David J. Engelsma
Kata Pilatus kepada-Nya: “Apakah kebenaran itu?” (Yoh. 18:38).
Introduksi
Selama berjalannya pengadilan terhadap Yesus oleh Pontius Pilatus, terjadi sebuah percakapan signifikan antara Sang Mesias dari Allah dan perwakilan negara adidaya Romawi itu. Percakapan itu tentang kebenaran. Ketika menjawab pertanyaan Pilatus apakah Ia adalah raja, Yesus menyatakan bahwa tujuan kedatangan-Nya ke dalam dunia adalah bersaksi tentang “kebenaran,” dan bahwa setiap orang yang “berasal dari kebenaran” mendengarkan suara Yesus. Pilatus menjawab, “Apakah kebenaran itu?” (Yoh. 18:37–38).
Menurut John Calvin, pertanyaan Pilatus adalah “ungkapan penghinaan … [dan] ejekan.”1
Pilatus sudah pasti bukan sungguh-sungguh mencari kebenaran. Pertanyaannya sinis, menunjukkan keyakinan yang dimiliki oleh peradaban Romawi dan Yunani yang terpelajar dan rumit bahwa kebenaran itu tidak ada. Namun pada saat yang sama, dan justru karena alasan ini, pertanyaan Pilatus adalah keputusasaan. Keraguan terhadap kebenaran menyebabkan keputusasaan, bukan hanya keputusasaan untuk bisa mengetahui kebenaran, tetapi juga terhadap kehidupan.
Oleh karena itu, klaim Yesus bahwa Ia mengetahui kebenaran dan pembaktian kehidupan dan pekerjaan-Nya—dan sekarang kematian-Nya—bagi kebenaran, adalah hal yang konyol bagi Pilatus.
Kesinisan Pilatus terhadap eksistensi kebenaran dan kemungkinan untuk mengetahui kebenaran termanifestasi secara langsung di dalam perilaku yang fasik. Sekalipun mengetahui bahwa Yesus tidak bersalah, Pilatus tetap menjatuhkan hukuman mati kepada-Nya. Jika kebenaran tidak eksis, jika kebenaran tidak ada, maka tidak ada kebenaran objektif bagi keadilan dan ketidakadilan, bagi benar dan salah, yang harus dituruti oleh seorang hakim di dalam putusan hukum yang diambilnya. Jika terlihat baik bagi kehidupan masyarakat Yahudi di bawah pemerintahan Romawi, dan, yang terutama, bagi kekaisaran—jika terlihat baik bagi kedudukan Pilatus sendiri, seorang hakim bisa menghukum mati orang yang tidak bersalah.
Keadilan di sebuah pengadilan hukum bergantung pada kebenaran.
Percakapan antara Yesus dan Pilatus itu menggambarkan konflik antara gereja yang sejati dan bangsa-bangsa serta masyarakat-masyarakat Barat pada awal abad kedua puluh satu.
Gereja yang sejati mengakui kebenaran. Kebenaran eksis, sebagai sebuah realitas objektif. Gereja mengenal kebenaran. Tujuan utama gereja adalah memberi kesaksian tentang kebenaran itu. Bersaksi tentang kebenaran berimplikasi membongkar dan mengutuk semua yang berlawanan dengan kebenaran sebagai kesalahan dan kebohongan. Ini juga berimplikasi bahwa semua orang yang menolak kesaksian gereja adalah berasal dari kebohongan.
Bangsa-bangsa Barat; para politikus, pendidik, penulis, ahli hukum, pembuat film, produser acara televisi, dan pemberita mereka; dan masyarakat secara umum menggemakan pertanyaan Pilatus yang sinis tentang kebenaran. Akan tetapi, masyarakat Barat dengan berani mengajukan pertanyaan Pilatus di dalam bentuk pernyataan positifnya yang tersirat: Kebenaran tidak eksis. Bangsa-bangsa Barat di dalam abad kedua puluh satu bukan hanya menolak kebenaran. Mereka menghapus kebenaran.
Merupakan satu hal—hal yang jahat—untuk dengan lancang melawan Allah yang orang akui. Merupakan hal lain—suatu perkembangan dari kejahatan—untuk mengumumkan bahwa Allah tidak eksis dan bahwa ide tentang deitas (keilahian) adalah kebodohan, atau reka-rekaan jahat dari para imam dan kaum klergi (kaum rohaniwan).
Merupakan satu hal—hal yang jahat—untuk tidak menaati hukum dengan cara yang memberontak. Merupakan hal lain—suatu perkembangan dari kejahatan—untuk mengumumkan bahwa tidak ada hukum bagi manusia, sehingga manusia bisa hidup seperti itu.
Penghapusan kebenaran merupakan gerakan yang pasti, kuat, dan meresap ke dalam setiap bagian kehidupan di Barat. Gerakan ini memiliki pendukung yang terkemuka dan berpengaruh di semua bidang masyarakat, termasuk di dalam gereja-gereja. Gerakan ini dikenal sebagai “postmodernisme.”
Tidak ada kajian di dalam terang Firman Allah tentang perkembangan-perkembangan kontemporer, khususnya di Barat, yang boleh mengabaikan postmodernisme. Sebagian orang mungkin belum pernah mendengar tentang postmodernisme, namun semua orang telah melihat dampak-dampaknya. Sungguh, semua orang telah merasakan dampak-dampaknya. Pengaruhnya masuk ke dalam gereja-gereka, bukan hanya gereja-gereja emergent, yang, dengan menciptakan teologi dan cara ibadah mereka sendiri menurut apa yang dirasakan baik bagi mereka sendiri, menunjukkan diri mereka sebagai anak dari postmodernisme. Di mana pun para pelayan, teolog, dan anggota gereja menyuarakan toleransi dan hormat bagi kesalahan, entah kesalahan doktrin atau perilaku, maka yang bertahta adalah semangat postmodernisme, bukan Roh Kristus.
Orang-orang Kristen Reformed yang menganggap pembahasan tentang postmodernisme itu filosofis, mengawang-ngawang, dan tidak ada kaitan dengan kehidupan sehari-hari mereka dan anak-anak mereka, sudah keliru. Di dalam bab ini, saya akan menunjukkan bagaimana perkembangan kefasikan yang dikenal sebagai postmodernisme menggenapi nubuat Alkitab tentang semakin intensifnya peperangan rohani Satan melawan Yesus Kristus dan gereja-Nya pada zaman akhir. Perlawanan terhadap postmodernisme adalah sebuah aspek penting dari pergumulan gereja dan anggota-anggotanya melawan kerajaan kebohongan di akhir zaman ini.
Untuk bisa melawan postmodernisme, orang-orang Kristen harus mengetahui seperti apa adanya kejahatan ini.
Saya mendesak para pembaca buku ini untuk memperhatikan dengan serius deskripsi saya tentang postmodernisme. Saya akan memperhitungkan kepada postmodernisme gagasan yang bagi banyak orang akan merupakan absurditas dan kontradiksi, bukan hanya dengan Alkitab tetapi juga akal sehat.
Ajaran-ajaran postmodernisme itu absurd. Ajaran-ajaran ini sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada realitas, tidak ada kebenaran. Postmodernisme adalah penghapusan kebenaran. Ajaran-ajaran postmodernisme adalah implikasi yang niscaya dari ajaran bahwa Allah tidak eksis—yang merupakan puncak absurditas. Orang bebal telah berkata di dalam hatinya, dan di dalam tulisan-tulisannya, “Tidak ada Kebenaran.”
Meskipun demikian, kaum postmodernis sangat gigih dengan ajaran-ajaran tersebut. Satan telah membutakan mereka untuk memercayai, hidup seturut, dan bersaksi tentang ajaran-ajaran tersebut secara agresif; sehingga seluruh umat manusia akan memercayai dan hidup seturut ajaran-ajaran tersebut. Inilah sasaran mereka. Mereka akan mencapainya. Seluruh dunia akan berkomitmen kepada penghapusan kebenaran. Dan memang keadaan ini sudah semakin menjadi-jadi. Yang akan menjadi pengecualian justru adalah sedikit orang yang mengenal Allah dan yang dikenal oleh-Nya.
Tentang “Amerika abad kedua puluh satu,” sebuah kritik ringan terhadap postmodernisme telah ditulis baru-baru ini bahwa Amerika “dengan cepat menjadi sebuah tempat postmodern.”2
Apakah Postmodernisme Itu
Postmodernisme adalah sebuah wawasan dunia. Postmodernisme adalah sebuah cara untuk memandang alam semesta, seluruh sejarah, dan kehidupan seseorang. Postmodernisme adalah sebuah “gambaran besar” lain, sebuah wawasan komprehensif tentang segala ssuatu, seperti halnya Kekristenan. Tujuannya adalah membawa setiap orang ke dalam wawasan yang mencakup segalanya ini, sehingga setiap orang memercayainya dan berperilaku seturutnya.
Postmodernisme merupakan sebuah wawasan dunia yang baru muncul belakangan ini, yaitu di sekitar tahun 1970-an.
Meskipun demikian, postmodernisme muncul, dan merupakan sebuah perkembangan dari, modernisme yang mendominasi bangsa-bangsa Barat dari sekitar 1700 M sampai 1900 M.
Modernism
Modernisme mengajarkan bahwa Allah tidak eksis, atau, jika Ia eksis, tidak ada kaitannya dengan dunia, sejarah, dan kehidupan manusia (Deisme). Tidak perlu memasukkan Allah ke dalam semua pemikiran manusia. Mendasari penyangkalan terhadap Allah ini adalah kritik yang tidak memercayai Alkitab, yang mengganggap Alkitab hanya sebagai buku karya manusia.
Modernisme mengajarkan bahwa dunia materiel adalah satu-satunya realitas, dan bahwa manusia bisa mengetahui dunia dengan rasionya. Dengan rasionya, pikirannya yang berfungsi dengan benar—manusia bisa menemukan rahasia-rahasia alam, termasuk dirinya sendiri, dan menciptakan sains. Sains akan menjadi penyelamat umat manusia. Semuanya akan menjadi sehat dan bahagia.
Fundamental bagi modernisme adalah kebebasan dan individualitas. Modernisme akan menjadikan setiap individu bebas secara otonomis: bebas dari ketidaktahuan; bebas dari semua otoritas dunia, imam dan pastor, tetapi juga para raja dan bangsawan; dan, khususnya, bebas dari Allah Kekristenan.
Modernisme terungkap dengan jelas di dalam Revolusi Prancis pada tahun 1789. Moto revolusi itu adalah “kemerdekaan, kesetaraan, persaudaraan.” Namun, yang sebenarnya mendorong revolusi itu adalah pekik peperangan, “Tidak ada Allah, tidak ada tuan.” Para revolusionaris menempatkan dewi Rasio di atas tahta Katedral Notre Dame, dan melakukan percabulan di bangku gereja.
Meskipun tidak seradikal itu (dan sekalipun Thomas Jefferson dengan mudahnya mengizinkan pohon kemerdekaan disirami dengan darah manusia—banyak manusia), Revolusi Amerika juga bersifat modernistik. Revolusi tersebut dimaksudkan untuk kehidupan, kemerdekaan, dan pengejaran kebahagiaan setiap individu, dengan rasio yang tidak memerlukan bantuan apa pun. Allah dari Deklarasi Kemerdekaan bukanlah Allah yang hidup dari agama Kristen, melainkan allah Deisme yang jauh dan tidak relevan.
Teori evolusi Charles Darwin merupakan sebuah kemajuan besar bagi modernisme, karena teori ini memberi penjelasan tentang manusia tanpa membutuhkan penciptaan oleh Allah; menjadikan manusia sasaran dan mahkota dari evolusi dan, dengan demikian, dari alam semesta; dan menjelaskan eksistensi dan sejarah dunia tanpa membutuhkan Pencipta. Pengetahuan akan dunia, termasuk manusia itu sendiri, adalah oleh pikiran manusia. Wahyu tidak diperlukan.
Melampaui Modernisme
Postmodernisme mengembangkan ide-ide dasar modernisme sampai ke kesimpulannya yang tidak terelakkan, tetapi dengan cara sedemikian rupa sehingga berbeda secara signifikan dari modernisme. Maka, postmodernisme menjadi sebuah wawasan dunia yang berbeda.
Postmodernisme adalah wawasan dunia setelah modernisme, tetapi juga melampaui modernisme. Sebuah kritik sekuler terhadap postmodernisme telah diberikan terkait hubungan antara modernisme dan postmodernisme sebagai berikut:
Binatang modernisme telah bermutasi menjadi binatang postmodernisme—relativisme menjadi nihilisme, amoralitas menjadi imoralitas, irasionalitas menjadi ketidakwarasan, pembangkangan seksual menjadi penyimpangan multibentuk (yaitu berbagai jenis penyimpangan seksual).3
Orang yang memperkenalkan kata “postmodernisme” ke dalam pembahasan filosofis dan literer, Jean-François Lyotard dari Prancis, mendefinisikan postmodernisme sebagai berikut: “Saya mendefinisikan postmodernisme sebagai ketidakpercayaan kepada metanarasi-metanarasi.”4 Kata “metanarasi,” meskipun merupakan jargon akademis dan jarang dijumpai oleh pembaca awam, tetap bermanfaat untuk dipelajari. Sebuah narasi adalah sebuah kisah. “Meta” berarti “di atas.” Maka, sebuah metanarasi adalah sebuah kisah yang mengklaim berada di atas segala sesuatu, di dalam pengertian bahwa kisah ini memberi makna bagi, dan menjelaskan, segala sesuatu.
Kisah apakah yang seperti ini yang segera muncul di dalam pikiran? Kisah Kristen! Kisah Alkitab, yang menjelaskan segala-galanya: alam semesta, permulaannya dan akhirnya; umat manusia dan sejarahnya; bangkit dan runtuhnya bangsa-bangsa, sebagaimana juga jatuhnya burung pipit; kehidupan dan perilaku setiap manusia—yang semuanya bergantung pada Allah yang benar, esa, dan tritunggal, dan semuanya memiliki tujuannya di dalam kemuliaan Allah di dalam Yesus Kristus dan kaum pilihan-Nya, gereja yang ditebus.
Telah ada kisah-kisah lain yang mengklaim menjelaskan segala sesuatu. Komunisme Marxis adalah salah satunya; modernisme adalah yang lainnya.
Menurut postmodernisme, semua kisah “meta” seperti itu tidak lain hanyalah kisah-kisah—kisah-kisah fiksi dan rekaan manusia. Kaum postmodernis tidak memercayai semuanya. Tidak satu pun yang benar. Ini menyiratkan bahwa segala sesuatu, atau hal apa pun, termasuk kehidupan seseorang, tidak memiliki makna.
Sebuah kritik yang tajam mendeskripsikan postmodernisme sebagai berikut:
Kaum postmodernis memercayai bahwa kebenaran diciptakan, bukan ditemukan. Mereka berpikir hal-hal seperti rasio, rasionalitas, dan keyakinan kepada sains adalah bias-bias budaya. Mereka berpendapat bahwa orang-orang yang memercayai rasio—dan hal-hal yang didasarkan pada rasio, seperti sains, pendidikan Barat, dan struktur-struktur pemerintah—secara tidak disadari bertindak menurut pengondisian budaya Eropa mereka. Pengondisian ini berupaya menjaga agar kekuasaan tetap ada di tangan kaum elit sosial.5
Saya mendeskripsikan postmodernisme sebagai berikut: doktrin bahwa tidak ada kebenaran, atau realitas, yang mutlak, karena Allah—Allah dari iman Kristen—tidak eksis, dan dengan demikian, Manusia (dengan M besar) dihormati sebagai yang tertinggi untuk menciptakan realitas dan kebenaran bagi diri-Nya (Manusia) sendiri.
Pertama, mengenai deskripsi ini saya mendorong pembaca untuk bersikap serius mengenainya, khususnya bagian tentang manusia mencipakan realitas. Jangan menganggapnya sebagai lelucon, atau sebagai kegilaan. Para pemberita anti-Injil itu serius. Mereka secara aktif dan agresif menciptakan sebuah gerakan yang akan meremukkan gereja Kristen (secara jasmaniah) dan mengusir orang-orang Kristen dari dunia milik Allah.
Kedua, postmodernisme, seperti halnya setiap bentuk kebohongan Satan, mengandung kontradiksi dan dengan demikian menyangkal dirinya sendiri. Postmodernisme bersikukuh pada penyangkalannya terhadap adanya kebenaran mutlak apa pun sebagai kebenaran mutlak.
Ketiga, ketika orang melucuti semua kata-kata besar yang digunakan, berita postmodernisme hanyalah ini: manusia adalah Allah! Karena siapa pun yang menciptakan kebenaran dan realitas adalah, dan pasti adalah, Allah. Dan postmodernisme sungguh merupakan pengilahian manusia yang lancang dan mencengangkan! Manusia menciptakan kebenaran; manusia menciptakan realitas!
Aspek-Aspek Fundamental
Mari kita membongkar postmodernisme, dan melihat apa yang menggerakkannya. Pernyataan fundamental pertama postmodernisme adalah bahwa Allah Kristen tidak eksis. Ia bukan realitas. Seluruh berita keselamatan di dalam Yesus Kristus, yang diwahyukan di dalam Alkitab, adalah sebuah kisah fiksi yang fantastis—sebuah metanarasi yang palsu, menipu, dan berbahaya. Allah dan Injil adalah buatan orang-orang yang ambisius—para nabi, rasul, dan teolog—yang ingin mendapatkan kekuasaan atas orang lain.
Bukan hanya Allah Kristen yang tidak eksis, tetapi juga tidak ada allah yang eksis, entah itu Baal, atau Allah (Islam), atau apa yang dipandang sebagai roh-roh supernatural yang ditakuti oleh kaum pagan. Semua yang dipandang sebagai tulisan yang memberi wahyu dan kudus, bahkan semua tulisan jenis apa pun yang berpura-pura menemukan makna di dalam sejarah, adalah metanarasi-metanarasi, yang tidak boleh dipercayai oleh manusia. Semua tidak bisa dan tidak boleh dipercayai.
Richard Dawkins adalah seorang postmodernis yang baik ketika ia menulis,
Saya bukan sedang menyerang versi tertentu apa pun dari Allah atau allah-allah. Saya sedang menyerang Allah, semua allah, hal apa pun dan segala sesuatu yang supernatural, di mana pun dan kapan pun mereka telah dan akan ditemukan.6
Apa yang tidak postmodernisme nyatakan secara terbuka adalah bahwa postmodernisme mengosongkan tahta Deitas agar manusia bisa dinobatkan di atasnya.
Pernyataan fundamental kedua dari postmodernisme adalah bahwa sama sekali tidak ada kebenaran, atau realitas, objektif di “luar sana,” di mana pun, dan apa pun. Dengan negasi yang mencengangkan ini, postmodernisme berarti tiga hal.
Pertama, tidak adanya kebenaran, atau realitas, berarti bahwa kita tidak bisa mengetahui kebenaran apa pun tentang apa pun. Kita tidak bisa mengetahui kebenaran tentang alam semesta dan cara kerjanya; tentang sejarah; tentang kehidupan sosial, misalnya, pernikahan dan keluarga; tentang sebuah cara yang benar untuk hidup sebagai manusia; tentang diri kita sendiri. Tidak ada fondasi (dasar) bagi sedikit pun pengetahuan yang pasti mengenai apa pun. Maka, postmodernisme kadang disebut “anti-fondasionalisme.”
Saya harus mengatakan sepintas bahwa ini adalah hasil yang “mulia” dari penolakan terhadap inspirasi Kitab Suci: ketidaktahuan total. (Saya menyebutnya “mulia” karena manusia postmodern memuliakan ketidaktahuan ini seolah-olah itu adalah pencapaian yang hebat.)
Satu aspek dari penyangkalan postmodernisme terhadap kebenaran objektif adalah analisisnya yang pesimistis terhadap bahasa. Semua pengetahuan dan penjelasan akan segala sesuatu menggunakan bahasa. Tetapi bahasa tidak mampu mendeskripsikan apa pun secara benar. Bahkan semua bahasa itu menipu. Semua bahasa tentang segala sesuatu hanyalah upaya pembicara atau penulis untuk mendapatkan kekuasaan atas orang lain. Di sini postmodernisme berbeda dari modernisme, yang memercayai rasio dan sangat memercayai bahasa ilmiah, untuk menjelaskan dunia, termasuk manusia.
Saya memperhatikan sekilas bahwa keputusasaan postmoderisme terhadap kata-kata manusia adalah penghakiman Allah atas para pemikir yang telah membenci Firman-Nya, Kitab Suci.
Kita tidak boleh luput memperhatikan bahwa, menurut penegasan fundamental postmodernisme sendiri, kita dibenarkan dalam mengabaikan semua perkataan kaum postmodernis sebagai perkataan yang tidak mampu mendeskripsikan realitas. Sungguh, kita harus melihat kata-kata mereka sebagai kata-kata yang menipu, hanya upaya untuk membawa kita ke dalam perbudakan kepada kaum postmodernis. Di dalam kasus ini, teori lingustik postmodernisme adalah benar.
Kedua, tidak adanya kebenaran berarti bahwa postmodenisme memercayai bahwa segala sesuatu tidak memiliki makna. Eksistensi alam semesta tidak bermakna. Perang Dunia II dan kemenangan Sekutu tidak bermakna. Kelahiran Yesus tidak bermakna. Kehidupan kita masing-masing tidak memiliki makna apa pun.
Inilah manusia dan dunianya tanpa Allah: tanpa makna! Menurut penilaian manusia sendiri yang mendalam dan tegas!
Tetapi dengan penghapusan kebenaran dan realitas olehnya, postmodernisme memaksudkan lebih dari sekadar bahwa kita tidak bisa mengetahui hal apa pun sebagai hal yang benar dan bahwa segala sesuatu tidak memiliki makna. Sekalipun terdengar absurd, bukan hanya bagi orang Kristen tetapi juga bagi setiap manusia yang waras, implikasi ketiga dari penyangkalan postmodernisme terhadap kebenaran dan realitas adalah bahwa tidak ada dunia “di luar sana” untuk kita temukan, ketahui, dan deskripsikan. Tidak ada sejarah bangsa-bangsa dan individu-individu. Bahkan tidak ada diri manusia yang personal dan individual.
Kita beranggapan bahwa dunia yang kita cerap di sekitar kita adalah nyata. Tetapi, faktanya, dunia tidak eksis sebagai realitas terlepas dari pikiran, ucapan, dan perasaan kita.
Manusia sang Pencipta
Manusia sendiri menciptakan kebenaran bagi dirinya sendiri. Manusia sendiri memutuskan apa yangmenjadi kebenaran tentang segala sesuatu. Jika manusia memutuskan bahwa kekejian pembunuhan terhadap bayi-bayi berumur delapan setengah bulan adalah penghormatan kepada pilihan bebas yang dimiliki oleh perempuan hamil, sehingga merupakan kebaikan besar, maka itulah kebenaran tentang aborsi pada usia kehamilan akhir.
Jika sejarawan di kebanyakan universitas-universitas negeri memutuskan untuk memandang bahwa Revolusi Amerika itu salah, karena laki-laki kulit putih keturunan Eropa seperti, misalnya, George Washington, bermaksud untuk menindas kaum perempuan dan kaum kulit hitam, maka itulah kebenaran tentang Revolusi Amerika. Dan jika badut bergelar yang sama ini memutuskan bahwa Revolusi Amerika itu baik, karena kaum kulit hitam, para lesbian adalah pelaku-pelaku yang nyata di dalam Revolusi itu, yang berjuang bagi kemerdekaan semua pihak, maka inilah makna dari Revolusi Amerika.
Dan masih ada orang-orang yang mengaku Kristen yang mengkritik, atau tidak mendukung, sekolah-sekolah Kristen yang baik!
Manusia sendiri menciptakan realitas. Menurut postmodernisme, manusia sendiri yang menjadikan alam semesta ini bereksistensi. Pikirannya, yang merupakan kulminasi dari evolusi, menggagas alam semesta dan dengan demikian menghasilkannya. Sama dengan itu, manusia menciptakan dirinya sendiri, yang tidak eksis sampai dan kecuali ia memikirkannya menjadi bereksistensi.
Manusia menciptakan kebenaran dan realitas dengan bahasanya. Postmodernisme menekankan arti penting dari bahasa, dari kata-kata. Seperti yang telah kita lihat, postmodernisme berkeyakinan bahwa semua bahasa itu menipu, karena semua bahasa, pada dasarnya, adalah upaya pembicara atau penulis untuk mendapatkan, dan mempertahankan, kekuasaan atas audiensnya. Hal ini terutama benar terkait Alkitab. Laki-laki mendeskripsikan pernikahan, keluarga, gereja, dan Allah sendiri dengan cara sedemikian rupa sehingga memberi kekuasaan kepada laki-laki dan memperbudak kaum perempuan. Alkitab sepenuhnya “patriarkal.”
Tetapi hal yang sama juga benar tentang buku-buku sejarah, yang sebagian besar ditulis oleh sarjana Barat berkulit putih. Sejarah-sejarah ini memberi kuasa kepada laki-laki keturunan Eropa berkulit putih.
Itulah sebabnya kaum postmodernis merobek tulisan-tulisan ini, termasuk Alkitab, sampai berkeping-keping, mengekspos agenda-agenda tersembunyi yang jahat yang dimiliki para penulis. Ini disebut “dekonstruksi” teks—pekerjaan penuh waktu dan bergaji besar (yang ditanggung oleh pembayar pajak, atau oleh anggota gereja) dari banyak profesor di universitas-universitas negeri dan seminari-seminari Kristen.
Meskipun demikian, dengan semua kecurigaannya terhadap bahasa, postmodernisme mengakui kuasa bahasa. Bahasa menciptakan kebenaran; bahasa menciptakan makna; bahasa menciptakan dunia. Bahasa adalah kekuasaan.
Pertanyaan pentingnya adalah, apakah yang akan mengendalikan bahasa? Siapa pun yang mengendalikan bahasa sebuah negara akan memerintah atas bangsa itu. Siapa pun yang menguasai bahasa umat manusia akan memerintah atas ras itu. Bayang-bayang dari 1984 karya George Orwell!7
Laki-laki atau perempuan yang berpikir atau menilai berdasarkan wawasan dunia Kristen akan mencermati bahwa sementara Alkitab mengajarkan bahwa Allah menciptakan kebenaran dan realitas—pada mulanya alam semesta dan sekarang Keselamatan—dengan Firman-Nya, Yesus Kristus, postmodernisme memperhitungkan prerogatif ilahi ini kepada kata dari manusia.
Maka yang menjadi pertanyaan besarnya adalah, siapakah yang akan berkuasa atas bahasa?
Jawaban postmodernisme adalah Negara. Kaum postmodernis mengajarkan bahwa masyarakat menentikan bagaimana setiap individu berpikir dan berbicara. Kaum postmodernis semakin memandang kepada Negara, dan berseru kepada Negara—pemerintah yang berkuasa atas sebuah bangsa—untuk membuat semua warga negara memikirkan dan mengatakan kebenaran menurut apa yang dipandang baik dan tepat oleh kaum postmodernis. Inilah arti penting sekolah-sekolah Negeri (“publik”), dan juga televisi, film, musik, dan semua media massa lain pada saat ini, yang sedang membentuk pemikiran (jika bisa disebut demikian) dari sebuah generasi postmodern. Di dalam hal ini, postmodernisme berbeda dari modernisme: modernisme bersifat individualistik; postmodernisme bersifat kolektivis dan statis (terkait negara).
Dampak-Dampak Praktis Postmodernisme
Jika semua eksposisi tentang postmodernisme ini tetap terlihat kurang gamblang, sehingga orang cenderung meminimalkan ancamannya, maka dampak-dampak postmodernisme pada kehidupan kita semua di negara-negara Barat akan segera menyadarkan dia dari gagasannya yang salah.
Sebuah jajak pendapat oleh Barna beberapa tahun silam (1991) menunjukkan bahwa 53% dari orang-orang Kristen yang mengaku Injili berpikir bahwa tidak ada kebenaran mutlak.
Mahkamah Agung Amerika Serikat telah memutuskan bahwa pembunuhan [terencana] atas anak yang belum lahir bukan hanya diizinkan tetapi juga merupakan hak—yaitu hak dari si ibu yang menentukan pilihan. Perhatikan bagaimana bahasa menciptakan kebenaran. Apa yang di dalam faktanya merupakan pelanggaran terhadap hukum Allah di dalam Kitab Suci maupun alam—“pembunuhan [terencana]—telah menjadi “keadilan”—karena kata-kata dari sembilan orang laki-laki dan perempuan yang mewakili Negara.
Begitu pentingnya kata-kata dari sembilan orang hakim sehingga telah menjadi sangat penting di dalam perpolitikan Amerika Serikat untuk memenuhi pengadilan tinggi dengan hakim-hakim yang tidak mau terikat untuk menginterpretasikan dan mengaplikasikan kata-kata Konstitusi (apa lagi kata-kata hukum Allah), melainkan ingin mendekritkan hukum dengan kata-kata mereka sendiri. Paling baik, kata-kata mereka akan mencerminkan pemikiran dan praktik-praktik masyarakat—yang sendirinya merupakan prospek yang suram bagi kaum saleh. Paling buruk, kata-kata yudisial mereka akan memaksakan agenda dari orang-orang yang baginya kehendak manusia adalah keadilan, yaitu kaum postmodernis.
Secara jelas mengindikasikan dampak postmodernisme pada kehidupan di Barat, melalui kampanye propaganda yang terkoodinasi—penggunaan bahasa dengan cerdas—kaum postmodernis telah meyakinkan banyak orang di Amerika Utara bahwa perilaku homoseksual adalah hal yang baik, sebaik aktivitas heteroseksual di dalam pernikahan. Sungguh, kaum postmodernis telah meyakinkan banyak orang bahwa “pernikahan” homoseksual adalah baik dan benar, sebaik dan sebenar pernikahan seorang laki-laki dan seorang perempuan.
Betapa penting kata-kata di dalam kampanye yang sukses ini! “Gay” menggantikan “pemburit” (Ing. “sodomite”). “Penikahan gay” digunakan untuk “kopulasi pemburit.” Dan tidak lama lagi manipulasi bahasa kaum postmodernis akan berhasil menyebabkan penggunaan kata “pemburit” dijatuhi hukuman, khususnya jika dibarengi dengan kata seperti “kejijikan” atau “kekejian” (Ing. “abomination”).
Kaum postmodernis sedang menulis ulang buku-buku sejarah di Amerika Serikat. Sejarah-sejarah dijadikan meminimalkan kontribusi positif dari kaum laki-laki kulit putih, dan menonjolkan peran kaum kulit hitam, terutama kaum perempuannya. Bahkan sekalipun berlawanan dengan fakta, ini tidak menjadi persoalan bagi para pejabat pemerintah yang mengawasi penulisan buku-buku sejarah itu, atau bagi para penulisnya. Sejarah tidak memiliki makna. Pihak-pihak yang berkuasalah yang memberinya makna. Sungguh, sejarah tidak eksis. Pihak-pihak yang berkuasalah yang menciptakan sejarah.
Postmodernisme adalah penyebabkan kontroversi-kontroversi seputar buku-buku teks.
Dampak-dampak postmodernisme juga terasa di dalam dorongan kepada apa yang disebut eutanasia. Bahasa membukakan jalan. Bunuh diri (Ing. “suicide” atau “self-murder”) menjadi “mengakhiri kehidupan dengan belas kasih” (Ing. “mercy killing”). Siapakah yang berani menentang tindakan belas kasih? Tidak lama lagi orang-orang yang sepenuhnya duniawi akan melihat bunuh diri terasistensi sebagai tindakan belas kasih. Mereka yang menentangnya akan disebut orang-orang biadab yang tidak berperasaan dan tidak berbelas kasih.
Produk langsung dari postmodernisme di dalam ranah gereja adalah “gereja emergent.” Sebuah “gereja emergent” adalah perkumpulan yang tidak terorganisasi dan kacau dari orang-orang religius untuk menyembah sesuatu, tanpa menuruti perangkat aturan apa pun. Menarik orang banyak dan menyatukan mereka bersama adalah seorang pengkhotbah yang sesat tetapi berkarisma, yang berbicara dengan hangat kepada perasaan audiensnya. Dengan tidak mengetahui siapa yang mereka sembah, atau bagaimana, atau mengapa, orang-orang toleran terhadap semua allah, semua bentuk ibadah, semua doktrin, dan segala jenis perilaku.
“Gereja emergent” sangat populer. Di wilayah Grand Rapids, Michigan, yang bereputasi konservatif, ribuan laki-laki, perempuan, pemuda, dan anak-anak yang tadinya Reformed dan anggota-anggota dari gereja-gereja Reformed yang memiliki pengakuan iman, sekarang berjumpa bersama di dalam apa yang disebut sebagai ibadah di sebuah perkumpulan yang dengan tepat disebut Mars Hill.
Di dalam kasus ini pun bahasa membentuk realitas. Di dalam hal ini, bahasa tidak menjadikan realitas itu bereksistensi dari ketiadaan, tetapi dari apa yang menjadi lawan dari realitas itu. Para teolog postmodernis mengucapkan kata-kata, maka kumpulan orang banyak yang murtad pun menjadi “gereja emergent.”
Perealisasian Nubuat Alkitab
Orang yang mengenal Kitab Suci tidak akan dikejutkan oleh postmodernisme. Postmodernisme adalah penggenapan nubuat Alkitab tentang akhir zaman.
Kedurhakaan
Postmodernisme memenuhi nubuat tentang kedurhakaan di akhir zaman. Kristus menubuatkan kedurhakaan ini di dalam Matius 24:12: “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Secara harfiah, “kedurhakaan” adalah tidak menaati hukum. Di akhir zaman, sesaat sebelum kedatangan kembali Kristus, kedurhakaan akan meraja lela.
Di dalam 2 Tesalonika 2:8, Antikristus, yang akan memimpin kerajaan dunia yang melawan Kristus, disebut “si pendurhaka,” yang secara harfiah berarti “dia yang tidak menaati hukum.” Kuasa Antikristus atas kerajaannya menentukan bahwa kedurhakaan akan menjadi ciri seluruh kerajaannya.
Kedurhakaan adalah ketidakteraturan dan kekacauan. Ini bahkan bukan sekadar ketidaktaatan seorang kriminal terhadap hukum tertentu yang berlaku di dalam masyarakat yang ia ketahui tetapi sengaja langgar.
Kedurhakaan di akhir zaman adalah penghapusan setiap dan semua hukum ilahi, dan penciptaan aturan-aturan oleh manusia bagi perilaku yang dengan sengaja dan penuh kekerasan melawan dan menginjak-injak hukum Allah.
Kedurhakaan adalah tuntutan: Sembahlah manusia!
Kedurhakaan adalah titah: Bunuhlah bayi-bayi di dalam kandungan!
Kedurhakaan adalah dekrit: Hormatilah hubungan seksual dua orang laki-laki, atau dua orang perempuan, sebagai lembaga pernikahan yang kudus dan baik!
Mengilahikan Manusia
Postmodernisme menggenapi nubuat Alkitab bahwa pada akhir sejarah manusia akan mengilahikan manusia, artinya meninggikan dan menghormati manusia sebagai Allah. Surat 2 Tesalonika 2:3–4 menubuatkan adanya Antikristus di masa depan yang merupakan seorang pribadi—“manusia durhaka, yang harus binasa”—sebagai “lawan yang meninggikan diri,” bukan hanya di atas Allah yang sejati, tetapi juga “atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah.” Di tempat Allah, dan tempat semua allah, ia akan “menyatakan diri sebagai Allah.”
Antikristus akan menyangkali adanya keberadaan supernatural apa pun, yang adalah objek ibadah dan pelayanan yang sesungguhnya bagi manusia. Sebaliknya, ia akan menegaskan, dan membuktikan dengan berbagai cara, bahwa manusia adalah keberadaan tertinggi—“Allah”—dan bahwa dia, Antikristus, adalah apoteosis (pengilahian) manusia, yang adalah Allah.
Sesuai dengan ajaran 2 Tesalonika bahwa kedatangan Antikristus akan mengilahikan manusia, dan dengan demikian dirinya sendiri, adalah nubuat Wahyu 13. Pasal ini menubuatkan kedatangan binatang (Antikristus) sebagai sebuah kerajaan dunia di dalam perlawanan dengan kerajaan dunia milik Kristus. Binatang itu “membuka mulutnya untuk menghujat Allah, menghujat nama-Nya” (ay. 6). Ayat 8 menambahkan bahwa “semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya (binatang ini), yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih.”
Di sini kita mengingat bahwa postmodernisme mempromosikan gagasan, dan memajukan tujuan, bahwa manusia adalah Allah, di dalam bentuk negara. Sementara modernisme bersifat individualistik, postmodernisme bersifat statis (terkait negara). Kekuasaan adalah nama permainan kaum postmodernis, dan kekuasaan berdiam di dalam Negara (Ing. State). Negara memiliki otoritas dan kuasa untuk menentukan kebenaran dan realitas. Negara harus memberi makna kepada semua kehidupan. Negara adalah penyelamat umat manusia. Individu memiliki eksistensi dan arti penting hanya sebagai satu anggota dari Negara. Di dalam bahasa postmodernisme, individu hanyalah sebuah “nodus” di dalam Negara yang merupakan tubuh.
Kitab Suci menubuatkan Negara (-dunia) yang diciptakan oleh postmodernisme: durhaka, menyangkali Allah, meninggikan manusia.
Kerajaan yang akan datang dari manusia yang diilahikan ini, yang dipromosikan secara agresif oleh postmodernisme, akan menjadi kerajaan milik naga itu, menurut Wahyu 12 dan 13, yaitu kerajaan Satan. “Dan naga itu memberikan kepadanya (Antikristus) kekuatannya, dan takhtanya dan kekuasaannya yang besar” (ay. 2). Melalui manusia durhaka, Satan memerintah dunia. Dengan menghujat manusia, Satan menghujat Allah dan nama-Nya, Yesus Sang Kristus. Di dalam manusia yang diilahikan, Satan disembah.
Postmodernisme adalah perkembangan kontemporer dan canggih dari dosa asal manusia—dosa fundamental kita—karena kerajaan Antikristus akan menjadi perkembangan yang sepenuhnya dari dosa itu.
Isunya dari permulaan adalah ini: Siapakah Allah? Siapakah yang menentukan kebenaran dan realitas? Siapakah satu-satunya yang menciptakan realitas? Siapakah yang memberi makna bagi segala sesuatu? Siapakah yang memutuskan benar dan salah, baik dan jahat?
Di dalam ketidaktaatan Adam, manusia menjawab, “Manusia!” Manusia memutuskan bahwa memakan buah dari pohon yang dilarang adalah baik dan benar bagi manusia.
Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik … sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik … ia mengambil dari buahnya … dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya” (Kej. 3:6).
Keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat tentang aborsi, persetujuan di Amerika Utara terhadap semburit (sodomi), dan akan tibanya penyembahan kepada Negara Antikristen dan Fuhher, atau perdana menteri, atau presiden, atau kaisar, atau kepalanya, hanyalah pengejawantahan dari keputusan Adam (dan keputusan kita) untuk memakan buah yang telah Allah larang.
Inilah kefasikan yang berkembang pada masa dan dunia kita, dan terhadapnya gereja dan orang percaya Reformed memiliki panggilan.
Panggilan bagi Gereja dan Orang Percaya
Orang-orang percaya Reformed harus bersyukur kepada Allah bahwa Ia telah melepaskan mereka dan anak-anak mereka dari kebodohan, keputusasaan, dan kefasikan yang menghujat yang ada di dalam postmodernisme, yaitu dari pemberontakan penghapusan kebenaran.
Seorang pengkritik terhadap postmodernisme, yang bukanlah seorang Kristen, telah menulis hal berikut tentang postmodernisme:
Postmodernisme bisa dikatakan sebagai filsafat yang paling meresahkan yang pernah muncul dari pikiran Barat. Sulit untuk berbicara tentang postmodernisme karena tidak seorang pun yang benar-benar memahaminya. Postmodernisme begitu sulit digenggam sampai-sampai mustahil untuk mengartikulasikannya. Tetapi apa yang pada dasarnya dikatakan oleh filsafat ini adalah bahwa kita telah mencapai titik akhir sejarah manusia. Bahkan tradisi kaum modernis berupa kemajuan dan ekstensi yang tiada henti dari batasan-batasan inovasi telah mati sekarang, dan resistensi terhadap status quo adalah mustahil karena revolusi pun sudah mati sekarang. Suka atau tidak, kita, manusia, terjebak di dalam sebuah krissis makna yang permanen, sebuah kamar gelap dari mana kita tidak pernah bisa meloloskan diri.8
Banyak kaum postmodernis adalah kaum nihilis total. “Nihilisme” adalah sebuah kata filsofis bagi pengalaman mengerikan yang diungkapkan di dalam Kitab Pengkhotbah melalui ratapan “kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.” Dan pengalaman kaum postmodernis akan ketiadaan makna dan keputusasaan kehidupan ini adalah hukuman Allah atas mereka. “Hidup terpisah dari Allah adalah kematian.”
Panggilan bagi gereja dan orang Kristen di hadapan postmodernisme adalah agar mereka juga bersiap bagi penganiayaan. Inilah panggilan bagi gereja di Amerika Utara, seperti halnya di negara-negara Barat lainnya, yang di waktu dulu pernah dianggap, dan mengangggap diri mereka sendiri, sebagai bangsa-bangsa Kristen.
Postmodernisme mendesakkan toleransi. Ini adalah kebajikan tertinggi postmodernisme, jika bukan satu-satunya kebajikan—toleransi terhadap keragaman.
Tetapi toleransi bukanlah sebuah kebajikan Kristen. Toleransi adalah kebajikan dari orang-orang yang tidak memercayai apa pun. Orang Kristen memercayai sesuatu, dengan segenap hati dan jiwanya. Ia memercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan atas segala tuan dan satu-satunya Juru Selamat. Ia memercayai segala sesuatu yang telah Allah wahyukan sebagai kebenaran di dalam Firman-Nya, Kitab Suci. Maka, orang Kristen tidak toleran. Ia tidak toleran terhadap ajaran palsu, terhadap perilaku yang melawan hukum, dan, khususnya, terhadap penyembahan kepada allah lain apa pun selain Allah dan Bapa dari Yesus Kristus.
Ia tidak toleran terhadap postmodernisme.
Terhadap orang-orang yang tidak akan menoleransi berbagai penghujatan dan penyimpangannya, postmodernisme sangat intoleran. Postmodernisme melabeli ungkapan-ungkapan intoleransi ini sebagai “kejahatan-kejahatan kebencian.” Kejahatan harus dihukum, dan postmodernisme telah mengikat pinggangnya, mengumpulkan otoritas, untuk menjalankan hukuman. Dakwaannya akan berupa, “Musuh-musuh Negara ilahi!” “Pembenci Kemanusiaan ilahi!” Dan yang lebih buruk lagi, “Fanatik intoleran!”
Ketika Negara postmodern menghancurkan gereja sejati yang terlembaga, dan memenjarakan dan membunuhi orang-orang kudus, Negara ini akan berpikir telah melayani Allah (Yoh. 16:2).
Merupakan panggilan mendesak bagi gereja dan orang percaya agar mereka berjaga-jaga terhadap pengaruh postmodernisme atas diri mereka sendiri. Ini bukan peringatan kosong. Postmodernisme sudah merebak di dalam bangsa-bangsa Barat. Dan orang-orang percaya memiliki natur postmodern yang rusak.
Bukti untuk pemikiran dan perkataan postmodernis adalah seruan untuk menoleransi doktrin-doktrin palsu dan cara-cara kehidupan yang fasik; panggilan untuk menghormati kesalahan-kesalahan doktrinal dan etis, hanya sebagai opini-opini yang berbeda; saran untuk mengesampingkan “kebenaran proposisional”; meminimalkan arti penting “pengetahuan kepala,” demi “pengetahuan hati”; penekanan pada ritual alih-alih pengajaran doktrinal; penekanan pada perasaan, pengalaman, dan mistikisme; dan penentuan keanggotaan gereja bukan dengan tanda-tanda objektif dari gereja sejati, tetapi dengan kriteria subjektif berupa apa yang dirasakan nyaman bagi anggota gereja.
Gereja dan orang percaya harus berketetapan untuk mengetahui, mempertahankan, dan membela iman Kristen, berdasarkan Kitab Suci yang diinspirasi, berotoritas, dan bisa diketahui.
Saya tidak akan mengatakan bahwa Injil Yesus Kristus, sebagaimana diwahyukan di dalam Alkitab dan teringkas di dalam kredo-kredo ekumenis dan Reformed adalah satu-satunya metanarasi, karena dengan berkata demikian saya akan memberi peluang bagi postmodernisme untuk menciptakan kebenaran mengenai Alkitab dan Injil; tetapi saya akan mengatakan bahwa Injil Yesus Kristus adalah satu-satunya wahyu Allah yang benar, berotoritas, dan menyelamatkan, mengenai segala sesuatu.
Injil menyatakan Allah sebagai sang kebenaran dan sang realitas.
Sebagai Firman Allah, Injil memberi makna bagi alam semesta, bagi segenap sejarah, dan bagi kehidupan setiap manusia—makna ultimat bagi kehidupan setiap manusia, entah sebagai pemberontak yang melawan Allah, yang akan binasa secara kekal, atau sebagai sahabat Allah, yang akan hidup bersamanya untuk selama-lamanya.
Dan Injil ini, yang diwahyukan di dalam Kitab Suci, telah melepaskan kita secara penuh anugerah dan penuh kuasa dari kedurhakaan, kebodohan, pemberontakan, ketiadaan makna, dan keputusasaan—dan kesalahan—keadaan alamiah kita, karena ini adalah Injil Yesus Kristus Tuhan kita.
“Apakah kebenaran itu?” tanya Pilatus dengan sinis dan putus asa.
Pilatus menanyakan ini kepada Dia, yang berkata, dan berkata dengan benar, “Akulah … kebenaran,” dan yang dengan demikian adalah juga “jalan” dan “hidup” (Yoh. 14:6)!
Untuk bahan-bahan lain dalam bahasa Indonesia, klik di sini.

