Menu Close

Bab 1: Yesus Kristus Milik Kita yang Tidak Berubah

       

Brian L. Huizinga

Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya (Ibrani 13:8).

      

Introduksi

Sebagai introduksi bagi buku tentang persatuan dengan Kristus ini, kita akan mempertimbangkan dua perikop yang menonjol dan sudah sangat dikenal dari Perjanjian Baru, yang dengan sangat sederhana namun indah menyatakan Juru Selamat kita kepada kita. Perikop di hadapan kita sekarang adalah Ibrani 13:8, sedangkan kita akan mengkaji Yohanes 1:29 di dalam bab berikutnya. Setelah hati dan pikiran kita dimantapkan pada Kristus sendiri, sisa buku ini akan mengembangkan konsep yang kaya tentang persatuan dengan Dia dari berbagai perspektif.

Yesus Kristus “tetap sama!” Sungguh kontras yang begitu besar dengan kita dan segala sesuatu di sekeliling kita, yang tidak tetap sama. Bukti yang jelas bahwa segala sesuatu di sekeliling kita terus berubah ditemukan di dalam pernyataan yang dituliskan dengan huruf-huruf besar di situs web untuk Konferensi BRF: “UNTUK MENJADI PERHATIAN: Dikarenakan berbagai ketidakpastian di dalam bepergian, dll., selama terjadinya Covid-19, konferensi telah dijadwalkan ulang ke tahun 2022.” Irama yang sudah menjadi kebiasaan penyelenggara maupun peserta adalah bahwa setiap dua tahun BRF menyelenggarakan sebuah konferensi, mulai dari tahun 1990. Tetapi catatan historis akan menunjukkan sebuah pengecualian di mana ada satu lompatan sebesar empat tahun dari tahun 2018 ke 2022, dikarenakan pandemi Covid-19 dan respons global terhadapnya. Betapa besar perubahan yang telah kita alami ketika untuk suatu periode bahkan irama kehidupan kita sehari-hati dipengaruhi oleh “perintah untuk tetap berdiam di dalam rumah.”

Semua perubahan ini yang telah kita alami dan terus kita lihat terjadi di dalam dunia akibat pandemi ini mengingatkan kita bahwa Kristus bukan berkata, “Aku datang!” Ia berkata, “Aku datang segera,” dan beberapa tahun terakhir ini seharus memberi kita apresiasi baru terhadap adverba “segera” itu. Betapa segera (cepat)-nya hal-hal berubah dan semuanya ini akan membawa kepada kedatangan Dia yang telah berkata, “Aku datang segera.”

Akan tetapi, di dalam sebuah dunia yang terus berubah, kita menyatakan pengakuan dari Surat Ibrani ini: “Yesus Kristus tetap sama!”

Surat Ibrani mengajarkan bahwa Yesus Kristus superior terhadap segala sesuatu, khususnya terhadap semua tipe dan kiasan (bayang-bayang) dari dispensasi lama, tetapi juga terhadap segala sesuatu yang telah diciptakan. Ia bahkan ditinggikan di atas para malaikat surga, karena kepada Dia telah “dikaruniakan [nama] … [yang] jauh lebih indah daripada nama mereka” (1:4).

Penekanan utama Surat Ibrani adalah “kata-kata nasihat”-nya (13:22) kepada orang-orang Kristen Yahudi untuk tetap bertekun. Penulis yang diinspirasi ini menasihati, “Jangan menyerah terhadap tekanan-tekanan orang-orang Yahudi yang tidak percaya, yang menginginkan kamu murtad dan kembali kepada Yudaisme yang legalistik dan tanpa Kristus! Kamu telah dipertobatkan dan dibawa ke dalam gereja Kristen. Kamu mengakui nama Yesus. Sekarang, jangan tinggalkan, tetapi rangkullah, dengan iman yang sejati dan yang hidup, Juru Selamat yang mulia ini, yang adalah Pengantara dari kovenan yang lebih baik!”

Betapa indahnya bahwa Juru Selamat, yang lebih baik daripada segalanya ini, dan yang kepada-Nya kita dipersatukan oleh Roh, adalah tidak berubah. Yesus Kristus tetap sama! Sungguh pernyataan yang menakjubkan dari perspektif orang-orang Kristen Yahudi, karena mereka hidup di dalam satu periode yang paling luar biasa di dalam sejarah. Mereka hidup melalui transisi gereja dari dispensasi lama ke dalam dispensasi baru, yaitu Kekristenan. Hampir mustahil bagi kita untuk memahami perubahan-perubahan mencengangkan yang terjadi di dalam era itu. Bayangkanlah, setelah ribuan tahun, sekarang ada satu kehidupan religius kepada Allah tanpa bait, tanpa keimaman, tanpa hukum upacara, tanpa persembahan-persembahan kurban binatang, dll. Tidak terpikirkan! Bukankah segala sesuatunya berubah, bahkan esensi kovenan dan keselamatan dan Injil dan Allah sendiri?

Surat Ibrani mengajarkan bahwa, meskipun banyak hal sedang berubah bagi orang-orang Kristen Ibrani pada masa itu, dan sementara banyak yang terus berubah bagi kita pada saat ini, apa yang benar-benar penting saat ini dan sampai kekekalan tidak pernah berubah—Yesus Kristus.

       

Pemahaman yang Tepat

Doktrin dari teks ini adalah apa yang kita sebut “imutabilitas” (“ketidak-bisa-berubahan”). Imuta­bilitas adalah atribut Allah yang seturut dengannya Ia tidak dan tidak bisa berubah. Ia, di dalam kepenuhan Keberadaan ilahi-Nya dan di dalam seluruh rencana dari keputusan kehendak-Nya, dari abad ke abad tetap sama. Perikop ini mengatakan tentang Yesus Kristus: Ia “tetap sama.” Lihatlah kembali kepada siapa adanya Yesus Kristus “kemarin,” kemarin secara harfiah atau secara kiasan. Lihatlah kembali kepada siapa adanya Yesus Kristus di masa lalu ketika Ia terlebih dahulu berkhotbah kepada orang-orang Ibrani itu, atau ketika Ia berjalan di bumi ini, atau ketika Ia dijanjikan kepada gereja di dalam Perjanjian Lama. Lihatlah kepada siapa adanya Yesus Kristus “hari ini” ketika Ia duduk bertakhta di sebelah kanan Allah. Lihatlah ke depan kepada siapa adanya Yesus Kristus di masa depan, yaitu masa depan yang kekal “sampai selama-lamanya.” Ketika melihat Dia, kita berkata, “Yesus Kristus tetap sama!” Yesus Kristus tidak berubah, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.

Mengenai pemahaman yang tepat akan ketidakberubahan Yesus Kristus, ada dua poin yang langsung terlihat jelas. Pertama, terkait natur ilahi­-Nya, Yesus Kristus tidak berubah. Sebagaimana Allah Bapa dan Allah Roh [Kudus] tidak bisa berubah, demikian juga Allah Anak adalah Allah yang tidak bisa berubah. Kedua, terkait natur manusiawi­-Nya (inilah salah satu persatuan agung yang misterius di dalam Kitab Suci—Yesus memiliki sebuah natur ilahi dan sebuah natur manusiawi), Yesus Kristus jelas berubah. Ia berubah di dalam penampilan jasmaniah. Maria pernah memeluk Dia sebagai bayi ditangannya, tetapi sekitar tiga puluh tahun kemudian Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus membawa mayat-Nya dari salib sampai ke kubur, dan itu adalah tubuh seorang dewasa. Ia berubah. Ia berubah di dalam kondisi kehidupan aktual-Nya, ketika Ia dari seorang hamba yang bersahaja yang diolok-olok, diludahi, dicambuk, dan dipakukan di salib, menjadi raja yang mulia yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, naik di atas awan-awan, dan didudukkan di langit tertinggi. Ia berubah. Terkait kebisa-berubahan Kristus di dalam kemanusiaan-Nya ini, Lukas 2:40 berkata, “Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.” Dengan bertumbuh, Yesus berubah. Dan lagi, “Dan makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” (ay. 52). Dengan bertambah di dalam hikmat, Yesus berubah.

Seharusnya sudah jelas bagi setiap orang bahwa terkait keilahian-Nya, Yesus tidak berubah dan, bahkan ketika Ia mengenakan sebuah natur manusiawi pada saat inkarnasi-Nya dan mengambil sesuatu yang baru, keilahian-Nya tidak berubah karena Ia tetap Anak Allah yang secara kekal tidak mungkin berubah. Tetapi terkait kemanusiaan-Nya, Ia berubah. Lalu, bagaimanakah kita memahami teks ini dengan tepat? Jelas kita tidak bisa memahaminya menurut pengertian yang mutlak.

Kunci untuk pemahaman yang tepat ada di dalam dua kata pertama dari teks tersebut, yaitu nama “Yesus” dan “Kristus.” Yesus Kristus tidak berubah di dalam siapa adanya Dia bagi kita dan apa yang Ia lakukan bagi kita sebagai Yesus kita dan sebagai Kristus kita.

Siapakah adanya Dia bagi kita dan apakah yang Ia lakukan bagi kita sebagai Yesus? Matius 1:21 berkata, “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Pekerjaan-Nya adalah menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita. Pekerjaan-Nya yang terutama bukanlah menyelamatkan kita dari virus atau kemiskinan, meskipun pada akhirnya Ia akan sepenuhnya melepaskan kita dari kesusahan-kesusahan bumiah seperti itu sebagai bagian dari pekerjaan-Nya untuk menyelamatkan. Akan tetapi, pekerjaan-Nya yang esensial adalah menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, menghapus kesalahan kita di hadapan Allah, membebaskan kita dari penghukuman kita di dalam Adam, dan melepaskan kita dari kuasa dosa kita yang memperbudak dan kerusakan dosa kita yang mencacatkan. Tidak ada yang lebih penting daripada keselamatan dari dosa karena, jika Yesus tidak menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, maka kita bersalah, layak menerima hukuman, dan segala sesuatu yang Allah timpakan pada kita seperti virus, kemiskinan, atau hubungan yang renggang adalah hukuman yang dimaksudkan untuk membinasakan kita, seperti di dalam kasus kaum reprobat yang tidak percaya. Dalam menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, Yesus tidak pernah berubah. Di dalam Perjanjian Lama ketika Ia diketahui melalui gambaran-gambaran, selama pelayanan-Nya ketika Ia berjalan di bumi dan menyembuhkan berbagai penyakit jasmaniah, dan sekarang ketika Ia duduk di surga, Ia adalah Sang Juru Selamat dari dosa. Di dalam kekekalan, kita akan memuji Dia sebagai Juru Selamat yang telah menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita kepada kehidupan yang kekal oleh kebenaran-Nya dan Roh-Nya.

Ia menyelamatkan kita. Ia saja yang menyelamatkan tanpa rekan-rekan sekerja yang lain. Kemarin baik Musa maupun seekor anak domba tidak bisa menyelamatkan kita. Hari ini baik perbuatan kita maupun orang-orang kudus lain tidak bisa menyelamatkan kita. Besok baik para pemimpin politik maupun Antikristus tidak akan menyelamatkan kita. Yesus menyelamatkan.

Ia menyelamatkan umat-Nya. Dari salib di mana Ia mencurahkan darah-Nya sampai ke sebelah kanan Allah di mana Ia bersyafaat dan mengaplikasikan darah-Nya, Yesus tidak pernah bermaksud atau mencoba untuk menyelamatkan orang yang tidak terhitung di antara domba-domba milik-Nya. Ia menyelamatkan hanya kaum pilihan-Nya, umat-Nya.

Ia menyelamatkan mereka. Ia secara aktual, pasti, efektual, berdaulat, dan beranugerah menyelamatkan mereka semua, masing-masing dari mereka, sehingga tidak ada satu pun yang terhilang.

Ia menyelamatkan secara rela dengan hati yang penuh kasih—Wahyu 1:5: “Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya.” Sebagai “Yesus,” dengan hati-Nya yang penuh kasih kepada kita, dan di dalam seluruh pekerjaan-Nya yang menyelamatkan bagi kita orang-orang yang berdosa, Ia tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.

Kedua, Ia tidak berubah di dalam siapa adanya Dia bagi kita dan apa yang Ia kerjakan bagi kita sebagai Kristus. “Kristus” adalah gelar-Nya sebagai pejabat kepunyaan Allah yang diurapi bagi kita: nabi, imam, dan raja.

Sebagai nabi kita, pekerjaan-Nya selalu adalah menyatakan Allah kovenan kita kepada kita melalui Firman. Kemarin di dalam Perjanjian Lama ketika Kristus berbicara kepada para nenek moyang melalui nabi-nabi seperti Elia dan Yesaya, atau sementara Kristus berada di bumi dan berkhotbah di lereng gunung atau ketika Ia berbicara melalui para rasul kepada orang-orang Kristen Ibrani, Ia menjadikan Yehovah dikenal. Hari ini ketika Ia berbicara kepada kita di dalam Injil, dan besok dan sampai kekekalan yang selama-lamanya, Kristus menyatakan Allah kovenan kepada kita. Kita tidak akan pernah melihat atau mendengarkan Kristus sang nabi dan mendengarkan hal lain apa pun selain kasih yang begitu besar yang dimiliki oleh Allah kovenan kita kepada kita, orang-orang berdosa yang malang.

Sebagai imam kita, pekerjaan-Nya adalah membawa kita mendekat kepada Allah kovenan kita di dalam persekutuan. Kemarin ketika Ia dikenal melalui tipologi para imam yang mempersembahkan kurban-kurban, masuk ke tempat kudus, dan mengumumkan bekat Allah, dan kemarin, ketika Kristus berada di bumi di dalam pelayanan-Nya mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai sebuah kurban di atas salib, dan hari ini ketika Ia adalah juru syafaat kita di dalam surga, pekerjaan Kristus sebagai imam adalah selalu membawa kita kepada Allah. Berdasarkan darah Kristus dan di dalam kepastian iman, kita dapat bersekutu dengan Allah dan menerima berkat-berkat-Nya. Selama-lamanya di dalam surga kita akan menikmati kegirangan yang tidak berujung yang ada di sebelah kanan Allah, karena kita mengenal Allah dan melihat Dia muka dengan muka di dalam pribadi imam kita.

Sebagai raja kita, pekerjaan-Nya adalah melindungi kita dari musuh-muush dan memerintah atas kita. Kristus selalu menyelamatkan umat-Nya dari musuh, entah musuh itu adalah orang Filistin dan Amalek, doktrin-doktrin palsu dan ajaran-ajaran sesat, atau imoralitas yang fasik, para pelaku kejahatan, dan Satan. Pekerjaan-Nya selalu adalah memerintah atas umat-Nya dengan menempatkan takhta-Nya di dalam hati mereka melalui Roh, sehingga mereka dengan gagah berani berperang melawan dan mengalahkan dosa, Iblis, dan seluruh kekuasaannya, sampai umat-Nya ini memerintah bersama-Nya di dalam ciptaan Allah yang baru.

Nabi, imam, dan raja ini adalah Yesus Kristus kita yang tidak berubah. Ia tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya, di dalam siapa adanya Dia bagi kita dan apa yang Ia lakukan bagi kita sebagai “Yesus” kita dan “Kristus” kita.

Oleh karena itu, Injil tidak pernah berubah. Injil sebagaimana diberitakan melalui darah anak domba kepada Adam dan Hawa, dan diberitakan melalui semua kiasan dispensasi lama, dan dikhotbahkan oleh Yesus sendiri di dalam bait Allah dan diberitakan oleh Paulus kepada orang-orang bukan-Yahudi, dan dengan setia dikhotbahkan pada hari ini, adalah Injil yang tidak pernah berubah. Injil tidak pernah berubah karena Yesus Kristus, isi dari Injil, tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. Tentu saja, ada perubahan-perubahan. Perjanjian Baru menyatakan lebih banyak daripada Perjanjian Lama. Mungkin ada pemahaman-pemahaman baru dan aplikasi-aplikasi baru pada hari ini. Akan ada perkembangan-perkembangan di dalam pemahaman, ketika ajaran-ajaran sesat muncul dan gereja didorong menggali semakin dalam ke dalam Kitab Suci. Akan tetapi, perubahan itu bukan pada Injil; perubahan itu terjadi pada pemahaman kita. Injil tetap sama sampai selama-lamanya. Maka, isi iman kita tidak pernah berubah. Batu karang yang di atasnya kita berpijak tidak pernah berubah. Dia yang dengan-Nya kita secara pribadi dipersatukan oleh Roh Kudus, tidak pernah berubah. Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.

        

Pengetahuan yang Menghibur

Mengetahui bahwa kita dipersatukan dengan seorang Juru Selamat yang tidak pernah berubah begitu menghibur, karena segala sesuatu berubah, berfluktuasi, dan bergerak. Semua hal yang diciptakan penuh dengan perubahan. Pertimbangkanlah lima hal yang berubah.

Pertama, orang yang percaya berkata, “Saya berubah!” Ia berkata, “Kemarin kasih saya kepada Allah begitu berkobar-kobar dan saya bersedia mengorbankan apa pun bagi Allah, tetapi hari ini kasih saya adalah seperti bara api yang akan padam dan saya kehilangan kasih saya yang mula-mula, karena kehidupan saya dan rumah saya dan harta milik saya dan karier saya dan pekerjaan saya dan investasi saya dan kesehatan saya dan kenyamanan kehidupan saya dan kesenangan-kesenangan saya yang berdosa lebih berarti bagi saya daripada Allah! Saya berubah.” Ia berkata, “Kemarin iman saya seperti ketinggian air pasang dan sukacita karena Tuhan adalah perlindungan saya, tetapi hari ini saya berdiri gemetar di hadapan kesukaran yang mengancam akan menjurkirbalikkan seluruh kehidupan saya dan saya tenggelam di dalam pemikiran-pemikiran yang penuh kekhawatiran yang menyebabkan malam-malam tanpa tidur. Saya berubah.” “Kemarin,” kata dokter, “Anda terlihat sangat sehat.” “Hari ini,” ia berkata, “Kanker Anda kembali kambuh.” “Saya berubah,” kata setiap orang yang percaya, “secara jasmaniah di dalam tubuh saya, dan secara spiritual di dalam jiwa saya. Saya sering tidak setia.” Tetapi penghiburan bagi anak Allah adalah bahwa Yesus Kristus tidak berubah dan, karena Ia adalah penyataan Allah yang sempurna, kita tahu bahwa Allah tidak pernah berubah. “Kemarin Allah mengasihi saya. Hari ini, meskipun kasih saya melemah, Allah mengasihi saya. Besok … akankah Ia membenci saya? Mustahil! Bahkan ketika Ia menghajar saya, Ia senantiasa mengasihi saya. Saya berubah, tetapi Yesus Kristus tetap sama!”

Kedua, orang yang percaya berkata, “Keadaan-keadaan di sekeliling saya berubah.” Sangat mudah terjadi bahwa kemarin ekonomi terlihat begitu kuat, pasar modal mengalami tren meningkat, angka pengangguran rendah, indeks ketakutan menurun, dan orang yang percaya memiliki pekerjaan yang stabil. Hari ini, mungkin saham terjun bebas, jumlah orang yang menyatakan diri sebagai penganggur mencapai rekor baru, dan orang yang percaya tidak dapat berhenti mengkhawatirkan dirinya akan diberhentikan oleh majikannya. Berubah. Hari ini mungkin partai politik konservatif yang mendukung Kekristenan menempati posisi-posisi kepemimpinan di dalam negeri ini, sementara besok yang memegang kendali adalah sebuah partai yang secara terang-terangan anti-Kristen. Berubah. Kemarin guru memegang sekeping kapur putih dan menulis di papan tulis, sedangkan hari ini murid yang berada di benua yang berbeda dari gurunya, membuka laptopnya dan melihat gurunya muncul dilayar. Keadaan-keadaan terus-menerus berubah, terkadang ke arah kemajuan-kemajuan yang baik, tetapi sering kali ke arah yang menyebabkan penderitaan dan kepedihan. Penghiburan kita adalah bahwa, sementara segala sesuatu berubah seperti lautan besar yang gelombangnya naik turun selama badai, Yesus Kristus tetap sama. Sang Juru Selamat yang meredakan rasa takut para murid-Nya, dengan menegur angin dan danau yang berbadai, bagi kita hari ini adalah Yesus yang tepat sama yang memiliki kuasa dan belas kasih seperti Dia yang kemarin berada di dalam perahu itu. Secara efektual Ia berseru kepada hati kita, “Diam! Tenanglah!”

Ketiga, orang yang percaya berkata, “Kehidupan di dalam gereja terlembaga berubah.” Di sini kita membuat sebuah kaitan dengan konteks langsungnya. Ayat yang mendahului teks kita berbicara tentang para pejabat yang memerintah dan mengajar di dalam gereja: “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka” (Ibr. 13:7). Pernyataan tentang ketidakberubahan Yesus di dalam ayat berikutnya mengimplikasikan, antara lain, bahwa para pejabat itu berubah. Misalnya, hari ini pejabat ada di sini, besok ia sudah tidak ada, karena ia memiliki batas waktu, atau ia harus pensiun, atau ia dijadikan tidak mampu melayani karena sakit, atau ia dilepaskan dari jabatan karena alasan-alasan yang kuat, atau ia ia diturunkan karena dosanya, atau ia meninggalkan tugasnya karena ketidaksetiaan, atau ia terbunuh oleh pedang, atau dipenjarakan; atau ketika seorang hamba Tuhan menerima panggilan ke gereja lain, atau menjadi emeritus. Beberapa dari perubahan ini bisa menyebabkan guncangan yang hebat terhadap sebuah kongrega­si. Sama dengan itu, di dalam Perjanjian Lama, Daud adalah raja pada hari ini, Salomo besok, dan Rehabeam pada hari berikutnya lagi. Penghiburan kita adalah bahwa Kristus—Pejabat yang mutlak harus ada ini, Dia yang secara aktual menyelamatkan kita, termasuk menyelamatkan para pejabat kita yang lemah dan berdosa, Dia yang benar-benar mengasihi gereja-Nya dan menyediakan baginya, Dia yang adalah satu-satu-Nya dengan siapa gereja dipersatukan sebagai mempelai perempuan kepada suaminya dan sebagai tubuh kepada kepalanya—tidak berubah. Ia tidak akan pernah diturunkan atau meninggalkan jabatan-Nya. Itulah penghiburan kita.

Selain itu, doktrin bisa berubah di dalam gereja. Doktrin dari Kitab Suci tidak pernah berubah, tetapi pengakuan dan ajaran doktrinal dari sebuah gereja terlembaga bisa berubah menjadi lebih buruk dan “aneh,” karena penafsiran yang asing atas Kitab Suci (ay. 9). Penghiburan kita adalah bahwa Yesus Kristus tetap sama, sehingga doktrin yang sejati, sebagai penyataan akan Dia, tetap tidak berubah sampai selama-lamanya, dan Kristus akan memelihara pengakuan akan doktrin yang sejati ini tetap hidup di suatu tempat di bumi, karena Ia telah berjanji bahwa alam maut tidak akan menguasai gereja-Nya.

Keempat, orang yang percaya berkata, “Dunia yang fasik ini berubah.” Dunia orang fasik—yang menghidupi prinsip internal berupa kerusakan, dan menghasilkan pekerjaan-pekerjaan kegelapan yang tidak berbuah sebagai satu ras yang terasing dari Allah, memusuhi Kristus dan gereja, dan diperintah oleh rajanya, Satan—menjadi semakin buruk. Kemarin hampir setiap orang memercayai dan mengakui seorang laki-laki berarti seorang berjenis kelamin biologis laki-laki, dan seorang perempuan berarti seorang berjenis kelamin biologis perempuan. Hari ini, apa adanya diri Anda adalah menurut apa yang Anda rasakan, atau apa yang Anda pikirkan, atau apa pun yang Anda kehendaki bagi diri Anda. Ketika seorang yang percaya pergi bekerja, ia mungkin berjumpa dengan seorang rekan kerja berjenis kelamin laki-laki bernama “Alexander” yang telah mengubah namanya menjadi “Al­ice” dan menuntut dirinya diakui dan diperlakukan sebagai seorang perempuan. Sunguh perubahan yang mencengangkan! Hari ini kita mungkin bisa bersaksi di hadapan umum bahwa ide seperti itu absurd dan merupakan cemoohan yang menghujat terhadap Pencipta kita, tanpa mengalami akibat yang serius. Tetapi bagaimanakah dengan besok? Ketika dunia yang fasik berubah ke arah yang semakin buruk dan gereja menderita, penghiburan kita adalah bahwa Yesus Kristus tetap nabi yang sama yang terus menyatakan kepada kita Allah yang setia dari Kitab Suci yang tidak berubah dan berotoritas. Ia tetap adalah imam yang sama yang terus membawa kita di bawah naungan sayap-sayap Sang Makakuasa. Ia tetap adalah raja yang sama yang akan terus melindungi jiwa kita dan anak-anak kita dari pekerjaan kegelapan apa pun yang dibukakan di depan mata kita pada hari-hari terakhir dari masa yang sukar ini.

Yang terakhir, orang yang percaya berkata, “Orang-orang berubah.” Orang-orang menjadi murtad, bukan karena Yesus berubah dan tidak lagi menjadi Juru Selamat mereka, tetapi karena merekalah yang berubah. Mereka tidak pernah dipersatukan dengan Dia oleh iman yang sejati, melainkan hanya terlihat seperti demikian; dan sekarang kedok itu terbongkar. Bisa dipastikan bahwa pada saat surat ini ditulis, ada orang-orang Ibrani yang dulu mengaku sebagai Kristen namun sekarang sudah meninggalkan Yesus Kristus. Tekanan yang tiada henti dari anggota-anggota keluarga Yahudi mereka dan sahabat-sahabat mereka sebelumnya terbukti terlalu berat bagi mereka. Di dalam kemurtadan mereka, mereka menunjukkan bahwa meskipun untuk satu waktu mereka ada bersama gereja Kristen di dalam nama dan kehadiran, mereka tidak pernah ada bersama Kristus di dalam hati. Betapa kemurtadan adalah perubahan yang menyakitkan, khususnya ketika orang yang murtad itu adalah anak laki-laki atau anak perempuan kita, pasangan hidup kita, atau orang tua kita. Orang-orang berubah.

Selain itu, orang-orang itu plin-plan, sebagaimana kita juga plin-plan. Pendapat kita tentang seseorang atau sebuah situasi atau sebuah perkara bisa berubah mengikuti arah angin. Kemarin si penjilat menyanjung-nyanjung Anda dan memberi begitu banyak pujian kepada Anda, tetapi hari ia mengutuki dan menjelek-jelekkan Anda di depan umum dengan begitu menggebu-gebu. Sungguh perubahan yang luar biasa! Bahkan di dalam hubungan kita yang paling dekat, kita berubah dari waktu ke waktu, dan tidak teguh di dalam kasih dan komitmen kita, yang menjadi alasan mengapa Ibrani 13 mengawali dengan, “Biarlah kasih persaudaraan terus berlanjut!” (ay. 1, KJV).

Penghiburan kita adalah bahwa kita memiliki seorang saudara sulung, seorang suami, seorang pejabat, seorang Juru Selamat yang kepada-Nya kita bisa secara pasti menyerahkan tubuh dan jiwa kita, hari ini dan sampai selama-lamanya, karena Ia layak dipercaya. Jika Anda mencoba untuk bersandar pada orang lain mana pun, Anda sedang mempersiapkan diri Anda untuk berduka. Yesus Kristus adalah satu-satunya Batu Karang kita, yang tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.

Dan sampai selama-lamanya! Teks kita menyampaikan satu poin kepastian khusus untuk memberi kepastian bagi kita terkait masa depan, karena ayat ini bukan menempatkan istilah “kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” secara berurutan. Secara harfiah, kita membaca, “Yesus Kristus, baik kemarin maupun hari ini, tetap sama, dan sampai selama-lamanya.” Dan sampai selama-lamanya! Itulah pengikat bagi iman! Bahwa Yesus tidak berubah di masa lalu tidak akan berarti jika Ia mungkin akan berubah di masa depan. Meskipun segala sesuatu di dalam alam semesta berubah, Yesus Kristus, Juru Selamatmu, tidak akan pernah berubah!

       

Ungkapan Kepercayaan

Kita memercayai dan mengatakan ini, karena teks kita adalah sebuah ungkapan kepercayaan.

Apakah Anda memperhatikan bahwa teks ini bukanlah sebuah kalimat lengkap? Tidak ada verba (kata kerja) di dalamnya, bahkan tidak juga kata kerja bantu “adalah.” Teks ini juga tidak berisi kata atau frasa penghubung seperti “oleh karena itu” atau “selain itu,” yang membentuk kaitan yang erat dengan konteks sebelumnya. Ibrani 13 dimulai dengan serangkaian nasihat, kemudian tiba-tiba, tanpa kaitan gramatikal yang eksplisit, muncul sebuah kalimat yang tidak lengkap (ay. 8), dengan sebuah nasihat lain mengikutinya. Apakah ayat ini?

Teks ini mengambil bentuk seruan yang berpenekanan, yang tidak memerlukan sebuah kalimat lengkap dengan sebuah verba, dan tidak memerlukan kaitan gramatikal yang erat seperti apa pun. Ini adalah seruan yang berpenekanan dari orang yang percaya tentang Yesus, yang bisa diucapkan di mana pun, kapan pun dirasakan tepat untuk mengatakannya, di dalam konteks atau situasi apa pun, di dalam semua pengajaran theologi­s. Yesus Kristus tetap sama!

Seruan ini cocok di sini di dalam pengaturan yang bijaksana oleh Roh, karena seruan ini menjadi pijakan bagi nasihat-nasihat yang mendahului maupun yang mengikutinya. Selain itu, seruan ini paling cocok di dalam pasal terakhir dari Surat Ibrani, karena kita bisa menerima apa pun yang Roh katakan mengenai superioritas Yesus di dalam dua belas pasal sebelumnya dan kemudian menyimpulkan, “Meskipun yang lama telah berlalu, Yesus Kristus tidak akan pernah berlalu, karena Ia tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Meskipun demikian, teks ini akan cocok di mana pun di dalam surat ini di dalam konteks apa pun, sebagai seruan yang berpenekanan dari orang yang percaya.

Ketidakpercayaan menepis atau mengejek kebenaran ini, atau ketidakpercayaan akan meratapi, “Saya bisa percaya bahwa teks ini berisi kebenaran bagi orang lain, tetapi saya tidak percaya bahwa Yesus Kristus adalah milik saya.” Roh berkata,

Itu jugalah sebabnya Yesus telah menderita di luar pintu gerbang untuk menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri. Karena itu marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya. Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang (Ibr. 3:12–14).

Oleh keajaiban iman, kita bukan hanya melihat apa yang terlihat, tetapi juga apa yang tidak terlihat. Oleh karena itu, oleh iman kita mengaku, “Segala sesuatu terus berubah, tetapi Yesus Kristus, Juru Selamat saya, tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya!” Percayailah dan ungkapkanlah, “Jika saya harus berubah karena dosa saya, keraguan-keraguan saya, ketakutan-ketakutan saya, maka ada perubahan bagi saya di dalam Kristus yang tidak berubah. Karena, di dalam persatuan dengan-Nya, Ia menjadikan saya dengan rela dan sedia untuk percaya, bertobat, melihat bukan kepada diri saya, dosa-dosa saya, dan ketakutan-ketakutan saya, tetapi mengangkat pandangan kepada Allah.” Hai orang yang percaya, perubahan-perubahan apa pun yang mungkin terjadi di dalam kehidupan Anda, percayailah dan ungkapkanlah bahwa tidak ada pribadi yang lebih berharga bagi Anda selain Yesus Kristus. Ia tidak akan pernah meninggalkan Anda, mengkhianati Anda, atau berubah di dalam kebaikan-Nya kepada Anda.

Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya!

Untuk bahan-bahan lain dalam bahasa Indonesia, klik di sini.

Show Buttons
Hide Buttons