David J. Engelsma
Ayat Kitab Suci: Galatia 2:19–21; Roma 6:1–14
Introduksi
Harapan dan maksud saya dengan bab tentang persatuan dengan Kristus ini adalah agar pembaca tidak akan pernah lagi berpikir atau mendengarkan tentang kematian Kristus tanpa melihat wajahnya sendiri di dalam Yesus yang tergantung dan mati di atas salib. Atau lebih tepatnya lagi, ia tidak akan pernah lagi mendengar tentang kematian Kristus tanpa berbisik kepada dirinya sendiri, “Saya ada di sana, tergantung di atas salib di dalam Dia dan dengan Dia.”
Kita bukan mati dengan-Nya di dalam pengertian bahwa kita berbagi penderitaan dan kematian-Nya yang mendamaikan—pemuasan yang Ia berikan kepada tuntutan keadilan Allah terhadap dosa-dosa kita. Terkait pendamaian, hanya Ia yang mati, dan Ia mati sendirian. Kita tidak mati dengan-Nya melainkan Ia mati menggantikan kita.
Tetapi, terkait dengan manfaat-manfaat dari kematian-Nya, terkait dengan kita sebagai penerima manfaat-manfaat kematian-Nya, kita telah mati dengan-Nya dan kita telah mati dengan-Nya melalui mati di dalam Dia. Di dalam aspek yang penting ini, Ia tidak mati sendirian. Ia mati sebagai Kepala dari tubuh-Nya, yaitu gereja pilihan. Kita ada di sana, tergantung di atas salib dengan Dia dan di dalam Dia. Setiap kali kita mendengar atau membaca atau memikirkan tentang kematian Kristus, kita bisa, dan kita harus, berkata kepada diri kita sendiri, dengan penuh keyakinan, “Aku ada di sana, di atas salib—di dalam Dia.”
Meskipun aspek khusus dari persatuan kita dengan Kristus ini misterius dan ajaib, kita bisa memahaminya. Kita memang tidak dapat memahaminya secara tuntas, tetapi kita memahaminya. Kita dapat memahaminya karena Alkitab menjelaskannya—menjelaskannya bagi penghiburan kita, bagi kebersandaran kita pada Kristus yang disalibkan bagi segenap keselamatan kita dan bagi kasih kita yang penuh syukur kepada Allah yang telah memberi kita hak istimewa untuk mati di dalam persatuan dengan Kristus.
Secara terutama dan jelas, ada empat aspek di mana kita mati dengan Kristus, dan dengan demikian kita berbagi di dalam kematian-Nya pada saat ini. Pertama, kita telah mati dengan-Nya di dalam kaitan dengan pembenaran atau dipandang sebagai orang yang benar. Kedua, kita telah mati dengan Dia di dalam kaitan dengan pengudusan atau menjadi kudus. Ketiga, kita saat ini selalu mati dengan Dia sebagai Dia yang disalibkan di dalam kaitan dengan penganiayaan. Keempat, ketika kita mati di dalam tubuh, kita mati dengan Dia di dalam kaitan dengan kematian jasmaniah.
Persatuan dengan Kematian Kristus di dalam Pembenaran
Aspek pertama, dan fundamental, yang di dalamnya kita memiliki persatuan dengan Kristus di dalam kematian-Nya diajarkan di dalam Galatia 2:19–20: “Aku telah disalibkan dengan Kristus…. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Teks ini secara jelas merujuk kepada penyaliban Yesus.
Hal pertama yang harus diperhatikan tentang teks ini adalah bahwa di dalam bahasa Yunani aslinya, verba yang diterjemahkan di dalam KJV menjadi bentuk present tense, “I am crucified,” sebenarnya adalah past tense: “I was crucified” (TB = “Aku telah disalibkan”). Hal ini membuat perbedaan pada beritanya. Sang rasul sedang merujuk kepada penyaliban Yesus yang aktual dan historis di masa lalu. Ketika Yesus disalibkan di luar Yerusalem atas perintah gubernur Roma sekitar tahun 33 M, Paulus dan setiap orang lain yang sekarang percaya di dalam Dia telah disalibkan dengan-Nya—tergantung di atas salib bersama Yesus. Yesus bukan berada di atas salib-Nya sendirian. Ada begitu banyak orang dengan-Nya.
Hal kedua yang harus diperhatikan dari teks ini sendiri di dalam kaitan dengan realitas yang ajaib ini adalah alasan dan penjelasan baginya. Penjelasannya adalah kasih Yesus bagi semua orang untuk siapa Ia mati: “yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Kasih telah menggerakkan Dia untuk menyerahkan diri-Nya kepada maut melalui penyaliban. Kasih ini bersifat personal. Teks ini tidak menyatakan bahwa Ia mengasihi tubuh atau organisme, yaitu gereja, meskipun ini benar. Tetapi Ia telah mengasihi “aku,” secara personal dan individual, dan menyerahkan diri-Nya untuk “aku.” Untuk aku! Saya tergantung di sana di dalam Dia dan dengan Dia, sehingga “aku telah disalibkan dengan Kristus.”
Maka sangat jelas bahwa telah disalibkan kita dengan Kristus memberi manfaat yang sangat besar bagi kita. Juga sangat jelas bahwa penyaliban dengan Kristua bukanlah dikarenakan diri kita sendiri atau adanya hal apa pun yang layak pada kita. Sebaliknya, kita begitu tidak berkelayakan sehingga Sang Anak Allah di dalam daging manusia harus disalibkan demi kita. Tetapi penjelasan tentang penyaliban Kristus adalah bahwa Ia memberikan diri-Nya di dalam kasih (yang penuh anugerah) bagi orang-orang untuk siapa Ia telah disalibkan.
Kebenaran penting ketiga dari Injil tentang telah disalibkannya kita dengan Kristus adalah konteksnya, konteks dari perikop di mana pernyataan ini ditemukan dan konteks dari seluruh Surat Galatia. Kebenaran yang sedang sang rasul ajaran dan bela di dalam perikop ini adalah pembenaran oleh iman saja, bagaimana orang menjadi benar di dalam penghakiman Allah, yaitu pengampunan atas dosa-dosa dan kedudukan di hadapan Allah, sang Hakim, sebagai orang yang telah menaati Taurat-Nya secara sempurna. Inilah doktrin utama dari Surat Galatia. Ini jugalah kebenaran yang sedang sang rasul ajarkan di dalam ayat-ayat yang langsung mendahului dan menyusul Galatia 2:19-20. Di dalam ayat 16, yang mengendalikan seluruh perikop ayat 17–21, sang rasul mendeklarasikan,
Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: “tidak ada seorangpun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat.
Ayat 21, yang langsung mengikuti proklamasi tentang persatuan dengan penyaliban Kristus di dalam ayat 20, juga sama-sama memproklamasikan pembenaran: “Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.”
Oleh karena itu, kita telah disalibkan dengan Kristus di dalam kaitan dengan pembenaran.
Marilah kita memiliki pemahaman yang jelas tentang apa pembenaran ini. Allah mengampuni segala dosa dari orang yang Kristus kasihi dan yang untuknya Ia telah memberikan diri-Nya di atas salib. Ia tidak mendakwa mereka atas kesalahan mereka, atau memandang mereka bersalah karena kesalahan itu. Ini adalah aspek negatif dari pembenaran.
Secara positif, Allah mendeklarasikan bahwa orang yang berdosa, yang Kristus kasihi dan yang untuknya Kristus memberikan diri-Nya, adalah orang yang benar secara sempurna, satu pribadi yang telah menaati Taurat-Nya secara penuh. Oleh karena itu, Ia memberi mereka upah dengan berkat damai sejahtera dengan Allah di dalam hati nurani yang bersih dan dengan berkat pengharapan akan kehidupan yang kekal.
Pembenaran adalah fondasi dari seluruh keselamatan. Pemilihan adalah sumber keselamatan. Pembenaran, yang didasarkan pada penebusan oleh salib, adalah dasar legal dari keselamatan di dalam pengalaman orang berdosa yang percaya.
Di dalam salib Kristus, semua kesalahan orang percaya pilihan itu telah dihapuskan oleh pemuasan penuh bagi tuntutan keadilan Allah; Allah tidak lagi mendakwakan kesalahan apa pun terhadap orang-orang untuk siapa Kristus telah memberikan diri-Nya. Tidak ada hukuman yang tersisa untuk mereka tanggung, di dalam kehidupan ini atau di dalam kekekalan yang akan datang. Atas orang-orang untuk siapa Kristus telah disalibkan, Allah mengumumkan putusan, “Tidak bersalah!” Dan jika mereka tidak bersalah, mereka benar. Sebagai orang yang benar, mereka layak menerima berkat Allah.
Penjelasan tentang perubahan keadaan yang menyelamatkan dari kesalahan menjadi ketidakbersalahan ini adalah bahwa Kristus telah memberi diri-Nya untuk orang-orang pilihan ini, seperti yang diajarkan oleh bagian terakhir dari ayat 20, dan bahwa Ia melakukan ini karena Ia mengasihi mereka.
Ia telah menderita dan mati menggantikan dan mewakili orang-orang ini. Penyaliban-Nya bersifat substitusioner. Ia menanggung kesalahan mereka, sehingga mereka bisa berbagi di dalam kebenaran-Nya.
Penjelasan untuk telah disalibkannya kita dengan-Nya adalah bahwa Ia mewakili kita. Kita ada di dalam Dia secara legal. Kita tidak ada di salib bersama-Nya secara aktual dan secara jasmaniah. Kita bahkan belum lahir sampai 2.000 tahun setelah peristiwa itu. Tetapi kita ada dengan Dia dengan sama nyatanya dan benarnya seakan-akan tubuh kita tergantung dengan tubuh-Nya pada kayu itu. Karena Dia, oleh penghakiman Allah, adalah wakil kita, seperti halnya Adam dulu di dalam kejatuhannya ke dalam dosa.
Maka kita telah disalibkan dengan Kristus di dalam pelunasan bagi dosa kita dan di dalam pemuasan bagi tuntutan keadilan Allah, sehingga kita bisa dibenarkan oleh iman. Kebenaran kita tiba kepada kita bukan oleh perbuatan kita sendiri, “oleh hukum Taurat,” seperti ayat 21 menyebutnya. Tetapi kebenaran ini tiba kepada kita dengan cara sedemikian rupa sehingga meneguhkan kenyataan bahwa segenap kebenaran kita adalah penderitaan dan kematian Kristus menggantikan dan mewakili kita.
Cara untuk menerima kebenaran dari penyaliban Kristus ini adalah iman di dalam Kristus yang disalibkan. Cara ini adalah [oleh] iman saja. “Dan hidupku yang kuhidupi sekarang … adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah” (ay. 20). KJV menerjemahkan bagian terakhir ayat 20 ini menjadi “I live by the faith of the Son of God,” yang secara harfiah berarti “Aku hidup oleh iman milik Sang Anak Allah.” Maksud yang sebenarnya adalah “iman di dalam Anak Allah.” Kristus telah disalibkan untuk kita; Ia bukan percaya atau beriman untuk kita.
Meskipun kita telah disalibkan 2.000-an tahun yang lalu, kita harus memiliki kebenaran dari penyaliban itu sekarang, hari ini, di dalam kehidupan kita yang berdosa di bumi pada saat ini. Kita memiliki kebenaran ini dan mendapat jaminan akan penyaliban kita dengan Kristus oleh iman, dan oleh iman saja: “iman [di] dalam Anak Allah.” Termasuk di dalam iman yang memiliki Sang Anak Allah sebagai objeknya ini adalah jaminan bahwa Ia telah mengasihi saya dan telah memberikan diri-Nya untuk saya. Tidak ada jaminan bahwa seseorang benar di hadapan penghakiman Allah jika tidak ada kepastian bahwa Kristus telah mati untuknya di dalam kasih kepadanya.
Persatuan dengan Kematian Kristus di dalam Pengudusan
Kita telah mempertimbangkan persatuan dengan kematian Kristus di dalam kaitan dengan pembenaran. Kebenaran ini sangat dikenal oleh anak-anak Reformasi, meskipun pada saat ini mengalami serangan.
Kebenaran yang tidak seterkenal itu adalah bahwa kita juga telah mati dengan Kristus di dalam kaitan dengan pengudusan kita.
Ini adalah kebenaran Injil dari Roma 6, khususnya ayat 1–14. Roma 6 dimulai dengan pembahasan sang rasul tentang pekerjaan keselamatan yang agung yang disebut pengudusan. Pengudusan mendeskripsikan pekerjaan Allah di dalam Yesus Kristus untuk menjadikan umat-Nya kudus. Kekudusan adalah daya dan kondisi spiritual untuk membaktikan diri kepada Allah dari hati, dan melakukan itu dengan menaati hukum-Nya. Orang tidak berusaha untuk menghidupi kehidupan yang kudus supaya menjadikan dirinya layak bagi keselamatan, tetapi untuk bersyukur kepada Allah bagi keselamatan yang berasal dari Allah untuk dirinya oleh salib Yesus Kristus. Dalam membaca dan menjelaskan Roma 6, orang Kristen harus mengecamkan di dalam pikiran bahwa temanya adalah pengudusan.
Setelah Allah membenarkan orang berdosa pilihan, Ia juga selalu menguduskannya. Keselamatan yang Allah berikan bukanlah hanya kelepasan dari hukuman atas dosa, tetapi juga kelepasan dari pencemaran dan kuasa dosa. Inilah pengalaman dari orang yang Allah selamatkan. Secara cuma-cuma, Allah melepaskan kita dari kecemaran dan aib akibat dosa-dosa kita, dari hukuman yang kekal, dari ketakutan terhadap murka-Nya, dari kengerian terhadap neraka. Kemudian Ia mengerjakan di dalam diri kita kebersyukuran sehingga dengan tulus kita berseru kepada-Nya, “Bagaimanakah saya bisa berterima kasih kepada Engkau atas kebaikan yang sedemikian besar, yang didapatkan melalui kematian Anak-Mu” Jawabannya adalah kuasa ilahi menyebabkan orang berdosa yang dibenarkan itu bersyukur.
Paulus mengajarkan aspek dari keselamatan ini khususnya di dalam bagian pertama dari Roma 6. Setelah mengajarkan kebenaran tentang pembenaran di dalam pasal 3–5, sang rasul memperkenalkan kebenaran tentang pengudusan dengan pertanyaan-pertanyaan di Roma 6:1: “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” Dengan pertanyaan-pertanyaan ini, sang rasul mempertimbangkan keberatan terhadap doktrin tentang pembenaran oleh iman saja, bahwa pembenaran yang penuh anugerah itu akan membuat umat Allah tidak hati-hati dan hidup secara kedagingan. Apa yang dinyatakan selanjutnya di dalam Roma 6 akan mencegah apa yang dikhawatirkan, dengan mengajarkan bahwa Allah bukan hanya membenarkan tetapi juga menguduskan.
Sang rasul melanjutkan dengan mengajarkan, sebagai kebenaran penuh tentang pengudusan, beberapa realitas penting tentang salib Kristus. Hal ini mengejutkan. Kita mungkin memperkirakan bahwa sang rasul akan berbicara tentang operasi-operasi Roh Kudus, sebagai Dia yang memiliki pekerjaan khusus untuk menjadikan kita kudus. Namun sang rasul justru berbicara tentang salib dan apa yang digenapinya. Pertama, orang-orang percaya pilihan dijadikan satu di dalam keserupaan dengan kematian Kristus (ay. 5). Ini adalah persatuan dengan kematian Kristus.
Kedua, “manusia lama kita telah turut disalibkan … agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa” (ay. 6; KJV = “our old man is crucified with him”). Di sini saya mengoreksi terjemahan Authorized Version (KJV) yang mirip dengan koreksi yang saya lakukan di dalam terjemahan Galatia 2:20 sebelumnya. Verba “disalibkan” bukan berbentuk present tense melainkan past tense di dalam bahasa Yunani ayat 6. Pembacaan yang tepat (dan penting) adalah, “our old man was crucified with him.” Di masa lalu, sekitar 2.000 tahun silam, manusia lama yang dimiliki oleh setiap orang percaya pilihan telah disalibkan. Hal-hal ajaib telah terjadi di salib Kristus. Seperti yang Galatia 2:20 ajarkan, Saya sendiri telah disalibkan dengan Kristus. Roma 6:6 mengajarkan bahwa manusia lama saya telah disalibkan dengan Kristus.
Manfaat dari penyaliban manusia lama orang yang percaya dengan penyaliban Kristus diproklamasikan di dalam apa yang mengikuti Roma 6:6. Orang yang percaya dibebaskan dari dosa. Oleh karena itu, ia bisa, dan harus, memandang dirinya sudah mati terhadap dosa (ay. 11). Ia tidak perlu, dan tidak boleh, membiarkan dosa berkuasa di dalam tubuhnya yang fana (ay. 12). Dan ia tidak akan dikuasai lagi oleh dosa (ay. 14).
Arti dari semuanya ini adalah bahwa orang Kristen yang percaya memiliki persatuan dengan kematian Kristus di dalam kaitan dengan pengudusan. Di sini dirayakan manfaat dari penyaliban dengan Kristus yang menyelamatkan di dalam sebuah aspek yang berbeda dari Galatia 2:20. Galatia 2:20 hanya menyatakan bahwa orang yang percaya itu sendiri disalibkan dengan Kristus. Konteksnya menjadikan jelas bahwa rujukannya adalah kepada dideklarasikannya dia sebagai seorang pribadi yang benar di hadapan Allah, yaitu pembenaran.
Di dalam Roma 6:6, sang rasul berbicara tentang disalibkannya “manusia lama” kita dengan Kristus, bukan saya sendiri secara personal tetapi “manusia lama” saya. “Manusia lama” dari anak Allah yang telah diregenerasi, percaya, dan diselamatkan ini rusak secara total, yaitu natur berdosa yang dengannya ia dilahirkan dan yang tetap ada padanya bahkan setelah ia dilahirkan kembali, bahkan sampai ia mati. Keselamatan memberi dia sebuah natur baru yang kudus. Tetapi bersama natur baru yang kudus ini tetap ada natur lama yang bobrok yang ia miliki sejak lahir. Natur itu tetap ada!
Secara spiritual, orang yang percaya terdiri dari dua natur yang berlawanan, berkontradiksi, berseteru, dan berperang: manusia lama dan manusia baru. Manusia lama membenci Allah, mencintai dosa, dan mengerahkan dayanya untuk menjadikan anak Allah melalukan dosa di dalam pemikirannya, kehendaknya, perasaannya, perkataannya, perbuatannya—segalanya. Manusia baru mengasihi Allah dan kehendak Allah, bertobat dari manusia lama dan jalan-jalannya, dan mulai menaati Allah di dalam kehidupan ini.
Inilah pengalaman anak Allah yang percaya. Ini seakan-akan ia adalah dua pribadi yang sepenuhnya berlawanan. Di dalam sastra, ini berkaitan dengan alur cerita Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde (1886) karya Robert Louis Stevenson.
Injil di dalam Roma 6 adalah bahwa manusia lama dari orang percaya yang dibenarkan ini disalibkan dengan Kristus. Kematian Kristus oleh penyaliban mematikan manusia lama karena persatuan anak Allah pilihan tersebut dengan kematian Kristus. Sekitar 2.000 tahun yang lalu, manusia lama dari setiap orang yang percaya telah mati. Ini adalah kabar yang teramat baik bagi orang yang percaya, yang membenci manusia lama itu, berduka atas kehadirannya dan dayanya di dalam kehidupannya, dan yang bahkan bisa mengharapkan hari kematian, karena pada saat itulah manusia lama ini akan selesai dengan sepenuhnya dan untuk selama-lamanya.
Hal ini menuntut penjelasan karena natur yang berdosa itu terlihat masih hidup bagi kita, bahkan sehat dan kuat. Penjelasannya adalah bahwa oleh kematian-Nya yang mendamaikan, Yesus melucuti kuasa dosa itu dari hak untuk berkuasa atas kita, bahkan pada akhirnya hak untuk memiliki pengaruh apa pun atas diri kita. Kehadiran dosa di dalam diri kita, dan pengaruhnya yang membawa aib dan merusak pada kita, adalah hak dosa karena kesalahan kita. Oleh kematian-Nya, yang melepaskan kita dari kesalahan kita, Yesus meniadakan hak dosa untuk berkuasa atas kita. Manusia lama kita yang berdosa telah disalibkan dengan Kristus!
Tetapi pertanyaannya tetap adalah: bagaimanakah hal ini bisa benar? Kehadiran dan daya yang dimiliki oleh natur yang berdosa di dalam diri kita terlihat menyangkali apa yang Roma 6 ajarkan mengenai penyaliban manusia lama itu. Roma 7 akan meratapi kuasa manusia lama di dalam anak Allah yang percaya: “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat” (ay. 19).
Perealisasian di dalam diri kita akan penyaliban manusia lama di dalam kematian Kristus terjadi secara bertahap. Daya dosa di dalam diri orang percaya pilihan akan dikalahkan secara penuh dan final pada momen kematian. Perealisasian di dalam diri orang yang percaya akan penyaliban manusia lama di dalam masa kehidupannya di bumi ini adalah bahwa manusiaa lama tidak lagi berkuasa (memerintah) di dalam dia. Inilah penjelasan untuk penyaliban manusia lama dari Roma 6:14: “kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa.” Selama orang yang percaya ini hidup, manusia lama hadir dan mengerahkan dayanya. Tetapi manusia lama ini tidak berkuasa atas orang yang percaya.
Di dalam beberapa kasus, orang yang percaya melawan semua pencobaan yang manusia lama perhadapkan kepadanya, misalnya pornografi, kemabukan, penggunaan obat-obatan, kebencian terhadap suami atau istrinya, dan dosa-dosa lain yang dideskripsikan sebagai pelanggaran-pelangaran berat di dalam Mazmur 19:14.
Di dalam kasus-kasus lain, kemenangan manusia baru orang yang percaya mengambil bentuk pertobatan; pergumulan melawan dosa; kemajuan tertentu dalam melawan pencobaan; dan melakukan kehendak Allah, meskipun baru sebagai permulaan yang kecil.
Ini adalah peperangan setiap hari, yang terus berlangsung, dan seumur hidup yang dialami oleh orang Kristen.
Allah merealisasikan pengaplikasian penyaliban manusia lama dengan nasihat-nasihat. Kematian Kristus menyalibkan manusia lama, dan kematian manusia lama oleh salib Kristus ini harus diaplikasikan kepada kehidupan setiap anak Allah pilihan. Ini Allah lakukan melalui nasihat-nasihat. “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa” (Rm. 6:11). “Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana” (ay. 12). “Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman” (ay. 13).
Dasar bagi nasihat-nasihat ini adalah apa yang terjadi di salib: manusia lama Anda telah disalibkan dengan Kristus.
Saya hanya memperhatikan sambil lalu bahwa nasihat-nasihat ini adalah nasihat-nasihat yang sejati yang oleh kuasa Roh menyebabkan efek spiritual yang diinginkan di dalam diri orang yang percaya. Artinya, orang yang percaya bergumul sehingga dosa tidak berkuasa di dalam tubuhnya yang fana. Seorang hamba Tuhan yang menolak untuk mengkhotbahkan nasihat-nasihat ini, atau yang mengkhotbahkannya hanya sebagai pemaparan tentang ketidakmampuan orang yang percaya untuk melakukan apa yang menjadi panggilan bagi mereka, berkontribusi kepada kekalahan manusia baru oleh manusia lama di dalam kehidupan anggota-anggota kongregasinya.
Sarana-sarana yang dengannya kemenangan salib direalisasaikan secara aktual di dalam kehidupan orang-orang yang percaya, selain pemberitaan tentang salib, beserta nasihat-nasihatnya, ada dua, menurut Roma 6. Satu adalah iman yang menerima salib dan kuasa spiritualnya. “Mengetahui” and “memandang” di dalam Roma 6 adalah iman. Sarana yang lainnya, menurut Roma 6, adalah baptisan: “telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian” (ay. 4). Baptisan, yang di sini maupun di bagian lain di dalam kitab Suci merujuk kepada tanda pemercikan dengan air dan realitas pekerjaan Roh Kudus yang menyelamatkan, mempersatukan orang yang dibaptis itu dengan kematian Yesus Kristus, dan Roh Kudus mengaplikasikan salib sebagai penghancuran atas manusia lama “agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa” (ay. 6).
Implikasi dari penyaliban manusia lama bagi setiap orang percaya adalah bahwa tidak ada orang Kristen yang bisa, atau bahkan perlu, untuk berkata, “Saya tidak mampu,” di dalam kaitan dengan hal mengalahkan dosa tertentu di dalam kehidupannya. Karena manusia lamanya telah disalibkan. Roh Kudus mengaplikasikan salib Yesus Kristus, di dalam kuasanya yang menguduskan, kepadanya. Inilah persatuan mistis dengan salib Kristus.
Persatuan dengan Kematian Kristus di dalam Penganiayaan
Sering terluputkan namun merupakan sebuah cara lain yang di dalamnya orang yang percaya berbagi di dalam kematian Kristus. Ini adalah persatuan dengan kematian-Nya sebagai menderita aib, sengsara, dan kerugian karena pengakuan orang yang percaya akan Injil Allah, yang diiringi dengan kehidupan di dalam kekudusan. Ini adalah persatuan dengan Kristus yang diajarkan di dalam 2 Korintus 4:10, di mana sang rasul berkata tentang dirinya, sebagai seorang yang percaya dan seorang kudus: “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” Teks ini tidak menggunakan frasa “[di] dalam Kristus” atau frasa “dengan Kristus,” tetapi sudah pasti pemikirannya adalah bahwa kita berbagi sesuatu di dalam kematian Kristus. Orang yang percaya membawa kematian Tuhan Yesus di dalam tubuhnya.
Kematian Yesus, termasuk semua penderitaan yang membawa kepada kematian itu, adalah penganiayaan, aib, dan sengsara bagi Tuhan kita. Bentuk kematian-Nya sendiri adalah aib dan sengsara yang ekstrem: salib.
Orang yang percaya berpartisipasi di dalam kematian itu: ia membawanya. Ini bukan seolah-olah orang yang percaya berbagi di dalam natur kematian itu yang menebus. Tetapi ia berbagi di dalam kematian Kristus di dalam arti kematian Kristus adalah kebencian terhadap-Nya, penderitaan yang ditimbulkan pada-Nya, dan dihilangkannya nyawa-Nya oleh orang-orang yang fasik, dikarenakan kesaksian-Nya yang setia bagi Allah dan kebenaran. Paulus berbicara di dalam konteks yang sebelumnya tentang dirinya yang berkesusahan, kewalahan, teraniaya, dan terhempas. Semua penderitaan yang sang rasul tanggung adalah bentuk kematian. Namun kematian itu bukanlah penderitaan seperti penderitaan pada saat kematian Yesus; penderitaan itu adalah kematian demi Yesus—persatuan dengan kematian Kristus itu sendiri—yang darinya sang rasul yang setia ini berbagi karena kesaksiannya bahwa Allah adalah Allah dan bahwa Yesus adalah Anak-Nya.
Penderitaan seperti itu tidak dibatasi pada para rasul. Ini adalah realitas bagi setiap orang Kristen. Di dalam 2 Timotius 2:9–10, sang rasul berbicara tentang masalah penderitaannya, “seperti seorang penjahat,” di dalam pemenjaraannya. Di dalam ayat 11, ia mendeskripsikan penderitaan ini dan yang lainnya sebagai mati dengan Kristus, yaitu partisipasinya di dalam penyaliban Yesus. 1 Petrus 4:12–13 juga senada. Ayat 12 memperhatikan “nyala api siksaan” yang akan datang sebagai ujian bagi gereja. Ayat 13 mendeskripsikan semua orang yang akan menderita penganiayaan ini sebagai orang-orang yang mengambil “bagian … dalam penderitaan Kristus.”
Jika orang mengakui Allah di dalam Yesus Kristus dan hidup sebagai seorang Kristen, ia harus memperkirakan bahwa ia akan mati, terus-menerus. Di dalam 2 Korintus 4:10, sang rasul mendeklarasikan bahwa ia “selalu” membawa kematian Yesus. Orang yang percaya diolok-olok oleh dunia yang tidak mengenal Allah; dibenci kerabat; di tempat-tempat tertentu bahkan didenda, dipenjarakan, dan dieksekusi; di masa depan, menjadi objek dari penganiayaan di seluruh dunia di bawah Antikristus.
Orang yang percaya tidak perlu terkejut dengan hal ini. Ia tidak boleh takut. Pastinya, ia tidak boleh membungkam pengakuannya akan Kristus karena alasan ini dan mengompromikan kehidupannya yang kudus. Ia bukan hanya harus memperkirakan kematian ini, tetapi ia juga harus memandang itu sebagai berbagi di dalam kematian Yesus sendiri. Sampai ke ujung bumi dan di mana pun, penganiayaan adalah mati demi Kristus. Dengan kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke dalam kemuliaan, kematian-Nya mengambil bentuk penderitaan umat-Nya demi nama-Nya.
Di dalam diri kita, sebagaimana di dalam diri-Nya dulu, penderitaan Tuhan Yesus adalah penderitaan dan kematian yang berkemenangan. Paulus mengungkapkan natur berkemenangan dari berbagiannya dia sendiri di dalam kematian Yesus di dalam konteks 2 Korintus 4:10: tidak terjepit, tidak putus asa, tidak ditinggalkan, tidak binasa.
Seperti yang sudah jelas dengan sendirinya, persatuan dengan kematian Yesus Kristus di dalam penderitaan ini demi Dia adalah sebuah kehormatan.
Persatuan dengan Kematian Kristus di dalam Kematian Jasmaniah
Yang terakhir, orang-orang yang percaya dipersatukan dengan kematian Kristus di dalam kematian jasmaniah mereka sendiri. Mereka memiliki persatuan dengan kematian Kristus di dalam kehidupan mereka; mereka memiliki persatuan dengan kematian itu di dalam kematian mereka. Inilah Injil di dalam 1 Tesalonika 4:16. Berbicara tentang kebangkitan orang-orang kudus yang telah mati pada saat kedatangan kembali Kristus, sang rasul menulis, “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit.” Teks ini adalah bagian dari salah satu perikop yang paling mulia di dalam Alkitab mengenai kebenaran tentang kebangkitan orang yang percaya di dalam tubuh. Namun persatuan dengan Kristus di dalam kebangkitan umum bukanlah topik saya di dalam bab ini.
Tetapi, bagaimanapun singkatnya, 1 Tesalonika 4:16 juga berisi kabar baik yang agung bahwa orang yang percaya “mati [di] dalam Kristus” pada momen kematian jasmaniah dan selama ia terbaring di dalam kubur. Ia bukan hanya “mati.” Ia “mati [di] dalam Kristus” dan ini menyebabkan perbedaan, khususnya di dalam kaitan dengan kebangkitan tubuhnya.
Meskipun topik utama dari perikop di dalam 1 Tesalonika 4 ini adalah kebangkitan, perikop ini dimulai dengan sebuah rujukan kepada kematian Kristus dan kepada kematian orang-orang yang percaya sebagai tertidur: “Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal (KJV = tertidur) dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia” (ay. 14). Di luar persatuan dengan Kristus di dalam kematian jasmaniah kita sendiri, tidak mungkin ada kebangkitan tubuh orang yang percaya. Dan di luar persatuan ini, kematian tidak mungkin adalah tertidurnya orang yang percaya.
Pada saat ini, semua orang percaya yang mati berada “di dalam Kristus” di dalam kaitan dengan tubuh mereka yang mati. Ini bukanlah keadaan legal mereka, seakan-akan teks ini merujuk kepada keberadaan mereka di dalam Kristus secara legal. Dan jelas teks ini juga tidak merujuk kepada berbagiannya mereka di dalam kehidupan Kristus di dalam surga di dalam jiwa mereka, karena teks ini berbicara tentang mereka sebagai “yang mati.” Bukan pula maknanya bahwa di masa lalu mereka telah mati dengan Kristus sebagai yang diwakili oleh-Nya di dalam penyaliban-Nya, karena teks ini mendeskripsikan kondisi aktual mereka ketika Kristus datang untuk membangkitkan mereka. Mereka sekarang, dan akan muncul pada saat kedatangan-Nya, sebagai “yang mati.”
Meskipun telah mati dan berada di dalam berbagai tahap pembusukan, orang-orang percaya yang telah mati ini adalah objek-objek dari kasih Yesus Kristus di dalam tubuh mereka. Saat ini, di dalam kubur, orang-orang yang percaya dipelihara dan dijaga dengan penuh kasih oleh Kristus dengan memandang kepada kebangkitan, sebagai anggota-anggota diri-Nya. Di sini orang terpikir tentang Rizpa, seorang ibu di dalam Perjanjian Lama yang menjaga mayat kedua putranya yang telah mati digantung oleh orang-orang Gibeon karena dosa-dosa Saul. Dengan kasih seorang ibu, ia “tidak membiarkan burung-burung di udara mendatangi mayat mereka pada siang hari, ataupun binatang-binatang di hutan pada malam hari” (2Sam. 21:10). Demikianlah Kristus menjaga mayat-mayat (tubuh-tubuh) umat milik-Nya yang telah mati. Persatuan orang yang telah mati dengan Kristus adalah hubungan kasih-Nya yang tidak kenal menyerah dan yang terus memelihara di dalam kaitan dengan tubuh-tubuh mereka dan dengan memandang kepada kebangkitan. Meskipun telah mati, mereka masih berada “di dalam Kristus.” Karena alasan ini, kematian mereka hanyalah tidur.
Selama tubuh orang yang percaya terbaring di dalam kubur, tubuh itu dipersatukan dengan kematian Yesus sebagai kematian yang menebus orang yang percaya dari kematian dan kubur sebagai hukuman ilahi atas dosa.
Kita mengembuskan napas terakhir. Tubuh kita dimasukkan ke dalam kubur. Kita tertidur di dalam kubur kita di dalam pemeliharaan Yesus Kristus.
Dipersatukan dengan kematian Yesus!
Untuk bahan-bahan lain dalam bahasa Indonesia, klik di sini.

