David J. Engelsma
Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu (Ef. 1:22–23).
Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh (Ef. 5:22–23).
Introduksi
Salah satu manfaat dari konferensi-konferensi British Reformed Fellowship (BRF), dan yang pastinya bukan manfaat terkecil, sangat terkait dengan topik konferensi ini: persatuan dengan Kristus. Konferensi-konferensi ini mengumpulkan bersama laki-laki dan perempuan yang memiliki persatuan atau ke-satu-an di dalam Injil Yesus Kristus, ketika Injil ini diproklamasikan di dalam Alkitab, dan diakui di dalam kredo-kredo Reformed dan Presbiterian. Karena persatuan kita dengan Kristus, di dalam konferensi-konferensi ini kita menikmati persekutuan dengan satu sama lain: persekutuan yang didapatkan dari ke-satu-an kita di dalam Yesus Kristus. Bagi kita semua, penikmatan akan persatuan kita ini sangat berharga. Khususnya bagi sebagian dari kita yang kurang memiliki persekutuan seperti ini di tempat asal mereka.
Topik konferensi kita kali ini adalah kebenaran biblikal yang menjadi sumber persekutuan kita yang manis: persatuan dengan Yesus Kristus.
Seperti yang saya yakini akan menjadi sangat jelas dari buku ini, topik konferensi ini tidak kalah, di dalam arti pentingnya, dibandingkan dengan topik setiap konferensi BRF sebelumya, dan kita telah memiliki topik-topik biblikal yang berbobot. Topik ini memiliki arti penting terbesar, secara biblikal, doktrinal, dan praktis.
Ini bukan penilaian saya sendiri saja, tetapi penilaian para theolog dan gerejawan terkemuka. Meskipun Calvin tidak menggunakan frasa “persatuan dengan Kristus” di dalam kutipan ini, ia sedang merujuk kepada kebenaran ini ketika ia menulis bahwa bagi keselamatan kita Kristus tidak mungkin bisa tetap berada “di luar” kita, tetapi Ia sendiri harus menjadi milik kita dengan dipersatukannya kita dengan Dia: “selama Kristus tetap berada di luar kita, dan kita terpisah dari-Nya, semua yang telah Ia derita dan kerjakan demi keselamatan umat manusia tetap tidak berguna dan tidak berharga bagi kita.” Calvin menambahkan, “Oleh karena itu, untuk membagikan kepada kita apa yang telah Ia terima dari Bapa, Ia harus menjadi milik kita dan berdiam di dalam diri kita.” Calvin menjelaskan bahwa beradanya Kristus di dalam diri kita adalah sama dengan kita “dicangkokkan kepada-Nya.”1
Arthur W. Pink menulis bahwa “topik tentang persatuan spiritual [dengan Kristus] adalah yang paling penting, paling mendalam, dan paling teberkati dari topik apa pun yang dipaparkan di dalam Kitab Suci yang sakral.”2 Ia segera mengamati bahwa topik ini sangat terabaikan.
Seorang sarjana Injili kontemporer, Constantine R. Campbell, telah menulis bahwa persatuan dengan Kristus adalah kebenaran di pusat seluruh theologi Rasul Paulus: “Persatuan dengan Kristus … menyatukan [seluruh ajaran Paulus]. Persatuan dengan Kristus berkaitan dengan semua hal lain, mungkin … sebagai ‘terang yang mengiluminasi yang lain.’”3
Semua gereja Reformed di Amerika Utara, dan mungkin seluruh dunia, menyadari bahwa theolog dari Protestant Reformed, Herman Hoeksema, memproklamasikan sentralitas doktrin tentang kovenan di dalam kaitan dengan semua penyataan biblikal.4
Saya akan menunjukkan di dalam bab ini bahwa persatuan dengan Kristus adalah pengalaman dasar Kristen akan keselamatan, dan kuasa sekaligus motif dari kehidupan Kristen di dalam kekudusan.
Apa Adanya Persatuan dengan Kristus Ini: Dua Kiasan Bumiah
Allah menolong kita melalui cara tertentu untuk memahami persatuan dengan Kristus dengan merepresentasikanya secara khusus dengan persatuan kepala dan tubuh seorang manusia, dan dengan persatuan suami dan istri di dalam pernikahan. Perepresentasian persatuan dengan Kristus dengan hubungan kepala dan tubuh ditemukan di dalam Efesus 1:22–23: “[Kristus] telah diberikan [Allah] kepada jemaat (gereja) sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat (gereja) yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.” Kitab Suci menggunakan hubungan suami dan istri sebagai kiasan bumiah bagi hubungan Kristus dan gereja-Nya di dalam Efesus 5:22–33: “Karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat (gereja). Dialah yang menyelamatkan tubuh” (ay. 23).
Di dalam terang kiasan-kiasan bumiah ini, persatuan dengan Kristus adalah hubungan yang sedemikian erat antara dua entitas yang berdistingsi, misalnya kepala dan tubuh atau dua pribadi (suami dan istri), bahwa keduanya adalah, atau menjadi, satu: persatuan adalah ke-satu-an. Hal ini jelas benar tentang kepala dan tubuh manusia—keduanya adalah satu realitas jasmaniah. Ini juga benar tentang seorang suami dan seorang istri. Di dalam pernikahan, mereka menjadi “satu daging,” oleh pekerjaan Allah dan seturut analisis Allah (Kej. 2:24).
Persatuan, sebagaimana direpresentasikan oleh dua realitas bumiah ini, adalah ke-satu-an yang sedemikian rupa sehingga keduanya berkoinherensi; keduanya berbagi di dalam kehidupan satu sama lain. Mereka bukan sekadar berada berdampingan, tetapi berada di dalam satu sama lain. Mengenai persatuan gereja dengan Kristus, gereja berada di dalam Kristus dan Kristus berada di dalam gereja. Ini secara khusus diilustrasikan oleh persatuan suami dan istri: bukan hanya dengan ekspresi seksual dari persatuan itu, tetapi juga dengan berbaginya mereka akan keseluruhan kehidupan mereka.
Meskipun demikian, di dalam persatuan ini, keduanya tetap merupakan realitas-realitas yang berdistingsi—kepala dan tubuh—atau dua pribadi—suami dan istri. Keduanya tidak bercampur menjadi sebuah realitas ketiga, seakan-akan masing-masing kehilangan identitas natural atau personalnya. Kepala tetap kepala, dan tubuh tetap tubuh. Suami tetap suami (berjenis kelamin laki-laki) dan istri tetap istri (berjenis kelamin perempuan).
Demikian juga halnya terkait persatuan Kristus dengan kita. Kristus tidak berbagi keberadaan-Nya dengan kita. Kita juga tidak kehilangan keberadaan manusiawi kita di dalam Dia. Kepala dari gereja tetap Yesus Kristus, dan kita tetap manusia sebagaimana adanya kita. Sangatlah penting bahwa kebenaran tentang persatuan dengan Kristus dan gereja ini mengatur pernikahan bumiah. Khususnya para suami bisa bersalah di sini. Mereka terkadang menuntut agar istri menyerahkan kepribadiannya kepadanya. Mereka melakukan itu di dalam nama persatuan istri dengan dirinya. Ini merupakan representasi yang salah bagi persatuan Kristus dengan gereja, sekaligus sangat merusak pernikahan.
Bahwa Kristus dan gereja, dengan anggota-anggotanya, tetap berdistingsi bukanlah aspek yang tidak signifikan dari keajaiban persatuan Kristus dengan gereja-Nya. Persatuan ini adalah ke-satu-an dua pihak yang adalah, dan tetap adalah, dua. Jika ke-satu-an adalah ditelannya kita oleh Kristus ke dalam diri-Nya, maka tidak akan ada persekutuan, melainkan hanya ada kesamaan.
Baik gereja maupun setiap anggota individual bukanlah Kristus, dan Kristus bukanlah gereja dan juga bukan anggota individual yang mana pun, seperti halnya kepala dari tubuh manusia bukanlah tubuh, atau suami di dalam sebuah pernikahan bukanlah istri dan istri bukanlah suami.
Dikarenakan kedekatan yang intim dari kedua representasi bumiah bagi persatuan Kristus dengan gereja ini, kondisi atau perilaku yang satu memengaruhi yang lain, entah secara baik atau secara buruk. Jika kepala dari tubuh itu berperilaku bijak, tubuh akan mendapatkan manfaat; sedangkan jika kepala membuat keputusan-keputusan yang bodoh, tubuh akan menderita.
Paulus menyerukan perhatian kepada implikasi dari persatuan ini di dalam Efesus 5:28–29:
Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat (gereja).
Di dalam pembandingannya akan pernikahan dengan kepala dan tubuh manusia (yang sama-sama adalah representaasi-representasi bumiah dari persatuan Kristus dengan gereja), Paulus menyerukan perhatikan kepada fakta yang teramat jelas bahwa orang yang mengasihi istrinya (sebagai tubuh) mengasihi dirinya sendiri (sebagai kepala); sebaliknya, orang yang membenci istrinya membenci dirinya sendiri. Kebenaran ini, yang untuknya pepatah Belanda berlaku, “een waarheid als een koe” (“kebenaran semencolok sapi”), memiliki aplikasi khusus pada orang bodoh yang melecehkan istrinya. Pelaku pelecehan biasanya merusak pernikahannya sendiri, merampas dari dirinya sendiri kebahagiaan pernikahan yang unik dan berharga. Jika ada anak-anak di dalam keluarga itu, pelaku pelecehan biasanya menghancurkan keturunannya sendiri, kejahatan yang akan menghantui dia sampai hari kematiannya. Selain semua hal ini, ia menanggung murka Allah di sepanjang kehidupannya dan sampai ke dalam kekekalan. Sungguh, siapa pun membenci istrinya, ia membenci dirinya sendiri. Seperti itulah persatuan suami dan istri.
Tetapi implikasi dari persatuan dari dua realitas bumiah yang merepresentasikan persatuan Kristus dengan gereja juga bekerja ke arah yang sebaliknya. Ketika tubuh sakit, kepala juga menderita. Demikian juga, jika seorang istri adalah pezina, atau perempuan jalang, atau bodoh, ia akan membuat masalah bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi suaminya. Ini berlaku pada persatuan Kristus dengan gereja, di mana ketidaksetiaan gereja memberi cerminan yang buruk bagi nama Kristus.
Seperti itulah natur persatuan itu.
Nah, persatuan-persatuan bumiah ini—pernikahan, dan kepala dan tubuh manusia—diciptakan oleh Allah untuk menggambarkan bagi kita persatuan Kristus dengan gereja. Allah memaksudkan persatuan kita dengan Kristus ketika Ia menciptakan kerangka manusia, dan ketika Ia membentuk dan melembagakan pernikahan. Persatuan kita dengan Kristus adalah hubungan kepala-dan-tubuh yang riil, dan pernikahan yang riil.
Apa Adanya Persatuan dengan Kristus Itu: Intim
Saya mengakui sejak awal bahwa persatuan kita dengan Kristus ini misterius, di dalam pengertian bahwa kita tidak dapat memahaminya secara tuntas. Persatuan ini adalah keajaiban, yang melampaui pemahaman kita, seperti persatuan kedua natur Yesus Kristus dan persatuan ketiga Pribadi dari Trinitas kudus. Kita mengalami persatuan itu, khususnya pada waktu-waktu tertentu, misalnya mendengar sebuah khotbah atau ketika mengambil bagian dari Perjamuan [Kudus] atau membaca sebuah perikop dari Alkitab atau berdoa atau membaca sebuah buku religius yang baik; tetapi kita tidak memahaminya dengan sepenuhnya. Menurut saya, kita tidak akan pernah memahami persatuan itu secara tuntas, bahkan di dalam kemuliaan. Suatu hari nanti kita akan mengalaminya secara penuh, tetapi tidak pernah bisa memahaminya secara tuntas. Akan tetapi, penyataan memampukan kita untuk mengetahui beberapa hal penting tentang persatuan dengan Kristus.
Persatuan dengan Kristus adalah sebuah hubungan yang sangat dekat dengan Yesus sehingga Ia berada di dalam kita dan kita berada di dalam Dia. Ini melebihi kedekatan antara dua orang yang saling berpelukan. Lebih dari tujuh puluh kali Perjanjian Baru menyatakan bahwa kita berada “di dalam Kristus;” selain itu, Perjanjian Baru berulang kali menyatakan bahwa Kristus berada “di dalam kita.” Efesus 1:1 memanggil kita sebagai “orang-orang percaya [di] dalam Kristus Yesus.” Efesus 5:30 mendeskripsikan kita sebagai “anggota dari tubuh-Nya, dari daging-Nya, dan dari tulang-tulangnya” (KJV).
Begitu intimnya hubungan Kristus dan gereja ini sehingga Alkitab mengidentifikasikan gereja dengan Kristus dan Kristus dengan gereja. Pengidentifikasian ini sedemikian rupa sehingga tidak mencampurkan keberadaan Kristus dan keberadaan gereja, tetapi ini tetap adalah pengidentifikasian keduanya. Begitu mencolok ajaran 1 Korintus 12:12: “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.” Sang rasul membandingkan gereja dengan tubuh manusia. Kita mengharapkan sang rasul menyimpulkan, “demikian pula gereja.” Di dalam faktanya inilah yang dimaksudkan. Tetapi ia sebaliknya menulis, “demikian pula Kristus.” Ia mengidentifikasikan gereja dengan Kristus karena persatuan gereja dengan Kristus yang intim.
Yesus sendiri mengidentifikasikan gereja dengan diri-Nya sendiri di dalam Kisah 9:4, ketika ia bertanya, “Saulus, Saulus (yang akan menjadi Paulus), mengapakah engkau menganiaya Aku?” Kenyataannya Saulus sedang menganiaya gereja. Yesus mendeklarasikan bahwa dengan menganiaya gereja, Saulus sebenarnya sedang menganiaya Yesus sendiri. Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan gereja-Nya.
Matius 25:31–46 mengajarkan hal yang sama. Pada penghakiman terakhir, Yesus akan memutuskan bahwa orang yang menolong seorang kudus yang membutuhkan sudah menolong Yesus sendiri. Dengan prinsip yang sama, orang yang menolak untuk menolong seorang anak Allah yang membutuhkan sudah menolak untuk menolong Yesus.
Martin Luther mengekspresikan pengidentifikasian Kristus dan gereja ini dengan kiasan pernikahan. “Mempelai ilahi yang kaya ini, Kristus, menikahi perempuan sundal yang miskin dan jahat ini, menebusnya dari semua kejahatannya, dan mendandaninya dengan semua kebaikan-Nya.” Efek dari persatuan pernikahan ini adalah bahwa semua yang adalah milik-Nya menjadi milik kita—kebenaran, kekudusan, kehidupan, dan keselamatan—karena semua yang adalah milik kita telah menjadi milik-Nya—dosa, kematian, penghukuman, dan neraka. Ini benar, tulis sang Reformator, karena “manfaat iman yang tiada tara adalah bahwa iman mempersatukan jiwa dengan Kristus seperti mempelai perempuan dipersatukan dengan mempelai laki-lakinya.”5
Persatuan Kristus dengan gereja yang erat ini adalah sebuah persatuan spiritual. Kita tidak boleh menepis “spiritual” sebagai tidak riil atau sebagai tidak sama riilnya dengan persatuan jasmaniah. Persatuan spiritual adalah persatuan yang riil. Bahkan persatuan spiritual lebih riil daripada persatuan jasmaniah. Ini, sebagai tambahan, adalah satu aspek dari keberatan Reformed terhadap persatuan jasmaniah Kristus dan orang yang percaya di dalam Perjamuan Tuhan, menurut pemahaman Katolik Roma tentang sakramen tersebut. Persatuan jasmaniah semata tidak cukup “riil.”
Persatuan Kristus dan gereja adalah Roh Kudus. Ikatan dari persatuan ini adalah Roh Kristus. Kristus ada di dalam gereja dan di dalam setiap anggota gereja oleh Roh. Roh yang mendiami ini mencangkokkan gereja dan anggota-anggotanya ke dalam Yesus. Di dalam hal ini, doktrin yang benar tentang Roh adalah niscaya, sebagai ikatan yang mempersatukan Bapa dan Anak di dalam Keberadaan Allah, dan sebagai ikatan dari natur ilahi dan natur manusiawi Yesus Kristus.
Roh Kristus sebagai ikatan yang mempersatukan gereja dengan Kristus adalah apa yang Calvin maksudkan dengan “persatuan mistis” dan apa yang Pink maksudkan dengan “persatuan vital.” Roh ada di dalam Yesus di dalam surga. Ia datang ke dalam setiap anggota gereja, dan dengan demikian membawa Kristus ke dalam diri mereka. Ini mempersatukan gereja dengan Yesus Kristus di dalam surga, sehingga Kristus dan gereja adalah satu. Dengan dan di dalam Yesus Kristus, Roh membawa berkat-berkat keselamatan yang ada di dalam Yesus.
Bagaimana Iman Reformed Bersaksi untuk Persatuan dengan Kristus
Iman Reformed bersaksi untuk persatuan dengan Kristus. Ketika dipahami secara tepat, iman Reformed adalah persatuan dengan Kristus. Persatuan dengan Kristus adalah theologinya. Persatuan dengan Kristus adalah kehidupan dan praktik spiritualnya.
Bab-bab lain akan menjelaskan bagaimana persatuan dengan Kristus adalah inti dari pemilihan dan pendamaian. Di sini saya akan lebih memperhatikan pekerjaan Allah yang menyelamatkan di dalam diri kita.
Seluruh pekerjaan Allah yang menyelamatkan di dalam gereja dan anggota-anggotanya adalah oleh iman, dan theologi Reformed mengajarkan bahwa iman ini sendiri adalah persatuan dengan Kristus. Iman Reformed mengakui ini di dalam Jawaban 20 dari Katekismus Heidelberg: orang-orang yang diselamatkan “dicangkokkan di dalam Dia [yaitu Kristus], dan menerima semua manfaat-manfaat-Nya, oleh sebuah iman yang sejati.” Pencangkokan di dalam bidang pertanian adalah penyatuan sebuah cabang yang sedianya akan mati ke dalam pokok sebuah tanaman lain yang mengakibatkan sebuah hubungan yang hidup antara cabang itu dan pokok itu. Cabang itu menjadi bagian dari pokok itu, berbagi di dalam pokok itu dan, oleh karenanya, di dalam kehidupan pokok itu. Di dalam keselamatan, iman adalah pencangkokan itu, yaitu persatuan gereja dan anggota-anggotanya dengan Kristus. Iman, pertama-tama, bukanlah pengetahuan tentang Kristus dan kepercayaan di dalam Dia, tetapi persatuan dengan-Nya: “Sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu” (Ef. 3:17).
Menurut iman Reformed, Kristus sendiri hadir di dalam pemberitaan Injil dan hadir dengan cara sedemikian rupa sehingga Ia sendiri yang berbicara. Dan Ia berbicara dengan cara sedemikian rupa sehingga memberikan diri-Nya kepada para pendengar pilihan-Nya. Inilah apa yang Pengakuan Iman Westminster maksudkan ketika merujuk kepada Kristus sebagai “substansi” Injil (7:6). Injil bukan sekadar pembicaraan tentang Kristus; Injil menghadirkan Kristus.
Ajaran tentang sakramen-sakramen di dalam iman Reformed juga tidak boleh dipandang sebagai sekadar satu bagian yang kurang penting dari doktrin iman Reformed tentang persatuan dengan Kristus. Justru persatuan dengan Kristus adalah makna dari baptisan. Menurut Pengakuan Iman Westminster, baptisan adalah tanda dan meterai dari “pencangkokan ke dalam Kristus” (28:1). Menurut Katekismus Heidelberg, dibaptis, yaitu mendapatkan baik tanda maupun realitasnya, berarti “dikuduskan untuk menjadi anggota-anggota Kristus” (J. 70).
Perkataan Kristus yang melembagakan baptisan sebagai sebuah sakramen menekankan bahwa makna terdalam dari sakramen ini adalah persatuan dengan Allah Tritunggal di dalam Yesus Kristus. Preposisi di dalam bahasa asli Yunaninya adalah “ke dalam” (Ing. “into”): “baptislah mereka ke dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus” (Mat. 28:19, KJV).
Juga terdapat signifikansi yang jelas dan kaya dari sakramen Perjamuan Tuhan. Persatuan dengan Kristus begitu jelas di dalam sakramen ini. “Form for the Administration of the Lord’s Supper” (“Tata Cara Pelaksanaan Perjamuan Tuhan”) Reformed penuh dengan penjelasan tentang Perjamuan sebagai persatuan dengan Kristus. Saya di sini hanya mengambil dua dari penjelasan-penjelasan itu. Kristus memberi makan dan menutrisi jiwa orang-orang yang percaya dengan tubuh-Nya yang disalibkan dan darah-Nya, yaitu dengan diri-Nya sendiri. Ini adalah persatuan. Penjelasan Reformed yang kedua tentang Perjamuan yang mengekspresikan persatuan gereja dengan Kristus adalah pengakuan bahwa tujuan sakramen ini adalah agar “kita … bisa memiliki komuni yang sejati dengan-Nya.” Ini adalah persatuan.6
Penjelasan-penjelasan tentang Perjamuan ini hanya menjelaskan secara setia perkataan pelembagaan: “Ini [adalah] tubuh-Ku” dan “ini [adalah] darah-Ku” (Mrk. 14:22, 24).
Tetapi ada satu lagi unsur dari iman Reformed yang mengindikasikan bahwa iman Reformed memandang agama Kristen secara fundamental sebagai persatuan dengan Kristus. Ini adalah konsep iman Reformed tentang ekskomunikasi (pengucilan), disiplin gereja terhadap anggota yang hidup di dalam dosa tanpa mau bertobat. “Form for Excommunication” (“Tata Cara Ekskomunikasi”) Reformed mendeskripsikan ekskomunikasi sebagai diputus dari “persekutuan dengan Kristus” dan, dengan demikian, juga dari semua “berkat-berkat dan manfaat-manfaat spiritual” yang ada di dalam Dia.7
Jawaban 85 dari Katekismus Heidelberg menjelaskan bahwa ekskomunikasi mendeklarasikan bahwa orang itu bukan anggota Kristus. Implikasinya yang jelas adalah bahwa keselamatan terdiri dari persatuan dengan Kristus.
Sangat disayangkan bahwa gereja-gereja Reformed dan Presbiterian telah begitu membutakan diri mereka sendiri terhadap kebenaran bahwa Injil memproklamasikan keselamatan sebagai persatuan dengan Kristus dengan sebuah pandangan yang salah tentang kovenan anugerah.
Persatuan dengan Kristus Bersifat Kovenantal
Persatuan dengan Kristus, yang fundamental bagi Injil dari Kitab Suci dan yang merupakan esensi keselamatan, adalah kovenan, dan kovenan adalah persatuan dengan Kristus. Tidak seorang pun bisa menyangkal atau melewatkan kebenaran bahwa kovenan sangat penting di dalam Alkitab. Realitas kovenan anugerah terimplikasi di dalam janji Kejadian 3:15. Kovenan ini dibuat secara eksplisit dengan Nuh, anak-anaknya, dan bumi di dalam Kejadian 9:8–17. Allah menetapkan kovenan dengan Abraham dan keturunannya di dalam Kejadian 17:7. Yehovah menubuatkan pembaruan kovenan di dalam Yeremia 31:31–34. Seluruh pelayanan Yesus Kristus adalah penggenapan realitas kovenan, menurut perikop yang teramat penting mengenai kebenaran tentang kovenan: Galatia 3.
Mengenai apa adanya kovenan, Kitab Suci menyatakan kovenan sebagai persatuan dengan Kristus dan dengan demikian sebagai persatuan dengan Allah sendiri. Bahwa kovenan adalah persatuan dengan Allah terlihat jelas pertama-tama dari rumusan kovenan itu sendiri: “Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku.” Ini adalah persekutuan atau komuni (bdk. Yer. 31:33; Ibr. 8:10).
Bahwa kovenan secara esensial adalah persatuan dengan Allah di dalam Kristus Yesus terlihat jelas dari simbol yang menonjol di dalam Kitab Suci untuk kovenan: pernikahan. Pernikahan adalah realitas bumiah yang menonjol dari persatuan dan komuni di dalam kehidupan dan pengalaman manusia. Dua orang menjadi satu daging, dan hidup bersama di dalam keintiman yang unik dan kebahagiaannya. Dan ini adalah simbol yang ditentukan oleh Allah untuk kovenan (bdk. Yeh. 16; Yer. 3; Ef. 5). Oleh karena itu, keterberkatan keselamatan yang disempurnakan di dalam surga direpresentasikan sebagai konsumasi pernikahan Kristus dan gereja-Nya (Why. 19:9). Dan sungguh sesuai bahwa Wahyu 21:7 mengaplikasikan rumusan kovenan pada anggota individual gereja, yang dengan cara demikian diberkati dengan penikmatan akan penggenapan kovenan: “Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku.”
Sebagai esensi dari keselamatan, kovenan adalah komuni (persekutuan) orang-orang percaya pilihan dengan Allah di dalam Kristus.
Kesalahan Reformed dan Presbiterian tentang Kovenan
Meskipun gereja-gereja Reformed dan Presbiterian telah mengakui kovenan sebagai sebuah kebenaran fundamental, mereka telah gagal memahami bahwa kovenan menekankan persatuan dengan Kristus dikarenakan sebuah doktrin yang salah tentang kovenan. Doktrin yang salah namun berpengaruh itu menyatakan bahwa kovenan adalah suatu kesepakatan, sebuah kontrak, suatu tawar-menawar antara Allah dan manusia. Di dalam tawar-menawar ini, Allah berjanji untuk menyelamatkan dengan syarat manusia mau percaya dan taat.
Pandangan tentang kovenan ini bukan hanya mengingkari esensi kovenan sebagai komuni, tetapi juga mengompromikan Injil anugerah: pandangan ini menjadikan keselamatan di dalam kovenan bersandar pada orang yang berdosa. Allah berjanji untuk merealisasikan dan menggenapi kovenan dengan syarat manusia mau percaya dan taat. Inilah ajaran sesat Arminianisme, yang telah dikutuk oleh iman Reformed di dalam Kanon-Kanon Dordt (1618–1619).
Doktrin yang salah tentang kovenan inilah yang pada saat ini telah menghasilkan ajaran sesat yang menamai dirinya Federal Vision, dengan “federal” secara signifikan berarti “kovenantal.” Federal Vision secara terbuka menyangkal lima pokok Calvinisme, yang diakui di dalam Kanon-Kanon Dordt, dan juga menyangkal kebenaran Injil tentang pembenaran oleh iman saja. Tetapi akar dari semua ajaran sesat ini, seperti yang diakui oleh para tokoh Federal Vision itu sendiri, adalah doktrin tentang kovenan yang bersyarat. Maka, kesalahan fundamental Federal Vision adalah kegagalan untuk mengenali kovenan sebagai komuni dengan Allah.8
Dikarenakan pandangan mereka tentang kovenan sebagai sebuah kontrak bersyarat antara Allah dan manusia, sebagian besar gereja Reformed dan Presbiterian yang konservatif secara nominal di Amerika Utara telah melihat munculnya Federal Vision di dalam persekutuan mereka. Beberapa telah menyambutnya. Tidak satu pun yang telah menolaknya sebagai perkembangan alamiah dari sebuah doktrin yang salah tentang kovenan.
Doktrin yang salah tentang kovenan inilah yang menjadi keprihatinan kita. Doktrin tentang kovenan sebagai sebuah kontrak atau kesepakatan bersyarat persis berlawanan dengan doktrin tentang kovenan yang biblikal. Sebuah kontrak atau tawar-menawar adalah urusan yang dingin dan menyerupai perdagangan. Hidup dengan Kristus di dalam persekutuan yang manis adalah satu hal. Tetapi merupakan hal yang sangat berbeda jika memiliki kontrak dengan Yesus Kristus: “Aku akan melakukan ini untuk Engkau (percaya dan taat), jika Engkau mau melakukan itu untukku (menyelamatkanku).”
Sudah waktunya bagi Kekristenan Reformed dan Presbiterian untuk bertobat dari kesalahannya dalam menjelaskan kovenan sebagai sebuah kontrak, bahkan sebuah kontrak bersyarat, dan membuka mata mereka untuk melihat harta yang mereka miliki di dalam kovenan itu, hanya jika mereka memandang kovenan itu sebagai persatuan dengan Kristus.
Betapa besarnya perbedaan yang akan diakibatkan oleh hal ini bagi pengalaman Kristen dan kehidupan Kristen!
Bagaimana Persatuan Dialami dan Diekspresikan
Dengan iman di dalam Kristus ini sendiri sebagai ikatan dari persatuan dengan Kristus, orang percaya pilihan mengalami persatuan dengan Kristus oleh iman dan oleh iman saja. Merupakan kekeliruan jika beranggapan bahwa meskipun iman adalah ikatan dari persatuan kovenantal yang menyelamatkan dengan Kristus, orang mengalami dan dan memiliki kepastian (jaminan) keselamatan melalui perbuatan-perbuatan baik. Perbuatan-perbuatan baik adalah buah dari persatuan itu, tetapi perbuatan-perbuatan baik bukan persatuan itu sendiri. Perbuatan-perbuatan adalah penegasan bahwa ikatan itu sejati, seperti halnya buah-buah anggur mengonfirmasi persatuan cabang dengan pokok anggur, dan seperti kasih suami kepada istrinya dan kasih istri kepada suaminya mengonfirmasi realitas ikatan pernikahan Kristen yang dikerjakan oleh Roh Kudus di antara mereka.
Terkait dengan kovenan dan pengalaman akan keselamatan, di dalam persatuan dengan Kristus yang merupakan kovenan inilah orang-orang yang percaya mengalami kasih Yesus Kristus kepada mereka, seperti seorang istri mengalami kasih dari suaminya kepadanya di dalam persatuan mereka berdua yang berupa pernikahan. Saya akan menyampaikan lebih lanjut tentang hal ini di dalam bab 8 tentang “Persatuan dan Pernikahan.” Di sini saya hanya menekankan bahwa pengalaman akan kasih Kristus adalah sebuah aspek dari persatuan dengan-Nya, yaitu sebuah aspek dari kovenan. Orang tidak mungkin bisa memiliki pengalaman dan kepastian akan kasih Sang Juru Selamat tanpa persatuan dengan-Nya di dalam kovenan.
Di dalam persatuan kovenan, orang yang percaya mengalami semua berkat keselamatan. Dengan memiliki Kristus, ia memiliki kebenaran, kekudusan, sukacita, pengharapan, damai sejahtera—semuanya. Tanpa memiliki Kristus, kita tidak memiliki satu pun dari berkat-berkat keselamatan. Semua berkat keselamatan adalah berkat-berkat kovenan.
Di dalam persatuan dengan Kristus dan sebagai persatuan dengan Kristus, kita orang-orang yang percaya memiliki kepastian keselamatan. Keselamatan bukanlah sesuatu yang Allah berikan hari ini dan Allah ambil kembali besok. Keselamatan ada di dalam Kristus sendiri, yang dengan-Nya Allah mempersatukan kita secara permanen, sebagaimana cabang yang dipersatukan dengan pokok selama pokok itu hidup, dan sebagaimana pernikahan bumiah bertahan selama keduanya masih hidup. Jika keselamatan hanyalah perkara keputusan seseorang untuk memilih Kristus, maka keselamatannya sangat tidak pasti. Tetapi, jika merupakan persatuan dengan Kristus, keselamatan ini kekal dan pasti. Maka orang percaya Reformed hidup di dalam damai sejahtera terkait perkara yang mahapenting ini, yaitu keselamatannya.
Dan karena pengalaman akan persatuan dengan Kristus ini pula maka orang yang percaya di dalam seluruh kehidupannya di dunia ini tidak takut dengan kesulitan dan bahkan kematian. Ia satu dengan Anak Allah yang terkasih. Entah kejahatan akan dihindarkan demi Kristus yang dengan-Nya orang yang percaya telah dipersatukan, atau kejahatan akan diubah untuk mendatangkan kebaikan baginya.
Secara khusus, hal yang tidak seterkenal yang seharusnya adalah ekspresi kita bagi persatuan dengan Kristus. Dan ini mungkin mengejutkan. Saya sedang merujuk kepada kehidupan Kristen kita di dalam kekudusan. Alkitab menjadikan persatuan kita dengan Kristus sebagai sebuah motif yang kuat bagi kehidupan Kristen kita, dan bahkan bisa dikatakan sebagai standar bagi kehidupan Kristen tersebut. Kita cenderung mengabaikan hal ini sehingga merugikan kehidupan Kristen kita sendiri, dan kita lebih condong kepada menaati hukum Allah. Ini bukan berarti bahwa kita harus mengesampingkan hukum Allah sebagai standar bagi kehidupan Kristen, melainkan bahwa kita harus menghormati persatuan dengan Kristus sebagai sebuah aspek yang sangat penting dari standar bagi kehidupan Kristen bersama hukum Allah.
Saya akan mengilustrasikan peran penting dari persatuan dengan Kristus ini dari beberapa perikop Kitab Suci, yang bisa dengan mudah ditambah. Perikop yang jelas di dalam pembahasan tentang persatuan dengan Kristus, sebagaimana disimbolkan oleh pernikahan, adalah panggilan kepada kita untuk hidup secara benar di dalam pernikahan seperti yang dinasihatkan di dalam Efesus 5. Para suami harus mengasihi istri-istri mereka seperti Kristus mengasihi gereja-Nya, dan karena Kristus mengasihi gereja-Nya, dan supaya kasih kita bisa menjadi kesaksian bagi kasih Kristus kepada gereja. Persatuan dengan Kristus adalah motif dan standar bagi pernikahan kita. Perikop ini bukan hanya memerintahkan, “Kasihilah istrimu sebagai kehendak Allah.”
Perikop kedua adalah 1 Korintus 3:16–17. Topik pasal ini adalah perilaku yang benar dari para pelayan dan anggota di dalam gereja. Motif bagi perilaku yang benar ini adalah bahwa gereja adalah bait Allah, karena Roh Allah berdiam di dalam gereja. Maka, alasan untuk perilaku yang benar di dalam gereja adalah persatuan kita dengan Kristus oleh Roh, bukan hanya ketaatan kepada hukum Allah.
Perikop ketiga sangat jelas dan kuat: larangan terhadap percabulan di dalam 1 Korintus 6:15–20. Motif dan standar bagi berpantangnya orang yang percaya dari percabulan bukan hanya perintah ketujuh dari hukum Allah. Tetapi motivasi bagi kesucian ini adalah karena kita disatukan dengan Tuhan Yesus sebagai satu roh. Dengan melakukan percabulan, kita menjadikan anggota-anggota tubuh Kristus, yaitu anggota-anggota tubuh kita, menjadi anggota-anggota tubuh seorang sundal. Sang rasul menjadikan eksplisit rujukan kepada persatuan orang Kristen dengan Kristus di dalam tubuhnya sebagai motif bagi kesucian: “tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu” (ay. 19). Maka, persatuan dengan Kristus harus menjadi sebuah aspek penting di dalam ajaran gereja tentang kesucian seksual.
Dikarenakan persatuan kita dengan Kristus, kita orang-orang Kristen dipanggil dan dimampukan untuk hidup di dalam cara yang menyerupai Kristus. Inilah kehidupan kovenan.
Untuk bahan-bahan lain dalam bahasa Indonesia, klik di sini.
______________________________________________

