Herman Hanko
Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka (1Tim. 6:8–10).
Introduksi
Peristiwa-peristiwa di dunia cenderung menunjukkan bagaimana orang-orang sepenuhnya dikuasai oleh uang. Ketika para teroris membajak dua pesawat American Airlanes dan menabrakkannya ke Twin Tower di New York City, seorang komentator, yang jelas tampak berduka, berkata, “Hancurlah sudah simbol-simbol seluruh Amerika.” Ia lebih jujur daripada yang diduga. Ketika pasar saham terjun bebas beberapa tahun yang lalu, seorang analis memberikan pernyataan ini: “Ada dua emosi yang mendorong pasar saham: ketika ketakutan terhadap kerugian moneter menguasai, pasar merosot; ketika ketamakan menguasai, pasar meningkat.”
Kitab Suci menunjukkan kepada kita arah yang sama dengan komentarnya yang tegas: “Akar segala kejahatan ialah cinta uang” (1Tim. 6:10). Dan Yesus membuat hati pemimpin muda yang kaya dipenuhi kesedihan ketika Ia menunjukkan ketamakan pemuda itu: “Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga” (Mrk. 10:17–22). Pemimpin muda yang kata itu sangat sungguh-sungguh dengan pertanyaannya: “Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Dan ia tidak berbohong ketika Yesus mengarahkan dia kepada Taurat dan ia merespons: “Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi ia menuruti semua perintah ini hanya di dalam perbuatan eksternalnya (jasmaniahnya), dan itulah sebabnya Yesus menunjukkan kepadanya satu dosa besar yang telah ia lakukan: dosa ketamakan. Karena ketamakan adalah pelanggaran terhadap perintah kesepuluh yang menuntut kesempurnaan internal (batiniah) dari hati.
Ketika saya berbicara tentang orang percaya Reformed dan uang, tentu saja saya merujuk kepada harta yang seseorang miliki di bumi, tidak peduli seberapa sedikit atau banyak yang mungkin mereka miliki. Harta itu mencakup hal-hal di bumi yang kita semua miliki dengan berlimpah. Itu adalah hal-hal yang Paulus peringatkan agar tidak kita kejar: “perkara (hal-hal) … yang di bumi,” yang dikontraskan dengan “perkara (hal-hal) yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah” (Kol. 3:1–2).
Apa yang Kitab Suci katakan tentang uang adalah satu Firman dari Allah yang perlu kita dengarkan pada masa kita saat ini yang sedang mengalami kemakmuran; tetapi itu adalah satu Firman dari Allah yang jarang kita perhatikan dengan sungguh-sungguh; dan kalaupun kita memperhatikannya, kita melakukan itu dengan enggan hati; sungguh, itu adalah satu Firman yang kita coba hindari dengan berbagai alasan. Ketika waktu berlalu dan kita mendekati akhir zaman, menurut saya Allah berkehendak untuk menjauhkan kita dari keterpakuan kita yang penuh kedagingan pada harta di bumi dengan mengambil harta itu dari kita. Dan dengan demikian pertanyaannya menjadi sangat serius: Ketika waktunya tiba, apakah kita akan rela berpisah dari harta itu? Maka itu akan menjadi sebuah pilihan yang jelas: harta milik Anda ataukah Kristus; yang satu atau yang lain; tidak bisa kedua-duanya!
Status Kita di dalam Dunia sebagai Orang-Orang Percaya
Firman Allah kepada kita pada masa kita saat ini tiba kepada kita sebagai orang-orang percaya; dan ketika Firman Allah itu menyangkut hubungan kita dengan harta di bumi, Firman mempresuposisikan sebuah status tertentu yang kita miliki di dalam dunia, atau apa yang mungkin kita sebut sebuah posisi tertentu di dalam sejarah ciptaan ini. Kitab Suci dengan paling jelas mendeskripsikan relasi itu dengan memberi tahu kita bahwa kita adalah para perantau dan orang asing di dalam dunia ini, sebuah sebutan yang menjadi sudut pandang utama dari surat kanonis pertama dari Petrus. Di dalam surat itu, ia membahas persoalan tentang bagaimana orang-orang percaya harus hidup sebagai perantau dan orang asing di dalam semua hubungan yang ada di dalam kehidupan: di dalam pemerintahan, di dalam masyarakat, di dalam penganiayaan, dan di dalam ujian-ujian kehidupan.
Petrus membahasnya dengan menjelaskan bahwa karena kita adalah perantau dan orang asing di bumi, kita hidup menurut prinsip pengharapan. Artinya, di dalam perantauan kita sebagai orang asing di sebuah tanah asing, satu kebajikan Kristen yang harus menguasai kehidupan kita adalah keinginan kita yang besar untuk pulang ke rumah. Pengharapan yang mencirikan seorang perantau dan orang asing rohaniah bukanlah hanya emosi yang berubah-ubah; itu adalah satu cara kehidupan yang menyeluruh. Pengharapan ini, pada dirinya sendiri, adalah sebuah wawasan dunia-dan-kehidupan karena pengharapan ini menentukan hubungan-hubungan kita dengan segala sesuatu di dalam dunia, termasuk uang.
Kita dulu adalah bagian dari dunia ini (1Ptr. 4:3–4), karena kita dilahirkan di dalam dosa dan tidak bisa terlepas dari kerusakan orang tua pertama kita yang telah memengaruhi seluruh kehidupan. Tetapi kehidupan ada di bawah kendali dan arahan Satan, karena pencobaannya terhadap Adam dan Hawa di Firdaus dimaksudkan untuk menarik Adam dan seluruh umat manusia menjadi raja-raja di dalam ciptaan, bukan di bahwa pemerintahan Allah, tetapi di bawah pemerintahan Satan sendiri. Di dalam rencana ini, tujuan Satan adalah mencuri ciptaan Allah dari Allah, dan menjadikan ciptaan itu kerajaan kegelapan dan dosa miliknya sendiri.
Tetapi tujuan Allah lebih tinggi dan lebih luar biasa daripada mendapatkan kemuliaan bagi-Nya di dalam Firdaus pertama. Tujuan-Nya adalah memuliakan diri-Nya melalui Adam kedua sebagai Tuhan dan Raja atas segenap ciptaan Allah. Itulah sebabnya Allah menjangkau ke dalam kerajaan Satan yang celaka dan fasik ini, dan, dengan pekerjaan regenerasi dan panggilan yang efektual, mengubah kaum pilihan milik-Nya secara radikal dan fundamental, sehingga mereka ditarik keluar dari arus sejarah yang busuk dan dijadikan partisipan di dalam perkembangan kerajaan Kristus.
Tetapi mereka dibiarkan berada di dalam dunia di sepanjang sejarahnya sehingga mereka selalu bisa menjadi umat di bumi ini yang merepresentasikan kerajaan Kristus, bukan kerajaan Satan seperti yang dulu mereka lakukan. Mereka dipanggil untuk berseru sekuat kemampuan mereka: “Bukan Satan yang memerintah, tetapi Kristus. Kerajaan Satan tidak akan menang, tetapi kerajaan Kristus bertahan untuk selama-lamanya. Ciptaan ini bukan kekuasaan Satan, tetapi ciptaan milik Allah, karena Ia yang menciptakannya. Ia menopangnya dengan providensi-Nya; Ia akan memuliakannya.”
Keajaiban regenerasi ini membuat orang-orang yang memiliki kehidupan baru dari Kristus menjadi perantau dan orang asing di bumi. Kita harus memikirkannya seperti ini: Kita berasal dari sebuah negeri lain di mana rumah kita berada dan surat-surat kewarganegaraan kita berasal. Kita adalah anggota-anggota dari keluarga Allah dan Sudara sulung kita berada di dalam surga. Maka, kita berada di dalam satu perjalanan di dalam dunia ini. Kita tidak memiliki rumah di sini, karena rumah kita berada di dalam surga. Kita berada di dalam perjalanan melintasi jalur di mana kita ditempatkan ketika kita dipanggil dari kegelapan ke dalam terang. Tujuan perjalanan itu adalah apa yang John Bunyan namakan di dalam Pilgrim Progress sebagai “Kota Langit.” Penyair lama memang benar: “Dunia ini bukanlah rumahku, aku hanya melewatinya.” Maka, hal penting sesungguhnya yang menjadi perhatian kita bukanlah hal-hal dari dunia ini, tetapi hal-hal dari rumah kita. Kita hanya berdiam di dalam kemah. Kita harus berhati-hati agar tidak menancapkan patok-patok tenda kita terlalu keras ke dalam tanah, karena karena kita masih harus melanjutkan perjalanan di keesokan hari. Kita juga tidak mengetahui kapan perjalanan kita akan mencapai akhir; tetapi kita tidak takut atau berkecil hati. Karena pada saat itu kita akan sampai di rumah.
Kita, sebagai perantau, adalah juga orang asing. Ini seolah-olah kita tinggal bersama orang-orang lain di rumah mereka, yang tidak pernah menjadi rumah kita. Terkadang kata “perantau” diterjemahkan sebagai “penumpang.” Bahasa Belandanya adalah bijwoner, yaitu orang yang hidup dengan sejumlah orang lain tetapi tidak secara aktual menjadi bagian dari keluarga itu. Rumah di mana ia tinggal untuk sementara waktu (dan inilah yang membuat kehidupannya di dalam rumah ini begitu berbahaya) sebenarnya adalah milik Tuhan dan Rajanya. Dan yang terburuk dari hal ini adalah bahwa perantau ini berkewajiban untuk memberi tahu keluarga yang tinggal di sana bahwa rumah ini bukan sungguh-sungguh milik mereka, melainkan milik Sang Raja yang negeri-Nya diwakili oleh si perantau; dan itulah sebabnya si perantau memiliki hak penuh untuk tinggal di sana.
Tetapi orang-orang yang tinggal di sana tidak akan mengakui bahwa rumah itu bukan milik mereka, dan mereka menjadi sangat marah ketika terus-menerus diberi tahu tentang itu. Tetapi cara hidup perantau Kristen berbeda total dari orang-orang yang tinggal di sana, sehingga ia sungguh-sunguh menjadi seorang asing di rumah yang adalah miliknya sesuai haknya. Orang-orang yang tinggal di sana berbicara dengan bahasa yang asing, memakan makanan yang asing dan memuakkan, menikmati hal-hal dan pengalaman-pengalaman yang sepenuhnya menjijikkan bagi perantau milik Alah, memiliki perangkat nilai yang bertolak belakang dengan orang asing yang malang ini, dan hidup demi alasan-alasan yang berbeda yang tidak bisa dipahami oleh perantau milik Allah.
Di sisi lain, karena ciptaan ini bagaimanapun adalah kerajaan milik Tuhan Kristus, yang mereka layani, mereka dipanggil untuk menggunakannya sejauh kemampuan mereka untuk memberi manfaat bagi Raja mereka. Di sinilah Kitab Suci memberikan konsep tentang penatalayanan. Seorang penatalayan adalah pengurus harta milik tuannya, tetapi harta itu tidak pernah miliknya; semuanya tetap milik Tuannya. Akan tetapi, penatalayan mengurus semua harta itu demi keuntungan Tuannya, dan bukan demi keuntungan dan kesenangan dirinya sendiri. Hal ini menempatkan dia pada posisi yang canggung di dalam dunia, dan sebagian besar kehidupan perantauannya di dalam dunia digunakan untuk memikirkan bagaimana menggunakan bagian dari dunia milik Allah yang ia sebut sebagai miliknya itu demi keuntungan Tuannya.
Sejumlah pihak di dalam sejarah gereja telah mengatakan bahwa cara terbaik untuk memecahkan masalah ini adalah meninggalkan segala sesuatu yang ada di dunia dan memegang nazar kemiskinan dan kesucian. Pendapat ini bukan hanya dikutuk oleh Kitab Suci, tetapi Kitab Suci juga mengatakan bahwa ajaran iblis ini diajarkan oleh roh-roh penyesat dan mereka yang meninggalkan kebenaran (1Tim. 4:1).
Pihak-pihak lain, yang sama menyimpangnya, mengklaim bahwa kemakmuran terjamin hanya jika kita menjadikan Kristus sebagai Raja kita. Mereka memberitakan “injil kemakmuran.” Sungguh meresahkan bahwa pemikiran-pemikiran jahat seperti ini ditemukan di antara orang-orang percaya Reformed. Betapa cepatnya kita menyamakan harta di bumi dengan berkat Allah, ketiadaan harta sebagai tanda tidak berkenannya Allah. Sungguh, kita bisa begitu salah di dalam keegoisan kita.
Jadi, sebagai ringkasan, kita harus memberikan poin-poin berikut. Tuhan di dalam Kristus telah bermaksud membuat rumah kita di surga, bukan di bumi ini. Di dalam rumah itu, kita akan melihat Yesus muka dengan muka, hidup di dalam persekutuan kovenan dengan Allah melalui Kristus, hidup untuk selamanya di dalam persekutuan penuh dengan keluarga Allah secara terbebas dari dosa, dan menikmati keteberkatan yang penuh dan utuh yang berlawanan dengan kehidupan kita di dalam dunia ini.
Oleh keajaiban regenerasi, kita dijadikan warga kerajaan surgawi itu sementara kita masih berada di dalam dunia ini. Oleh karena itu, kita bukan berasal dari dunia ini, meskipun kita masih berada di dalam dunia ini. Kita tidak memiliki kota yang tetap di sini, melainkan kita mencari satu kota di atas sana.
Namun kita berada di dalam dunia untuk merepresentasikan tujuan Allah di dalam kesaksian kita, termasuk juga di dalam kehidupan kita. Kita harus bersaksi untuk fakta bahwa seluruh ciptaan ini adalah milik Allah, bahwa pencuri dan perampok yang mengklaim bahwa ini adalah dunia milik mereka akan dihakimi oleh Kristus sendiri, bahwa kerajaan-kerajaan dunia akan menjadi kerajaan Allah kita dan Kristus-Nya, dan bahwa kaum pilihan akan mewarisi bumi.
Yang terakhir, kita harus belajar, jika jika masih belum belajar, bahwa meskipun kita adalah warga negara kerajaan surga dan perantau di bumi ini, kita demikian adanya hanya di dalam prinsip. Setiap hari kita bergumul dengan natur kita yang mencintai dunia ini, yang berpegang mati-matian padanya, yang sangat menikmati kesenangan-kesenangan yang diberikannya, dan yang menggoda kita dengan dosa-dosa di dalam dunia yang berkilau. Sehingga dunia ini bagi orang percaya adalah medan pertempuran di mana pertempuran segala zaman terjadi dengan sengit. Pengharapan kita ada di dalam salib.
Panggilan Kita Terkait Harta di Bumi
Hidup di dalam dunia ini berbahaya secara rohaniah. Seturut natur, kita adalah orang-orang yang sangat tamak. Maka Kitab Suci, ketika mendefinisikan panggilan kita terkait harta di bumi, memperingatkan kita terhadap ketamakan.
Ketamakan adalah keinginan untuk memiliki lebih banyak harta di bumi, termasuk uang, daripada yang Tuhan berkenan untuk berikan kepada kita. Kita bersusah payah untuk mengumpulkan harta sebanyak yang kita mampu. Dan, meskipun kita sudah memiliki banyak harta, kita selalu berpikir untuk meningkatkan kualitas dan kuantitasnya. Kita suka tabungan yang besar. Kita suka menabung untuk masa depan kita. Kita sangat mengharapkan masa pensiun di mana kita bisa menikmati buah materiel dari kerja keras kita.
Ketamakan memiliki cakupan yang lebih luas daripada nafsu akan harta materiel. Contohnya, kita mungkin bernafsu untuk kemashyuran dan kehormatan. Kita mungkin bernafsu terhadap istri sesama kita. Kita mungkin bernafsu akan pengakuan orang lain, termasuk pengakuan dunia. Kita mungkin bernafsu akan keterampilan jasmaniah yang bisa membuatkan kita unggul di dalam olah raga. Tetapi Kitab Suci cukup menyadari bahwa objek dari natur kita yang tamak adalah uang sehingga memberi kita peringatan terhadapnya.
Kita mendapatkan ilustrasi yang mencolok bagi hal ini di dalam perumpamaan orang kaya yang bodoh (Luk. 12:13–21). Yesus sedang mengajar di Perea ketika Ia disela oleh seorang yang tamak yang menginginkan Yesus memaksa saudaranya untuk membagi sebuah warisan dengannya. Yesus, yang beralih dari pokok pengajaran yang sedang Ia sampaikan, memberi peringatan terhadap ketamakan, dan menegaskannya dengan kuat dengan perumpamaan orang kaya yang bodoh.
Orang kaya yang bodoh mendapatkan hasil panen yang begitu melimpah sampai mencukupi baginya untuk pensiun. Ia membangga-banggakan itu dan mengantisipasi kehidupan yang akan menikmati kemewahan dan kenyamanan. Tetapi ia mati pada malam itu juga karena nyawanya diambil darinya.
Perumpamaan itu menjadikan jelas berbagai kesalahan rohaniah yang serius yang ada di dalam ketamakan. Antara lain, orang kaya yang bodoh itu berpikir ladangnya, lumbungnya, dan hasil panennya adalah miliknya. Orang yang tamak selalu membuat kesalahan di sini. Ia lupa bahwa segala sesuatu yang ia miliki adalah diberikan kepadanya dari Allah, bahwa semuanya tetap adalah milik Allah, dan bahwa ia hanyalah seorang penatalayan.
Kedua, orang kaya yang bodoh itu berpikir bahwa jiwanya bisa menikmati makanan dan minuman di bumi. Ia berkata kepada jiwanya: “Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya… makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!” (Luk. 12:19). Artinya, ia berpikir bahwa kesenangan dan kebahagiaan harus didapatkan dari harta di bumi. Ini adalah kesalahan yang Yesus tunjukkan di dalam perumpaan tentang empat jenis tanah ketika Ia berbicara tentang “tipu daya kekayaan” yang mengimpit firman (Mat. 13:22). Kita rentan terhadap kesalahan yang sama, karena kita sering berpikir bahwa menambah sedikit lagi barang di bumi ini akan memberikan kebahagiaan. Betapa bodohnya kita!
Ketiga, Tuhan menunjukkan sebuah kebenaran fundamental melawan kesalahan orang kaya yang bodoh itu: orang bodoh berpikir bahwa kehidupan terdiri dari apa yang seseorang miliki. Yesus dengan tegas menolak pemikiran tersebut: “walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu” (Luk. 12:15).
Faktanya adalah bahwa kekayaan membentuk bahaya rohaniah yang sangat besar—seperti yang Yesus katakan kepada pemimpin muda yang kaya dan seperti yang Paulus tunjukkan di dalam 1 Timotius 6:5–10. Kita tidak bisa melayani Allah sekaligus Mamon. Kita hanya bisa melayani salah satu. Jika kekayaan memerintah atas kehidpuan kita, kita tidak bisa melayani Allah dan menjadi hamba Kristus. Kita adalah hamba dari harta di bumi.
Ketamakan dilarang di dalam perintah kesepuluh. Perintah kesepuluh ditambahkan karena perintah ini mendeskripsikan jantung dari keseluruhan Taurat. Mengingini berarti melanggar semua perintah Allah; menghindari ketamakan berarti menuruti Taurat Allah. Ketamakan adalah perkara hati, bukan perkara tindakan eksternal kita. Ketamakan menunjukkan tuntutan-tuntutan internal dari Taurat: mengasihi Allah dan sesama kita. Paulus sangat memahami hal ini ketika ia memberi peringatan, “Akar segala kejahatan ialah cinta uang” (1Tim. 6:10).
Secara negatif, Firman Allah juga memberi tahu kita bahwa bersikap khawatir juga salah. Ketamakan dan kekhawatiran saling terkait secara erat. Jika kita tamak dan mengingini lebih banyak daripada yang telah Tuhan janjikan untuk berikan kepada kita, dan kita tidak puas dengan jumlah harta kita di bumi, maka kita mengkhawatirkan harta di bumi ini. Kita memiliki perintah yang persis tentang hal ini dari Tuhan di dalam Khotbah di Bukit. Jelas bahwa Tuhan sangat menekankan pada aspek yang satu ini di dalam kehidupan seorang warga kerajaan surga karena Ia menggunakan tidak kurang dari dua pertiga dari pasal enam untuk topik ini. Inti dari bagian ini adalah nasihat: “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai” (Mat. 6:25).
Ini sudah pasti mengimplikasikan bahwa kita juga tidak perlu mengkhawatirkan masa depan, karena “kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Mat. 6:34). Mengkhawatirkan hal-hal ini melibatkan kita di dalam beberapa dosa serius. Ketika kita khawatir, kita melakukan itu karena kita tidak memercayai janji Bapa surgawi kita bahwa Ia akan menyediakan bagi setiap kebutuhan kita. Kita gagal memercayai bahwa semua yang kita miliki tiba kepada kita dari Bapa surgawi kita, dan bahwa kita tidak memiliki apa pun yang kita peroleh dengan kemampuan kita. Kita bahkan tidak mampu menambah barang sehasta pun pada jalan hidup kita (ay. 27), apa lagi mendapatkan bagi diri kita sendiri apa pun yang Tuhan tidak berkenan untuk berikan kepada kita.
Mengkhawatirkan harta dibumi berarti mengkhawatirkan masa depan. Tuhan memerintahkan kepada kita untuk tidak melakukan ini, karena kita tidak mengetahui apa pun tentang masa depan, dan juga masa depan sama sekali tidak ada di dalam tangan kita. Tetapi masa depan ditentukan oleh Allah yang mengasihi kita.
Mengkhawatirkan tentang apa yang akan kita makan dan minum dan kenakan adalah obsesi dengan harta di bumi yang tidak pantas dilakukan oleh seorang Kristen, dan juga tidak kondusif bagi pertumbuhan rohaniah. Kita mengimpit perhatian kita kepada kesejahteraan rohaniah kita ketika terlalu terpaku pada kesejahteraan jasmaniah kita.
Tetapi panggilan bagi kita di dalam Kitab Suci juga merupakan sebuah panggilan yang positif. Kita harus menjadi penatalayan di dalam rumah Allah. Ini digambarkan dengan penekanan di dalam perumpamaan tentang hamba (yaitu seorang bendahara) yang tidak setia di dalam Lukas 16:1–13. Hamba di dalam perumpamaan ini tidak setia dan akan dipecat oleh tuannya. Namun ia mengkhawatirkan apa yang akan ia lakukan ketika ia sudah tidak lagi memiliki pekerjaan itu. Maka ia menjalin persahabatan dengan orang lain dengan membuat mereka berutang budi kepadanya. Dengan cara ini ia membuat persiapan bagi masa depan.
Namun, ajaran Tuhan di sini tidak berlawanan dengan apa yang Ia ajarkan di dalam Khotbah di Bukit. Hamba itu cerdik ketika membuat persiapan bagi masa depan, tetapi hanya di dalam pengertian di bumi. Tuhan juga memerintahkan kepada kita, warga kerajaan surga, supaya cedas dalam mempersiapkan masa depan. Tetapi, yang mungkin mengejutkan kita adalah bahwa Tuhan bukan merujuk kepada tabungan, dana pensiun, investasi yang menguntungkan, dan lain sebagainya. Ia mendeskripsikan panggilan kita dengan menyuruh kita menjalin persahabatan menggunakan Mamon yang tidak jujur. Artinya, kita harus menjalin persahabatan dengan menggunakan uang yang Tuhan berikan kepada kita. Tetapi, dan ini adalah poinnya, kita harus melakukan ini untuk mempersiapkan diri kita bagi masa depan, bukan di dalam dunia ini, tetapi di dalam kehidupan yang akan datang di dalam surga.
Saya akan menjelaskan poin ini. Pada dirinya sendiri tidak ada yang salah dengan uang dan harta di bumi. Faktanya, menghina semua itu merupakan dosa besar, karena harta di bumi adalah bagian dari ciptaan Allah, yang Ia kasihi dan yang Ia berkenan untuk berikan kepada kita. Kita sebagai orang Kristen Reformed tidak sama dengan Katolik Roma yang menganggap nazar kemiskinan sebagai perbuatan yang menghasilkan berkat yang sangat besar.
Tetapi kita dipanggil untuk menggunakan apa yang Allah berkenan untuk berikan kepada kita untuk kemajuan kerajaan-Nya dan untuk bekerja menuju kedatangan Yesus Kristus Tuhan kita.
Menurut saya deskripsi terbaik bagi sikap kita kepada harta di bumi adalah “memegangnya dengan longgar.” Kita memiliki harta itu; kita menerimanya dengan ucapan syukur; kita menguduskannya dengan Firman Allah dan doa. Kita bahkan menikmatinya, karena harta ini adalah pemberian yang baik dan sampai kepada kita dari Bapa surgawi kita sebagai karunia yang penuh anugerah dari kasih-Nya. Tidak menghargai harta ini akan seperti dosa istri yang menerima kalung berlian dari suaminya dengan mencibir dan tidak peduli.
Tetapi apa yang Allah berikan harus kita gunakan bagi kemuliaan nama-Nya. Dan kita mengejar kemuliaan nama-Nya dengan terlebih dahulu mencari kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya. Semua harta kita harus digunakan di dalam pelayanan bagi Kristus. Harta kita harus digunakan untuk kesejahteraan gereja-Nya, pekerjaan Injil, pendidikan Kristen bagi anak-anak kita, dukungan bagi kaum miskin, dan kesaksian kita di dalam dunia yang berdosa dan gelap. Kita harus harus memastikan, melalui perkataan dan kehidupan kita, agar semua orang yang melihat kita mengetahui bahwa harta di bumi hanya sementara dan nantinya akan dibakar dengan api. Harta di surga adalah yang penting bagi kita.
Mencari dahulu kerajaan surga dan kebenaran Allah tidak berarti hanya memberi persembahan persepuluhan. Orang yang memberikan persembahan persepuluhan memandang diri mereka adalah orang-orang yang murah hati dan cenderung menjadikan persembahan persepuluhan sebagai perbuatan baik yang pasti akan diperkenan oleh Allah. Apakah kita akan dipuaskan dengan memberi persembahan bagi pekerjaan-pekerjaan kerajaan Allah hanya 10 persen dari pendapatan dan harta kita? Dan kemudian memegahkan kemurahan hati kita?
Sebuah konsekuensi yang menyedihkan dari jenis persembahan seperti itu adalah bahwa kita sebenarnya berkata, 10 persen adalah milik Allah; 90 persen adalah milik saya. Kita menyebutnya penghasilan diskresi; yaitu penghasilan yang boleh kita gunakan sesuka hati kita untuk kesenangan pribadi kita. Sebaliknya, “Untuk semua adanya diri saya, saya berutang kepada-Mu….” Segala sesuatu harus digunakan melayani Kristus.
Ketika Tuhan menasihati kita untuk “carilah dahulu” (atau, “pertama carilah”) kerajaan surga (Mat. 6:33), Ia bukan bermaksud “dahulu” atau “pertama” di dalam sebuah daftar panjang dari hal-hal yang harus kita cari. Ia memaksudkan “pertama” sebagai sebuah prinsip kehidupan kita, yang memerintah atas seluruh hubungan kita dengan harta di bumi.
Yang terakhir, kita harus puas dengan apa yang kita miliki. Kepuasan adalah lawan dari ketamakan. Paulus mengklaim kepuasan seperti itu. Ia menulis kepada orang-orang Filipi, “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan” (Flp. 4:11). Untuk memastikan agar kita memahami hal ini, karena Paulus berada di dalam penjara ketika menuliskannya, ia menambahkan, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan” (ay. 12).
Kepuasan berakar di dalam suatu pengetahuan yang pasti bahwa Bapa kita memedulikan kita. Ia akan berbuat demikian sampai pada kesudahannya. Ia akan berbuat demikian bahkan ketika kita harus menyingkir selama masa berkuasanya Antikristus. Ia mengirim burung gagak untuk memberi makan Elia di Sungai Kerit. Ia memberi Israel manna di padang belantara. Ia bisa memberi kita makan dengan mukjizat-mukjizat jika diperlukan. Tetapi, jika tiba waktunya bagi kita untuk mengalami kelaparan sampai mati, maka itu adalah cara Allah untuk membawa kita ke kerajaan-Nya yang kekal di mana kita akan menerima kekayaan yang tidak bisa ditandingi oleh kekayaan di dalam kehidupan sekarang.
Kita tidak terlalu setia di dalam panggilan ini. Menurut saya tidak seorang pun dari kita yang bisa bangkit dan mengaku sudah sempurna di dalam penggunaan harta kita di bumi. Kita hidup di zaman kemakmuran, dan kita berbagian di dalam kemakmuran itu. Bagaimanapun, ingatlah, bahwa jika memiliki lebih daripada untuk makanan kita pada hari ini, kita kaya. Secara pribadi saya yakin bahwa satu-satunya cara Allah akan menyembuhkan kita dari ketamakan adalah dengan mengambil semuanya dari kita. Saat ini Ia akan melakukannya ketika pilihannya menjadi tajam dan terfokus: harta di bumi dengan satu lutut bertelut kepada Antikristus, atau Kristus dan kemiskinan dan mungkin juga kematian!
Untuk bahan-bahan lain dalam bahasa Indonesia, klik di sini.

