menjangkau seluruh dunia telah membuka pintu-pintu bagi dosa-dosa yang tidak pernah terpikirkan di masa kecil saya.
Apakah dunia ini menjadi semakin baik? Apakah kejahatan menurun? Apakah permasalahan perang terselesaikan? Apakah kehidupan keluarga menjadi stabil? Apakah persoalan-persoalan sosial sedang diselesaikan dengan berhasil? Apakah manusia saat ini lebih mencintai sesamanya dibandingkan seratus tahun yang lalu? Tidak terhitung banyaknya mimpi para pekerja kerajaan Kristus di dalam dunia ini yang sirna menjadi asap di hadapan kenyataan-kenyataan kehidupan. Manusia perlu berjalan melalui kehidupan dengan mata tertutup ketika melewati kuburan, rumah sakit, panti perawatan bagi orang pikun, keluarga yang hancur, dan kerusakan di setiap lapisan masyarakat, untuk bisa berkata, “Setiap hari kita menjadi semakin baik, dan utopia sudah begitu dekat.” Mandat budaya sedang dilaksanakan, tetapi dengan setiap kemajuan yang kita capai dalam melaksanakannya, kita satu langkah lebih dekat dengan kekacauan moral.
Penilaian saya adalah bahwa kerajaan Antikristus akan begitu berhasil memberi lapisan mengilap yang menutupi persoalan-persoalan dan dosa-dosa dunia sehingga Satan bisa mengklaim, secara cukup meyakinkan, bahwa ia telah berhasil (di mana Kristus diduga telah gagal) untuk membawa surga ke atas bumi. Di dalam kerajaan itu semua daya di dalam dunia milik Allah ini akan sudah ditemukan dan digunakan, semua pengimplementasian daya-daya akan sudah direalisasikan, dan tidak ada lagi yang tersisa untuk dilakukan oleh sains. Dunia sudah akan tercapai. Tetapi saat itu cawan kesalahan akan sudah terisi penuh dan dunia akan matang untuk penghakiman.
Dosa terakhir dari dunia yang fasik adalah penganiayaan terhadap orang-orang percaya. Di sepanjang sejarah, kaum fasik telah menganiaya gereja, tetapi telah terkekang oleh kesibukan mereka dengan berbagai penemuan dan penyelesaian bagi permasalahan-permasalahan sosial. Tetapi ketika kerajaan Antikristus terealisasi, dan kaum fasik meyakini bahwa mereka telah mencapai sasaran tertinggi mereka, mereka bisa mengalihkan seluruh perhatian mereka kepada gereja. Jika mereka ingin menjadikan dunia ini kerajaan Satan, mereka harus menghancurkan gereja sehingga kesaksian gereja dibungkam.
Tetapi itu adalah dosa tertinggi, dosa yang tiada bandingnya. Gereja adalah mempelai perempuan Kristus, kekasih-Nya, orang-orang yang baginya Ia telah mencurahkan darah-Nya, yang keselamatannya adalah tujuan dari kekuasaan-Nya yang berdaulat atas seluruh sejarah. Ketika kaum fasik melecehkan, memulitasi, dan memukuli mempelai perempuan-Nya, apakah Anda pikir Ia akan tetap tinggal diam? Murka-Nya terhadap kaum fasik akan diluapkan di dalam penghakiman yang mengerikan yang telah Ia siapkan bagi orang-orang yang memenuhi cawan kesalahan itu. Kaum fasik telah mengepresikan natur mereka yang rusak dengan semua cara yang mungkin, dan tidak ada lagi yang tersisa selain membinasakan mereka.
Cara-Cara Lain Dipenuhinya Cawan Kesalahan Itu
Tetapi ada cara-cara lain yang dengannya cawan kesalahan ini dipenuhi. Allah itu berdaulat dan bahkan perkembangan dosa ada di bawah kendali-Nya.
Kita harus mengingat bahwa di sepanjang sejarah, Injil sedang diberitakan. Dan meskipun gereja palsu merusak Injil, gereja sejati memberitakan dengan nyaring dan jelas bahwa dunia yang fasik tidak berkuasa atas ciptaan, tetapi bahwa ciptaan ini adalah milik Allah, bahwa ciptaan ini harus digunakan bagi kemuliaan Allah, dan bahwa Kristus akan datang untuk menyelamatkan ciptaan Allah dari cengkeraman kaum fasik dan Ia melakukan ini dengan menghancurkan mereka dan rencana-rencana fasik mereka.
Tetapi kaum fasik menghina Injil itu dan menolaknya dengan keangkuhan mereka. Tetapi Injil adalah kuasa untuk mengeraskan sekaligus untuk menyelamatkan. Dan ketika kuasa Injil untuk mengeraskan itu bekerja, kefasikan manusia bertambah. Kebenciannya terhadap Injil dan semua hal yang berkaitan dengan Kristus menjadi semakin jelas. Anda tahu bagaimana kesaksian akan kebenaran kepada orang yang menolak kebenaran akan menambah penolakannya secara proporsional terhadap kesaksian Anda yang selanjutnya, sampai kemarahannya tidak lagi tertahankan. Pengerasan itu juga merupakan perkembangan dari dosa.
Lebih lanjut, sudah jelas dari Roma 1:18–32 bahwa Allah menghukum dosa dengan lebih banyak dosa. Dosa penyembahan berhala, menurut Roma 1, adalah dosa yang Allah hukum dengan homoseksualitas. Allah menyerahkan mereka kepada kejijikan dosa najis itu sebagai hukuman atas ketidaktaatan mereka. Penggunaan narkotika, penggunaan alkohol yang berlebihan, percabulan yang berulang-ulang—semuanya ini, dan masih banyak lagi yang lainnya, membawa kepada dosa-dosa yang jauh lebih besar ketika Allah menyerahkan orang berdosa kepada dosanya.
Di dalam kaitan dengan pendirian menara Babel, kita membaca:
Lalu turunlah TUHAN untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu, dan Ia berfirman: “Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana” (Kej. 11:5–6).
Pengacauan bahasa-bahasa adalah pengekangan Allah terhadap dosa. Tujuan-Nya adalah mencegah terbentuknya kerajaan Antikristen secara prematur, karena di dalam kerajaan itu “tidak ada apa pun yang akan dikekang” (Kej. 11:6, KJV) dari manusia. Tetapi ketika kerajaan itu akhirnya berdiri, sungguh tidak ada lagi apa pun yang akan dikekang dari manusia yang fasik. Dosa menyembur dari sumber yang rusak seperti kotoran dari toilet. Dosa mencapai puncaknya yang mengerikan.
Tujuan Allah di dalam Perkembangan Dosa
Seperti yang telah saya tekankan dengan sungguh-sungguh dari awal, Allah itu berdaulat dan melakukan semua yang dikehendaki-Nya. Ia secara berdaulat menentukan perkembangan dosa. Apakah tujuan Allah di dalam hal ini?
Ketika dosa berkembang di dalam kengerian dan intensitasnya, kepenuhan kejahatan dari hati manusia yang berdosa ditunjukkan. Manusia bisa mengenakan kedok kesalehan dan mengklaim dirinya religius, dan sebagai bukti untuk agama mereka, mereka menunjukkan perhatian mereka terhadap kaum yang lemah, yang tertindas, yang miskin dan menderita. Mereka menunjukkan belas kasihan terhadap orang-orang yang menderita dan pengertian mereka akan orang-orang yang berduka. Tetapi semuanya ini hanya dimaksudkan untuk mencapai sasaran-sasaran mereka sendiri yang fasik dan membangun penampilan persaudaraan manusia yang sejati di dalam dunia.
Tetapi Allah merenggut kedok kesalehan mereka yang munafik itu, dan menunjukkan seperti apa sebenarnya natur yang rusak yang dimiliki oleh manusia yang jahat. Ketika dosa berkembang, manusia diserahkan kepada dosa yang semakin besar sampai, di dalam perlawanannya terhadap Allah dan semua yang menjadi bagian dari kerajaan Kristus, manusia tidak lagi memiliki cara lain untuk mengekspresikan dosanya. Manusia telah menunjukkan betapa fasik dirinya sebenarnya.
Allah memastikan bahwa ini akan terlaksana, sehingga ketika penghakiman tiba dan kaum fasik dengan semua pekerjaan mereka dihancurkan, Ia terbukti sebagai yang benar. Penghakiman di akhir zaman adalah theodise—pembenaran (justifikasi) bagi Allah di dalam semua yang Ia lakukan. Neraka adalah tempat yang menakutkan: keterasingan kekal dari Allah, penderitaan kekal. Tetapi tidak seorang pun bisa mengatakan bahwa hukuman itu terlalu berat, melampaui proporsi kejahatannya, dan bahwa Allah tidak adil dalam membinasakan kaum fasik. Bahkan kaum fasik sendiri akan mengakui bahwa mereka memang pantas menerima [hukuman itu], dan setiap lutut akan bertelut dan mengaku bahwa Kristus adalah Tuhan yang adil (Flp. 2:10–11).
Tetapi Sion ditebus melalui penghakiman (Yes. 1:27). Melalui penghakiman-penghakiman atas kaum fasik ini, orang-orang yang setia kepada kovenan Allah dilepaskan dari semua kefasikan yang ada di dalam dunia yang rusak. Mereka sendiri, yang takjub dengan keajaiban salib Kristus yang telah menyelamatkan mereka dari kengerian hukuman ini, akan melihat kebesaran anugerah dari Allah yang mahakuasa yang ditunjukkan kepada mereka. Mereka akan bersukacita di dalam Kristus mereka dan memuji Allah mereka yang dengan penuh anugerah memberi mereka ciptaan baru, di mana kemuliaan Allah akan melingkupi bumi seperti air yang menutupi dasar laut (Yes. 11:9; Hab. 2:14).
Lalu, apakah Firman dari Allah bagi angkatan ini? Kepada kaum fasik, inilah Firman dari Allah:
Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya, hendak menghakimi semua orang dan menjatuhkan hukuman atas orang-orang fasik karena semua perbuatan fasik, yang mereka lakukan dan karena semua kata-kata nista, yang diucapkan orang-orang berdosa yang fasik itu terhadap Tuhan (Yud. 14–15).
Tetapi kepada mereka yang percaya kepada Kristus, Firman dari Allah adalah, “Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya” (Why. 18:4).
Untuk bahan-bahan lain dalam bahasa Indonesia, klik di sini.

