Angus Stewart
Signifikansi
Apakah persatuan dengan Kristus merupakan sebuah topik yang signifikan bagi John Calvin (1509–1564), Reformator besar berkebangsaan Prancis itu? Ya! Pertama, berikut sebuah pernyataan yang jelas dari Calvin, yang menunjukkan bahwa topik ini memang signifikan: persatuan dengan Kristus “oleh kita diberi derajat kepentingan yang tertinggi” (Institutio 3:11.10).1
Kedua, pertimbangkan presentasi theologis Calvin sendiri. Buku 3 dari Institutio Christianae Religionis (Ajaran-Ajaran Agama Kristen) diberi judul, “Cara Kita Menerima Anugerah Kristus: Berkat-Berkat Apa yang Tiba kepada Kita dari Anugerah Itu, dan Efek-Efek Apa yang Menyertainya.” Intinya, buku ketiga ini memaparkan doktrin tentang keselamatan atau soteriologi. Buku 3 dari Institutio Calvin mengawali (dan mengembangkan) kebenaran tentang persatuan dengan Kristus:
Pertama, kita harus memahami bahwa selama Kristus tetap berada di luar kita, dan kita terpisah dari-Nya, semua yang telah Ia derita dan kerjakan demi keselamatan umat manusia tetap tidak berguna dan tidak berharga bagi kita. Oleh karena itu, untuk membagikan kepada kita apa yang telah Ia terima dari Bapa, Ia harus menjadi milik kita dan berdiam di dalam diri kita. Untuk alasan inilah Ia disebut “Kepala” kita [Ef. 4:15], dan “yang sulung di antara banyak saudara” [Rm. 8:29]. Pada gilirannya, kita juga dikatakan harus “dicangkokkan” kepada-Nya [Rm. 11:17], dan “mengenakan Kristus” [Gal. 3:27]; sebab, seperti telah saya katakan, semua yang Ia miliki bukanlah apa-apa bagi kita sampai kita bertumbuh menjadi satu tubuh bersama-Nya (Institutio 3.1.1).
Dengan kata lain, bagi Calvin, soteriologi dibahas di bawah tema unio cum Christo!
Ketiga, persatuan dengan Kristus adalah niscaya bagi kemuliaan Tuhan Yesus. Calvin menyatakan bahwa ini adalah
kehormatan tertinggi yang gereja miliki, bahwa Anak Allah, sampai Ia dipersatukan dengan kita, memandang diri-Nya sendiri belum sempurna sampai taraf tertentu. Sungguh penghiburan yang besar bagi kita ketika mengetahui bahwa sampai kita berada dengan-Nya barulah Ia memiliki semua bagian-Nya, atau bisa dipandang sudah lengkap! Maka, di dalam Surat 1 Korintus, ketika sang rasul secara panjang lebar membahas metafora tentang tubuh manusia [1Kor. 12:12–31], ia memasukkan seluruh Gereja di bawah satu nama Kristus ini [5:12] (Tafsiran atas Ef. 1:23).2
Pentingnya persatuan dengan Kristus di dalam theologi Reformator Jenewa ini diakui secara luas di dalam literatur sekunder, dengan kesepakatan pandangan tentang persatuan mistis dari para pakar dogmatika, para pakar tentang Calvin, dan penulis dari seluruh penjuru dunia.
Pertama, sebagai contoh untuk pakar dogmatika, kita mengutip Abraham Kuyper: “Para theolog yang merepresentasikan kebenaran ilahi secara paling murni memberikan penekanan paling besar pada” persatuan dengan Kristus, demikian pernyataan tokoh Belanda yang menghasilkan banyak tulisan itu, sebelum menambahkan bahwa “di antara para Reformator … tidak seorang pun di antara mereka yang telah mempresentasikan unio mystica ini, persatuan spiritual dengan Kristus ini, dengan tanpa henti, dengan begitu lembut, dan dengan api yang begitu kudus seperti” Calvin.3
Kedua, Ronald Wallace, seorang pakar tentang Calvin berkebangsaan Skotlandia, menulis,
Calvin memperhatikan bahwa dalam mendefinisikan sarana-sarana yang dengannya kita diselamatkan, adalah lebih baik menggunakan frasa di dalam Kristus daripada oleh Kristus (Tafsiran atas Rm. 6:11; 1Kor. 1:5), karena frasa yang pertama memiliki keekspresifan dan kekuatan yang lebih besar dan menunjuk kepada persatuan dengan Kristus yang merupakan satu bagian yang sangat niscaya dari Injil.4
Ketiga, Rankin Wilbourne, penulis berkebangsaan Amerika dengan buku barunya yang berbicara tentang persatuan mistis, menyatakan,
Bagi Calvin, persatuan dengan Kristus bukanlah—dan tidak mungkin bisa menjadi—sebuah aspek opsional dari keselamatan kita. Pribadi Kristus adalah keselamatan kita. Setiap manfaat Injil sampai kepada kita melalui dan hanya melalui persatuan kita dengan-Nya. Bagi Calvin, misteri hubungan spiritual kita dengan Tuhan yang hidup, berinkarnasi, disalibkan, bangkit, dan naik ke surga ini adalah apa artinya “diselamatkan.”5
Yang terakhir, Constantine R. Campbell dari Anglican Church of Australia menyatakan bahwa unio cum Christo “sangat menonjol” di dalam Calvin “tetapi tidak secara konsisten di dalam tradisi Reformed.”6 Ini merupakan cacat yang patut disesali di dalam sejumlah bagian dari Protestanisme secara historis.7 Khususnya di mana kelemahan ini terjadi pada saat ini, para gembala sidang dan orang-orang yang percaya perlu menemukan kembali doktrin skriptural tentang persatuan dengan Kristus, yang telah dipaparkan dengan begitu mahirnya oleh Reformator berkebangsaan Prancis ini.
Di dalam theologi Calvin, ajarannya tentang persatuan dengan Kristus bukan hanya luar biasa, tetapi juga, seperti yang telah ditunjukkan oleh pendapat-pendapat di atas dan yang akan ditunjukkan oleh seluruh bagian selanjutnya dari bab ini, juga sangat biblikal dan sangat distingtif, sekaligus sangat mendalam secara theologis dan sangat menyentuh.8
Penyataan, Deskripsi, dan Gambaran
Calvin mengetahui bahwa kebenaran tentang persatuan dengan Allah—belum lagi fakta bahwa persatuan ini hanyalah melalui Kristus dan oleh Roh Kudus—terlalu dalam bagi rasio para filsuf pagan, bahkan yang terbaik sekalipun, yang tidak mendapat pertolongan.
Para filsuf zaman dulu dengan cemasnya membahas kebaikan yang berdaulat, dan bahkan memperdebatkannya di antara mereka sendiri. Namun hanya Plato yang mengakui bahwa kebaikan tertinggi manusia adalah persatuan dengan Allah, dan bahkan ia pun tidak mampu untuk menangkap naturnya barang sedikit pun (Institutio 3.25.2).
Calvin menjelaskan bahwa “misteri” (TB = “rahasia,”) tentang “Kristus di dalam kamu” (Kol. 1:26–27) dinyatakan hanya melalui Injil tentang inkarnasi dan salib Sang Anak Allah, dan pencurahan Roh Kudus atas gereja yang katolik atau universal:
Di sini kita mendapati sesuatu yang dibawakan oleh Injil—bahwa ini adalah sebuah rahasia yang ajaib tentang Allah.… Di sini ia [Paulus] menyebutnya sebuah rahasia yang terselubung, yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, yaitu bahwa dari permulaan dunia, melalui begitu banyak revolusi yang terjadi dari abad ke abad. Bahwa Injil inilah yang ia maksudkan adalah jelas dari Roma 16:25, Efesus 3:9, dan perikop-perikop lain yang senada (Tafsiran atas Kol. 1:26).
Komentator kita melanjutkan eksposisinya tentang “misteri” (“rahasia”) ini, seperti yang diajarkan di dalam berbagai teks Perjanjian Baru, di dalam kaitan dengan persatuan dengan Tuhan Yesus:
semua rahasia terdapat di dalam Kristus, dan … segala kekayaan hikmat surgawi didapatkan oleh mereka ketika mereka memiliki Kristus … Ia [Paulus] menambahkan, di dalam kamu (TB = di tengah-tengah kamu), karena sekarang mereka memiliki Kristus, yang dari-Nya mereka sebelumnya benar-benar terasing, sehingga tidak ada hal apa pun yang bisa melampaui itu. Yang terakhir, ia menyebut Kristus sebagai pengharapan akan kemuliaan, sehingga mereka bisa mengetahui bahwa mereka tidak kekurangan apa pun bagi keteberkatan yang seutuhnya ketika mereka telah mendapatkan Kristus (Tafsiran atas Kol. 1:27).
Meskipun Calvin tidak pernah memberikan kepada kita sebuah definisi bagi persatuan dengan Kristus, berikut adalah dua deskripsi yang menyentuh darinya untuk realitas yang teberkati ini:
Kristus dijadikan milik kita … [Persatuan kita dengan Kristus adalah] penyatuan Kepala dengan anggota-anggota, berdiamnya Kristus di dalam hati kita—singkatnya, persatuan mistis itu … sehingga Kristus, setelah dijadikan sebagai milik kita, membuat kita berbagi bersama Dia karunia-karunia yang telah dianugerahkan kepada-Nya … kita mengenakan Kristus dan dicangkokkan ke dalam tubuh-Nya … karena Ia berkenan untuk merendahkan diri demi menjadikan kita satu dengan Dia (Institutio 3.11.10).9
Kristus bukan berada di luar diri kita, melainkan berdiam di dalam diri kita. Ia bukan hanya melekat kepada kita dengan suatu ikatan persekutuan yang tidak dapat dipisahkan, tetapi juga dengan suatu persekutuan yang ajaib, hari demi hari, Ia semakin bertumbuh menjadi satu tubuh dengan kita, sampai Ia menjadi sepenuhnya satu dengan kita (Institutio 3.2.24).
Di dalam dua kutipan ini dan di dalam seluruh tulisan-tulisannya, Calvin memandang bahwa persatuan dengan Kristus ini bersifat mutual (timbal balik) dan juga dinamis. Persatuan ini mutual, karena, secara individual, saya berada di dalam Dia dan Ia berada di dalam saya, dan, secara kolektif, kita satu dengan Dia dan Ia satu dengan kita. Kristus dijadikan milik kita dan kita dijadikan milik-Nya! Persatuan ini dinamis karena Kristus “semakin bertumbuh menjadi satu tubuh dengan kita” (Institutio 3.2.24) dan bahwa kita “bertumbuh bersama ke arah Kristus [Ef. 4:15]” (Institutio 3.24.5),
Bahwa Kristus harus terbentuk di dalam diri kita adalah sama dengan terbentuknya kita di dalam Kristus; karena kita dilahirkan [kembali] sehingga menjadi ciptaan-ciptaan baru di dalam Dia; dan Ia, di sisi lain, dilahirkan di dalam kita, sehingga kita menghidupi kehidupan-Nya (Tafsiran atas Gal. 4:19).
Gambaran-gambaran apakah yang Calvin gunakan untuk menunjukkan persatuan kita dengan Tuhan Yesus? Pertama gambaran tentang tanaman: akar-akar, cabang-cabang, dan pokoknya. Kedua, gambaran anatomis (tubuh): kepala, tubuh, dan anggota-anggota tubuh. Ketiga, gambaran tentang ikatan pernikahan (konjugal): suami dan istri. Kristus dijadikan milik kita sebagai pokok kita, kepala kita, dan suami kita!
Mengapakah gambaran-gambaran ini? Inilah gambaran-gambaran yang digunakan di dalam Kitab Suci yang diinspirasikan.10 Sementara para biarawan kuno menambang dari Kitab Kidung Agung ketika mereka mempertimbangkan persatuan dengan Kristus, John Calvin secara khusus menggali dari surat-surat Paulus.
Gambaran manakah yang paling banyak digunakan oleh Calvin? Sementara gambaran tentang ikatan pernikahan untuk persatuan dengan Kristus mendominasi di dalam gereja pra-Reformasi, dan Herman Hoeksema lebih condong kepada gambaran tentang tanaman, sang Reformator Jenewa lebih menyukai gambaran anatomis. Ayat Alkitab yang paling sering ia rujuk di dalam kaitan ini adalah Efesus 5:30: “Karena kita adalah anggota [dari] tubuh-Nya[, dari daging-Nya, dan dari tulang-tulang-Nya] (KJV).11
Nomina dan Adjektiva
Nomina-nomina dan frasa-frasa apakah yang Calvin gunakan untuk menggambarkan kebenaran tentang persatuan kita dengan Kristus? Persatuan ini adalah
- sebuah persatuan mistis atau persatuan dengan Allah
- sebuah ikatan atau persekutuan atau komuni
- sebuah pengambilan bagian dari Kristus atau keberberbagianan di dalam Dia
- sebuah pencangkokan atau penyatuan
- keadaan berada di dalam Roh atau didiami oleh Roh
- suatu pertumbuhan untuk menjadi bersama atau menjadi satu
Dengan menyatukan banyak konsep ini, Kristus dijadikan milik kita di dalam sebuah persatuan mistis atau ikatan persekutuan oleh pencangkokan, sehingga kita mengambil bagian dari Dia, dan bertumbuh menjadi bersama di dalam Dia melalui berdiamnya Roh.
Kata-kata dan frasa-frasa di atas bisa dengan mudah dikenali sebagai kata-kata dan frasa-frasa biblikal, atau ungkapan-ungkapan dari ide-ide skriptural. Tetapi yang manakah yang paling sering Calvin gunakan ketika ia menulis tentang persatuan dengan Kristus? Pencangkokan12 atau dicangkokkannya kita ke dalam Yesus.13 Hal yang mengejutkan adalah bahwa oleh theolog kita ini, pencangkokan ke dalam Kristus lebih sering dikembangkan di dalam gambaran anatomis daripada di dalam gambaran tentang tanaman.14 Alasan bagi hal ini mungkin termasuk penerjemahan Calvin atas pernyataan Kristus, “Akulah pokok anggur,” menjadi “Akulah kebun anggur” (Tafsiran atas Yoh. 15:1)15 dan sikap menahan diri yang ia tunjukkan di dalam tafsirannya atas Roma 11:16–21 dengan gambarannya tentang tanaman, termasuk rujukan-rujukannya kepada pohon zaitun dan pencangkokan cabang-cabang.16
Adjektiva-adjektiva apakah yang Calvin gunakan untuk mendeskripsikan persatuan kita dengan Kristus? Berikut adalah banyak, jika bukannya semua, adjektiva yang utama:
- spiritual, supernatural, dan surgawi
- kudus dan sakral
- teberkati dan ajaib
- tidak terpisahkan dan langgeng (kekal)
- tidak bisa dihancurkan, tidak bisa terbagi-bagi, dan tidak bisa diputus
- rahasia, misterius, dan tidak bisa dipahami secara tuntas
- erat dan intim
Maka Kristus dijadikan milik kita di dalam sebuah persatuan yang ajaib, yang supernatural, dan sakral, dan juga tidak bisa dihancurkan, tidak bisa dipahami secara tuntas, dan intim!17
Intim
Namun seberapa erat atau intimkah persatuan kita dengan Kristus? Robert Letham menyatakan bahwa di dalam tulisan-tulisan [Latin] Calvin, “Persatuan ini lebih kuat dan lebih erat daripada sekadar persekutuan (consortis) atau afinitas (kekerabatan), asosiasi, atau kerekanan (societatis).”18
Marilah kita mengikuti argumen sang Reformator berkebangsaan Prancis ini sendiri di dalam tafsiran-tafsirannya atas 1 Korintus 6, Kolose 1 dan Galatia 3. Ikatan pernikahan di bumi antara seorang laki-laki dan seorang perempuan “adalah sedemikian erat dan tidak bisa diputus sehingga melampaui hubungan yang ada antara seorang ayah dan seorang anak.” Calvin menarik pelajaran bahwa ini “cenderung akan semakin meninggikan efikasi dan martabat pernikahan spiritual antara kita dan Kristus” (Tafsiran atas 1Kor. 6:16).
Calvin melanjutkan:
… hubungan kita dengan Kristus begitu jauh lebih erat daripada hubungan seorang suami dan istri, dan … dengan demikian, hubungan yang pertama (kita dengan Kristus) haruslah jauh lebih dipilih daripada hubungan yang kedua (suami dan istri) … [karena kita] bukanlah sekadar satu daging dengan Kristus, tetapi juga satu roh. Maka ada sebuah perbandingan antara yang lebih besar dan yang lebih kecil (Tafsiran atas 1Kor. 6:17).
Di bagian yang lain, penafsir kita menulis, “kita dipersatukan dengan-Nya secara lebih erat daripada [persatuan] kaki dan tangan kita dengan tubuh kita.”19 Calvin bahkan menyatakan,
Selain itu, kita mengetahui bahwa ada kesatuan yang begitu erat antara Kristus dan anggota-anggota-Nya, sehingga nama Kristus terkadang mencakup seluruh tubuh, seperti di dalam 1 Korintus 12:12, karena ketika membahas tentang Gereja di dalam ayat itu, sang rasul sampai kepada kesimpulan, bahwa di dalam Kristus berlaku hal yang sama seperti yang berlaku di dalam tubuh manusia (Tafsiran atas Kol. 1:24).
Calvin menjelaskan apa maknanya bahwa orang-orang percaya Perjanjian Baru “telah mengenakan Krisus” atau berpakaikan Dia:
Semakin agung dan mulia hak istimewa sebagai anak-anak Allah, semakin jauh pula hal tersebut dari indra-indra kita, dan semakin sulit untuk bisa dipercaya. Oleh karena itu ia [yaitu Paulus] menjelaskan, dengan sejumlah kata, apa yang terimplikasi di dalam perihal dipersatukannya kita, atau lebih tepatnya, dijadikannya kita satu dengan Sang Anak Allah; sehingga meniadakan segala keraguan, bahwa apa yang Ia miliki dikomunikasikan kepada kita. Paulus menggunakan metafora pakaian, ketika ia mengatakan bahwa orang-orang Galatia telah mengenakan Kristus; tetapi ia memaksudkan bahwa mereka dipersatukan dengan sedemikian eratnya dengan Dia sehingga, di hadapan Allah, mereka menyandang nama dan karakter Kristus, dan dipandang sebagai berada di dalam Dia daripada di dalam diri mereka sendiri (Tafsiran atas Gal. 3:27).
Apakah Anda melihat perbandingan-perbandingan dan gerak majunya? Ikatan kita dengan Kristus lebih erat daripada (1) hubungan ayah-anak, (2) pernikahan di bumi, dan bahkan (3) persatuan antara kaki dan tangan dengan tubuh kita, karena kita (4) “satu daging” dan (5) “satu roh” dengan Juru Selamat kita. Ya, Kristus dijadikan milik kita sehingga “terkadang,” kata Calvin, (6) “nama Kristus … mencakup seluruh tubuh” gereja. Sungguh, (7) “di hadapan Allah, mereka menyandang nama dan karakter Kristus, dan dipandang sebagai berada di dalam Dia daripada di dalam diri mereka sendiri.” Kristus dijadikan milik kita secara intim!
Osiander mengenai Pembenaran
Doktrin yang benar sering kali diperjelas dan diperkuat karena melawan ajaran sesat. Inilah yang terjadi dengan ajaran Calvin mengenai persatuan dengan Kristus di dalam perlawanan terhadap Andreas Osiander (1498–1552), seorang penulis berkebangsaan Jerman dan hidup semasa dengan Calvin tetapi berusia lebih tua.20 Osiander adalah Reformator Lutheran di Nuremberg dan, menjelang akhir hayatnya, menjadi profesor theologi di Königsberg.21
Spekulasi-spekulasi Osiander yang ganjil mengenai persatuan dengan Kristus muncul khususnya di dalam kaitan dengan dua doktrin. Yang pertama melibatkan ajarannya tentang pembenaran (bdk. Institutio 3.11.5–12). Osiander menolak kebenaran Reformasi yang biblikal bahwa kebenaran Allah di dalam pembenaran adalah ketaatan seumur hidup Kristus kepada Taurat Allah, yang diimputasikan sebagai milik kita, dan diterima melalui iman saja.
Sebaliknya, bagi Osiander, kebenaran Allah di dalam pembenaran adalah “kebenaran esensial”-Nya, kebenaran milik esensi atau Keberadaan ilahi. Menurut Osiander, pembenaran adalah persatuan kita dengan “esensi” atau “substansi” atau “natur” yang kekal milik Allah atau Kristus. Deitas (keilahian) ini “ditransfusikan” atau “diinfusikan” atau “dituangkan” ke dalam diri kita, sehingga kita “bercampur” dan “berbaur” dengan Keberadaan ilahi itu.
Berikut adalah bagaimana Calvin mempresentasikan Osiander dan doktrinnya di dalam Institutio 3.11.5:
- “keinginannya untuk mentransfusikan esensi Allah ke dalam manusia”
- “[Ia] mengatakan bahwa … esensi Kristus bercampur dengan esensi kita sendiri.”
- “[Ia] berpura-pura bahwa kita secara substansial sudah benar di dalam Allah oleh penginfusian dari esensi-Nya maupun dari kualitas-Nya”
- “[Ia] melontarkan suatu campuran substansi-substansi yang dengannya Allah—dengan mentransfusikan diri-Nya ke dalam diri kita—menjadikan kita bagian dari diri-Nya”
- “[Ia] menganggapnya … esensi Kristus dicampurkan dengan esensi kita”
Ini bukan cara Kristus dijadikan milik kita di dalam pembenaran!
Doktrin Osiander tentang “kebenaran esensial,” Calvin sebut sebagai “sesuatu yang menyerempet Manichaeisme” and “monster aneh” (Institutio 3.11.5). Ia mengidentifikasinya sebagai sebuah “kesalahan yang mengerikan” (Institutio 3.11.12), sebuah “mimpi yang liar” (Institutio 3.11.5) dan suatu “delusi” (Institutio 3.11.6), yang menghasilkan “kabut yang sedemikian rupa” sehingga akan “menggelapkan pikiran-pikiran ” orang banyak (Institutio 3.11.5).22
François Wendel benar:
Tidak ada pertanyaan, ketika Calvin berbicara mengenai persatuan atau komuni dengan Kristus, mengenai keterisapan ke dalam Kristus, atau identifikasi mistis apa pun yang akan mengurangi kepribadian manusia di dalam taraf sekecil apa pun.23
Karena, di dalam doktrin Osiander tentang “kebenaran esensial,” pembenaran adalah diinfusikannya esensi Deitas yang kekal ke dalam diri kita, apakah akibatnya terhadap pembenaran sebagai sebuah berkat legal, deklarasi oleh Allah sebagai hakim bahwa kita tidak bersalah atas semua dosa dan benar di hadapan-Nya? Lalu bagaimanakah pula terhadap kebenaran tentang pengimputasian, bahwa ketaatan Kristus diperhitungkan sebagai milik kita? Calvin mempresentasikan posisi dan sikap theolog berkebangsaan Jerman itu: “Osiander menertawakan orang-orang yang mengajarkan bahwa “dibenarkan” adalah sebuah istilah hukum … tidak ada yang lebih ia pandang rendah daripada bahwa kita dibenarkan oleh imputasi yang cuma-cuma” (Institutio 3.11.11).
Calvin melanjutkan dengan mengajarkan bahwa pembenaran bersifat legal (hukum) dan secara niscaya melibatkan pengimputasian (Institutio 3.11.11–12), yang berlawanan dengan Osiander, dan juga Roma dan Visi Federal, yang sama-sama membenci dan mencemooh kebenaran-kebenaran Injil yang sangat penting ini.
Mari kita kembali kepada sebuah kutipan di bagian sebelumnya dari bab ini, dari mana kita mendapatkan bagian pertama dari judulnya, dan memberinya pendahuluan dengan dua pengamatan penting. Yang pertama terkait lokasinya: bahwa kutipan ini berasal dari satu bagian tengah-tengah polemik Calvin melawan Osiander terkait pembenaran. Yang kedua, kutipan ini mempresentasikan persatuan dengan Kristus secara organis.
Kristus dijadikan milik kita … [Persatuan kita dengan Kristus adalah] penyatuan Kepala dengan anggota-anggota, berdiamnya Kristus di dalam hati kita—singkatnya, persatuan mistis itu … sehingga Kristus, setelah dijadikan sebagai milik kita, membuat kita berbagi bersama Dia karunia-karunia yang telah dianugerahkan kepada-Nya … kita mengenakan Kristus dan dicangkokkan ke dalam tubuh-Nya … karena Ia berkenan untuk merendahkan diri demi menjadikan kita satu dengan Dia (Institutio 3.11.10).
Perhatikanlah bahwa, di dalam konteksnya sendiri, Calvin berbicara tentang berkat legal dari pembenaran di dalam kaitan dengan persatuan dengan Kristus. Di bagian tengah dari kutipan di atas (karena berisi beberapa elipsis), Reformator kita menyatakan, “Kebenaran [Kristus] boleh diimputasikan kepada kita … karena kita mengenakan Kristus dan dicangkokkan ke dalam tubuh-Nya … karena Ia berkenan untuk merendahkan diri demi menjadikan kita satu dengan Dia.” Selain itu, segera setelah kutipan di atas Calvin menambahkan, “Karena alasan ini, kita bermegah bahwa kita memiliki persekutuan kebenaran [yaitu kebenaran legal yang diimputasikan] dengan-Nya.”
Apakah Anda melihat apa yang sedang Calvin katakan? Kristus dijadikan milik kita—bukan dengan dicampurkannya esensi-Nya dengan esensi kita (kontra Osiander) tetapi—dengan berdiamnya Dia di dalam diri kita secara spiritual. Di dalam persatuan dengan Kristus ini, kita menikmati pembenaran legal, pengimputasian kebenaran Kristus kepada kita. Selain itu, persisnya di sinilah theolog besar kita ini mendeklarasikan bahwa “persatuan mistis itu oleh kita diberi derajat kepentingan yang tertinggi” (Institutio 3.11.10)!24
Berikut adalah kutipan lengkapnya, dan seharusnya pengertiannya yang penuh dan kekuatannya yang lebih besar sudah menjadi jelas sekarang:
Saya mengakui bahwa kita tidak memiliki kebaikan yang tiada taranya ini [yaitu pembenaran] sampai Kristus dijadikan milik kita. Oleh karena itu, penyatuan Kepala dengan anggota-anggota, berdiamnya Kristus di dalam hati kita—singkatnya, persatuan mistis itu—oleh kita diberi derajat kepentingan yang tertinggi, sehingga Kristus, setelah dijadikan sebagai milik kita, membuat kita berbagi bersama Dia karunia-karunia yang telah dianugerahkan kepada-Nya. Oleh karena itu, kita bukan merenungkan Dia dari jauh di luar diri kita sendiri agar kebenaran-Nya boleh diimputasikan kepada kita, melainkan karena kita mengenakan Kristus dan dicangkokkan ke dalam tubuh-Nya—singkatnya, karena Ia berkenan untuk merendahkan diri demi menjadikan kita satu dengan Dia. Karena alasan ini, kita bermegah bahwa kita memiliki persekutuan kebenaran dengan-Nya (Institutio 3.11.10).25
Osiander tentang Perjamuan Tuhan
Pengrusakan Osiander terhadap [doktrin tentang] persatuan dengan Kristus bukan hanya terjadi di dalam doktrinnya tentang pembenaran, tetapi juga di dalam ajarannya tentang Perjamuan Tuhan.26 Apakah Anda masih mengingat afiliasi gereja Osiander? Ia adalah seorang Lutheran. Doktrin Lutheranisme tentang Perjamuan Tuhan disebut konsubstansiasi, meskipun kaum Lutheran tidak menyukai istilah itu. Menurut Lutheranisme, Kristus hadir secara tubuh di dalam, di bawah, dan bersama roti dan anggur di dalam sakramen.
Doktrin Osiander tentang kebenaran esensial sejalan dengan pandangan Lutheran tentang Perjamuan Tuhan (meskipun tidak dengan doktrin tentang pembenaran di dalam dokumen kredal Lutheran dan Reformed), namun sama sekali tidak sesuai dengan ajaran Reformed tentang Perjamuan Tuhan (dan persatuan dengan Kristus). Osiander melihat kaitan di dalam theologinya antara pandangan-pandangannya tentang pembenaran, persatuan dengan Kristus, dan Perjamuan Tuhan. Calvin pun melihat itu!
Sang Reformator Jenewa merangkum ajaran Osiander di dua tempat ini di dalam Institutes 3.11.10:
Fakta bahwa Osiander sedemikian bersikeras untuk mempertahankan kebenaran esensial [yaitu doktrin Osiander tentang pembenaran] dan berdiamnya Kristus secara esensial di dalam diri kita [yaitu doktrin Osiander tentang persatuan dengan Kristus] menghasil ini … Osiander berpendapat bahwa Allah mencurahkan diri-Nya ke dalam diri kita sebagai suatu campuran yang kasar, sama seperti ia mengkhayalkan memakan Kristus secara jasmaniah di dalam Perjamuan Tuhan.
Osiander, dengan mencemooh ikatan rohaniah [dari persatuan dengan Kristus] ini, memaksakan pencampuran yang menjijikkan antara Kristus dan orang-orang percaya [di dalam pembenaran]. Dan karena alasan ini, dengan jahatnya Osiander menyebut sebagai kaum “Zwinglian” semua orang yang tidak menerima kesalahan gilanya tentang “kebenaran esensial” karena mereka tidak berpandangan bahwa Kristus dimakan di dalam substansi di dalam Perjamuan Tuhan.
Dan ini jelas-jelas bukan cara Kristus dijadikan milik kita pada Perjamuan Tuhan!
Consensus Tigurinus (1549), yang sebagian besar merupakan karya John Calvin, menjelaskan apa sebenarnya pengambilan bagian dari Tuhan Yesus di dalam sakramen Kristen yang kedua ini:
Karena Kristus memberi makan bagi jiwa kita melalui kuasa Roh-Nya, dengan memakan dagingnya dan meminum darah-Nya yang digambarkan di sini, maka tidak boleh dipahami seolah-olah ada pencampuran atau pentransfusian substansi. Tetapi kita mendapatkan kehidupan dari daging yang satu kali dipersembahkan di dalam kurban dan darah yang dicurahkan bagi ekspiasi.27
Roh Kudus sebagai Agen
Pemahaman biblikal Calvin tentang persatuan dengan Kristus akan terlihat semakin tajam jika kita di sini memasukkan pembahasannya tentang peran Roh Kudus dan iman. Roh yang teberkati ini adalah ikatan personal yang menyatukan kita kepada Yesus, dan agen ilahi yang melalui-Nya Ia memberkati dan memerintah kita:
… Roh Kudus adalah ikatan yang dengannya Kristus secara efektual mempersatukan kita kepada diri-Nya sendiri (Institutio 3.1.1).
… kuasa Roh Kudus yang rahasia adalah ikatan persatuan kita dengan Kristus (Institutio 4.17.33).
[Kristus] mempersatukan diri-Nya sendiri kepada kita hanya oleh Roh. Oleh anugerah dan kuasa Roh yang sama kita dijadikan anggota-anggota-Nya, untuk menempatkan kita di bawah-Nya dan pada giliran-Nya memiliki Dia (Institutio 3.1.3).
[Melalui] energi rahasia Roh, yang olehnya kita bisa menikmati Kristus dan segala berkat-Nya (Institutio 3.1.1).
Adjektiva apakah yang mendeskripsikan persatuan dengan Kristus yang kita dapatkan dari ini? Persatuan dengan Kristus adalah spiritual, yang di dalam Alkitab bermakna “terkait dengan Roh Kudus.” Kristus dijadikan milik kita secara spiritual!
Inilah argumen Calvin di dalam Institutio 3.1.2. Yesus Kristus datang ke dalam dunia dan mengerjakan penebusan kita oleh kuasa Roh Kudus. Ia menerima Roh di dalam segenap kepenuhan-Nya pada saat Ia ditinggikan di sebelah kanan Allah di surga, sehingga Ia mengaruniakan Roh kepada kaum pilihan-Nya, untuk mempersatukan kita kepada diri-Nya sendiri dan memberikan berkat-berkat-Nya pada kita. Pneumatologi vital bagi unio cum Christo karena Kristus dijadikan milik kita oleh Roh.
Sudah jelas, bagi Calvin, Roh Kudus adalah satu ikatan personal antara orang-orang yang percaya dan Kristus. Calvin, dan juga theologi yang biblikal dan Reformed, mendasarkan ini bukan hanya pada peran Roh sebagai ikatan personal antara Yesus Kristus dan Trinitas kudus, tetapi bahkan di dalam peran intra-Trinitarian sebagai ikatan personal antara Bapa dan Anak atau Firman:
Juga, kita harus mengetahui bahwa Ia disebut sebagai “Roh Kristus” bukan hanya karena Kristus, sebagai Firman Allah yang kekal, dipersatukan di dalam Roh yang sama dengan Bapa, tetapi juga dari karakter-Nya sebagai Pengantara (Institutio 3.1.2).
Ronald Wallace merangkum ajaran Calvin tentang peran Roh Kudus terkait “membawa turun” dan “membawa naik” dalam mempersatukan kita dengan Tuhan Yesus:
Ketika berbicara tentang persatuan antara Kristus dan umat-Nya, Calvin bisa berbicara, dengan kehati-hatian, tentang Roh Kudus yang membawa Kristus turun ke dalam kehidupan dan hati umat-Nya. Ia lebih suka mengatakan bahwa Roh Kudus mengangkat manusia dari bumi ke Surga, untuk berdiam bersama Kristus di sana dan mengambil bagian dari Kristus di sana. Ia bisa berbicra tentang Roh Kudus sebagai kaitan yang menghubungkan kita kepada Kristus dan juga sebagai saluran yang melaluinya segala sesuatu yang adalah apa adanya Kristus dan yang Ia miliki diberikan kepada kita.28
Reformator kita bahkan mengutip dua teks dari 1 Yohanes mengenai pengetahuan atau jaminan yang dimiliki oleh orang yang percaya akan persatuan dengan Kristus melalui Roh Kudus:
Dengan inilah kita ketahui bahwa Allah tinggal di dalam kita, yaitu dengan Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita” [1Yoh. 3:24]. Begitu pula, “Demikianlah kita ketahui bahwa kita tetap tinggal di dalam Allah dan Dia di dalam kita, karena Ia telah mengaruniakan Roh-Nya kepada kita.” [1Yoh. 4:13] (Institutio 3.1.4).29
Kristus dijadikan milik kita oleh Roh dan kita mengetahuinya melalui Roh!
Iman sebagai Sarana
Setelah mempertimbangkan ajaran Calvin tentang keagenan Roh Kudus di dalam persatuan kita dengan Kristus, apakah peran iman? Dari banyak kutipan dari tulisan-tulisan Calvin yang bisa dipilih terkait unio cum Christo melalui iman, berikut adalah tiga dari Institutio-nya yang diambil dari lokasi-lokasi yang strategis:
Memang benar bahwa kita memperoleh ini dengan iman (Institutio 3.1.1).
Kristus diberikan kepada kita oleh kemurahan Allah, untuk digenggam dan dimiliki oleh kita di dalam iman (Institutio 3.11.1).
Seperti yang telah dijelaskan di dalam buku sebelumnya [yaitu buku 3], oleh iman kepada Injillah Kristus menjadi milik kita, dan kita dijadikan pengambil bagian di dalam keselamatan dan berkat-berkat kekal yang diberikan oleh-Nya (Institutio 4.1.1).
Kristus dijadikan milik kita dengan sarana iman!
Calvin menjelaskan ini secara jelas dan kaya di dalam Confession of Faith in [the] Name of the Reformed Churches of France (Pengakuan Iman mewakili Gereja-Gereja Reformed Prancis, 1562) yang ditulisnya:
13. Bagaimana Kita Mengambil Bagian dari Yesus Kristus dan Manfaat-Manfaat-Nya—tentang Iman
Sekarang kita memahami bahwa kita dijadikan pengambil bagian dari semua berkat-berkat-Nya dengan sarana iman; karena iman inilah yang membawa kita ke dalam komunikasi dengan Kristus, agar Ia bisa berdiam di dalam diri kita, agar kita bisa dicangkokkan ke dalam Dia sebagai akar kita, agar kita bisa menjadi anggota-anggota dari tubuh-Nya, agar kita bisa hidup di dalam Dia, dan Ia di dalam kita, dan memiliki Dia, dengan semua manfaat milik-Nya. Dan agar tidak dianggap aneh bahwa kita memperhitungkan kuasa seperti ini kepada iman, kita tidak memandang itu sebagai pendapat yang hanya bertahan untuk sementara, tetapi sebagai kepastian yang kita miliki dari janji-janji Allah, yang di dalamnya semua berkat ini terdapat, dan yang melaluinya kita merangkul Yesus Kristus, Tuhan kita, sebagai jaminan bagi seluruh keselamatan kita, dan mengaplikasikan pada penggunaan kita sendiri apa yang telah Ia terima dari Allah, Bapa-Nya, untuk diberikan kepada kita. Kita juga mengetahui bahwa kita tidak dapat memiliki iman ini jika tidak diberikan kepada kita dari atas, dan seperti yang Kitab Suci deklarasikan (Ef. 2:9; 1:18) sampai Roh Kudus menerangi kita untuk memahami apa yang melampaui semua indra manusia, dan memeteraikan di dalam hati kita apa yang harus kita percayai.30
Wallace mengamati bahwa bagi Calvin,
Iman mempersatukan manusia kepada Allah dan membuat Allah berdiam di dalam diri manusia. Harus diperhatikan bahwa gerakan iman dalam memegang apa yang ada di dalam Surga dan membawanya turun ke bumi bersifat resiprokal, di dalam pemikiran Calvin, terhadap gerakan Roh Kudus yang membawa anugerah surgawi Kristus turun ke dalam hati manusia, dan mengangkat hati kita ke atas ke dalam Surga sebagai respons kepada anugerah-Nya.31
Jadi, apakah Calvin mengatakan bahwa Roh mempersatukan kita kepada Krisus dan bahwa iman mempersatukan kita kepada Krisus? Ya! Apakah Reformator kita mengajarkan bahwa Roh Kudus membawa Kristus dan anugerah-Nya turun kepada kita, dan membawa kita naik kepada Allah, dan bahwa iman membawa Kristus dan anugerah-Nya turun kepada kita, dan membawa kita naik kepada Dia? Ya!
Bagaimanakah tentang sumber atau asal-usul iman? Di seluruh tulisannya, Calvin secara berulang-ulang dan penuh penekanan mengajarkan bahwa “iman sendiri tidak memiliki sumber lain apa pun selain Roh.” Bahkan faktanya, “iman adalah pekerjaan utama Roh Kudus” di dalam kaum pilihan (Institutio 3.1.4).
Inilah kesimpulan Calvin: “Ringkasnya: Kristus, ketika Ia mengiluminasi kita ke dalam iman oleh kuasa Roh-Nya, pada saat yang sama juga mencangkokkan kita ke dalam tubuh-Nya, sehingga kita menjadi pengambil bagian di dalam setiap kebaikan” (Institutio 3.2.35). Dengan kata lain, Pribadi dan berkat-berkat Kristus hanya diketahui dan diterima melalui keagenan Roh Kudus dan melalui sarana iman:
Maka, Kristus adalah sumber segala berkat bagi kita: dari Dia kita mendapatkan segala sesuatu; tetapi Kristus sendiri, dengan semua berkat-Nya, dikomunikasikan kepada kita oleh Roh. Karena oleh imanlah kita menerima Kristus, dan mendapatkan anugerah-anugerah-Nya diaplikasikan pada kita. Pencipta iman adalah Roh (Tafsiran atas 1Kor. 6:11).
Seperti demikianlah semuanya saling sesuai. Roh mempersatukan kita dengan Kristus dan Ia melakukan ini melalui sarana iman yang Ia kerjakan di dalam diri kita. Roh Kudus memberi kita iman sehingga, dengan memercayai Firman Allah dan Kristus yang telah disalibkan dan yang telah bangkit, kita berada, dan mengetahui bahwa kita berada, di dalam persatuan dengan Kristus, menikmati Dia dan manfaat-manfaat-Nya. Seperti demikianlah Kristus dijadikan milik kita: melalui keagenan Roh dan melalui sarana iman saja!32
Ajaran sang Reformator berkebangsaan Prancis ini mengenai hubungan yang intim antara Roh Kudus, iman, dan persatuan mistis memunculkan pertanyaan, Bagaimanakah pandangan Calvin tentang ikatan iman? David Engelsma menjelaskan,
Jelas bahwa Calvin memahami iman bukan hanya sebagai aktivitas mengenal dan memercayai Yesus Kristus, tetapi juga sebagai persatuan dengan Kristus, meskipun Calvin tidak secara eksplisit membuat distingsi ini. Ketika theologi Reformed yang lebih belakangan membuat distingsi ini, hal ini juga benar tentang Calvin. Iman bukan sekadar sebuah aktivitas; iman juga, dan secara lebih mendasar, adalah persatuan dengan Kristus. Karena alasan ini, Calvin menjadikan iman awal dari pekerjaan keselamatan oleh Roh… Yang pertama adalah, dan haruslah, dipersatukan dengan Kristus oleh ikatan iman. Kemudian melalui ikatan ini, Kristus dan semua manfaat-Nya tiba ke dalam hati anak pilihan milik Allah.33
Pihak-Pihak yang Dipersatukan
Kita sudah cukup jauh membahas doktrin Calvin tentang persatuan dengan Kristus. Kita telah melihat bagaimana ia berbicara tentang arti penting doktrin ini dan penyataan tentangnya di dalam “rahasia” (“misteri”) Injil. Kita telah mengutip beberapa dari deskripsi-deskripsi paling indah yang ia berikan tentangnya. Kita telah mempertimbangkan gambaran yang ia gunakan, serta berbagai nomina, frasa, dan adjektiva yang ia gunakan untuk menjelaskannya. Kita telah memperhatikan penolakan Calvin yang penuh penekanan terhadap gagasan bahwa persatuan dengan Kristus berarti ditransfusikannya esensi ilahi ke dalam diri kita, seperti ajaran Andreas Osiander. Kita telah mengkaji peran-peran Roh dan iman di dalam persatuan kita yang intim dengan Kristus, dengan Roh sebagai agen ilahi dari persatuan itu dan iman sebagai sarana yang niscaya dari persatuan itu.
Tetapi kita belum menjelaskan secara persis siapa pihak-pihak yang dipersatukan. Kita memulai dengan antropologi. Dengan mengikuti Kitab Suci, Calvin mengajarkan kepada orang Kristen untuk memikirkan hal ini tentang dirinya sendiri: “Saya seorang manusia, bukan seorang malaikat.34 Saya dipersatukan dengan Kristus di dalam tubuh saya maupun jiwa saya35 Selain itu, saya, di dalam tubuh dan jiwa, dipersatukan dengan Yesus Kristus sekarang bahkan sementara saya masih seorang yang berdosa, dan saya akan dipersatukan dengan-Nya di dalam kehidupan berikutnya ketika saya tidak berdosa.”
Apa lagikah yang seharusnya dikatakan mengenai perihal “kapan” dari persatuan saya dengan Kristus? Reformator kita menginginkan setiap orang yang percaya memberikan pengakuan yang menakjubkan ini: “Saya dipersatukan dengan Yesus Kristus bahkan sebelum saya dilahirkan! Di dalam pemilihan Allah yang kekal sebelum penciptaan dunia, saya telah ‘dipilih di dalam Kristus” (Tafsiran atas Ef. 1:4). Kurang lebih 2.000 tahun yang lalu, ketika Sang Anak Allah berinkarnasi dan mati di atas salib demi seluruh dosa gereja pilihan-Nya, saya telah ada di dalam Dia.”
Mengikuti ajaran Calvin yang biblikal, orang Kristen dengan sepenuh hati mengakui, “Jika tadinya di dalam pemilihan kekal Allah dan persembahan kurban Kristus yang mengerjakan pendamaian, saya ada di dalam Dia tetapi Ia belum ada di dalam saya, sekarang saya ada di dalam Dia dan Ia ada di dalam saya! Keajaiban ini terjadi sebelumnya di dalam kehidupan saya, ketika Kristus dijadikan milik saya secara internal oleh regenerasi yang tidak dapat ditolak, sehingga Ia berdiam di dalam diri saya melalui Roh Kudus di dalam persatuan mistis ini. Saya mengetahui dan menikmati persatuan ini melalui iman saja.” Orang yang percaya melanjutkan, “Kristus akan dijadikan milik saya secara sempurna pada saat pemuliaan final bagi saya di dalam ciptaan yang baru.”
Tetapi siapakah Dia yang dengan-Nya saya dulu, sekarang, dan untuk selamanya akan dipersatukan di dalam tubuh maupun jiwa ini? Di sini kita beralih dari antropologi ke Kristologi. Anak Allah mengakui, “Saya dipersatukan dengan Pribadi Kristus di dalam kedua natur-Nya—bukan hanya di dalam Keilahian-Nya, kontas dengan Osiander (Institutio 3.11.6), tetapi juga di dalam kemanusiaan-Nya, baik tubuh-Nya maupun jiwa-Nya.” Seperti yang dinyatakan oleh Lewis B. Smedes, “Calvin yakin bahwa persatuan dengan Kristus adalah persatuan dengan segenap diri-Nya, khususnya kemanusiaan-Nya.”36 Kristus dijadikan milik saya—seluruh diri-Nya dipersatukan dengan seluruh diri saya!
Menurut Kitab Suci, dan, oleh karena itu, juga Calvin, kita dipersatukan dengan Kristus di dalam jabatan rangkap tiga-Nya sebagai nabi, imam, dan raja,37 dan dengan demikian kita adalah penerima semua yang telah Ia dapatkan bagi kita dan sampaikan kepada kita di dalam pelaksanaan jabatan Mesianik-Nya yang mulia.38 Kita dipersatukan dengan-Nya di dalam kedua keadaan-Nya: Keadaan perendahan-Nya (kelahiran-Nya yang bersahaja, kehidupan-Nya yang menderita, kematian-Nya sebagai kurban, dan penguburan-Nya), dan keadaan peninggian-Nya (kebangkitan-Nya secara badani, kenaikan-Nya yang mulia, duduk-Nya Ia [di sebelah kanan Bapa] secara penuh kuasa, dan kedatangan yang kedua kali). Dikarenakan unio com Christo yang kita miliki, kita berbagi di dalam anugerah-anugerah dan karunia-karunia, berkat-berkat dan manfaat-manfaat, hak-hak dan kuasa-kuasa milik-Nya yang spiritual. “Sebab apa yang terus muncul di dalam pemikiran Calvin adalah ide bahwa tidak ada partisipasi di dalam manfaat-manfaat Kristus selain melalui persekutuan (komuni) dengan pribadi-Nya.”39
Karena Kristus dijadikan milik kita, kita dipersatukan dengan-Nya di dalam satu Pribadi-Nya, dua natur-Nya, dua keadaan-Nya, tiga jabatan-Nya, semua tindakan-Nya yang menebus, dan semua berkat dan manfaat milik-Nya. Calvin pasti akan menyetujui Pengakuan Iman Westminster 26:1: “Semua orang kudus yang disatukan dengan Yesus Kristus, Kepala mereka, oleh Roh-Nya dan melalui iman, memiliki persekutuan dengan-Nya di dalam anugerah-anugerah-Nya, penderitaan-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan kemuliaan-Nya.”
Bergerak dari antropologi dan Kristologi, kita tiba pada theologi. Karena Kristus dijadikan milik kita, dan Ia adalah Pengantara antara Allah dan kita, maka kita dipersatukan dengan Allah yang hidup:
… esensi Deitas (Keilahian) yang sempurna ini, yang ada di dalam Kristus, bermanfaat bagi kita di dalam hal ini, yaitu agar kita juga sempurna di dalam Dia. “Mengenai berdiamnya Allah secara penuh di dalam Kristus, ini adalah supaya kita, setelah mendapatkan Dia, bisa memiliki Dia di dalam kesempurnaan yang utuh” (Tafsiran atas Kol. 2:10).
Tentu saja Allah yang dengan-Nya kita dipersatukan adalah Trinitas yang teberkati: Bapa, Anak, dan Roh Kudus:
… bukan hanya Kristus tetapi juga Bapa dan Roh Kudus berdiam di dalam diri kita … [Kita harus] mempertimbangkan cara kita didiami—yaitu bahwa Bapa dan Roh ada di dalam Kristus, yaitu sebagaimana kepenuhan deitas berdiam di dalam Dia [Kol. 2:9], maka di dalam Kristus kita memiliki keseluruhan deitas (Institutio 3.11.5).
Kristus dijadikan milik kita, dan, oleh karena itu, demikian juga Trinitas yang kudus, yang kepada-Nya kita disatukan secara tidak bisa dipisahkan, baik tubuh maupun jiwa, di dalam kehidupan sekarang maupun di dalam kehidupan berikutnya!
Soteriologi secara Umum
Di dekat permulaan babnya yang berjudul “Calvin on Salvation” (“Calvin Mengenai Keselamatan”) yang membahas doktrin tentang soteriologi dari Reformator kita, W. Gary Crampton menyatakan, “Keselamatan kaum pilihan dari awal sampai akhir adalah karena hubungan mereka dengan Kristus; yaitu beradanya mereka di dalam persatuan dengan-Nya.”40 David Engelsma benar: “Calvin menginginkan agar kita memahami keselamatan sebagai persatuan dengan Kristus, dan persatuan ini adalah sedemikian rupa sehingga Kristus sediri berada di dalam diri kita.41 Ketika dipahami secara tepat, orang bahkan bisa berkata bahwa bagi Calvin soteriologi adalah persatuan (bdk. Institutio 3.1.1).
Jika buku 2 dari Institutio Calvin membahas tentang Kristologi (Pribadi dan pekerjaan Yesus untuk mendapatkan penebusan bagi kita), buku 3 adalah soteriologi dengan unio cum Christo sebagai sebuah aspek yang vital darinya. Seperti pernyataan T. H. L. Parker, “di dalam Buku III … objektivitas buku sebelumnya [yaitu buku 2] ditransmutasikan ke dalam subjektivitas, Christus pro nobis menjadi Christus in nobis melalui Roh Kudus-Nya.”42
Para penulis yang lebih tua juga mengakui hal ini. Ajaran Calvin tentang soteriologi dirangkumkan dengan sangat mahir oleh theolog Reformed asal Jerman, Caspar Olevianus (1536–1587). Perhatikanlah betapa seringnya epitom Olevianus yang setia atas buku 3 dari Institutio Calvin berbicara tentang persatuan dengan Kristus (dengan menggunakan terminologi yang beragam):
Selama Kristus terpisah dari kita, kita tidak mendapatkan manfaat apa pun dari-Nya. Kita harus dicangkokkan di dalam Dia seperti cabang-cabang di dalam pokok. Maka Pengakuan Iman [Rasuli], setelah membahas tentang Kristus, melanjutkan di dalam arikel ketiganya, Aku percaya kepada Roh Kudus—dengan Roh Kudus sebagai ikatan persatuan antara kita dan Kristus. Dengan cara yang sama, Buku Ketiga dari Institutio membahas tentang Roh Kudus yang mempersatukan kita dengan Kristus, dan, di dalam kaitan dengan itu, tentang iman, yang melaluinya kita merangkul Kristus dengan manfaat ganda—yaitu kebenaran oleh anugerah yang Ia imputasikan kepada kita, dan regenerasi [atau pengudusan], yang Ia mulai di dalam diri kita dengan mengaruniakan pertobatan kepada kita. Untuk menunjukkan tidak bernilainya iman yang tidak disertai suatu keinginan akan pertobatan, penulis, sebelum melanjutkan kepada sebuah pembahasan penuh tentang pembenaran, secara panjang lebar membahas dari bab 3–10 tentang pertobatan, dan kajian yang terus-menerus tentangnya—pertobatan, yang Kristus, ketika dipegang melalui iman, lahirkan di dalam diri kita oleh Roh-Nya. Bab 11 membahas tentang manfaat utama dan khusus dari Kristus ketika dipersatukan dengan kita oleh Roh Kudus—yaitu pembenaran. Topik ini berlanjut sampai bab ke-20, yang membahas tentang doa, yang bisa disebut sebagai tangan untuk menerima berkat-berkat yang iman ketahui sudah disimpan untuknya bersama Allah, menurut perkataan janji. Tetapi, karena Roh Kudus, yang menciptakan dan memelihara iman kita, tidak mempersatukan semua manusia kepada Kristus, yang adalah pencipta tunggal keselamatan, bab 21 membahas tentang pemilihan kekal oleh Allah, yang menjadi penyebab kita, yang di dalam diri kita Allah tidak melihat adanya kebaikan apa pun yang bukan dikaruniakan oleh-Nya terlebih dahulu, diberikan kepada Kristus, dan dipersatukan dengan-Nya oleh panggilan efektual melalui Injil. Topik ini berlanjut sampai bab ke-25, yang membahas tentang regenerasi yang lengkap [yaitu pemuliaan] dan kebahagiaan, yaitu kebangkitan terakhir yang kepadanya kita harus mengangkat pandangan kita, dengan memperhatikan bahwa terkait dengan keberbuahan, kebahagiaan kaum saleh di dalam dunia yang sekarang ini hanyalah permulaan.43
Di dalam persatuan dengan Kristus, orang-orang yang percaya menerima semua berkat yang kekayaannya tidak terkatakan ini melalui Roh Kudus dan dengan iman saja. Calvin berupaya sekuat mungkin untuk menekankan bahwa tidak seorang pun bisa mengambil bagian dari Kristus tanpa manfaat-manfaat-Nya dan tidak seorang pun bisa menerima bekat-berkat-Nya tanpa disatukan dengan-Nya: “karunia-karunia Allah berdiam di dalam diri kita dengan cara sedemikian rupa sehingga kita adalah pengambil bagian dari karunia-karunia itu hanya karena kita adalah anggota-anggota dari Kristus” (Tafsiran atas Flm. 6).
Senada dengan itu, berikut dua cukilan dari Institutio 3.2.24:
… menjadikan kita, yang dicangkokkan di dalam tubuh-Nya, sebagai pengambil bagian bukan hanya di dalam segala berkat-Nya, tetapi juga di dalam diri-Nya sendiri.
… karena Kristus telah dengan cara sedemikian rupa diimpartasikan kepada Anda beserta seluruh berkat-Nya sehingga segala milik-Nya dijadikan sebagai milik Anda, sehingga Anda dijadikan sebagai anggota dari diri-Nya, bahkan satu dengan Dia, maka kebenaran-Nya menutupi dosa-dosa Anda; keselamatan-Nya menghapus hukuman Anda; dengan kelayakan-Nya Ia bersyafaat sehingga ketidaklayakan Anda tidak terlihat di hadapan Allah.
Calvin menarik kesimpulan:
saya tidak melihat bagaimana seorang dapat percaya bahwa ia memiliki penebusan dan kebenaran di dalam salib Kristus, dan kehidupan di dalam kematian-Nya, kecuali ia bersandar terutama pada partisipasi yang sejati di dalam Kristus sendiri. Sebab berkat-berkat itu tidak akan datang kepada kita kecuali Kristus pertama-tama menjadikan diri-Nya milik kita (Institutio 4.17.11).
Pembenaran
Mengikuti Kitab Suci dan Reformasi, John Calvin mempresentasikan pembenaran sebagai sepenuhnya bersifat legal, sebuah deklarasi oleh Allah, yang adalah hakim tertinggi di atas segalanya (mis., Institutio 3.11.2; 3.12.1). Ia dengan tepat mengidentifikasi dua komponen di dalam pembenaran: “kita mengatakan bahwa pembenaran tersebut terdiri dari pengampunan atas dosa-dosa dan pengimputasian kebenaran Kristus” (Institutio 3.11.2).
Definisi Calvin bagi pembenaran bukan hanya mencakup komponen negatif dan positifnya, tetapi juga (dan secara tepat) melibatkan persatuan:
… kita mendefinisikan pembenaran sebagai berikut: orang yang berdosa, yang diterima ke dalam persekutuan dengan Kristus, diperdamaikan dengan Allah oleh anugerah-Nya, sementara, karena disucikan oleh darah Kristus, ia mendapatkan [1] pengampunan atas dosa-dosa, dan [2] dikenakan dengan kebenaran Kristus seolah-olah itu adalah kebenarannya sendiri, ia berdiri yakin di hadapan takhta penghakiman surgawi (Institutio 3.17.8).
Calvin menekankan bahwa kebenaran yang menbenarkan bukanlah intrinsik pada orang-orang yang percaya karena kebenaran ini hanya ditemukan di dalam persatuan dengan Tuhan Yesus:
Anda bisa melihat bahwa kebenaran kita bukan berada di dalam diri kita melainkan di dalam Kristus, sehingga kita memiliki kebenaran itu hanya karena kita adalah pengambil bagian di dalam Kristus; sungguh, bersama Kristus kita memiliki segala kekayaan dari kebenaran tersebut…. Mendeklarasikan bahwa hanya oleh Kristus kita diperhitungkan sebagai orang-orang benar, apa lagikah ini jika bukan menempatkan kebenaran kita di dalam ketaatan Kristus, karena ketaatan Kristus diperhitungkan kepada kita seolah-olah adalah ketaatan kita sendiri? (Institutio 3.11.23).
Pembenaran kita didasarkan pada salib karena hanya Tuhan Yesuslah pengganti kita yang lengkap. Kehidupan-Nya yang kudus dan kematian-Nya yang mengerjakan pendamaian bagi kita diperhitungkan kepada kita karena iman, yang dengannya “kita merangkul Kristus” dan menikmati “persekutuan (komuni) dengan-Nya,” seperti yang Calvin tuliskan kepada Jacopo Sadoleto atau James Sadolet, seorang Kardinal Katolik Roma.
Karena di dalam pandangan Allah seluruh umat manusia adalah orang-orang berdosa yang terhilang, kami berpegang bahwa Kristus adalah satu-satunya kebenaran mereka, karena, oleh ketaatan-Nya, Ia telah menghapus pelanggaran-pelanggaran kita; oleh persembahan kurban-Nya, Ia telah meredakan murka ilahi; oleh darah-Nya, Ia telah membasuh dosa-dosa kita; oleh salib-Nya, Ia telah menanggung kutuk kita; dan oleh kematian-Nya, Ia telah memuaskan tuntutan keadilan Allah bagi kita. Kami mempertahankan bahwa dengan cara inilah manusia diperdamaikan di dalam Kristus dengan Allah Bapa, bukan oleh jasanya sendiri, bukan oleh nilai dari perbuatan, tetapi oleh belas kasih yang penuh anugerah. Ketika kita merangkul Kristus dengan iman, dan datang ke dalam persekutuan (komuni) dengan-Nya, ini kamu sebut, mengikuti cara Kitab Suci, kebenaran oleh iman.44
Calvin juga mengajarkan bahwa persatuan dengan Anak Allah, dan pemuasan-Nya bagi dosa dan kebenaran yang diimputasikan, adalah cara yang dengannya Allah Tritunggal yang mahakudus, yang membenci segala kesalahan, mengasihi kaum pilihan-Nya yang pada diri mereka sendiri rusak secara total.45
Pengudusan
Bagi Calvin, kita bukan hanya dikuduskan di dalam Kristus, tetapi kita juga dikuduskan melalui pengudusan-Nya diri-Nya sendiri. Theolog kita berulang kali mengemukakan poin yang distingtif ini dengan merujuk kepada Yohanes 17:19:46
[Yesus] menjelaskan secara lebih jelas dari sumber apa pengudusan itu mengalir, yang dilengkapkan di dalam diri kita oleh doktrin tentang Injil. Yaitu bahwa karena Ia mengonsekrasikan diri-Nya sendiri bagi Bapa maka kekudusan-Nya bisa tiba kepada kita; karena seperti berkat pada buah sulung tersebar atas seluruh tuaian, demikianlah Roh Allah membersihkan kita dengan kekudusan Kristus dan menjadikan kita pengambil bagian dari kekudusan itu. Pengudusan ini juga dilakukan bukan hanya dengan pengimputasian, karena terkait hal ini Ia dikatakan telah dijadikan kebenaran bagi kita; tetapi Ia juga dikatakan telah dijadikan pengudusan bagi kita (1Kor. 1:30, KJV) karena Ia telah mempersembahkan kita kepada Bapa-Nya di dalam pribadi-Nya sendiri, sehingga kita bisa diperbarui kepada kekudusan yang sejati oleh Roh-Nya. Selain itu, meskipun pengudusan ini adalah milik keseluruhan kehidupan Kristus, namun gambaran tertinggi untuk hal ini diberikan di dalam kematian-Nya sebagai persembahan kurban; karena pada saat itulah Ia menunjukkan diri-Nya sebagai Imam Besar Agung, dengan mengonsekrasikan bait, mezbah, semua perabot, dan umat, oleh kuasa Roh-Nya (Tafsiran atas Yoh. 17:19).
Sungguh tidak sedikit pertambahan keyakinan kita [dengan mengetahui] bahwa kita dipersatukan dengan Anak Allah oleh sebuah ikatan yang begitu erat, sehingga kita bisa menemukan di dalam natur kita kekudusan yang sedianya tidak kita miliki; karena Ia bukan hanya menguduskan kita sebagai Allah, tetapi juga ada kuasa yang menguduskan di dalam natur manusiawi-Nya; bukan karena natur manusiawi itu memiliki kuasa tersebut dari dirinya sendiri, tetapi Allah telah mencurahkan pada natur manusiawi itu kekudusan sampai kepenuhan yang sempurna, sehingga darinya kita semua bisa menimba. Dan kepada poin inilah kalimat ini merujuk, “Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka” (Yoh. 17:19). Jadi, jika kita berdosa dan najis, kita tidak usah pergi sampai begitu jauh untuk mencari remedinya; karena remedi itu ditawarkan kepada kita di dalam daging kita sendiri (Tafsiran atas Ibr. 2:11).
… kita yang di dalam diri kita sendiri adalah najis, namun yang adalah imam-imam di dalam Kristus, mempersembahkan diri dan segala milik kita kepada Allah, dan dengan bebasnya masuk ke tempat kudus surgawi sehingga kurban-kurban doa dan pujian yang kita bawa bisa diterima dan berbau harum di hadapan Allah. Inilah maksud pernyataan Kristus: “Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka” [Yoh. 17:19]. Sebab kita, yang dikaruniai dengan kekudusan Kristus karena Ia telah mengonsekrasikan kita kepada Bapa dengan diri-Nya sendiri, walaupun sedianya kita akan menjijikkan bagi Bapa, menjadi menyenangkan Dia sebagai yang suci dan tahir—dan bahkan kudus (Institutio 2.15.6).
Berikut sebuah ringkasan yang sangat baik dari James Philip tentang unsur-unsur utama ajaran John Calvin ini:
Natur manusiawi yang [Sang Anak Allah yang kekal] kenakan adalah bait yang Ia sendiri kuduskan melalui darah-Nya, dan yang di dalamnya Ia mengonsekrasikan diri-Nya sendiri melalui kematian supaya Ia, sebagai Imam Besar Agung yang kekal, mempersembahkan diri-Nya sendiri di dalam ekspiasi bagi dosa-dosa kita. Dengan mengikuti ide tentang pengudusan diri Kristus ini, Calvin menunjukkan, berdasarkan analogi Perjanjian Lama tentang kaitan antara imam dan umat yang ia wakili, bahwa Kristus mengonsekasihan dan menguduskan diri-Nya sendiri kepada Bapa agar kekudusan-Nya bisa tiba kepada kita. Oleh karena itu, pekerjaan pengudusan internal oleh Roh di dalam kehidupan orang yang percaya hanyalah pengaruniaan kepadanya pengudusan yang telah dikerjakan baginya secara lengkap di dalam Kristus. Allah telah menjadikan natur manusiawi Yesus yang telah dikuduskan oleh Roh sebagai tempat berdiam bagi segala anugerah … yang diperlukan [oleh kita] … Segala sesuatu yang telah diberikan kepada Kristus di dalam pengudusan-Nya diberikan dengan tujuan agar dikomunikasikan dan dikaruniakan kepada gereja oleh Roh.47
Bagi Calvin, kedua “bagian” dari pengudusan adalah melalui persatuan kita dengan Kristus: [1] bagian yang negatif, dimatikannya manusia lama, dan [2] bagian positif, dihidupkannya manusia baru.48
Kedua hal itu terjadi kepada kita dengan partisipasi di dalam Kristus. Sebab jika kita benar-benar mengambil bagian di dalam kematian-Nya, “manusia lama kita telah disalibkan oleh kuasa-Nya, dan tubuh dosa kita hilang” [Rm. 6:6 p.], sehingga kerusakan natur orisinal kita tidak lagi berkembang. Jika kita berbagi di dalam kebangkitan-Nya, melalui itu kita dibangkitkan ke dalam kebaruan hidup yang sesuai dengan kebenaran Allah (Institutio 3.3.9).
Calvin mengajarkan pengudusan progresif di dalam kehidupan sekarang melalui persatuan dan persekutuan (komuni) dengan Kristus.49 Di dalam tafsirannya atas 1 Tesalonika 5:23, ekspositor kita bukan hanya membuat dua rujukan kepada “progres,” tetapi juga merujuk kepada pengudusan sebagai pekerjaan pembaruan oleh Allah yang melibatkan panggilan orang atas percaya:
Memang benar bahwa orang-orang Tesalonika telah diperbarui secara parsial, tetapi Paulus merindukan agar Allah menyempurnaka apa yang masih tersisa. Dari hal ini kita menyimpulkan, bahwa kita, di sepanjang seluruh kehidupan kita, harus mengalami kemajuan (progres) dalam mengejar kekudusan. Tetapi jika memperbarui seluruh manusia adalah bagian milik Allah, maka tidak ada yang tersisa bagi kehendak bebas. Seandainya kita memiliki bagian untuk bekerja sama dengan Allah, Paulus pasti akan berkata demikian—“Semoga Allah menolong atau mendorong pengudusanmu.” Tetapi ketika ia berkata, menguduskan kamu seluruhnya, ia menjadikan Allah Pencipta tunggal dari seluruh pekerjaan itu … Akan tetapi, karena kelengkapan dari keseluruhan seperti itu tidak akan pernah terpenuhi di dalam kehidupan ini, tepatlah bahwa kemajuan (progres) tertentu di dalam kemurnian diupayakan setiap hari, dan sesuatu dibersihkan dari kecemaran kita, selama kita hidup di dalam dunia ini.
Pembenaran dan Pengudusan
John Calvin sangat memahami polemik standar Katolik Roma melawan kebenaran Injil tentang pembenaran, bahwa pembenaran ini merupakan penolakan terhadap kekudusan dan perbuatan baik. Di dalam buku 3 dari Institutio-nya, Reformator kita menjawab keberatan-keberatan mereka dengan dua cara yang mencolok.
Pertama, perhatikanlah bagaimana Calvin menyususn materi soteriologinya di dalam Institutio. Setelah membahas tentang Roh Kudus dan iman (3.1–2), ia membahas tentang pengudusan (pertobatan dan kehidupan Kristen; 3.3–10) mendahului pembenaran (3.11–18)! Maka pembaca bisa melihat bagaimana Reformasi dan para theolognya yang utama tidak melawan kesalehan yang vital, bahkan sebelum Calvin tiba pada eksposisinya tentang pengampunan atas dosa-dosa kita dan pengimputasian kebenaran Kristus.
Kedua, dengan menggunakan wawasan biblikal dan theologis yang brilian, Calvin menyatukan pembenaran (sebuah tindakan legal yang lengkap) dan pengudusan (sebuah pekerjaan organis yang progresif) “di dalam Kristus”—secara tidak terpisahkan namun juga tidak tercampur. Kristus dijadikan milik kita sebagai Dia yang membenarkan sekaligus yang menguduskan kita!
Meskipun ditemukan di seluruh kumpulan karya Calvin, kita membatasi kutipan-kutipan kita di sini pada Institutio-nya, sementara mengamati lokasi kutipan-kutipan itu di tempat-tempat yang strategis di dalam buku 3. Subbagian pembuka dari bab pertama dari soteriologi Calvin berisi kalimat krusial ini: “Paulus, ketika berbicara mengenai [pengudusan] dan pembenaran, mengatakan bahwa kita memiliki kedua-duanya, ‘dalam nama … Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita’ [1Kor. 6:11]” (Institutio 3.1.1).
Setelah delapan bab yang membahas tentang pengudusan, Calvin berbicara tentang “anugerah ganda” yang kita miliki di dalam Kristus:
Dengan mengambil bagian di dalam Kristus, pada dasarnya kita menerima anugerah ganda: yaitu bahwa setelah diperdamaikan dengan Allah melalui ketidakbersalahan Kristus, di surga kita bisa memiliki Bapa yang penuh anugerah alih-alih Hakim [yaitu pembenaran]; dan kedua, bahwa dengan dikuduskan oleh roh Kristus kita boleh mengupayakan ketidakbersalahan serta kesucian kehidupan [yaitu pengudusan] (Institutio 3.11.1).
Di dalam Institutio versi Battles yang standar, subbagian 1 dari [buku 3] bab [16] Calvin, “Sanggahan terhadap Tuduhan Palsu yang Digunakan oleh Kaum Pendukung Paus untuk Menimbulkan Kebencian terhadap Doktrin Ini,” diberi judul, “Apakah doktrin tentang pembenaran meniadakan perbuatan baik?” Di sini, secara tepat, kita memberikan dua kutipan yang sangat baik dari Institutio 3.16.1, yang memberikan ajaran yang terpanjang dan terjelas di dalam magnum opus Calvin ini mengenai manfaat ganda berupa pembenaran dan pengudusan di dalam Kristus:
Lalu mengapakah kita dibenarkan oleh iman? Karena oleh imanlah kita memahami kebenaran Kristus, dan hanya oleh kebenaran Kristus inilah kita diperdamaikan dengan Allah. Tetapi Anda tidak bisa memahami ini tanpa pada saat yang sama juga memahami tentang pengudusan. Sebab Kristus “menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan, menguduskan, dan menebus kita” [1Kor. 1:30]. Oleh karena itu, Kristus tidak membenarkan siapa pun yang tidak Ia kuduskan pada saat yang sama. Berkat-berkat ini dipersatukan dengan ikatan yang kekal dan tidak terputuskan, sehingga orang-orang yang Kristus terangi dengan hikmat-Nya, Ia tebus; mereka yang Ia tebus, Ia benarkan; mereka yang Ia benarkan, Ia kuduskan.
Walaupun kita bisa membedakan keduanya [yaitu pembenaran dan pengudusan], Kristus memiliki kedua-duanya secara tidak terpisahkan di dalam diri-Nya. Jadi, apakah Anda ingin meraih kebenaran [yaitu pembenaran] di dalam Kristus? Anda harus terlebih dulu memiliki Kristus; tetapi Anda tidak bisa memiliki Dia tanpa turut mengambil bagian di dalam pengudusan-Nya, sebab Ia tidak bisa dibagi menjadi kepingan-kepingan [1Kor. 1:13]. Oleh sebab itu, karena hanya dengan menawarkan diri-Nya Tuhan memberi kita berkat-berkat ini untuk kita nikmati, Ia menganugerahkan kedua-duanya pada saat yang sama, yang satu tidak pernah tanpa yang lain. Maka, sudah jelas alangkah benarnya bahwa kita dibenarkan bukan tanpa perbuatan dan juga bukan melalui perbuatan, karena dalam turut mengambil bagian di dalam Kristus, yang membenarkan kita, pengudusan juga tercakup sebagaimana halnya kebenaran [yaitu justifikasi].50
Mark Garcia mengamati secara akurat bahwa
di dalam pemikiran Calvin … dua manfaat dasar yang menyelamatkan (pembenaran dan pengudusan) adalah berbeda namun tidak bisa dipisahkan tepatnya karena sebuah realitas yang bahkan lebih mendasar atau fundamental: unio cum Christo orang percaya yang dikerjakan oleh Roh.51
Garcia merujuk kepada “model” ini sebagai “soteriologi unio Christi-duplex gratia milik Calvin,” dengan memperhatikan bahwa ini adalah “sebuah ciri yang menonjol di dalam theologi Calvin, entah yang diekspresikan di dalam bentuk positif, polemikal-disputatif, eklesiastis (kateketis dan sakramental), atau pastoral (khotbah).”52
Berkat-Berkat Soteriologis Lainnya
Bagi Calvin, bukan hanya pembenaran dan pengudusan, tetapi semua unsur lain dari ordo salutis atau urutan keselamatan juga hanya ada “di dalam Kristus.” Ini memuliakan Juru Selamat kita:
… semua bagian dari keselamatan kita terdapat di dalam Kristus… [sehingga] Dia saja yang harus bersinar, dan terlihat jelas di atas segala makhluk, karena Dialah awal dan akhir segala sesuatu (Tafsiran atas Kol. 1:14)!
Reformator Jenewa ini akan dengan sepenuh hati menyetujui Katekismus Besar Westminster, P. & J. 69:
P. Apakah persekutuan di dalam anugerah yang dimiliki oleh anggota-anggota gereja yang tidak kasatmata dengan Kristus?
A. Persekutuan di dalam anugerah yang dimiliki oleh anggota-anggota gereja yang tidak kasatmata dengan Kristus adalah pengambilan bagian mereka dari kuasa perantaraan-Nya, di dalam pembenaran pengadopsian, pengudusan, dan hal lain apa pun di dalam kehidupan ini yang menunjukkan persatuan mereka dengan-Nya.
Kita sama sekali tidak terkejut bahwa Calvin, sebagai seorang theolog kedaulatan Allah, menyatakan secara tepat bahwa Allah yang Mahakuasalah yang mempersatukan kita dengan Yesus di awal kehidupan Kristen kita (mis., Tafsairan atas 2Tes. 1:1). Keberlanjutan keselamatan kita di dalam persatuan dengan Penebus kita adalah juga sama-sama oleh anugerah seluruhnya:
Fondasi seperti apakah yang kita miliki di dalam Kristus? Apakah Kristus adalah awal keselamatan kita supaya penggenapannya boleh menyusul dari diri kita sendiri? Apakah Kristus hanya membukakan jalan yang dengannya kita boleh melanjutkan dengan kekuatan kita sendiri? Tentu tidak (Institutio 3.15.5).
Calvin melanjutkan dengan menyebutkan berbagai unsur di dalam ordo salutis yang kita miliki seturut pemilihan kekal atas diri kita di dalam Kristus (Ef. 1:4–5). Setelah pembenaran, ia menyebut pengadopsian, pemeliharaan, dan kehidupan kekal sebagai karunia-karunia ilahi bagi mereka yang “dicangkokkan ke dalam” Jesus.
Hanya orang yang didasarkan dengan baik pada Kristus yang memiliki kebenaran yang sempurna di dalam [Kristus]: karena sang rasul tidak mengatakan bahwa Kristus diutus untuk menolong kita untuk meraih kebenaran, melainkan diri-Nya sendirilah yang menjadi kebenaran kita [1Kor. 1:30]. Sungguh, Paulus menyatakan bahwa “di dalam [Kristus] Allah telah memilih kita” sejak kekekalan “sebelum dunia dijadikan,” bukan karena jasa kita sendiri melainkan “sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya” [Ef. 1:4–5, bdk. Vg.]; bahwa dengan kematian Kristus kita ditebus dari hukuman mati dan dibebaskan dari kebinasaan [bdk. Kol. 1:14, 20]; bahwa oleh Kristus kita telah diadopsi sebagai anak dan ahli waris oleh Bapa Surgawi kita [bdk. Rm. 8:17; Gal. 4:5–7]; bahwa kita telah diperdamaikan oleh darah Kristus [Rm. 5:9–10]; bahwa, mengingat perlindungan Kristus, kita dilepaskan dari bahaya kebinasaan dan kejatuhan [Yoh. 10:28]; bahwa setelah dicangkokkan ke dalam Kristus [bdk. Rm. 11:19], kita sudah, di dalam pengertian tertentu, turut mengambil bagian di dalam kehidupan yang kekal, setelah masuk ke dalam Kerajaan Allah melalui pengharapan (Institutio 3.15.5).
Kemudian theolog kita berbicara tentang keselamatan kita di dalam kaitan dengan hikmat, kebenaran, kesucian, kuasa, dan kehidupan kita di dalam Kristus saja:
Namun masih ada lagi: kita mengalami partisipasi yang sedemikian rupa di dalam Kristus sehingga, walaupun kita sendiri masih bodoh, Kristus adalah hikmat kita di hadapan Allah; sementara kita masih orang berdosa, Kristus adalah kebenaran kita; sementara kita masih najis, Kristus adalah kesucian kita; sementara kita masih lemah, sementara kita masih tidak bersenjata dan terekspos terhadap Iblis, milik kita adalah kuasa yang telah diberikan kepada Kristus baik di bumi maupun di surga itu [Mat. 28:18], yaitu kuasa untuk meremukkan Iblis dan menghancurkan pintu gerbang neraka; sementara kita masih menyandang tubuh maut, Kristus adalah kehidupan kita (Institutio 3.15.5).
Inilah kesimpulan Calvin, yang meninggikan Kristus dan merendahkan diri kita sendiri:
Singkatnya, karena segala milik Kristus adalah milik kita dan kita memiliki segala sesuatu di dalam Dia, maka di dalam kita tidak ada apa-apa. Di atas fondasi inilah, menurut saya, kita harus membangun jika kita ingin bertumbuh menjadi bait yang kudus bagi Tuhan [bdk. Ef. 2:21] (Institutio 3.15.5).
Kemudian Calvin beralih kepada kritik terhadap ajaran sesat Roma yang menempatkan persatuan dengan Kristus setelah perbuatan baik:
Tetapi untuk waktu yang lama dunia telah diajari bukan seperti demikian. Maka ditemukanlah segala macam perbuatan baik “moral” yang dengannya manusia dianggap sudah menyenangkan bagi Allah sebelum mereka dicangkokkan ke dalam Kristus (Institutio 3.15.6).
Melawan kemiskinan [ajaran] kepausan, Calvin menggunakan bahasa yang fasih untuk mengungkapkan kekayaan kita di dalam Kristus. Ia mengawali dengan menggunakan pronomina orang ketiga jamak: “mereka.”
Orang percaya didiami oleh Kristus [1Yoh. 3:24], yang melalui-Nya mereka boleh berpegang pada Allah; Sebagai orang-orang yang turut mengambil bagian di dalam kehidupan Kristus, mereka duduk bersama-Nya di surga [Ef. 2:6]; “Mereka telah dipindahkan ke dalam Kerajaan Allah” [Kol. 1:13 p.], dan meraih keselamatan (Institutio 3.15.6).
Kemudian theolog kita berganti ke bentuk pronomina orang kedua tunggal “Anda.”
Oleh karena itu, begitu Anda dicangkokkan ke dalam Kristus melalui iman, Anda dijadikan anak Allah, ahli waris surga, turut mengambil bagian di dalam kebenaran, memiliki kehidupan; dan (dengan ini kesalahan mereka bisa ditolak dengan lebih baik) Anda mendapatkan bukan peluang untuk meraih jasa, melainkan segala jasa Kristus, sebab jasa-jasa Kristus dikomunikasikan kepada Anda (Institutio 3.15.6).
Perlu ditambahkan di sini bahwa Calvin sangat jelas bahwa dikarenakan janji ilahi, tidak seorang pun dari orang-orang yang benar-benar dipersatukan dengan Tuhan Yesus yang akan atau bisa terjatuh dari anugerah secara fatal atau final:
Kristus tidak membiarkan siapa pun dari orang-orang yang telah Ia cangkokkan ke dalam tubuh-Nya sekali untuk selamanya itu mengalami kebinasaan [Yoh. 10:28]; sebab dalam memelihara keselamatan mereka, Kristus akan melaksanakan apa yang telah Ia janjikan—yaitu Ia akan memperlihatkan kuasa Allah, yang adalah “lebih besar daripada siapa pun” [Yoh. 10:29] (Institutio 3.22.7).
Ini adalah satu janji yang sangat perlu mendapatkan pengamatan kita, bahwa semua orang yang dipersatukan dengan Kristus, dan mengakui Dia sebagai Kristus dan Pengantara, akan tetap selamat dari segala bahaya sampai kesudahannya; karena apa yang dikatakan tentang tubuh Gereja adalah milik dari setiap anggotanya, karena mereka satu di dalam Kristus (Tafsiran atas Mat. 16:18).
Selain itu, persatuan dengan Anak Allah yang kekasih ini sendiri menjamin pemeliharaan dan ketekunan semua orang percaya yang sejati. Kristus dijadikan milik kita secara tidak bisa dipisahkan!
Kristus adalah ikatan [kasih Allah kepada kita]; karena Ia adalah Sang Anak yang kekasih, yang kepada-Nya Bapa sangat berkenan. Jadi, jika kita melalui Kristus dipersatukan dengan Allah, kita bisa memiliki jaminan bagi kebaikan Allah yang tidak bisa berubah dan tidak mungkin gagal kepada kita. Ia [yaitu Paulus] sekarang berbicara di sini secara lebih jelas lagi daripada sebelumnya, karena ia menyatakan bahwa sumber kasih ada di dalam Bapa, dan menegaskan bahwa kasih ini mengalir kepada kita dari Kristus (Tafsiran atas Rm. 8:39).53
Semuanya ini berdenyut secara positif dengan jaminan bahwa kita diselamatkan dan dipelihara, dan dikasihi di dalam persatuan dengan Kristus sekarang dan selama-lamanya. Selain itu, bahkan jaminan bagi kita akan pemilihan kekal atas diri kita hanya ditemukan di dalam Dia.
Pertama, jika kita mencari belas kasih Allah yang kebapaan dan hati-Nya yang pemurah, seharusnya kita mengarahkan mata kita kepada Kristus, sebab pada Dia saja Roh Allah menetap… Tidak peduli seberapa jauh Anda membolak-balikkannya dan mencernanya, Anda akan mendapati bahwa batas-batas finalnya tidak berkembang lebih jauh lagi… jika kita telah dipilih di dalam Kristus, kita tidak akan menemukan kepastian tentang pemilihan kita di dalam diri kita sendiri; dan bahkan juga tidak di dalam Allah Bapa, jika kita membayangkan Allah Bapa sebagai terputus dari Anak-Nya. Maka, Kristuslah cermin yang di dalamnya kita harus, dan bisa, tanpa menipu diri, merenungkan pemilihan atas diri kita. Sebab, karena ke dalam tubuh Kristuslah Bapa telah menetapkan dicangkokkannya orang-orang yang telah Ia kehendaki sejak kekekalan untuk menjadi umat-Nya, agar Ia boleh menganggap semua orang yang Ia akui sebagai anggota-anggota Kristus sebagai anak, maka kita memiliki kesaksian yang sudah cukup jelas dan teguh bahwa nama kita telah dituliskan di dalam kitab kehidupan [bdk. Why. 21:27] jika kita berada di dalam persekutuan dengan Kristus (Institutio 3.24.5).
Gereja dan Sarana-Sarana Anugerah
Bergerak dari soteriologi, kita sampai di eklesiologi, doktrin tentang gereja. Ini adalah gereja yang tidak kasatmata, kumpulan kaum terpredestinasi yang percaya, yang dengan sungguh-sungguh mengakui, “Kristus dijadikan milik kita!” Bagi John Calvin, persatuan orang-orang yang percaya dengan Yesus Kristus secara niscaya melibatkan persatuan dengan tubuh Kristus, gereja. Tidak seorang pun boleh berkata, “Saya ada di dalam Kristus, tetapi saya hanya sedikit berurusan dengan gereja atau bahkan tidak sama sekali.”
Menjadi seorang anggota dari Kristus secara otomatis menyebabkan keanggotaan di dalam organisme gereja (1Kor. 12:12–13) dan menuntut keanggotaan di dalam lembaga gereja. Tidak banyak, jikalau ada, di dalam sejarah pasca-apostolik yang telah dengan begitu sering dan begitu kuat dibandingkan Reformator berkebangsaan Prancis ini dalam mengeluarkan panggilan kepada semua orang percaya untuk bergabung dengan sebuah kongregasi yang menunjukkan tanda-tanda sebuah gereja yang sejati.54
Calvin secara eksplisit mengaitkan persatuan dengan Kristus dengan keanggotaan di dalam sebuah gereja terlembaga yang kasatmata. Di sini kita memberikan sebuah kutipan yang menjadi representasi dari banyak tulisannya yang berbicara tentang hal ini:
… tidak ada yang lebih menakutkan daripada ditolak dari kawanan gembalaan Allah. Karena tidak ada kasih yang bisa diharapkan, kecuali ketika Allah mengumpulkan kita ke dalam satu tubuh di bawah satu kepala. Pertama, semua keselamatan berdiam di dalam Kristus saja; dan dengan demikian kita tidak dapat dipisahkan dari Kristus tanpa terjatuh dari segala pengharapan akan keselamatan: tetapi Kristus tidak akan dan tidak dapat dipisahkan dari Gereja-Nya yang dengannya Ia disatukan di dalam sebuah ikatan yang tidak bisa terurai, sebagai kepala dari tubuh. Maka, kecuali kita mengusahakan kesatuan dengan orang-orang beriman, kita melihat bahwa kita terputus dari Kristus (Tafsiran atas Yeh. 13:9).
Terkadang Calvin bahkan menjelaskan tentang berada “di dalam Kristus” secara eklesiastis. Sebagai contoh, ia menulis, “di dalam Kristus, yaitu di dalam kerajaan Kristus, atau di dalam gereja Kristen” (Tafsiran atas Gal. 5:6; bdk Tafsiran atas 2Kor. 5:17).
Di dalam “Summary of Doctrine Concerning the Ministry of the Word and the Sacraments” (“Rangkuman dari Doktrin tentang Pelayanan Firman dan Sakramen-Sakramen”) yang ditulisnya, theolog kita mengajarkan bahwa Allah menggunakan sarana-sarana anugerah (pemberitaan Firman dan pengambilan bagian dari sakramen-sakramen) untuk memperdalam persatuan dan persekutuan kita dengan Kristus.
Tujuan akhir seluruh pelayanan Injil adalah supaya Allah … mengomunikasikan Kristus kepada kita yang terpisah karena dosa dan oleh karena itu binasa, agar kita bisa menikmati kehidupan yang kekal dari-Nya; bahwa, singkatnya, semua harta surgawi bisa diaplikasikan dengan cara sedemikian rupa pada kita sehingga semua harta itu adalah milik kita seperti milik Kristus sendiri. Kita percaya bahwa pengomunikasian ini bersifat mistis, dan tidak bisa dipahami secara tuntas bagi rasio manusia, dan bersifat spiritual, karena disebabkan oleh Roh Kudus [yang oleh-Nya] Ia [yaitu Allah] menyatukan kita dengan Kristus, Kepala kita, bukan dengan cara yang imajiner, melainkan dengan cara yang paling penuh kuasa dan sejati, sehingga kita menjadi daging dari daging-Nya dan tulang dari tulang-Nya [bdk. Ef. 5:30], dan dari daging-Nya yang menghidupkan Ia mentransfusikan kehidupan yang kekal ke dalam diri kita. Untuk menyebabkan persatuan ini, Roh Kudus menggunakan sebuah instrumen ganda, pemberitaan Firman dan pelaksanaan sakramen-sakramen.55
Pemberitaan Firman adalah sarana utama yang telah Allah tetapkan bagi pertumbuhan kita di dalam anugerah. Calvin berbicara dengan fasih tentang kuasa spiritual dari “doktrin yang disampaikan” melalui “jabatan pastoral:”
Dengan cara inilah pembaruan orang-orang kudus digenapi; dengan cara inilah tubuh Kristus telah dibangun [Ef. 4:12]; dengan cara inilah “kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” [Ef. 4:15], dan bertumbuh bersama di antara kita sendiri; dengan cara inilah kita semua dibawa ke dalam kesatuan Kristus (Institutio 4.3.2).
Bagi Calvin, dan juga seluruh tradisi Reformed, kedua sakramen Kristen adalah sarana anugerah yang resmi yang telah Allah tetapkan di dalam dan bagi gereja sebagai instrumen-instrumen yang kudus, yang dengannya kita semakin bertumbuh ke dalam Tuhan Yesus Kristus. Ronald S. Wallace merangkum doktrin sang Reformator Jenewa tentang gereja dan sarana-sarana anugerah di dalam kaitan dengan persatuan kita dengan Kristus: “Kristus telah mengikat Gereja kepada diri-Nya secara organis sebagai tubuh-Nya, dan kehidupan Kepala mengalir kepada anggota-anggota melalui pelayanan Firman dan Sakramen yang dipercayakan kepada Gereja.”56
Baptisan
Inilah kalimat pertama di dalam bab Calvin tentang sakramen Kristen yang pertama, yang berjudul “Baptisan,” di dalam Institutio-nya: “Baptisan adalah tanda dari inisiasi yang olehnya kita diterima ke dalam masyarakat gereja, agar, dengan dicangkokkan di dalam Kristus, kita bisa terhitung di antara anak-anak Allah” (Institutio 4.15.1).
“Baptisan,” lanjut Calvin, “membawa tiga hal kepada iman kita yang harus kita bahas secara individual.” Pertama, baptisan adalah “sebuah token dan bukti untuk pembersihan kita” (Institutio 4.15.1), karena “di dalam Kristus kita memperoleh pengampunan yang terus-menerus dan tidak berhenti atas dosa, bahkan sampai mati” (Institutio 4.15.3). Kedua, baptisan adalah sebuah tanda dan meterai dari pengudusan kita, “menunjukkan kepada kita mortifikasi kita di dalam Kristus, dan kehidupan baru di dalam Dia,” merujuk kepada Roma 6:3–4 (Institutio 4.15.5). Ketiga, baptisan adalah sebuah “kesaksiannya yang pasti bagi kita bahwa kita bukan hanya dicangkokkan ke dalam kematian dan kehidupan Kristus, tetapi dipersatukan dengan cara sedemikian rupa dengan Kristus sendiri sehingga kita menjadi orang-orang yang berbagi semua berkat-Nya.” Calvin mengulang poin terakhir ini: “semua karunia Allah yang diberikan di dalam baptisan didapati hanya di dalam Kristus” di dalam “ikatan terkuat dari persatuan dan persekutuan yang Ia berkenan untuk bentuk dengan kita” (Institutio 4.15.6).57
Inilah tafsiran Calvin mengenai formula Trinitarian baptisan:
Ada alasan-alasan yang baik mengapa Bapa, Anak, dan Roh Kudus, disebutkan secara jelas; karena tidak ada cara lain yang dengannya efikasi baptisan bisa dialami selain ketika kita memulai dengan menerima rahmat, yang bukan dikarenakan jasa kita, dari Bapa yang memperdamaikan kita kepada diri-Nya sendiri melalui Anak-Nya yang tunggal; selanjutnya, Kristus tampil dengan persembahan kurban berupa kematian-Nya; dan akhirnya juga ditambahkan Roh Kudus, yang oleh-Nya Ia membasuh dan meregenerasi kita (Tit. 3:5) dan, singkatnya, menjadikan kita para pengambil bagian dari manfaat-manfaat milik-Nya [yaitu Kristus] (Tafsiran atas Mat. 28:19; bdk. Institutio 4.15.6).58
Sungguh sebuah kesaksian yang menakjubkan bagi persatuan dengan Kristus di dalam kaitan dengan baptisan di dalam pemikiran Calvin! Tiga paragraf yang terakhir menunjukkan bahwa, bagi Reformator berkebangsaan Prancis ini, definisi baptisan, ketiga manfaat baptisan (pembenaran, pengudusan, dan “semua karunia Allah yang diberikan”) dan formula baptisan semuanya melibatkan persatuan mistis itu. Kristus menjadi milik kita melalui baptisan spiritual yang internal, ritual yang untuknya baptisan air menjadi tanda dan meterai!
Setelah satu bab mengenai baptisan secara umum (Institutio 4.15), Calvin secara panjang lebar membahas baptisan anak (paedobaptisme), baptisan atas keturunan orang-orang yang percaya (Kej. 17:7; Kis. 2:39), yang juga dikenal sebagai baptisan bayi atau baptisan keluarga atau baptisan rumah tangga atau baptisan kovenan, melawan kaum Anabaptis (Institutio 4.16). Kembali Calvin merujuk kepada unio cum Christo, dan di sini menarik kesejajaran antara persatuan anak-anak dengan Adam “pertama” di dalam dosa dan persatuan dengan “Adam terakhir” di dalam keselamatan (Rm. 5:12–19; 1Kor. 15:45–49):
Sebab jika diakui bahwa mereka ada di antara anak-anak Adam, maka mereka akan ditinggal di dalam kematian, karena di dalam Adam kita hanya bisa mati [Rm. 5:12 dst.]. Sebaliknya, Kristus memerintahkan supaya mereka dibawa kepada-Nya [Mat. 19:14]. Mengapa demikian? Karena Ia adalah kehidupan. Oleh karena itu, untuk menghidupkan mereka, Ia menjadikan mereka pengambil bagian di dalam diri-Nya, sementara orang-orang ini [yaitu kaum Anabaptis] menghukum anak-anak itu ke dalam pembuangan dan kematian (Institutio 4.16.17).
Dengan menarik dari doktrin-Nya tentang pengudusan Kristus dan kaum pilihan-Nya di dalam Dia (bdk. Yoh. 17:19), seperti yang dijabarkan sebelumnya, Calvin menjelaskan bagaimana anak-anak dari orang yang percaya layak menjadi penerima baptisan:
Sungguh, Kristus dikuduskan sejak masa kanak-kanak terawal agar Ia dapat menguduskan di dalam diri-Nya kaum pilihan-Nya dari segala usia tanpa membeda-bedakan. Karena, untuk menghapuskan kesalahan karena ketidaktaatan yang telah dilakukan di dalam daging kita, Ia mengenakan daging yang sama itu supaya di dalamnya, demi kita, dan sebagai ganti kita, Ia dapat mencapai ketaatan yang sempurna. Itulah sebabnya, Ia dikandung oleh Roh Kudus supaya, di dalam daging yang dikenakan, yang dipenuhi dengan kekudusan Roh, Ia dapat melimpahkan kekudusan itu kepada kita. Jika di dalam diri Kristus kita memiliki contoh yang paling sempurna dari semua anugerah yang dilimpahkan oleh Allah kepada anak-anak-Nya, di dalam hal ini pun Ia akan menjadi bukti untuk kita bahwa usia kanak-kanak bukan benar-benar tidak sesuai untuk pengudusan (Institutio 4.16.18).
Perjamuan Tuhan dan Disiplin Gereja
Calvin berpindah dari sakramen Kristen yang pertama (Institutio 4.15–16) ke sakramen yang kedua (Institutio 4.17–18) menggunakan unio cum Christo:
Karena sebagaimana di dalam baptisan, Allah, dengan meregenerasi kita, mencangkokkan kita ke dalam masyarakat gereja-Nya dan menjadikan kita milik-Nya sendiri melalui adopsi, demikian jugalah telah kita katakan, bahwa Ia melaksanakan fungsi sebagai kepala rumah tangga yang bijak dalam menyediakan dengan memberikan kepada kita makanan [yaitu Perjamuan Tuhan] untuk menopang dan memelihara kita di dalam kehidupan [itu] (Institutio 4.17.1).
Dari sakramen ini, jiwa-jiwa yang saleh “memiliki sebuah kesaksian bagi pertumbuhan kita menjadi satu tubuh dengan Kristus sehingga apa pun yang adalah milik-Nya dapat disebut sebagai milik kita,” Calvin menyatakan, sebelum memproklamasikan dengan fasih,
Ini adalah pertukaran yang ajaib yang, dari kemurahan-Nya yang tidak terhingga, Ia lakukan dengan kita; supaya, dengan menjadi Anak manusia bersama kita, Ia menjadikan kita anak-anak Allah bersama-Nya; agar, dengan turunnya Dia ke bumi, Ia mempersiapkan kenaikan ke surga bagi kita; supaya, dengan mengenakan kefanaan kita, Ia memberikan kebakaan-Nya pada kita; supaya, dengan menerima kelemahan kita, Ia menguatkan kita dengan kuasa-Nya; supaya, dengan menerima kemiskinan kita bagi diri-Nya, Ia memindahkan kekayaan-Nya kepada kita; supaya, dengan mengambil beban kesalahan kita (yang menindas kita) ke atas diri-Nya sendiri, Ia telah mengenakan kebenaran-Nya pada kita (Institutio 4.17.2).
Ketika memberikan tafsiran atas Yohanes 6:56, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia,”59 dan juga dengan memaksudkan penyalahgunaan Katolik Roma atas teks ini untuk mendukung misa mereka yang menghujat, Calvin menjelaskan,
sementara Ia [yaitu Kristus] saja yang memiliki kehidupan di dalam diri-Nya sendiri, Ia menunjukkan bagaimana kita bisa menikmatinya, yaitu dengan memakan daging-Nya; seolah-olah Ia telah menegaskan bahwa tidak ada cara lain yang dengannya Ia bisa menjadi milik kita, selain iman kita diarahkan kepada daging-Nya … Ketika Ia mengatakan bahwa Ia tinggal (berdiam) di dalam kita, maknanya sama seperti jika Ia mengatakan bahwa satu-satunya ikatan dari persatuan, dan jalan yang dengannya Ia menjadi satu dengan kita, adalah ketika iman kita bersandar pada kematian-Nya. Kita juga bisa menyimpulkan dari itu bahwa Ia bukan sedang berbicara tentang simbol eksternal, yang bisa diterima oleh banyak orang yang tidak percaya bersama orang-orang yang percaya, namun mereka terus terpisah dari Kristus (Tafsiran atas Yoh. 6:56).
Robert Letham menyatakan, “bagi Calvin,” di dalam Perjamuan Tuhanlah “persatuan dengan Kristus terungkap secara khusus.”60 Faktanya, bukanlah pernyataan yang berlebihan jika mengklaim bahwa doktrin Calvin tentang Perjamuan Tuhan tidak bisa dipahami secara tuntas ketika dipisahkan dari persatuan mistis ini. Teks favorit Calvin tentang unio cum Christo maupun sakramen kedua dari Perjanjian Baru ini adalah Efesus 5:30: “Karena kita adalah daging dari daging-Nya dan tulang dari tulang-tulang-Nya” (KJV).
Sebab Tuhan telah memberikan tubuh-Nya bagi kita dengan cara sedemikian rupa di sana sehingga Ia dijadikan sepenuhnya satu dengan kita dan kita dengan-Nya. Karena Ia memiliki hanya satu tubuh, dan kita semua Ia jadikan pengambil bagian di dalam tubuh ini, maka adalah niscaya bahwa kita semua juga dijadikan satu tubuh oleh partisipasi seperti ini. Roti yang ditunjukkan di dalam Sakramen ini merepresentasikan kesatuan ini. Sebagaimana roti dibuat dari banyak biji yang dicampurkan bersama dengan cara sedemikian rupa sehingga satu biji tidak dapat dibedakan dari biji yang lainnya, maka sesuailah bahwa dengan cara yang sama kita dipersatukan dan diikat bersama dengan keselarasan pikiran yang sedemikian erat sehingga tidak ada perselisihan dan perpecahan yang bisa menyusup masuk ke dalamnya (Institutio 4.17.38).61
Katekismus Heidelberg, P. & J. 76, yang dituliskan oleh dua murid Calvin yang setia, Zacharias Ursinus dan Caspar Olevianus, menapaskan doktrin tentang Perjamuan Tuhan dari Reformator Jenewa itu dengan motif persatuan dengan Kristus dan penggunaan Efesus 5:30:
P. Apakah artinya memakan tubuh Kristus yang tersalib dan meminum darah Kristus yang tercurah?
J. Ini bukan hanya merangkul dengan hati yang percaya semua penderitaan dan kematian Kristus, dan dengan demikian mendapatkan pengampunan dosa dan hidup yang kekal, tetapi, selain itu, juga menjadi semakin dipersatukan dengan tubuh-Nya yang kudus, oleh Roh Kudus, yang berdiam baik di dalam Kristus maupun di dalam kita, sehingga, meskipun Kristus berada di surga dan kita di bumi, kita tetap adalah daging dari daging-Nya dan tulang dari tulang-Nya, dan hidup dan diperintah oleh satu Roh, seperti anggota-anggota dari tubuh yang sama oleh satu jiwa.
Di dalam kaitan ini, Calvin membuat pengaplikasian berikut: “Persatuan mistis yang ada antara Kristus dan anggota-anggota-Nya haruslah menjadi [a] hal yang direnungkan bukan hanya ketika kita duduk di meja Tuhan, tetapi di sepanjang waktu-waktu yang lain” (Tafsiran atas Mzm. 63:2; TB 63:3). Kristus semakin dijadikan milik kita ketika kita memakan dan meminum Dia secara spiritual dan sakramental!
Di antara pembenaran Calvin bagi disiplin gereja adalah rujukannya kepada unio cum Christo:
Karena gereja sendiri adalah tubuh Kristus [Kol. 1:24], ia tidak boleh dicemarkan oleh anggota-anggota yang busuk dan bobrok seperti itu tanpa menjadi aib bagi Sang Kepala. Oleh karena itu … orang-orang yang dengan kefasikannya menyebabkan nama Kristen menjadi buruk harus dibuang dari keluarga gereja (Institutio 4.12.5).
Maka disiplin eklesiastis (gerejawi), seperti yang Wendel katakan, “menjadi niscaya karena persatuan orang beriman dengan Kristus dan martabat-Nya sebagai Kepala Gereja.”62
Orientasi Eskatologis
Setelah mempertimbangkan soteriologi dan eklesiologi, kita sampai pada eskatologi. Di sini kita menyebutkan dua isu pertama: hubungan antara persatuan dengan Kristus di dalam pemikiran Calvin dan, pertama, kebajikan eskatologis berupa pengharapan dan, kedua, lokasi dari pembahasan utama tentang hal-hal terakhir di dalam Institutio-nya.
Pertama, pengharapan adalah sikap dan pandangan spiritual yang dimiliki oleh orang yang percaya terhadap kebaikan di masa depan yang dijanjikan di dalam Firman Allah. Pengharapan objektif kita maupun pengharapan subjektif kita ada di dalam Kristus saja (Tafsiran atas Tit. 2:13). Heinrich Quistorp menjelaskan peran vital unio cum Christo di dalam pengharapan eskatologi menurut John Calvin:
Pengharapan orang-orang Kristen berakar di dalam persekutuan mereka dengan Kristus. Oleh iman mereka dimasukkan ke dalam tubuh-Nya. Sebagai anggota-anggota dari tubuh-Nya, mereka memiliki sebuah tujuan kekal. “Orang percaya harus diyakinkan bahwa satu-satunya dasar bagi pengharapan mereka akan warisan Kerajaan Surgawi terletak di dalam fakta bahwa karena dicangkokkan ke dalam tubuh Kristus, mereka secara cuma-cuma diperhitungkan sebagai orang-orang yang benar” [Institutio 3.13.5]. Sang kepala yang sudah masuk ke dalam kemuliaan akan menarik anggota-anggota-[Nya] mengikuti Dia: seperti itulah pengharapan yang dimiliki oleh Kekristenan, oleh tubuh Kristus … Di dalam Dia warisan kekal secara esensial sudah diberikan kepada kita. Kebaikan di masa depan dari kebenaran dan keteberkatan yang sempurna sudah eksis di dalam Kristus. Kita tidak perlu pergi keluar dari Kristus karena kita sudah memiliki segala-galanya di dalam Dia. Karena keimaman-Nya menyebabkan masuknya kita ke dalam Kerajaan Allah. “Mustahil bagi kita untuk mengharapkan apa pun yang lebih baik lagi untuk diri kita sendiri” [Tafsiran atas Ibr. 9:11]. Tidak ada pengharapan di luar pekerjaan Kristus yang sudah digenapi dan persekutuan (komuni) dengan Dia.63
Kedua, Cornelis Venema mempresentasikan alasan bagi penempatan Calvin atas pembahasan utamanya tentang eskatologi di dalam Institutio-nya. Di sini kembali persatuan dengan Kristus sangat menonjol.
Signifikansi dari lokasi ini bagi pembahasan Calvin mengenai kebangkitan tubuh dan kehidupan yang kekal tidaklah sulit dilihat [Institutio 3.25, bab terakhir dari buku 3]. Pekerjaan penebusan Kristus sebagai Pengantara [buku 2] dibagikan kepada orang-orang yang percaya oleh pelayanan Roh Kudus, yang mempersatukan orang-orang yang percaya dengan Kristus dan memberi mereka semua manfaat dari penebusan [buku 3]. Melalui persatuan dengan Kristus, orang-orang yang percaya secara terutama menikmati manfaat ganda berupa pembenaran yang cuma-cuma atau penerimaan dengan Allah dan pembaruan menurut gambar Allah [yaitu pengudusan] [3.1–20]. Tujuan Allah Bapa [3.21–24] di dalam penebusan adalah memulihkan orang-orang yang percaya kepada penerimaan dan perkenanan, serta menjadikan mereka serupa dengan gambar Kristus di dalam pengetahuan, kebenaran, dan kekudusan yang benar. Pekerjaan Pencipta [buku 1] dan Penebus [buku 2] yang tritunggal bertujuan membawa orang-orang yang dipersatukan dengan Kristus kepada kemuliaan, dan memperbaiki kerusakan dan ketidaktertiban dosa di dalam kehidupan manusia [buku 3]. Dengan demikian, pembahasan Calvin tentang kebangkitan tubuh dan kehidupan yang kekal, merepresentasikan penjelasannya tentang telos [yaitu sasaran] dari persatuan orang-orang yang percaya dengan Kristus [3.25]. Di dalam persatuan dengan Kristus, orang-orang yang percaya dibenarkan, dikuduskan, dan akhirnya dipermuliakan [buku 3]. Dengan mempertimbangkan lokasi bab 25 dari Institutio, bab ini bisa saja diberi judul “Pemuliaan Orang-Orang yang Percaya di dalam Persatuan dengan Kristus.”64
Keadaan Antara
John Calvin mengajarkan kebenaran tentang masa antara yang teberkati yang dialami oleh orang yang percaya di dalam jiwanya bersama Kristus di dalam surga, di dalam periode antara keadaan kita saat ini di dalam dunia yang sudah terjatuh dan keadaan kekal kita di dalam ciptaan yang baru. Dikarenakan persatuan mistis, anak-anak Allah tidak perlu takut terhadap kematian:
Tetapi meskipun kehidupan baru saja dimulai di dalam diri kita, Kristus mendeklarasikan bahwa orang-orang yang percaya begitu pasti tentang pemerolehan kehidupan itu sehingga mereka tidak boleh takut terhadap kematian; dan kita tidak perlu heran akan hal ini, karena mereka dipersatukan dengan Dia yang adalah sumber kehidupan yang tidak habis-habisnya (Tafsiran atas Yoh. 5:24).
Kristus akan dijadikan milik kita di dalam cara yang jauh lebih tinggi di dalam surga setelah kita mati (Tafsiran atas Flp. 1:21–23)!
Di sini theolog kita secara tajam melawan ajaran sesat kaum Anabaptis tentang tertidurnya jiwa, bahwa anak Allah tidak sadar [pada masa] antara kematiannya dan kebangkitan tubuhnya pada hari terakhir. Psychopannychia (1534) adalah risalah theologis paling awal yang Calvin tulis, meskipun baru diterbitkan pada tahun 1542 dan 1545.65 Di antara banyaknya argumen biblikal dan theologis Calvin di dalam Psychopannychia melawan ajaran kaum Anabaptis tentang tertidurnya jiwa, terdapat rujukannya kepada persatuan dengan Kristus.66 Calvin menjelaskan,
Selain itu, bukan hanya akan menghibur kita ketika memikirkan bahwa Kristus, Kepala kita, tidak binasa di dalam bayang-bayang maut, tetapi kita memiliki jaminan tambahan dari Kebangkitan-Nya, yang olehnya Ia menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan atas maut, dan mengangkat kita semua, yang memiliki bagian apa pun di dalam Dia, mengatasi maut, sehingga Paulus tidak ragu untuk berkata, bahwa “hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus” (Kol. 3:3). Di tempat lain ia (Paulus) berkata, “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:20). Apakah yang tersisa bagi lawan kita selain berteriak-teriak dengan mulut ternganga lebar bahwa Kristus tertidur di dalam jiwa-jiwa yang tertidur? Karena jika Kristus hidup di dalam mereka, Ia juga mati di dalam mereka. Oleh karena itu, jika kehidupan Kristus kita adalah milik kita, biarlah orang yang bersikeras bahwa kehidupan kita diakhiri oleh kematian, menarik Kristus turun dari sebelah kanan Bapa dan memasukkan Dia ke dalam kematian yang kedua. Jika Ia bisa mati, maka kematian kita sudah pasti; jika Ia tidak memiliki akhir kehidupan, maka jiwa kita yang dicangkokkan di dalam Dia pun tidak bisa diakhiri oleh kematian apa pun! Tetapi mengapakah menjabarkan poin ini? Apakah ada ketidakjelasan apa pun di dalam perkataan, “Sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup” (Yoh. 14:19)? Jika kita hidup karena Ia hidup, maka jika kita mati Ia tidak hidup. Apakah ada kekaburan apa pun di dalam janji-Nya, bahwa Ia akan berdiam di dalam semua orang yang dipersatukan kepada-Nya oleh iman, dan mereka di dalam Dia (Yoh. 6:56)? Oleh karena itu, jika kita mau melucuti kehidupan dari para anggota itu, marilah kita juga memisahkan mereka dari Kristus.67
Persatuan dengan Kristus di dalam keadaan antara juga menepis gagasan-gagasan kepausan tentang purgatori. Setelah menyanggah kebodohan indulgensi (Institutio 3.5.1–5), sebuah cara imajiner untuk keluar dari sebuah tempat imajiner, Calvin melawan argumen-argumen Roma yang dibuat-buat bagi eksistensi purgatori dari Alkitab (Institutio 3.5.6–10). Ia menyimpulkan,
Kitab Suci menyediakan penghiburan lain yang jauh lebih baik dan lebih sempurna ketika memberikan kesaksian: “Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan” [Why. 14:13] (Institutio 3.5.10).68
Tertidur di dalam Kristus, berarti mempertahankan, di dalam kematian, hubungan yang kita miliki dengan Kristus,” Calvin menjelaskan, “bagi orang-orang yang oleh iman dicangkokkan ke dalam Kristus, memiliki kematian bersama Dia, sehingga mereka bisa menjadi pengambil bagian dari kehidupan bersama Dia” (Tafsiran atas 1Tes. 4:14).69
Venema merangkum ajaran Calvin yang biblikal mengenai keadaan antara orang yang percaya: “Kematian menyebabkan keterpisahan antara tubuh dan jiwa,” bukan keterpisahan antara anak Allah dan Yesus, karena “jiwa orang yang percaya terus menikmati persekutuan yang sadar dengan Kristus sampai waktu terjadinya kebangkitan semua manusia pada hari terakhir.”70
Calvin dengan ahli mengayun pedang persatuan dengan Kristus melawan dua ajaran sesat di dalam bidang theologi ini: tertidurnya jiwa dari kaum Anabaptis dan purgatori dari kaum Katolik Roma. Dengan mengikuti Firman Allah, Calvin mengakui hanya keadaan antara di surga (bagi orang-orang yang dipersatukan dengan Kristus) dan di neraka (bagi orang-orang yang tidak dipersatukan dengan-Nya), dan menyangkali eksistensi sebuah tempat antara (purgatori) di antara mereka. Pengakuan Iman Westminster merangkum hal ini dengan baik: “Selain kedua tempat bagi jiwa yang terpisah dari tubuhnya, Alkitab tidak mengakui tempat lain mana pun” (32:1).
Kedatangan yang Kedua
Apakah makna dari kedatangan kembali Tuhan secara badani dan mulia ini bagi Calvin? Sebagaimana Kitab Suci yang menyampaikan peristiwa yang teberkati ini dengan banyak cara yang berbeda, Calvin berbicara tentang kedatangan kembali Juru Selamat kita di dalam kaitan dengan persatuan kita dengan Kristus:
Di sini kita memiliki penghiburan khusus—bahwa kedatangan Kristus akan menyatakan kehidupan kita … Karena jika kehidupan kita terdapat di dalam Kristus [Kol. 3:3], kehidupan ini pasti tersembunyi, sampai Ia menyatakan diri (Tafsiran atas Kol. 3:4).
Berkomentar tentang penyataan diri Kristus di masa depan, ketika “kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya” (1Yoh. 3:2), Calvin menulis,
[Yohanes] mengajarkan hal yang sama dengan Paulus, di dalam Kolose 3:3, 4, di mana ia berkata, “Hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” Karena iman kita tidak bisa bertahan kecuali dengan menantikan kedatangan Kristus. Alasan mengapa Allah menunda penyataan kemuliaan kita adalah karena ini, bahwa Kristus belum dinyatakan di dalam kuasa kerajaan-Nya.
Theolog kita kemudian menyatakan bahwa Yesus, Tuhan kita, datang untuk menjadikan kita serupa dengan diri-Nya sendiri di dalam gambar, rupa, dan kemuliaan Allah:
[Yohanes menunjukkan] bahwa sasaran final dari pengadopsian kita adalah agar apa yang di dalam urutan telah terjadi terlebih dahulu di dalam Kristus pada akhirnya akan dilengkapi di dalam diri kita … untuk melihat Kristus menjadikan kita serupa dengan-Nya … ini berarti melihat Dia sebagai seorang sahabat … Tetapi ketika gambar Allah diperbarui di dalam diri kita, kita memiliki mata yang dipersiapkan untuk melihat Allah. Dan sekarang, sungguh, Allah mulai memperbarui gambar-Nya sendiri di dalam diri kita, sungguh pun di dalam taraf yang masih sangat kecil! Jika kita tidak dilucuti dari semua kerusakan daging, kita tidak akan mampu melihat Allah muka dengan muka … kita akan menjadi pengambil bagian dari kemuliaan ilahi, karena jika natur kita tidak spiritual dan tidak dikaruniai kebakaan yang surgawi dan teberkati, natur kita tidak pernah bisa datang mendekat kepada Allah: namun kesempurnaan kemuliaan di dalam diri kita ini tidak akan sedemikian agungnya sampai-sampai penglihatan kita akan memampukan kita untuk memahami apa adanya Allah secara tuntas (Tafsiran atas 1Yoh. 3:2).
Di dalam sebuah khotbah tentang 2 Tesalonika 1:6–10, Calvin memproklamasikan bahwa Kristus yang datang kembali ini akan membagi kemuliaan-Nya dengan kita:
Ketika Paulus menambahkan ini [ay. 10], ini seolah-olah ia berkata, “Ia akan datang untuk menjadikan kita orang-orang yang berbagi di dalam kemuliaan-Nya, bahwa segala sesuatu yang layak untuk dihargai dan di dihormati di dalam Dia akan dikomunikasikan kepada kita.” Singkatnya, Paulus mendeklarasikan bahwa Yesus, Tuhan kita, akan datang bukan untuk menyimpan kemuliaan-Nya bagi diri-Nya sendiri, tetapi agar kemuliaan itu bisa dicurahkan pada semua anggota-Nya dari tubuh-Nya.71
Kebangkitan Semua Manusia
Juru Selamat kita akan datang kembali di dalam keagungan yang begitu besar dan bersama para malaikat kudus untuk membangkitkan orang yang sudah mati.72 Calvin berargumen bagi keniscayaan kebangkitan gereja secara badani dan mulia dari unio cum Christo kita:
Dan memisahkan Kristus dari diri kita sendiri adalah hal yang tidak diperbolehkan dan bahkan tidak mungkin, tanpa mengoyakkan Dia. Dari sana, Paulus berargumen: “Jika benar orang mati tidak dibangkitkan, Kristus juga tidak dibangkitkan” [1Kor. 15:16]. Sebab Paulus menganggap sebagai sebuah prinsip yang sudah disepakati bahwa bukan hanya bagi diri-Nya sendiri Kristus ditundukkan kepada maut, atau bahwa Ia meraih kemenangan atas maut dengan bangkit kembali. Melainkan di dalam Sang Kepala sudah dimulai apa yang harus dituntaskan di dalam semua anggota (Institutio 3.25.3).
Setelah pernyataan yang menyentuh bahwa “Kristus bangkit kembali supaya Ia boleh memiliki kita sebagai pendamping di dalam kehidupan yang akan datang,” Calvin kembali menekankan bahwa ikatan Sang Juru Selamat yang tidak bisa putus dan hidup dengan kita ini menjamin kebangkitan kita:
Kristus dibangkitkan oleh Bapa, karena Kristuslah Kepala gereja, dan Bapa tidak akan membiarkan Kristus dipisahkan dari gereja ini. Kristus dibangkitkan dengan kuasa Roh Kudus, Pemberi Hidup bagi kita juga bersama Kristus (Institutio 3.25.3).
Pengakuan Iman Belanda 37 menyatakan bahwa pada hari terakhir, kita di dalam jiwa kita akan “digabungkan dan dipersatukan dengan tubuh [kita] yang sesungguhnya yang di dalamnya [kita] dahulu hidup.” Pengakuan Iman Westminster merujuk kepada tubuh-tubuh ini sebagai “tubuh yang sama, bukannya tubuh yang lain, walaupun dengan kualitas yang berbeda” (32:2). Calvin sepandangan, dengan mengidentifikasi “kesalahan orang-orang yang membayangkan bahwa jiwa-jiwa tidak akan menerima tubuh-tubuh yang sama dengan yang sekarang mereka kenakan, melainkan akan diberi tubuh-tubuh yang baru dan berbeda” sebagai kesalahan yang “mengerikan” (Institutio 3.25.7).
Dari kebenaran tentang persatuan dengan Kristus, Calvin membentuk dua argumen utama melawan gagasan yang menghujat ini. Pertama, tubuh-tubuh yang sama ini telah dipersatukan dengan Kristus!
Sebab akan sangat menggelikan bahwa tubuh-tubuh yang telah Allah khususkan bagi diri-Nya sendiri sebagai bait [1Kor. 3:16] sampai terjatuh ke dalam kotoran tanpa harapan akan kebangkitan! Bagaimanakah dengan fakta bahwa tubuh-tubuh itu juga adalah anggota-anggota Kristus [1Kor. 6:15]? (Institutio 3.25.7).
Kedua, Tuhan Yesus (yang kepada-Nya kita dipersatukan) telah dibangitkan di dalam tubuh yang sama dengan tubuh yang Ia kenakan baru tiga hari sebelumnya.
Lagipula, jika kita diberi tubuh yang baru, bagaimanakah kepala dengan anggota bisa cocok? Kristus telah bangkit: apakah dengan merancang tubuh yang baru bagi diri-Nya? Tidak, seperti yang telah Ia beri tahukan sebelumnya: “Runtuhkan Bait Suci ini, dan dalam tiga hari Aku akan membangunnya [kembali]” [Yoh. 2:19]. Kristus menerima kembali tubuh fana yang telah Ia kenakan sebelumnya (Institutio 3.25.7).
Ajaran Calvin tentang kebangkitan kita secara badani di masa depan menarik dari doktrinnya bahwa orang yang percaya dipersatukan dengan Kristus secara utuh, termasuk badannya. Di sini kita mengutip sebuah subbagian yang lebih panjang daripada yang yang dikutip sebelumnya dari tafsiran Reformator berkebangsaan Prancis ini atas 1 Korintus 6:15:
Perhatikanlah bahwa hubungan spiritual yang kita miliki dengan Kristus bukanlah hanya milik jiwa, tetapi juga milik tubuh, sehingga kita adalah daging dari daging-Nya, dst. (Ef. 5:30). Jika tidak demikian, pengharapan akan kebangkitan akan lemah, jika hubungan kita bukanlah hubungan natur itu—yang sepenuhnya dan lengkap.
Dari semua ini, Calvin menarik pelajaran yang menghibur ini: “di dalam iman akan kebangkitan, kita memiliki dasar yang teguh bagi penghiburan, karena kita adalah anggota-anggota Kristus, dan benar-benar dipersatukan dengan-Nya sebagai Kepala kita” (Tafsiran atas 1Tes. 4:18).
Dengan merujuk kepada tafsiran Calvin atas 1 Korintus 15:44, Edward A. Dowey, Jr. menjelaskan bahwa natur dari kebangkitan tubuh kaum pilihan adalah spiritual karena Roh Kudus yang kita terima di dalam unio cum Christo:
Tubuh spiritual dari kebangkitan bukanlah sebuah substansi spiritual, yang berbeda dari tubuh hewan, tetapi layak disebut spiritual, karena tubuh ini akan menerima kehidupannya dari Roh yang menghidupkan atau yang memberi kehidupan alih-alih dari makan dan minum! Inilah cara kita akhirnya “dijadikan serupa dengan gambar Kristus,” di dalam dilengkapinya regenerasi spiritual yang kita miliki saat ini.73
Penghakiman Terakhir dan Kehidupan yang Kekal
Yesus Tuhan kita akan datang kembali untuk membangkitkan orang yang telah mati untuk membawa setiap manusia (dan juga semua malaikat) ke hadapan takhta putih agung penghakiman-Nya. Di sini kembali unio cum Christo sangat penting. Hanya orang-orang yang benar di dalam Kristus di dalam kehidupan sekarang ini yang akan mampu berdiri di hadapan Kristus pada hari terakhir itu. Hal ini juga tercakup di dalam definisi Calvin bagi pembenaran yang telah dikutip sebelumnya:
kita mendefinisikan pembenaran sebagai berikut: orang yang berdosa, yang diterima ke dalam persekutuan dengan Kristus … mendapatkan [1] pengampunan atas dosa-dosa, dan [2] dikenakan dengan kebenaran Kristus seolah-olah itu adalah kebenarannya sendiri, ia berdiri yakin di hadapan takhta penghakiman surgawi (Institutio 3.17.8).
Venema merangkum ajaran sang Reformator Jenewa tentang unio cum Christo di dalam persembahan kurban Juru Selamat kita di masa lalu, dan pembenaran yang dimiliki oleh orang yang percaya pada saat ini dan di masa depan:
Melalui persekutuan dengan Kristus, orang-orang yang percaya, oleh iman, menikmati suatu pengantisipasian akan putusan final berupa penerimaan dan perkenan yang cuma-cuma dengan Allah. Maka, pembenaran di dalam konsepsi Calvin adalah sebuah manfaat yang sepenuhnya eskatologis. Dikarenakan kematian Kristus yang mendamaikan dan kebangkitan-Nya, orang-orang percaya yang dipersatukan dengannya menikmati pengumuman Injil akan penerimaan yang cuma-cuma oleh Allah, yang tidak kurang daripada deklarasi saat ini akan apa yang akan ditegaskan secara publik pada saat penghakiman terakhir.74
Calvin mengelaborasi mengenai penghiburan dan hormat yang diberikan oleh persatuan dengan Kristus ini di dalam kaitan dengan penghakiman terakhir-Nya, karena kita berbagi dengan-Nya di dalam aktivitas ini!
Dengan demikian timbullah sebuah penghiburan yang luar biasa: bahwa kita memahami penghakiman berada di tangan Dia yang telah menetapkan kita untuk berbagi kehormatan bersama-Nya untuk menghakimi [bdk. Mat. 19:28]! Jauhlah Kristus dari menduduki takhta penghakiman-Nya untuk menghukum kita! Bagaimanakah mungkin Penguasa kita yang sangat berbelas kasih membinasakan rakyat-Nya? Bagaimanakah mungkin Kepala mencerai-beraikan anggota-anggota-Nya sendiri? (Institutio 2.16.18).
Apa yang dikatakan di sini tentang menghakimi dunia harus dipandang sebagai merujuk kepada deklarasi Kristus ini: … apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga, dst. (Mat. 19:28). Bapa … telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak (Yoh. 5:22) dengan cara sedemikian rupa sehingga Ia akan menerima orang-orang kudus-Nya ke dalam partisipasi dengan-Nya di dalam kehormatan ini, sebagai para penilai (Tafsiran atas 1Kor. 6:2).
Kita bukan hanya akan dinyatakan benar di hadapan publik pada saat penghakiman terakhir dan dihormati sebagai “para penilai,” tetapi kita juga akan diberi upah dengan penuh rahmat di dalam unio cum Christo. Bagi Calvin, menurut rangkuman Heinrich Quistorp,
Allah memberikan upah yang dijanjikan … “karena Ia melengkapi karunia-karunia-Nya yang sebelumnya dengan mencurahkan pada kita karunia-karunia yang baru dengan kemurahan hati yang sama yang telah Ia tunjukkan sampai saat ini” [Tafsiran atas 2Tim. 4:8]. Maka Allah melengkapi di dalam anak-anak-Nya pekerjaan yang telah Ia mulai di dalam diri mereka.75
Theolog kita mempresentasikan kebahagiaan “kehidupan yang kekal” di dalam langit yang baru dan bumi yang baru ini di dalam kaitan dengan persatuan dan persekutuan kita di dalam Yesus Kristus:
Jika Tuhan akan membagikan kemuliaan-Nya, kuasa-Nya, dan kebenaran-Nya kepada kaum pilihan—bahkan akan memberikan diri-Nya untuk dinikmati oleh mereka dan, yang lebih hebat lagi, entah bagaimana caranya akan menjadikan mereka satu dengan diri-Nya, marilah kita mengingat bahwa segala jenis kebahagiaan sudah tercakup di bawah berkat ini (Institutio 3.25.10).
Jelaslah bahwa persatuan dengan Kristus adalah sebuah ciri utama di dalam ajaran Calvin terkait eskatologi individual (keadaan antara) maupun eskatologi umum (kedatangan kembali Yesus yang kedua kali, kebangkitan kita secara badani, penghakiman terakhir, dan kehidupan yang kekal). Kita akan menjadi milik kita di dalam keteberkatan yang sempurna untuk selama-lamanya!
Pengakuan Iman Rasuli
Di sini adalah tempat yang tepat untuk mempresentasikan kutipan dari Calvin yang kaya secara theologis, sangat fasih, sering dikutip, terkenal, dan sangat disukai mengenai bekat-berkat yang kita terima di dalam persatuan dengan Kristus. Di dalam lima kalimat ini, ada sebanyak 19 klausa yang dimulai dengan “jika kita mencari” atau “jika:”
Jika kita mencari keselamatan, kita diajar oleh nama Yesus sendiri bahwa keselamatan itu adalah “oleh Dia” [1Kor. 1:30]. Jika kita mencari karunia-karunia Roh yang lain, itu akan ditemukan di dalam pengurapan-Nya. Jika kita mencari kekuatan, itu terletak di dalam kuasa-Nya; jika kita mencari kesucian, itu ada di dalam dikandungnya Dia; jika kita mencari kelembutan, itu muncul di dalam kelahiran-Nya. Sebab dengan kelahiran-Nya, Ia dijadikan seperti kita di dalam segala hal [Ibr. 2:17] supaya Ia boleh belajar merasakan kepedihan kita [bdk. Ibr. 5:2]. Jika kita mencari penebusan, itu terdapat di dalam sengsara Kristus; jika dinyatakan tidak bersalah, di dalam penghukuman atas diri-Nya; jika pengampunan dari kutuk, di dalam salib-Nya [Gal. 3:13]; jika pemuasan, di dalam kurban yang diberikan-Nya; jika penyucian, di dalam darah Kristus; jika rekonsiliasi, di dalam turunnya Dia ke dalam kerajaan maut; jika mortifikasi daging, di dalam kubur-Nya; jika kebaruan hidup, di dalam kebangkitan-Nya; jika kebakaan, juga di dalam kebangkitan-Nya; jika warisan Kerajaan Surgawi, di dalam masuknya Dia ke dalam surga; jika perlindungan, jika keamanan, jika penyediaan berkat yang berlimpah, di dalam Kerajaan-Nya; jika ekspektasi akan penghakiman yang tidak menggelisahkan, di dalam kuasa yang diberikan kepada-Nya untuk menghakimi (Institutio 2.16.19).
Akan tetapi, apa yang kurang diketahui adalah bahwa Calvin di sini menerapkan subbagian Kristologis dari Pengakuan Iman Rasuli kepada kebutuhan-kebutuhan orang-orang yang percaya.76 Hal ini jelas, pertama, dari konteksnya di dalam Institutio 2.16, di mana Calvin membahas artikel-artikel sentral atau artikel-artikel di bagian tengah dari Symbolum Apostolicum.77 Kedua, perhatikan judul dari subbagian terakhirnya: “Hanya Kristus di dalam seluruh klausa Pengakuan Iman Rasuli” (Institutio 2.16.19). Yang ketiga dan terakhir, kita akan memperhatikan isinya.
Bagian Kristologis dari Pengakuan Iman Rasuli dimulai dengan nama Penebus kita: “[Aku percaya] kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang Tunggal, Tuhan kita.” Perhatikanlah tiga nama ini ketika kita mengulas kembali kutipan yang terkenal dari Calvin:
Jika kita mencari keselamatan, kita diajar oleh nama Yesus sendiri bahwa keselamatan itu adalah “oleh Dia” [1Kor. 1:30] [Yesus” = Yehovah keselamatan]. Jika kita mencari karunia-karunia Roh yang lain, itu akan ditemukan di dalam pengurapan-Nya [“Kristus” = Yang Diurapi]. Jika kita mencari kekuatan, itu terletak di dalam kuasa-Nya [“Tuhan” = Dia yang menjalankan kekuasaan]….78
Subbagian berikutnya dari Symbolum Apostolicum membahas keadaan perendahan Juru Selamat kita: Ia “dikandung oleh Roh Kudus, lahir dari Anak Dara Maria, menderita sengsara di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati, dan dikuburkan; turun ke dalam kerajaan maut.”
… jika kita mencari kesucian, itu ada di dalam dikandungnya Dia [“dikandung oleh Roh Kudus”]; jika kita mencari kelembutan, itu muncul di dalam kelahiran-Nya. Sebab dengan kelahiran-Nya, Ia dijadikan seperti kita di dalam segala hal [Ibr. 2:17] supaya Ia boleh belajar merasakan kepedihan kita [bdk. Ibr. 5:2] [“lahir dari Anak Dara Maria”]. Jika kita mencari penebusan, itu terdapat di dalam sengsara Kristus [“menderita sengsara”]; jika dinyatakan tidak bersalah, di dalam penghukuman atas diri-Nya [“di bawah pemerintahan Pontius Pilatus”]; jika pengampunan dari kutuk, di dalam salib-Nya [Gal. 3:13]; jika pemuasan, di dalam kurban yang diberikan-Nya; jika penyucian, di dalam darah Kristus [“disalibkan”]; jika rekonsiliasi, di dalam turunnya Dia ke dalam kerajaan maut [“turun ke dalam kerajaan maut”]; jika mortifikasi daging, di dalam kubur-Nya [“mati, dan dikuburkan”] ….79
Beberapa klausa berikutnya dari Pengakuan Iman Rasuli mempresentasikan empat unsur dari keadaan peninggian Tuhan kita: “pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati; naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah, Bapa yang Mahakuasa; dan dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.”
… jika kebaruan hidup, di dalam kebangkitan-Nya; jika kebakaan, juga di dalam kebangkitan-Nya [“pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati”]; jika warisan Kerajaan Surgawi, di dalam masuknya Dia ke dalam surga [“naik ke surga”]; jika perlindungan, jika keamanan, jika penyediaan berkat yang berlimpah, di dalam Kerajaan-Nya [“duduk di sebelah kanan Allah, Bapa yang Mahakuasa” sebagai raja]; jika ekspektasi akan penghakiman yang tidak menggelisahkan, di dalam kuasa yang diberikan kepada-Nya untuk menghakimi [“dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati”].
Sekarang perhatikan bagaimana Calvin membingkai argumen “jika kita mencari”-nya yang sangat kuat dan indah ini dengan hal-hal positif dan negatif, ketika ia bergerak dari bentuk indikatif menjadi imperatif. Berikut adalah dua kalimat yang mendahului kutipannya yang terkenal itu:
- Positif: “Kita melihat bahwa seluruh keselamatan kita dan seluruh bagiannya tercakup di dalam Kristus [Kis. 4:12].”
- Negatif: “Oleh karena itu, kita harus berhati-hati agar jangan sampai mengambil bagian yang terkecil pun dari keselamatan kita dari tempat lain.”
Inilah kalimat sesudah kesembilan belas klausa “jika kita mencari ” atau “jika” tersebut: “Singkatnya, karena perbendaharaan yang kaya dari setiap jenis kebaikan ada di dalam Dia, [secara positif] marilah kita meminum sampai puas dari mata air ini, dan [secara negatif] bukan dari yang lain (Institutio 2.16.19).
Dengan kata lain, di dalam subbagian dari magnum opus-nya ini, John Calvin sedang mengajari gereja untuk memahami Pengakuan Iman Rasuli di dalam terang unio cum Christo. Kebenaran biblikal bahwa Kristus dijadikan milik kita memberi kita kacamata untuk membaca Symbolum Apostolicum ini secara jelas.
Calvin bukan hanya dengan mahir mengaitkan penebusan yang digenapi oleh Kristus dan penebusan yang diaplikasikan di dalam Kristus, tetapi juga kepenuhan yang menyeluruh dan kecukupan yang sempurna yang dimiliki oleh Juru Selamat kita. Selain itu, Calvin memahami bahwa persatuan dengan Kristus adalah esensial untuk memelihara kebenaran biblikal dan Reformasi tentang Kristus saja. Di dalam kata-kata (Latin) lainnya, solus Christus hanya bisa dipertahankan melalui kebenaran in Christo solo yang terkait.
Ini juga sebuah pesan yang luar biasa tentang Kristus, bahwa kita tidak dapat disatukan dengan Allah selain melalui Dia. Pertama, marilah kita mempertimbangkan bahwa kebahagiaan kita terdiri dari berpautnya kita pada Allah, dan bahwa, di sisi lain, tidak ada yang lebih sengsara daripada terasing dari-Nya. Maka, Ia mendeklarasikan bahwa kita teberkati melalui Kristus saja, karena Ia adalah ikatan dari hubungan kita dengan Allah, dan, di sisi lain, bahwa, tanpa Dia, kita paling sengsara, karena kita terpisah dari Allah. Akan tetapi, marilah kita mengecamkan bahwa apa yang Ia perhitungkan kepada Kristus adalah milik khusus Kristus, bahwa tidak ada bagian dari pujian ini yang boleh dipindahkan kepada hal lain apa pun. Maka kita harus mempertimbangkan kontras terhadap perihal-perihal ini untuk bisa dipahami—bahwa jika ini adalah prerogatif Kristus, maka ini bukan milik yang lain (Tafsiran atas Kol. 1:20).
Keeksklusifan radikal keselamatan oleh dan di dalam Kristus saja adalah pembongkaran total dan hukuman mati atas semua bentuk theologi yang berpusat pada manusia, Katolikisme Roma, kebenaran berdasarkan perbuatan, agama pertolongan-diri, dan moralisme. Maka Calvin mengakhiri Institutio 2.16.19 dengan penjelasan dan peringatan ini:
Sebagian orang, karena tidak puas hanya dengan Kristus, terombang-ambing ke sana kemari dari satu pengharapan ke pengharapan yang lain; bahkan sekalipun mereka terutama berfokus pada Kristus, mereka tetap saja menyimpang dari jalan yang benar dengan mengarahkan sebagian pikiran mereka ke tempat lain. Namun ketidakpercayaan seperti itu tidak mungkin bisa menyelusup masuk ke dalam tempat di mana manusia telah sekali untuk selamanya mengenal secara benar kelimpahan berkat Kristus.
Kedalaman-Kedalaman yang tidak Terselami
Apakah ada topik doktrinal utama yang tidak tersentuh oleh persatuan dengan Kristus atau yang bisa dipahami secara tepat jika terpisah dari unio cum Christo? Bab ini sendiri bisa dikatakan sebagai theologi mini dari John Calvin yang disusun di bawah tema persatuan dengan Kristus, yang diambil dari tulisan eksegetis, doktrinal, konfesional, polemikal, dan pastoralnya.80
Kita telah mencakup banyak bidang di dalam kajian kita tentang Reformator penting ini terkait ajarannya tentang persatuan dengan Kristus, temasuk apa persatuan ini dan apa yang bukan merupakan persatuan ini, agennya (Roh) dan sarananya (iman). Kita telah melihat siapa yang disatukan oleh persatuan ini, karena kita (antropologi) diikat dengan Tuhan Yesus (Kristologi) dan dengan demikian juga diikat dengan Trinitas (theologi). Kita telah merenungkan manfaat-manfaat dan berkat-berkat dari persatuan mistis ini di dalam ranah keselamatan (soteriologi), gereja (eklesiologi) dan hal-hal terakhir (eskatologi). Selain keenam loci theologi ini, kita bahkan telah mempertimbangkan tentang persatuan dan Pengakuan Iman Rasuli.
Dengan mengikuti Kitab Suci yang sakral, Calvin menggunakan doktrin tentang persatuan dengan Kristus untuk menyatukan Allah Trintunggal dan manusia dikotomis, gereja dan sakramen-sakramen, berbagai unsur keselamatan di masa lalu, masa kini, dan masa depan, baik di dalam waktu maupun di dalam kekekalan. Kita menerima semua berkat dan manfaat spiritual, termasuk pembenaran dan pengudusan, hanya di dalam Yesus.
Berada di dalam Kristus berarti berada di dalam Allah, di dalam Roh, di dalam keadaan keselamatan, di dalam gereja, di dalam surga setelah kematian, dan di dalam ciptaan yang baru setelah kedatangan kembali Tuhan. Berada di dalam Kristus berarti berada di dalam keluarga Allah, di dalam kovenan anugerah, dan di dalam kerajaan surga. Berada di dalam Kristus berarti berada di dalam keadaan anugerah dan menuju keadaan kemuliaan.
Orang bisa membuat distingsi bahwa penebusan kita digenapi oleh pekerjaan Kristus yang sudah selesai di bumi bagi kita, sementara penebusan kita diaplikasikan melalui pekerjaan-Nya yang terus berlangsung di dalam diri kita. Bahkan di waktu dulu, kita sudah berada “di dalam Kristus” ketika Ia membeli penebusan kita. Jelas, penggenapan dan pengaplikasian penebusan adalah mustahil tanpa unio cum Christo. Orang bahkan bisa mengidentifikasi “tahap-tahap” khusus di dalam persatuan kita dengan Kristus: sebelum dasar dunia dijadikan (pemilihan), di salib (pendamaian), sejak regenerasi kita (soteriologi), saat kematian tubuh kita (keadaan antara), dan di dalam langit yang baru dan bumi yang baru (keadaan kekal).
Namun, sampai di sini pun kita baru menggaruk permukaannya saja, karena masih sangat banyak lagi yang bisa dikatakan tentang ajaran Calvin bahwa “Kristus dijadikan milik kira,” dan realitas yang teberkati itu sendiri jauh lebih besar daripada yang bisa ia atau kita katakan. Ini membawa kita kembali kepada poin yang disampaikan di bagian awal bab ini. Dua dari adjectiva-adjectiva yang Calvin gunakan untuk mendeskripsikan persatuan kita dengan Kristus adalah “misterius” dan “tidak bisa dipahami secara tuntas.” Satu frasa terkenal yang digunakan di dalam tradisi Kristen dan oleh sang Reformator Jenewa ini adalah “persatuan mistis.”
Maka kita menutup dengan mengutip cukilan dari tafsiran Calvin tentang “misteri besar” dari persatuan antara “Kristus dan gereja” di dalam Efesus 5:32. Theolog kita berbicara tentang berbagai sikap terhadap misteri ini dari empat pihak yang berbeda.
Ekspositor kita memulai dengan sikap Paulus, sang rasul kepada bangsa bukan-Yahudi itu, karena bahkan Paulus mengungkapkan “ia sendiri terheran-heran dengan perihal persatuan spiritual antara Kristus dan gereja … [karena ] tidak ada bahasa yang bisa menjelaskan secara penuh apa yang diimplikasikannya.”81
Kedua, Calvin merujuk kepada orang-orang yang tidak percaya yang berpikiran kedagingan:
Tidak ada gunanya manusia menyusahkan diri untuk memahami, berdasarkan penilaian daging, cara dan karakter persatuan ini; karena di sini kuasa yang tidak terbatas dari Roh Ilahi dikerahkan. Mereka yang menolak untuk mengakui apa pun tentang topik ini melampaui apa yang bisa dicapai oleh kemampuan mereka sendiri, telah melakukan tindakan yang teramat bodoh.
Ketiga, kita membaca tentang hormat dan ketakjuban Calvin sendiri terkait unio cum Christo:
Dari sisi saya sendiri, saya dibuat kewalahan oleh kedalaman misteri ini, dan tidak malu untuk mengakui bersama Paulus akan ketidaktahuan saya dan juga kekaguman saya. Betapa lebih memuaskannya sikap ini daripada mengikuti penilaian saya yang kedagingan, di dalam meremehkan apa yang Paulus deklarasikan sebagai sebuah misteri yang dalam!
Keempat, Calvin berpaling kepada apa yang seharusnya menjadi orientasi dan pendekatan semua orang yang percaya kepada kedalaman-kedalaman yang tidak terselami ini:
Rasio sendiri mengajarkan bagaimana kita seharusnya bertindak di dalam perkara-perkara seperti ini; karena hal apa pun yang supernatural jelas-jelas melampaui kemampuan pemahaman kita sendiri. Oleh karena itu, marilah kita lebih keras berupaya untuk merasakan Kristus yang hidup di dalam diri kita, daripada mencari natur dari perihal itu (Tafsiran atas Ef. 5:32).
Ini juga sangat penting di dalam menikmati keajaiban yang mulia bahwa Kristus dijadikan milik kita!
Untuk bahan-bahan lain dalam bahasa Indonesia, klik di sini.
_______________________________________________

