Menu Close

Bagian 2: Bab 7 – Kitab Suci Tidak Dapat Dibatalkan

      

 David J. Engelsma

Kata Yesus kepada mereka: “Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah—sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan—, masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?” (Yoh. 10:34–36).

     

Introduksi

Di dalam buku ini, kita telah mengkaji gerakan-gerakan dan perkembangan-perkembangan yang sangat memengaruhi dunia pada saat ini. Gerakan-gerakan ini menentukan apa yang dipercayai oleh orang banyak dan bagaimana mereka berperilaku.

Gerakan-gerakan ini mengendalikan, dan disebarkan oleh, budaya populer—radio, televisi, film, internet, surat kabar, musik, buku, dan banyak lagi.

Sekolah-sekolah negeri mempromosikan gerakan-gerakan ini, mencuci otak hampir seluruh populasi dari bangsa-bangsa.

Secara aktif pemerintah-pemerintah dengan kekuasaan mereka memberdayakan gerakan-gerakan ini. Belum lama ini seorang hakim federal di California, Amerika Serikat, membatalkan hasil pemungutan suara mayoritas warga California yang menyatakan “pernikahan” homoseksual ilegal dan melanggar hukum. Maka, pengadilan menggunakan kekuasaannya untuk mendukung salah satu gerakan paling menyimpang pada masa kita.

Banyak gereja memproklamasikan gerakan-gerakan itu sebagai gerakan-gerakan Kristen, dan dengan demikian menunjukkan bahwa mereka adalah gereja-gereja palsu dan murtad. Karena perkembangan-perkembangan dan gerakan-gerakan yang kita kaji merupakan serangan terhadap pengakuan dan kehidupan gereja yang sejati dan anggota-anggotanya.

Semua gerakan dan perkembangan tersebut memiliki kesamaan, yaitu bahwa semuanya menolak otoritas Kitab Suci—Firman Allah—dan menegaskan otoritas pikiran, kehendak, perasaan-perasaan, penemuan-penemuan, dan tujuan-tujuan manusia—perkataan manusia. Khususnya di Barat, gerakan-gerakan ini adalah pemberontakan—pemberontakan secara sengaja—melawan otoritas Kitab Suci.

Di dalam buku ini, kita belum mendapatkan waktu atau ruang untuk menunjukkan di dalam setiap kasus bahwa gerakan yang dibahas merupakan pemberontakan melawan Firman Allah, tetapi kebenaran tentang hal ini bisa dibuktikan.

Gerakan yang kuat pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas yang dikenal sebagai rasionalisme dan modernisme adalah serangan secara sadar dan sekuat daya terhadap Alkitab, seperti yang ditunjukkan secara jelas oleh kritik tinggi terhadap Alkitab. Pandangan kritik tinggi tentang Kitab Suci dari dulu sampai sekarang adalah bahwa Alkitab merupakan buku sejarah tulisan manusia dan berisi kesalahan, dan ini yang menghasilkan ketidakpercayaan terhadap doktrin-doktrin Alkitab, ketidaktaatan terhadap perintah-perintahnya, dan ejekan terhadap sejarahnya.

Gerakan besar pada abad kedelapan belas dan sembilas belas itu meninggikan sains, yang berpuncak pada teori evolusi Darwin, dimotivasi oleh ketetapan untuk menghancurkan otoritas Kitab Suci, khususnya Kejadian 1–11, terkait asal-usul segala sesuatu, khususnya asal-usul umat manusia.

Revolusi seksual yang sedang bergejolak pada saat ini berketetapan untuk menanggalkan, sekali untuk selamanya, kekangan Kitab Suci pada perilaku seksual, dan dengan demikian, meniadakan doktrin biblikal tentang pernikahan dan keluarga.

Di dalam kajian kita tentang perkembangan-perkembangan ini, otoritas kita adalah Kitab Suci, yang kita terima dengan iman sebagai Firman Alah yang diinspirasikan, infalibel (atau ineran), dan jelas.

Kita harus memiliki sebuah standar yang berotoritas, yang dengannya kita mengkaji gerakan-gerakan dan perkembangan-perkembangan kontemporer yang menyerang dan mencobai gereja dan orang yang percaya. Otoritas ini haruslah penyataan (wahyu) ilahi akan kebenaran mengenai doktrin dan kehidupan. Otoritas ini bukan hanya mengekspos dan mengutuk gerakan-gerakan yang fasik itu, tetapi juga meneguhkan gereja dan orang yang percaya di dalam kepercayaan dan praktik yang benar.

Tema konferensi BRF 2012 dan subjudul buku ini adalah “Firman Allah bagi Generasi Kita.” Idenya secara pasti adalah bahwa Firman Allah mengkritik gerakan-gerakan kontemporer demi melindungi umat Allah. Tetapi idenya juga adalah bahwa ada sebuah firman yang positif bagi generasi kita terkait iman dan kehidupan mereka. Firman positif itu adalah bahwa Yesus Kristus, sebagai Dia yang dibangkitkan dari antara orang mati, adalah satu-satunya Juru Selamat dan Tuhan yang berdaulat. Ia adalah pusat dari wawasan dunia Reformed kita. Ketuhanan Yesus bagi kita, umat-Nya yang percaya, adalah sedemikian rupa sehingga kita menerima Kitab Suci sebagai Firman Allah yang berotoritas karena Yesus bersaksi bagi Kitab Suci bahwa Kitab Suci adalah Firman Allah. Yesus Kristus bersaksi bagi Kitab Suci di dalam Kitab Suci itu sendiri. Roh-Nya meyakinkan kita akan kebenaran kesaksian Yesus.

Salah satu kesaksian Yesus bagi Kitab Suci sebagai Firman Allah adalah Yohanes 10:34–36: “Kitab Suci yang tidak dapat dibatalkan.”

      

Otoritas Ilahi Kitab Suci

Yesus mengajari kita sesuatu tentang Alkitab: “Kitab Suci tidak dapat dibatalkan.” Yesus merujuk kepada tulisan, atau kitab, yang kita sebut Alkitab. Karena kitab-kitab Perjanjian Baru belum ditulis ketika Yesus mengucapkan kata-kata ini, Tuhan sedang merujuk secara khusus kepada tulisan-tulisan Perjanjian Lama—ketiga puluh sembilan kitab yang di dalam Alkitab Authorized Version (KJV) kita dimulai dengan Kitab Kejadian dan diakhiri dengan Kitab Maleakhi. Mengenai Kitab Suci Perjanjian Lama ini Ia berkata “Kitab Suci tidak dapat dibatalkan.”

Penting untuk memperhatikan bahwa Yesus mengatakan hal ini tentang Perjanjian Lama, karena para pengkritik kontemporer atas Kitab Suci selalu mengonsentrasikan serangan pembuka mereka terhadap otoritas Kitab Suci kepada Perjanjian Lama, biasanya pasal-pasal pertama Perjanjian Lama, Kejadian 1–11. Tidak lama kemudian, mereka memperluas serangan mereka ke seluruh Perjanjian Lama dan kemudian ke Perjanjian Baru, tetapi mereka memulai dengan Perjanjian Lama. Para pengkritik sangat memahami bahwa hubungan antara kedua kitab perjanjian begitu erat sehingga jika mereka membatalkan Perjanjian Lama, mereka juga akan mampu membatalkan Perjanjian Baru. Mereka juga sangat menyadari bahwa gereja-gereja dan pejabat-pejabat gereja yang bodoh sangat bersedia untuk menoleransi kritik atas Perjanjian Lama, seakan-akan otoritas Kitab Suci tidak terlalu dipertaruhkan di dalam serangan terhadap Perjanjian Lama dibandingkan di dalam serangan terhadap Perjanjian Baru (dan seakan-akan kritik terhadap Perjanjian Lama tidak akan segera disusul dengan kritik terhadap Perjanjian Baru).

Mengenai Perjanjian Lama, keseluruhannya, termasuk Kejadian 1–11, Yesus berkata “Kitab Suci tidak dapat dibatalkan.”

Sebagai implikasinya, apa yang Ia katakan mengenai Perjanjian Lama juga berlaku bagi kedua puluh tujuh kitab dari Perjanjian Baru, termasuk Yohanes 10:34–36 (yang merupakan penegasan-Nya di dalam Perjanjian Baru bagi Perjanjian Lama).

Secara khusus Yesus banding kepada Mazmur 82:6: “Aku sendiri telah berfirman: ‘Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian.’” Yesus mengutip dari ayat ini di dalam sebuah perdebatan-Nya dengan orang-orang Yahudi. Setelah mengutip bagian dari ayat tersebut, Yesus berkata bukan hanya tentang perikop Perjanjian Lama ini, tetapi juga seluruh Kitab Suci, bahwa Kitab Suci tidak dapat dibatalkan.

Bahwa Kitab Suci tidak dapat dibatalkan berarti bahwa Kitab Suci sama sekali tidak bisa dilucuti dari kuasanya. Kitab Suci tidak bisa diabaikan, misalnya, dengan menolak untuk menerima doktrin biblikal tentang penciptaan, dan dengan demikian menolak bahwa doktrin biblikal ini tegas di dalam ajarannya tentang asal-usul segala sesuatu. Kitab Suci tidak bisa dibantah, misalnya, dengan menyangkali bahwa Allah telah menjadikan segala sesuatu pada mulanya dengan tindakan-tindakan penciptaan yang khusus di dalam waktu enam hari, yang masing-masing terdiri dari satu petang (malam) dan satu pagi. Kitab Suci tidak bisa dikosongkan dari otoritasnya dengan menerapkan pada satu perikopnya sebuah makna yang jelas-jelas bukan makna perikop tersebut, misalnya dengan menyatakan bahwa Kejadian 2 mengajarkan manusia berevolusi dari primata. Kitab Suci tidak bisa dikritik, misalnya, dengan mengatakan bahwa kisah tentang asal-usul umat manusia di dalam Kejadian 1 dan 2 berasal dari gagasan pra-ilmiah dan tidak ilmiah yang dimiliki oleh orang Israel atau orang lainnya yang telah keliru. Melakukan hal-hal seperti demikian terhadap perikop Kitab Suci yang mana pun akan merupakan upaya untuk membatalkan Kitab Suci.

Apa yang terimplikasi adalah bahwa Kitab Suci tidak berisi kesalahan, karena sudah pasti jika ada kesalahan, Kitab Suci bukan hanya dapat dibatalkan tetapi juga harus dibatalkan, yaitu karena kesalahan-kesalahannya itu. Allah sendiri, yang adalah kebenaran, memanggil kita untuk menyingkirkan, melawan, dan mengkritik kesalahan.

Dengan menyangkali bahwa Kitab Suci dapat dibatalkan, Yesus Kristus mengajarkan tentang otoritas Kitab Suci. Kitab Suci tidak dapat dibatalkan di dalam pengertian bahwa otoritas seperti yang dimiliki oleh penguasa sipil atau otoritas ayah dirumah tidak dapat dibatalkan.

Apa yang Kitab Suci sampaikan sebagai sejarah harus diterima sebagai hal yang secara benar-benar terjadi di dalam ruang dan waktu sebagaimana Kitab Suci mendeskripsikan terjadinya peristiwa itu. Satu kali, “Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh” (Yos. 10:13).

Apa yang Kitab Suci ajarkan sebagai sebagai doktrin harus dipercayai dan diakui. Keselamatan orang-orang yang berdosa bukan bergantung pada kehendak atau perbuatan-perbuatan orang-orang yang berdosa, tetapi pada kehendak pemilihan yang kekal dan berdaulat oleh Allah: “Jadi hal itu (yaitu keselamatan) tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha (perbuatan-perbuatan yang dilakukan) orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah” (Rm. 9:16).

Apa yang Kitab Suci perintahkan harus ditaati. Para suami harus “kasihi … istri [mereka] sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat” (Ef. 5:25).

Kitab Suci adalah standar dari iman dan kehidupan gereja. Kitab Suci adalah hakim atas semua kontroversi. Kitab Suci adalah akhir dari semua perdebatan. Otoritas Kitab Suci menjelaskan penggunaan kata “kitab Taurat” oleh Yesus di dalam teks tersebut: “Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu?” Faktanya, Ia sedang merujuk kepada sebuah mazmur, bukan Sepuluh Perintah, atau lima kitab pertama yang ditulis oleh Musa. Tetapi Kitab Mazmur, seperti semua kitab Perjanjian Lama lainnya, adalah taurat (hukum) di dalam arti semuanya berotoritas.

Pengaitan otoritas yang tidak dapat dibatalkan kepada Kitab Suci yang Yesus lakukan mengimplikasikan bahwa Kitab Suci adalah otoritas tunggal (satu-satunya) bagi umat kovenan Allah. Orang dapat membatalkan Kitab Suci, di dalam pengertian teks itu, bukan hanya dengan kritik terbuka terhadapnya, tetapi juga dengan menegaskan adanya sebuah otoritas lain di samping (berdampingan dengan) Kitab Suci yang memiliki bobot yang setara dengannya, dan dengan mendalilkan sebuah otoritas lain yang berada di atas Kitab Suci. Dengan cara demikian, Kitab Suci dibatalkan oleh rivalnya atau sesuatu yang superior terhadapnya.

Inilah pemberontakan terhadap Kitab Suci yang dilakukan oleh Gereja Katolik Roma. “Tradisi” tidak tertulis Gereja Katolik Roma memiliki otoritas yang setara dengan Kitab Suci. Gereja itu sendiri, yaitu Paus, berotoritas di atas Kitab Suci. Demikianlah Roma bergolak dengan keras melawan orotitas Alkitab, dan berdosa dengan begitu serius melawan ucapan Yesus Kristus di dalam Yohanes 10, seperti halnya para pendukung kritik tinggi Protestan. Maka kesimpulannya, bagi Roma bukan Kitab Suci yang tidak dapat dibatalkan, tetapi Gereja Katolik Roma itulah yang tidak dapat dibatalkan.

Tidak demikian bagi Yesus Kristus. Bagi-Nya, Kitab Suci adalah otoritas tunggal. Ia mendapati diri-Nya berada di bawah serangan dari orang-orang Yahudi karena klaim-Nya sebagai Allah: “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh. 10:30). Orang-orang Yahudi menuduh-Nya “menghujat … karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah” (ay. 33). Di dalam pembelaan bagi diri-Nya, Yesus merujuk kepada Mazmur 82:6, di mana Allah menyebut para penguasa Israel sebagai “allah.”

Allah menyebut para penguasa Israel, yang hanyalah manusia, sebagai “allah” karena Ia telah menempatkan orang-orang itu pada jabatan mereka di antara bangsa kudus-Nya dan menempatkan otoritas ilahi-ya sendiri pada para penguasa itu untuk memerintah atas umat-Nya mewakili Dia. Firman Allah tiba kepada para penguasa tersebut di dalam pengertian bahwa Allah memanggil mereka kepada jabatan mereka dengan Firman-Nya.

Argumen Yesus adalah bahwa jika orang-orang itu—yang hanyalah manusia—bisa disebut “allah” tanpa menghujat, Ia—Yesus—sudah pasti dapat menyebut diri-Nya “Allah,” karena Dialah yang dikuduskan dan diutus oleh Bapa ke dalam dunia. Sebagai Mesias, Yesus adalah pejabat dan penguasa yang agung di dalam gereja, yang diperlengkapi dengan otoritas ilahi. Selain itu, sebagaimana adalah niscaya bagi pekerjaan Mesias untuk mewakili Allah, Yesus secara pribadi adalah Allah sendiri—pribadi kedua dari Trinitas yang teberkati—“Anak Allah” yang kekal, seperti klaim Yesus ketika Ia berkata, “Aku dan Bapa adalah satu.”

Argumen Yesus, dengan merujuk kepada Mazmur 82, adalah argumen yang kuat “dari yang lebih kecil kepada yang lebih besar.” Jika yang lebih kecil—para penguasa Israel di dalam Perjanjian Lama— secara tepat disebut sebagai “allah,” maka betapa lebih tepat lagi klaim yang dari lebih besar itu—Yesus—disebut Allah.

Tetapi sekarang bukan argumen Yesus yang menjadi fokus kita. Sebaliknya yang menjadi hal terpenting adalah fakta bahwa di dalam pembelaan-Nya dan sebagai hakim atas kontroversi itu, Yesus banding kepada Kitab Suci.

Sebagai Mesias Allah, Ia bisa saja menjawab para penuduh-Nya, “Aku memiliki otoritas dari Allah atas seluruh rumah Allah, dan firman-Ku yang berkuasa di sini.”

Sebagai Anak Allah yang kekal yang datang sebagai manusia, Ia bisa saja menjawab orang-orang yang menantang-Nya, dan bahkan menjawab para selumbar dari debu tanah yang sudah rusak itu, “Aku berkata, dan ini akhir dari perkara.”

Tetapi Yesus banding kepada Kitab Suci. Bagi Yesus, otoritas di dalam dan di atas gereja adalah Kitab Suci.

Otoritas Kitab Suci, menurut Yesus Kristus, adalah kumpulan tulisan yang satu dan menyatu itu. Meskipun ditulis oleh banyak orang yang berbeda, meskipun ditulis di dalam rentang waktu ratusan tahun, dan meskipun terdiri dari jenis-jenis tulisan yang sangat beragam—sejarah, puisi, nubuat, literatur hikmat—hanya ada satu kitab tunggal—“Kitab Suci”—yang memiliki otoritas yang tidak dapat dibatalkan. Keseluruhannya adalah “Taurat.”

Menurut Yesus, otoritas yang dimiliki oleh keseluruhan secara pasti meluas kepada setiap bagiannya. Ajaran spesifik di dalam Perjanjian Lama yang Ia rujuk di dalam Yohanes 10:34, menurut standar kita, adalah perkara kecil. Ini bukan sebuah doktrin utama seperti penciptaan, atau kejatuhan, atau penebusan. Bahkan seorang pembaca Kitab Suci yang rajin bisa saja meluputkan ayat itu, jika Yesus tidak mengangkatnya menjadi sebuah isu. Mengenai ajaran yang terlihat insidental di dalam Perjanjian Lama ini, Yesus menyatakan bahwa ajaran ini berotoritas.

Sudah jelas bahwa bagi Yesus, otoritas Kitab Suci meluas kepada kata-kata itu sendiri. Banding Yesus kepada Mazmur 82:6 bersandar pada kata “allah.”

Dengan memiliki otoritas yang luar biasa itu, Kitab Suci adalah unik. Tidak ada buku lain, tidak ada manusia, tidak ada lembaga, yang tidak dapat dibatalkan. Hanya Perjanjian Lama milik Israel pada masa pelayanan-Nya di bumi, dan milik gereja Kristen saat ini (dan, dengan implikasinya, Perjanjian Baru) yang Yesus, Sang Anak Allah, Mesias Allah, katakan “tidak dapat dibatalkan.”

Apakah yang bisa menjelaskan kitab yang unik ini dan otoritasnya yang unik?

     

Alasannya

Penjelasannya adalah, dan hanya mungkin adalah, bahwa Kitab Suci adalah Firman Allah—Firman Allah yang tertulis. Hanya Firman Allah yang tidak dapat dibatalkan. Hanya Firman Allah yang tidak dapat dikritik. Hanya Firman Allah yang infalibel. Hanya Firman Allah yang memiliki otoritas tunggal yang mutlak, final, dan tertinggi atas gereja dan semua anggotanya. Hanya Firman Allah yang merupakan standar iman dan kehidupan yang tidak bisa diganggu gugat. Hanya Firman Allah yang adalah hakim atas semua kotroversi. Hanya Firman Allah yang merupakan akhir dari segala perdebatan. Hanya kepada Firman Allah inilah Mesias Allah mencari penegasan bagi ajaran-Nya sendiri.

Dan Kitab Suci adalah Firman Allah karena Kitab Suci “diberikan oleh penginsipirasian Allah,” sebagaimana bunyi 2 Timotius 3:16 di dalam Authorized Version (KJV), atau “diembuskan oleh Allah,” sebagaimana terjemahan harfiah dari bahasa Yunani aslinya. Orang-orang yang menulis Kitab Suci, khususnya termasuk orang yang menulis Mazmur 82:6, digerakkan untuk menulis dan dikendalikan ketika mereka menulis oleh Roh Kristsus sehingga apa yang mereka tuliskan bukanlah kata-kata manusia melainkan Firman Allah yang kudus.

Surat 2 Petrus 1:21 juga menyatakan hal yang sama tentang keajaiban penginspirasian Kitab Suci sebagaimana Allah berkenan untuk memberitahukan kepada gereja-Nya dan sebanyak yang perlu gereja ketahui. “Sebab tidak pernah nubuat [Kitab Suci] dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara [dan menulis] atas nama Allah.”

Asal-usul Alkitab adalah penginspirasian—penginspirasian atas totalitas Alkitab; penginspirasian atas setiap bagian Alkitab, termasuk Mazmur 82:6; penginspirasian atas kata-kata Alkitab, misalnya kata “allah” di dalam Mazmur 82:6.

Inilah “pandangan yang tinggi” akan Kitab Suci yang Yesus dimiliki, seperti yang Ia beri tahukan di dalam Yohanes 10:35: “Kitab Suci tidak dapat dibatalkan.”

Maka, inilah pengakuan yang percaya terkait Kitab Suci oleh gereja Yesus dan oleh para murid Yesus. Di dalam perkataan Artikel 3–7 dari kredo Reformed, Pengakuan Iman Belanda (Belgic Confession), mereka mengakui bahwa Allah “memerintahkan para hamba-Nya, para Nabi dan Rasul, untuk menuangkan Firman-Nya yang dinyatakan ke dalam bentuk tulisan” sehingga keenam puluh enam kitab dari Alkitab adalah “Kitab-Kitab yang kudus dan ilahi.” Mereka percaya “tanpa keraguan apa pun, segala sesuatu yang terdapat di dalamnya.” Mereka memercayai bahwa “Kitab-Kitab yang ilahi” adalah “di atas segalanya,” sehingga mereka “menolak dengan segenap hati [mereka] apa pun yang tidak sesuai dengan aturan yang tanpa-salah ini.” Mereka memercayai dan mengakui bahwa Kitab Suci adalah “Firman Allah” dan “kebenaran Allah.”

     

Kritik terhadap Kitab Suci

Gereja Kristus yang sejati menolak semua ajaran yang akan membatalkan Kitab Suci atau mengompromikan otoritasnya. Kegagalan untuk menolak ajaran-ajaran ini pada dirinya sendiri sudah merupakan dukungan bagi pembatalan terhadap Kitab Suci.

Gereja yang setia kepada Kristus yang mengucapkan Yohanes 10:34–26 menolak doktrin-doktrin Gereja Katolik Roma bahwa tradisi-tradisinya yang tidak tertulis adalah otoritas yang setara dengan Kitab Suci dan bahwa otoritas Gereja itu, yaitu otoritas Paus, ada di atas Kitab Suci. Doktrin-doktrin ini “membatalkan” Kitab Suci. Hasilnya adalah Roma menginjak ajaran-ajaran Alkitab bahwa Allah saja yang harus disembah; bahwa Kristus Yesus adalah satu-satunya pengantara antara Allah dan manusia; bahwa justifikasi adalah oleh iman saja; bahwa semua komunikan di dalam Perjamuan Tuhan harus mengambil baik roti maupun anggur; bahwa semua uskup boleh, dan sebagian besar uskup seharusnya, menikah; dan masih banyak lagi.

Gereja yang sejati menolak ajaran modernisme theologis, bahwa Alkitab adalah sebuah buku manusia—perkataan manusia, penuh segala jenis kesalahan, dan oleh karena itu tunduk kepada kritik dari para sarjana, dan bahkan siapa pun. Menurut modernisme, sejarah Alkitab, dari kisah penciptaan sampai kisah dikandungnya dan dilahirkanya Yesus, adalah mitos; doktrin-doktrin Alkitab adalah theologi yang salah; dan perintah-perintah Alkitab itu keliru atau sudah usang. Melawan pernyataan Yesus bahwa “Kitab Suci tidak dapat dibatalkan,” modernisme dengan kesombongan dan kekurangajarannya menyatakan posisinya bahwa “Alkitab tidak dapat dipertahankan.”

Gereja yang sejati juga menolak ajaran bahwa Alkitab itu sebagian Firman Allah tetapi juga sebagian perkataan manusia. Ajaran ini tersebar luas di dalam gereja-gereja Reformed dan Presbiterian yang konservatif serta di dalam lingkaran-lingkaran yang menyebut diri mereka Injili. Dengan memandang Kitab Suci sebagai sebagian perkataan manusia (agar adil bagi “unsur manusiawi” di dalam Alkitab seperti yang ajaran itu ungkapkan) memampukan para theolog untuk membuat distingsi antara infalibilitas Alkitab dan ineransi Alkitab. “Infalibilitas,” yang para theolog ini akui mereka percayai, sekarang berarti bahwa Alkitab tidak gagal dalam mengajarkan kebenaran-kebenaran penting tertentu (namun kita hanya bisa bergantung pada para sarjana yang untuk mengidentifikasikan “kebenaran-kebenaran penting” itu). “Ineransi” berarti bahwa Alkitab itu tidak berisi kesalahan.

Implikasi dari pandangan mereka bahwa Alkitab sebagian terdiri perkataan manusia adalah bahwa para theolog dan gereja-gereja menolak ineransi. Perkataan manusia bisa salah. Kisah tentang penciptaan, kejatuhan, air bah, dan terbaginya bangsa-bangsa di dalam Kejadian 1–11, yang dianggap sebagai sejarah, adalah perkataan manusia, yang bisa salah. Tidak ada apa pun yang tercatat di dalam pasal-pasal ini yang terjadi secara aktual, sebagaimana peristiwa yang disampaikan oleh Kejadian 1–11. Larangan apostolik terhadap perempuan di dalam jabatan gerejawi di dalam 1 Timotius 2 dan 3 adalah perkataan manusia, yang bisa salah. Para perempuan memiliki hak penuh untuk menjadi hamba Tuhan, penatua, diaken, dan profesor theologi di seminari. Yang berdosa terhadap kehendak Allah justru adalah para anggota gereja yang menolak perempuan sebagai pejabat gereja. Ajaran Alkitab, di semua bagiannya, adalah bahwa seks diizinkan hanya di dalam pernikahan, dan bahwa pernikahan adalah untuk seumur hidup, dan bahwa pernikahan secara eksklusif adalah persatuan— persatuan seksual atau yang lainnya—antara laki-laki dan perempuan, adalah perkataan manusia, yang bisa salah. Seks diizinkan di luar pernikahan, perceraian dan pernikahan kembali marak terjadi di dalam gereja-gereja ini, dan bahwa sekarang ada hiruk-pikuk dari pihak yang menekankan bahwa Alkitab adalah sebagian perkataan manusia mewakili persatuan-persatuan homoseksual.

Gereja-gereja yang mengaku sebagai Reformed dan Presbiterian yang konservatif dan kaum Injili ini melawan dan membatalkan otoritas Kitab Suci dengan tidak kalah hebatnya dibandingkan Roma dan kaum modernis. Di dalam bahasa Yohanes 10:35, gereja-gereja dan theolog-theolog ini berkeyakinan bahwa Kitab Suci bisa dibatalkan sebagian, bahkan bagian yang besar. Tetapi Kitab Suci adalah kitab yang menyatu. Jika Kitab Suci salah dan tidak berotoritas sebagian, maka Kitab Suci adalah kitab yang salah dan tidak berotoritas secara keseluruhan. Entah kitab ini—sebagai satu keseluruhan—tidak bisa dibatalkan, seperti yang Yesus katakan; atau, kitab ini—di dalam keseluruhannya—bisa dibatalkan, seperti yang dikatakan oleh gereja-gereja dan para theolog yang mengakui Reformed dan Presbiterian ini.

     

Terjemahan-Terjemahan

Alasan gereja dan murid Yesus Kristus untuk menolak semua ajaran yang secara tidak kentara mengompromikan atau yang secara terang-terangan menyangkali otoritas Kitab Suci juga menjadi alasan mereka untuk menolak terjemahan- terjemahan Alkitab yang buruk.

Kitab Suci sama sekali tidak kehilangan otoritasnya karena penerjemahan ke dalam bahasa-bahasa umum yang dipakai oleh bangsa-bangsa. Di dalam pelayanan mereka, Yesus dan para murid-Nya terkadang menggunakan terjemahan Perjanjian Lama dari bahasa Ibrani ke bahasa Yunani populer. Setelah memiliki Kitab Suci Perjanjian Lama di dalam bahasa Ibrani dan kemudian Kitab Suci Perjanjian Baru di dalam bahasa Yunani, Allah dengan providensi yang luar biasa telah memelihara salinan-salinan yang autentik dari naskah-naskah asli. Tidak bisa dibayangkan bahwa Allah akan mengizinkan Firman-Nya yang diinsipirasikan itu hilang atau dirusak.

Dengan providensi yang sama pula Allah telah mengawasi dan menyediakan terjemahan yang setia dari salinan-salinan yang autentik dari Firman-Nya yang diinspirasikan itu, sehingga di dalam terjemahan-terjemahan yang baik umat-Nya memiliki Firman-Nya yang berotoritas di dalam bahasa mereka sendiri.

Terjemahan seperti itu di dalam bahasa Inggris adalah Authorized Version (KJV). Yang menjadi dasarnya, seperti halnya dasar bagi setiap terjemahan yang baik di dalam bahasa apa pun, adalah kesetiaan para penerjemah kepada kata-kata Ibrani dan Yunani aslinya. Authorized Version memiliki banyak kualitas, tetapi yang satu ini adalah kualitas yang fundamental. Karena kesetiaan Authorized Version kepada salinan-salinan yang autentik dari teks asli, seperti yang bisa diverifikasi dengan membandingkan terjemahan dengan naskah-naskah Ibrani dan Yunani yang telah diwariskan kepada gereja, maka gereja dan orang yang percaya memiliki, di dalam Authorized Version, Firman Allah yang diinspirasikan.

Tetapi juga ada terjemahan-terjemahan Alkitab yang buruk. Terjemahan-terjemahan yang buruk merusak Kitab Suci, dan dengan demikian melemahkan otoritasnya. Terjemahan-terjemahan yang buruk juga “membatalkan” Kitab Suci.

Beberapa terjemahan modern merupakan upaya yang disengaja dari para guru palsu untuk melawan doktrin yang benar dan untuk memasukkan ajaran sesat ke dalam gereja-gereja. Salah satu terjemahan seperti itu adalah Living Bible (= Firman Allah yang Hidup [FAYH]). Versi ini mengubah kata-kata Kitab Suci demi menggantikan kebenaran tentang keselamatan oleh anugerah yang berdaulat dengan kebohongan tentang keselamatan oleh kehendak orang yang berdosa. Pembuat versi Living Bible (yang bukan Allah, tetapi penerjemah manusia) menerjemahkan Kisah 13:48 demikian: “As many as wanted eternal life, believed” (“Semua orang yang ingin memperoleh hidup kekal, percaya,” FAYH).

Beberapa versi terjemahan modern berdosa melawan penginspirasian Kitab Suci dan, dengan demikian, merusak otoritas Kitab Suci dengan menyimpang sesuka hati dan jauh dari kata-kata asli yang Allah embuskan. Salah satu terjemahan seperti itu adalah versi Alkitab yang populer di antara banyak orang Kristen Reformed dan Injili, New International Version (NIV). Para penerjemahnya mengadopsi metode penerjemahan yang disebut “ekuivalensi dinamis.” Ini berarti para penerjemah memiliki kebebasan untuk mengungkapkan apa yang mereka pahami sebagai pemikiran sebuah perikop dengan pemikiran yang ekuivalen di dalam bahasa sasaran penerjemahan perikop itu, menurut apa yang mereka putuskan sebagai pemikiran yang ekuivalen itu. Mereka tidak mengikat diri pada kata-kata asli (yang tidak sama dengan tuntutan penerjemahan padanan satu kata [terjemahan] dengan satu kata [asli] secara ketat).

Maka, keberatan utama melawan NIV bukanlah bahwa versi ini secara tidak bisa diterima menerjemahkan secara keliru “only begotten Son” (“Anak/Putra tunggal yang diperanakkan”) di dalam Injil dan surat-surat Yohanes menjadi “one and only Son” (Anak/Putra yang satu dan tunggal”) (yang bahkan tidak benar—karena Allah memiliki banyak anak laki-laki dan anak perempuan), dan versi ini juga sama tidak bisa diterimanya menerjemahkan 1 Timotius 3:16 menjadi, “He appeared in a body” (“Ia muncul di dalam sebuah tubuh”), alih-alih sebagai, “God was manifest in the flesh” (“Allah dinyatakan di dalam daging”), dan dengan demikian mengompromikan, jika bukannya menghilangkan sama sekali, doktrin-doktrin utama iman Kristen.

Keberatan utamanya bukan pula bahwa NIV menyebabkan cedera yang fatal terhadap doktrin biblikal tentang pernikahan dengan secara tidak bisa diterima menerjemahkan 1 Korintus 7:15, “A believing man or woman is not bound in such circumstances” (har. “Seorang laki-laki atau perempuan yang percaya tidak terikat di dalam keadaan-keadaan seperti itu”). Seolah-olah ditinggalkannya seorang yang percaya oleh pasangannya yang tidak percaya memutus ikatan pernikahan itu! Seolah-olah sang rasul tidak pernah menulis, di dalam ayat 30 dari pasal yang sama ini, bahwa hanya kematian yang memutus ikatan pernikahan! Maka, versi modern ini telah secara bodoh dan memberontak mencoba apa yang telah Tuhan larang di dalam Matius 19:6: “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Terjemahan yang tepat dari Authorized Version: “A brother or a sister is not under bondage in such cases” [har. “Seorang saudara atau seorang saudari tidak berada di bawah perhambaan di dalam kasus-kasus seperti itu”]. Orang percaya yang ditinggalkan, meskipun masih terikat, tidak berada di bawah perhambaan.)

Tetapi yang menjadi keberatan utama terhadap NIV adalah bahwa, sebagai hasil dari teori penerjemahan “ekuivalensi dinamis,” orang yang menggunakan NIV tidak bisa meyakini pada titik mana pun bahwa ia sedang membaca atau mendengarkan Firman Allah. Besar kemungkinan itu adalah kata yang sangat berbeda—ide—dari para penerjemahnya. Dan jika orang tidak bisa meyakini bahwa dirinya memiliki Firman Allah di tangannya, atau matanya, atau telinganya, ia tidak memiliki alasan untuk memandang bahwa Firman itu berotoritas.

Sungguh, sejauh NIV menyimpang dari kata-kata Kitab Suci yang diinspirasikan, versi terjemahan ini telah mempersembahkan otoritas Kitab Suci sebagai kurban di atas mezbah ekuivalensi dinamis.

Hanya Firman Allah yang tidak dapat dibatalkan.

Keseriusan dari semua kritik terhadap Kitab Suci, yang merendahkan otoritasnya dengan cara apa pun, adalah bahwa kritik seperti itu merupakan kontradiksi terhadap Tuhan Yesus Kristus, dan mengesampingkan otoritas-Nya.

        

Kesaksian Yesus Kristus

Yesus Kristus mengajarkan natur tidak dapat dibatalkannya Kitab Suci.

Ia berulang-ulang mengajarkan otoritas Kitab Suci yang unik dan mutlak sebagai Firman Allah yang diinspirasikan di seluruh pelayanan-Nya.

Pada awal pelayanan-Nya, Ia melawan pencobaan Iblis dengan banding kepada Kitab Suci. Tiga kali, secara tegas, Ia menjawab desakan yang kuat dan tampak masuk akal dari si Jahat kepada-Nya untuk menyimpang dari jalan menuju salib yang telah Allah tetapkan bagi-Nya, “Ada tertulis” (Mat. 4:1–11).

Ia menegaskan berulang-ulang bahwa Ia harus menderita untuk menggenapi Kitab Suci (Mat. 26:24, 31, 54, 56).

Ketika orang kaya di dalam perumpamaan menginginkan Lazarus bersaksi kepada saudara-saudaranya, dengan anggapan kesaksian dari seorang yang kembali dari antara orang mati akan meyakinkan, Yesus memberitahukan jawaban Abraham,

Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi (yaitu Kitab Suci Perjanjian Lama)…. Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati (Luk. 16:29, 31).

Kepercayaan kita kepada otoritas Kitab Suci sebagai Firman Allah yang diinspirasikan menghormati Yesus sebagai Tuhan. Ia telah mengajari kita bagaimana memandang Kitab Suci. Dengan tunduk kepada otoritas Kitab Suci, kita tunduk kepada Dia. Kita memercayai Alkitab, karena kita memercayai Kristus.

Terhadap ejekan bahwa kita membuat diri kita bersalah atas “pemberhalaan Alkitab,” kita menjawab: “Tuhan telah mengajari kita tentang Kitab Suci yang tidak dapat dibatalkan. Olok-olokmu justru tertuju kepada Dia.”

Kritik atas Kitab Suci, khususnya oleh mereka yang mengklaim sebagai orang-orang Kristen, adalah pemberontakan melawan ketuhanan Yesus Kristus.

Pada dasarnya, kritik terhadap Kitab Suci adalah penyangkalan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang kekal. Yesus menyebut Kitab Suci tidak dapat dibatalkan. Jika Ia keliru, entah karena ketidaktahuan atau kebohongan, tidak mungkin Ia adalah Anak Allah.

Ingatlah bahwa inilah yang menjadi isu ketika Kristus mengucapkan kata-kata di dalam Yohanes 10:34–36. Musuh-musuh yang tidak percaya menantang klaim-Nya bahwa Ia satu di dalam esensi (natur) dengan Bapa (ay. 30). Musuh-musuh itu sangat memahami bahwa dengan klaim tersebut “Engkau … menyamakan diri-Mu dengan Allah” (ay. 33).

Inilah yang menjadi isu di dalam kontroversi tentang otoritas dan natur Kitab Suci. Tidak menghormati Kitab Suci berarti tidak menghormati Yesus Kristus, yang mengatakan tentang Kitab Suci, “Kitab Suci tidak dapat dibatalkan.” Mendiskreditkan Kitab Suci berarti mendiskreditkan Yesus Kristus, yang berkata tentang Kitab Suci, “Kitab Suci tidak dapat dibatalkan.” Menginjak-injak otoritas Kitab Suci, seakan-akan sebuah kumpulan perkataan manusia yang falibel (mengandung kesalahan), berarti menyangkali otoritas Yesus Kristus, yang berkata tentang Kitab Suci, “Kitab Suci tidak dapat dibatalkan.”

Ketika sebuah gereja mengkritik Kitab Suci, entah dengan keputusan resmi atau dengan membiarkan para theolognya melakukan itu, berarti, pada prinsipnya, menjadi sebuah gereja yang palsu. Menurut Artikel 29 dari Pengakuan Iman Belanda, “gereja yang sejati” menangani segala sesuatu “menurut Firman Allah yang murni,” dan dengan demikian mengakui “Yesus Kristus … sebagai satu-satunya Kepala dari Gereja.”

Sebaliknya, “gereja yang palsu” … “melekatkan lebih banyak kuasa dan otoritas pada dirinya sendiri dan ketetapan-ketetapannya daripada pada Firman Allah.” Dengan melakukan itu, gereja yang palsu menolak untuk “menundukkan dirinya di bawah kuk Kristus.”

Betapa bodohnya gereja seperti itu! Betapa bodohnya theolog seperti itu! Betapa bodohnya seorang anggota dari gereja seperti itu, atau murid dari theolog seperti itu!

Karena Kitab Suci tidak dapat dibatalkan. Yesus tidak berkata bahwa Kitab Suci tidak boleh dibatalkan, artinya pembatalan Kitab Suci tidak diizinkan, meskipun ini memang benar. Tetapi Ia mengatakan bahwa Kitab Suci tidak dapat dibatalkan, artinya membatalkan Kitab Suci adalah mustahil. Tidak seorang pun, termasuk pengkritiknya yang paling gigih sekalipun, yang berkemampuan untuk membatalkannya. Mereka mencoba. Orang-orang Yahudi yang memusuhi Yesus mencoba untuk membatalkannya. Penyesat kuno, Marcion, mencoba untuk membatalkannya, di dalam bagian Perjanjian Lamanya. Para pengkritik kontemporer berupaya mati-matian untuk membatalkannya. Tetapi mereka tidak mampu. Kitab Suci mempertahankan, dan menjalankan, otoritasnya yang tidak terkalahkan sebagai Firman Allah dengan membalaskan penghakiman pada mereka—penghakiman yang menakutkan pada saat ini maupun di dalam kekekalan. Landas ilahi Kitab Suci mematahkan setiap palu manusia.

Secara khusus Kitab Suci menunjukkan dirinya tidak dapat dibatalkan, di dalam kuasa Roh Yesus Kristus, dengan menyebabkan gereja yang sejati dan para anggotanya yang terpilih tunduk kepada otoritasnya.

      

Ketundukan Gereja dan Orang yang Percaya

Kitab Suci sendiri secara tidak bisa ditolak mengekang gereja yang sejati untuk menerima Kitab Suci sebagai Firman Allah. Ketika mengakui di dalam Artikel 5 dari Pengakuan Iman Belanda, gereja menerima dan mengakui kitab-kitab dari Alkitab sebagai Firman Allah “karena Roh Kudus memberi kesaksian di dalam hati kita bahwa kitab-kitab itu adalah dari Allah, yang tentangnya kitab-kitab itu membawa bukti di dalam diri mereka sendiri.”

Dengan mendengarkan pemberitaan Kitab Suci dan, di dalam kebergantungan pada pemberitaan itu, dengan pembacaan dan pembelajaran mereka akan Kitab Suci, orang-orang percaya pilihan dan anak-anak mereka mengenal Kitab Suci. Mereka mempelajarinya secara menyeluruh, sehingga mereka bisa menggunakannya untuk pertumbuhan iman mereka dan untuk kehidupan mereka yang kudus. Betapa menyeluruhnya Anak Allah mengenal Kitab Suci. Di dalam perdebatannya melawan orang-orang Yahudi terkait ke-Allahannya, di tangan-Nya sudah siap Mazmur 82 dan ayat kedelapan yang tidak terlalu terkenal tentang dipanggilnya para pemimpin di tengah umat itu sebagai “allah.” Jika Kitab Suci ini kudus dan ilahi, seperti yang diimplikasikan oleh natur tidak dapat dibatalkannya Kitab Suci ini, umat Allah haruslah laki-laki, perempuan, kaum muda, dan anak-anak dari Kitab itu. Tetapi orang-orang yang percaya dan anak-anak mereka membaca dan mempelajari Kitab Suci dengan roh yang menghormati dan mengasihi, bukan dengan roh yang mengkritik.

Hormat kepada Kitab Suci menghasilkan penerimaan atas semua dokrinnya dan ketaatan kepada semua ketetapannya. “Doktrin di dalam [Kitab Suci] adalah paling sempurna dan lengkap di dalam segala aspeknya” (Pengakuan Iman Belanda, 7). Untuk hikmat surgawi terkait ibadah dan kehidupan, “Carilah pengajaran dan kesaksian!” Maka, orang-orang yang percaya dan anak-anak mereka “meminta petunjuk kepada Allah [mereka].” Mengenai semua gereja, pengkhotbah, dan theolog yang “tidak berbicara sesuai dengan perkataan itu [yaitu Kitab Suci],” tidak peduli nama, popularitas, dan gelar mereka, penghakiman umat Allah adalah penghakiman dari Kitab Suci sendiri: “baginya tidak terbit fajar” [har. “tidak ada terang di dalam mereka”] (Yes. 8:19–20).

Di dalam kuasa Roh Yesus Kristus, Kitab Suci memanifestasikan bahwa dirinya tidak dapat dibatalkan dengan membuat semua anak-anak pilihan Allah menaatinya di dalam ajaran sentralnya yang agung. “[Selidikilah] Kitab-kitab Suci,” dorong Yesus di dalam Yohanes 5:39, karena “Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku.” Kitab Suci mengajarkan tentang Yesus Sang Kristus sebagai Anak Allah yang kekal, yang datang menjadi manusia sehingga semua yang percaya kepada-Nya bisa memiliki kehidupan yang kekal.

Di dalam Yohanes 10, klaim Yesus sebagai Anak Allah terkait erat dengan proklamasi-Nya tentang diri-Nya, “Akulah gembala yang baik,” yang mengenal domba-domba-Nya, dan yang, “memberikan nyawa-[Nya] bagi domba-domba-[Nya]” (ay. 14–15).

Yesus sendiri menjadikan otoritas Kitab Suci, yang Ia deklarasikan di dalam Yohanes 10:35, sebagai bukti untuk kebenaran bahwa Ia adalah Juru Selamat. Ia mengutip deklarasi yang berotoritas dari Mazmur 82:6 bagi pernyataan-Nya tentang diri-Nya sebagai “Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia” (Yoh. 10:26). Sebagai yang telah diutus ke dalam dunia—diutus, sebagai Dia yang hidup secara kekal di dalam dunia lain, yaitu surga—Ia adalah Anak Allah, seperti yang Ia klaim, yang mampu melaksanakan pekerjaaan yang agung dan ilahi itu, yaitu penebusan dari dosa dan kematian dan kelepasan ke dalam kehidupan yang kekal. Sebagai yang dikuduskan, Ia adalah manusia yang telah Allah tunjuk dan nyatakan memenuhi syarat bagi pekerjaan keselamatan. Dan Allah telah mengutus Dia ke dalam dunia, bukan sebagai pesuruh, melainkan untuk menggenapi satu perkara yang niscaya: pemuasan tuntutan keadilan Allah menggantikan orang-orang berdosa yang bersalah dengan kematian yang terkutuk di atas salib, dan, berdasarkan kematian itu, dengan kebangkitan ke dalam kehidupan, tubuh, dan jiwa baru yang kekal, baka, dan surgawi.

Kitab Suci tidak dapat dibatalkan khususnya terkait dengan proklamasi Yesus sebagai Juru Selamat dan Tuhan.

Maka, inilah panggilan yang sampai kepada kita dari pembelaan Yesus atas otoritas Kitab Suci: Tunduklah kepada otoritas Kitab Suci! Secara khusus, tundukkah dengan memercayai Yesus Kristus, Anak Allah, yang disalibkan bagi dosa-dosa kita dan dibangkitkan bagi pembenaran kita!

Dengan demikian, iman kita terkait Kitab Suci diteguhkan, dan kita menikmati kehidupan yang kekal. Amin.

Untuk bahan-bahan lain dalam bahasa Indonesia, klik di sini.

Show Buttons
Hide Buttons