Menu Close

Bagian 1: Bab 5 – Revolusi Seksual

       

David J. Engelsma

Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN! Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.

      

Introduksi

Bangsa-bangsa di Barat sedang mengalami revolusi seksual.

Pernikahan sedang mengalami kehancuran. Perceraian semakin mudah terjadi, semakin meningkat frekuensinya, dan semakin diterima; semakin marak laki-laki dan perempuan yang hidup bersama dan melakukan hubungan seksual di luar pernikahan; dipromosikannya ketidaksenonohan—“pencarian pasangan untuk melakukan seks” dan dukungan bagi sodomi dan lesbianisme—setiap kejahatan ini, baik secara masing-masing maupun bersama-sama, adalah serangan yang terkalkulasi dan efektif melawan lembaga pernikahan yang ditetapkan secara ilahi.

Semua perkembangan seksual ini merupakan sebuah revolusi. Semuanya ini bukan hanya perkembangan dosa, dengan rujukan khusus kepada ketidaksenonohan, dengan akhir berupa penuhnya cawan murka oleh dunia manusia yang reprobat dan fasik, walaupun semuanya itu adalah salah satunya.

Tetapi apa yang sedang kita saksikan adalah sebuah revolusi seksual. Kita sedang menyaksikan ditumbangkannya tatanan lama, di mana bahkan dunia yang fasik (dengan pengecualian Hollywood dan sejumlah lingkaran tertentu yang bobrok di London dan Paris) memandang pernikahan sebagai hal yang benar dan niscaya, memandang perceraian sebagai hal yang negatif, mencela relasi-relasi seksual di luar pernikahan, dan bahkan malu untuk menyebut kata “homoseksualitas.” Sebagai pengganti tatanan lama sekarang tercipta sebuah tatanan baru, di mana pernikahan diolok-olok, ketidaksenonohan dipromosikan, dan homoseksualitas didukung oleh mahkamah hukum tertinggi di negara-negara itu, termasuk oleh mahkamah-mahkamah gereja.

Revolusi-revolusi menyebabkan perubahan-perubahan radikal. Kita yang berusia enam puluh atau tujuh puluh tahun telah hidup melalui perubahan-perubahan di dalam pekara seks ini. Empat puluh tahun yang lalu, di dalam sebuah khotbah tentang Perintah Ketujuh, yang disampaikan di sebuah kongregasi kecil di daerah pedesaan di sebelah barat Amerika Serikat, saya berbicara tentang “persetubuhan seksual.” Setelah khotbah itu, seorang anggota kongregasi (yang kurang kritis) yang berusia lebih tua memberi tahu saya bahwa ketika mendengar istilah itu di dalam khotbah, “Saya hampir terjungkal dari bangku.” Pada masa itu, para hamba Tuhan tidak menggunakan kata-kata yang lugas seperti demikian. Sekarang keadaannya berbeda.

Revolusi-revolusi adalah kejadian terencana. Semuanya diorkestrasi secara cermat, bukan terjadi begitu saja. Para revolusionaris meluncurkan revolusi-revolusi itu. Para revolusionaris ini memiliki tujuan.

Secara ultimat, revolusionaris seksual yang terbesar adalah Satan, walaupun ia sendiri, yang merupakan keberadaan roh, bernatur aseksual. Tujuannya dengan revolusi ini adalah menghancurkan kerajaan Yesus Kristus—gereja sejati yang terlembaga—dan, dengan demikian, menghancurkan saksi bagi Yesus Kristus di dalam dunia.

Para agen manusia yang Satan miliki adalah orang-orang berkedudukan tinggi dan berkuasa: para politisi, hakim, edukator, ilmuwan, petinggi di semua media—surat kabar, majalah, radio, televisi, video, film, dan buku—dan para pelayan dan theolog di banyak gereja.

Ada konspirasi revolusi.   Apa yang Crane Brinton katakan tentang revolusi-revolusi politis yang hebat di dalam sejarah berlaku pada revolusi seksual: “semuanya dicapai dengan badan-badan kecil namun terdisiplin, berprinsip, dan fanatik.”[1]

Sekitar sepuluh atau lima belas tahun silam, seorang pembawa acara radio Kristen yang konservatif di Virginia di dalam lingkaran Injili dan fundamentalis, memberi tahu saya tentang sebuah pertemuan khusus dan rahasia di Washington, D.C., antara para pemimpin Injili yang berpengaruh di Amerika Utara. Termasuk di dalamnya ada juga para anggota Kongres. Mereka bertemu untuk membahas rencana-rencana yang telah dibuat oleh pihak-pihak liberal yang berkuasa—rencana-rencana yang disadari oleh kaum konservatif dan Injili—bagi masa depan kehidupan masyarakat di Amerika Serikat, dan, dengan demikian, bagi masa depan Amerika Serikat. Rencana-rencana ini termasuk revolusi seksual. Pertemuan itu membuat kaum Injili terguncang.

Terkait rencana-rencana rahasia bagi revolusi seksual, saya tidak mendapatkan informasi orang dalam. Apa yang saya ekspos dan kutuk di dalam bab ini adalah pengeksekusian rencana-rencana itu, entah yang telah dierami di neraka, atau di dalam pertemuan-pertemuan terselubung Partai Demokrat di Amerika Serikat, atau bahkan juga konferensi-konferensi pihak sayap kiri dari Partai Republikan.

       

Menjelaskan Isu

Di bagian awal ini saya akan menjelaskan apa yang tidak akan saya lakukan di dalam bab ini. Terkait dosa seksual saya bukan menuding untuk mempersalahkan dunia yang fasik di luar sana yang berada di luar orang-orang Kristen Reformed, termasuk saya sendiri. Menurut ajaran Tuhan kita bahwa pemikiran-pemikiran dan keinginan yang kotor adalah perzinaan, maka kita semua bersalah karena melanggar Perintah Ketujuh. Kita semua memiliki natur yang bobrok yang terdiri dari, antara lain, ketidaksucian, atau kejijikan seksual. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya” (Mat. 5:28).       

Anugerahlah yang menyelamatkan kita dari kebersalahan dan aib karena dosa seksual—kebersalahan kita dan aib kita karena dosa seksual. Tetapi anugerah ini mengerjakan pertobatan atas pelanggaran seksual dan kerusakan seksual pada natur. Anugerah ini memberikan pengampunan. Dan anugerah ini membersihkan, sehingga orang Kristen Reformed mengakui Perintah Ketujuh dari Taurat Allah sebagai perintah yang baik dan benar, melawan pencobaan, dan sudah barang tentu tidak terus melakukan dosa imoralitas.

Dengan revolusi seksual saya juga bukan merujuk kepada fakta bahwa banyak orang melakukan pelanggaran publik dan terang-terangan terhadap Perintah Ketujuh dari Taurat Allah, “Jangan berzina.” Sejumlah orang Kristen terjatuh di dalam dosa-dosa seksual seperti itu, entah percabulan sebagai orang yang belum menikah, atau perzinaan sebagai orang yang sudah menikah, atau bahkan sodomi dan lesbianisme. Daud, orang kudus Perjanjian Lama, dan seorang yang berkenan di hati Allah, melakukan perzinaan dengan istri orang lain (2Sam. 11–12).

Ada orang percaya Perjanjian Baru yang sudah dilahirkan kembali yang untuk suatu jangka waktu hidup di dalam hubungan seksual dengan istri ayahnya—pelanggaran yang begitu berat terhadap moralitas seksual yang bahkan malu untuk disebutkan di antara orang kafir (setidaknya pada masa itu) yang hanya memiliki hukum alam, “Memang orang mendengar, bahwa ada percabulan di antara kamu, dan percabulan yang begitu rupa, seperti yang tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan istri ayahnya” (1Kor. 5:1). Kita tahu bahwa orang yang berdosa itu adalah seorang yang percaya, karena disiplin gereja Korintus—mereka mengekskomunukasi dia—menyebabkan pertobatan dan pemulihan pada dirinya (2Kor. 2:1–11).

Dengan revolusi seksual saya juga bukan merujuk kepada peningkatan yang jelas pada kelonggaran yang diberikan bagi dosa seksual di dalam masyarakat yang fasik, baik masyarakat sekuler maupun masyarakat gereja.

Tetapi saya merujuk tepatnya kepada revolusi seksual: program yang pasti dan praktik yang terkalkulasi oleh kaum fasik yang reprobat, khususnya di Barat, di satu sisi untuk memuliakan seks sebagai hal yang ilahi—yang menjadi segala-galanya dan tujuan utama eksistensi manusia, sang dewi—dan di sisi lain merendahkan dan menurunkan nilai seks hanya menjadi tindakan jasmaniah semata seperti makan, atau bahkan sebagai tindakan yang menjijikkan dan rendah.

Dengan revolusi seksual saya merujuk kepada kedurhakaan yang bukan hanya mengubah apa yang wajar atau alami menjadi sesuatu yang “tidak wajar,” sebagaimana Paulus mendeskripsikan homoseksualitas di dalam Roma 1:26, tetapi juga mengubah sebuah ciptaan Allah yang baik, yang dimaksudkan untuk menghormati Dia, menjadi senjata yang kuat untuk melawan-Nya.

Dengan menggunakan jargon dari projek postmodernisme, kita bisa mendeskripsikan revolusi seksual sebagai “dekonstruksi” demonik terhadap seks.

       

Signifikansi Seks

Untuk memahami revolusi seksual, bahkan untuk mengenali revolusi itu, kita harus memahami signifikansi seks. Saya berbicara tentang signifikansinya secara sengaja—makna seks dan dengan demikian tujuannya. Postmodernisme, yang adalah kedurhakaan pada akhir zaman yang menggerakkan revolusi seksual, menyatakan bahwa tidak ada hal apa pun, termasuk natur seksual laki-laki dan perempuan, yang memiliki makna dan tujuan inheren berdasarkan kehendak Allah. Menurut postmodernisme, manusia sendirilah, khususnya sebagai masyarakat secara keseluruhan, yang memberikan makna kepada seks.

Jika manusia adalah hasil natural dan aksidental dari evolusi Darwinian, seks hanyalah dorongan alami untuk bereproduksi. Maka aturan-aturan lama Kristen tentang seks di dalam kenyataannya hanyalah upaya orang-orang, terutama laki-laki, untuk melindungi keluarga demi keturunan mereka (yang di dalam kenyataannya bukanlah pemikiran yang bodoh).

Jika masyarakat pada abad kedua puluh satu yang sudah maju ini menilai bahwa seks bisa dan seharusnya dipandang hanya sebagai tindakan yang memberi kesenangan dan oleh karena itu harus dibebaskan dari batasan-batasan Kristen yang lama dan represif, sehingga mendukung kebebasan seksual yang sebesar-besarnya dan tidak terkekang, maka itulah yang menjadi kebenaran tentang seks.

Sekitar tiga puluh tahun yang lalu, di tengah kondisi di bawah tekanan, psikologi yang terorganisasi memutuskan bahwa homoseksualitas bukanlah suatu abnormalitas (yang selalu menjadi penilaian resmi psikologi dan psikiatri), tetapi sepenuhnya normal. Maka homoseksualitas langsung menjadi senormal heteroseksual.

Masyarakat Barat belakangan ini memutuskan bahwa kesucian itu merupakan represi terhadap para remaja. Karena putusan yang hebat ini, percabulan kaum muda yang marak telah menjadi aspek yang diterima dari kehidupan pemuda yang sehat di Amerika Serikat. Bahkan percabulan oleh kaum muda dipromosikan, oleh organisasi-organisasi kesehatan nasional, oleh sekolah-sekolah negeri, oleh media, dan oleh orang tua. “Bagikan kondom!” Dan, “bunuh saja akibat-akibatnya!”

Semua kebebalan yang congkak ini melawan signifikansi seks sebagaimana ditetapkan oleh Sang Pencipta—Allah yang tritunggal, esa, hidup, dan sejati. Allah telah menentukan makna dan tujuan seks—kebenarannya. Ia menentukan kebenaran tentang ses dengan menciptakan ras manusia seperti yang telah dilakukan-Nya. Ia menyatakan kebenaran tentang seks baik di dalam alam maupun di dalam Kitab Suci. Melawan signifikansi seks yang telah Allah berikan inilah dunia yang fasik memberontak pada saat ini.

       

Keintiman Pernikahan

Seks adalah satu aspek dari pernikahan. Seks adalah bagian eksklusif dari relasi pernikahan. Seks adalah ungkapan dan penikmatan akan keintiman hubungan kasih yang unik yang disebut pernikahan. Allah telah membuat kebenaran ini—kebenaran yang inheren, objektif, dan mutlak tentang seks melalui penciptaan-Nya akan ras manusia sebagai laki-laki dan perempuan (Kej. 1–2). Allah langsung mempersatukan laki-laki dan perempuan itu di dalam pernikahan (Kej. 2:18–25). Pada kesempatan itu, Ia memberkati mereka dengan keberbuahan yang wajar dari relasi seksual di dalam ikatan pernikahan: “Allah memberkati mereka….: ‘Beranakcuculah dan bertambah banyak …’” (Kej. 1:28).

Kebenaran bahwa seks adalah satu aspek yang terhormat dari pernikahan tersirat di dalam kata-kata yang mengakhiri kisah pelembagaan ilahi akan pernikahan pada hari keenam dari minggu penciptaan: “Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu (yaitu laki-laki dan perempuan yang sekarang sudah menikah), tetapi mereka tidak merasa malu” (Kej. 2:25).

Yesus Kristus telah menegaskan bahwa seks sebagai satu aspek dari pernikahan seorang laki-laki dan seorang perempuan adalah ketetapan preskriptif bagi ras manusia: “Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan … keduanya itu menjadi satu daging … mereka bukan lagi dua, melainkan satu [daging]” (Mat. 19:4–6).

Kebenaran tentang seks ini, sejak pasal-pasal pertama Kitab Kejadian, bersifat historis. Memasukkan pasal-pasal ini ke dalam ranah mitos, atau kiasan, atau tidak-historis, berarti menghilangkan kebenaran tentang seks, dan juga kebenaran tentang pernikahan dan keluarga. Setelah tunduk kepada kedurhakaan yang terjadi pada masa kita dengan memandang Kejadian 1–11 sebagai mitos, banyak gereja sekarang tidak berdaya untuk melawan revolusi seksual.

Kitab Kidung Agung melantunkan kebenaran tentang seks sebagai sebuah aspek yang terhormat dari pernikahan yang menyenangkan. Mengklaim sebagai kidung terbaik yang pernah dinyanyikan (demikianlah kekuatan superlatif dari deskripsi ‘kidung agung,’ di dalam ayat pertama kitab ini), Kidung Agung merayakan kasih pernikahan Raja Salomo dengan seorang perempuan, istrinya, gadis Sulam. Kasih ini secara jelas juga mencakup seks.

Aspek seksual dari pernikahan bukanlah satu-satunya tema Kidung Agung, bahkan bukan tema utamanya. Tetapi aspek seksual adalah sebuah tema, sebuah tema yang penting. Semua pernyataan dan konotasi seksual yang jelas dan sangat terhormat adalah bagian dari kasih pernikahan yang ditinggikan di dalam perkataan yang terkenal dari Kidung 8:6–7:

Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN! Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.

Penekanan Salomo, oleh penginspirasian dari Roh Kudus, bahwa seks adalah bagian dari pernikahan seorang laki-laki dengan seorang perempuan (dan juga pernikahan seorang perempuan dengan seorang laki-laki), semakin patut diperhatikan mengingat fakta bahwa Salomo sendiri melakukan banyak pelanggaran terhadap kebenaran tentang seks dengan kumpulan gundik-gundiknya.

Di seluruh Perjanjan Lama, ketika orang-orang merusak kebenaran tentang seks melalui poligami, firman Allah terus-menerus menegaskan bahwa peraturannya tetap tidak berubah: seorang laki-laki berelasi secara seksual dengan seorang perempuan di dalam pernikahan. Mazmur 128:3 memberi tahu kepada laki-laki yang takut akan Allah, “Istrimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur,” bukan “istri-istrimu akan menjadi seperti pohon-pohon anggur yang subur.” Maleakhi 2:14 hanya mengakui “istri masa mudamu,” yang merupakan “sekutumu dan istri seperjanjianmu.”

Di sejumlah tempat, Alkitab mengajarkan bahwa seks adalah satu aspek dari pernikahan dengan pernyataan-pernyataan yang jelas dan ancaman-ancaman yang eksplisit. Saya ingin menyoroti tiga perikop seperti demikian. Perikop yang pertama adalah 1 Korintus 7:1–5:

Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin, tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai istrinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri. Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap istrinya, demikian pula istri terhadap suaminya. Istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi istrinya. Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.

Perikop ini mengawali salah satu pasal paling penting mengenai pernikahan di dalam Alkitab. Perikop ini mengajarkan bahwa seks sebelum dan di luar pernikahan adalah “percabulan.” Untuk menghindari percabulan, laki-laki dan perempuan Kristen harus menikah. Seks dibatasi secara ketat hanya bagi pernikahan. Di dalam pernikahan, seks bukan hanya benar, tetapi juga sebuah kewajiban mutual: “Janganlah kamu saling menjauhi.”

Perikop yang kedua adalah Ibrani 13:4: “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezina akan dihakimi Allah.” “Tempat tidur” di dalam bahasa Yunaninya adalah koitee, yaitu persetubuhan seksual dengan semua hal yang terkait dengannya. Firman Allah mengumumkan bahwa persetubuhan seksual itu suci dan baik bagi semua dan istri Kristen di dalam pernikahan mereka. Di dalam aspek ini pun pernikahan itu “terhormat” dan sama sekali bukan aib, atau rendah, atau kotor.

Tetapi aktivitas dan hubungan seksual tidak tercemar hanya di dalam lembaga pernikahan. Hanya tempat tidur pernikahan yang tidak cemar.

Di luar ikatan pernikahan, seks menjadi urusan yang kotor, memalukan, tidak terhormat. Bagi orang yang belum menikah, seks di luar ikatan pernikahan adalah “persundalan,” yaitu percabulan. Bagi orang yang sudah menikah, seks di luar ikatan pernikahan adalah perzinaan, entah kenajisan seksual itu berbentuk “perselingkuhan,” atau berbentuk pernikahan kembali (sekalipun secara legal) setelah perceraian. Dan Allah akan menghakimi para pencabul maupun pezina dengan penghukuman dan kutuk.

Perikop yang ketiga adalah 1 Korintus 6:18: “Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.” Di sini konteksnya menjadikan jelas bahwa “percabulan” adalah dosa seksual bukan hanya bagi orang yang belum menikah, tetapi juga bagi orang yang sudah menikah. Di Korintus, kubangan kejijikan seksual pada masa sang rasul, sebagai sebuah kota yang mirip dengan San Francisco pada masa kita, laki-laki yang sudah menikah mengunjungi pelacur adalah kejadian sehari-hari. Karena seks adalah satu bagian hakiki dari pernikahan, maka seks di luar pernikahan—percabulan—mutlak merupakan dosa, dan dosa seks di luar pernikahan—sungguh pun sangat menjerat—begitu berat, maka sang rasul memperingatkan orang-orang Kristen untuk menjauhkan diri dari dosa itu.[2]

Karena Allah telah menjadikan seks sebagai satu aspek dari pernikahan, setiap ajaran, setiap hukum, setiap iklan, setiap lagu, dan setiap gambar yang mengizinkan atau mempromosikan seks di luar pernikahan bukan hanya sebuah kebohongan tentang seks, tetapi juga serangan terhadap pernikahan.

      

Fundamental bagi Keluarga

Kebenaran mutlak kedua tentang seks, yang ditetapkan oleh Allah dan yang dinyatakan di dalam alam maupun di dalam Alkitab, adalah bahwa karena seks adalah satu aspek penting dari pernikahan, seks bersifat fundamental bagi keluarga. Dengan ini saya memaksudkan bukan hanya bahwa relasi seksual suama dan istri biasanya menghasilkan anak-anak sebagai buahnya, yang kemudian suami-istri itu lindungi, cukupi kebutuhannya, dan asuh, tetapi juga bahwa kesetiaan seksual kedua orang tua kepada satu sama lain akan menjaga kehidupan keluarga. Jika pernikahan adalah fondasi keluarga, kesetiaan seksual antara suami dan istri adalah semen yang menjaga fondasi itu agar tetap teguh, mencegahnya dari keretakan.

Arti penting fundamental dari aspek seksual di dalam pernikahan bagi keluarga sudah jelas di dalam kisah Alkitab tentang pelembagaan pernikahan di dalam Kejadian 1:28. Allah memberkati pasangan yang menikah itu, Adam dan Hawa, dengan hubungan seksual yang juga memaksudkan anak-anak dan keluarga.

Allah membentuk struktur kehidupan manusia, bukan secara individualistis, tetapi dengan keluarga. Keluarga terdiri dari satu suami, satu istri, dan, biasanya anak(-anak).

Seperti inilah Allah menetapkan struktur masyarakat-masyarakat dan bangsa-bangsa—masyarakat-masyarakat yang duniawi dan bangsa-bangsa yang fasik—dengan providensi-Nya, dengan bekerja melalui ikatan darah dan keinginan akan kasih yang alami.

Seperti inilah Allah menetapkan struktur bangsa milik-Nya yang kudus, gereja Perjanjian Baru, sebagaimana Ia menetapkan struktur Israel Perjajian Lama: keluarga kovenan. Tentu saja ada pengecualian yang terhormat bagi orang-orang kudus yang tidak menikah, seperti yang Paulu sebutkan, dan bahkan puji, di dalam 1 Korintus 7:7–9, yang mencakup sang rasul sendiri. Tetapi aturan di dalam gereja Perjanjian Baru, sebagaimana di dalam Israel Perjanjian Lama, adalah keluarga.

Anugerah Allah yang menebus di dalam Yesus Kristus tidak mengabaikan, atau menolak, ketetapan pada saat penciptaan tentang keluarga, guna menyelamatkan gereja dengan cara yang murni individualistis—individu yang ini, individu yang itu, dan individu yang lainnya. Sudah pasti Allah tidak mengabaikan itu. Allah penebus adalah Allah penciptaan. Di dalam penebusan, Allah menghormati pekerjaan penciptaan-Nya. Di dalam menciptakan, Allah sedang mempersiapkan pekerjaan penebusan-Nya. Penebusan menguduskan keluarga, dan mengangkatnya ke dalam kerajaan Yesus Kristus.

Allah mengadakan gereja pilihan-Nya di dalam kovenan, anak-anak kerajaan dari ayah dan ibu yang percaya, atau, seperti yang Paulus izinkan di dalam 1 Korintus 7:14, terkadang anak-anak dari satu orang tua yang percaya. Kemudian Ia menggunakan kehidupan keluarga yang solid (solid antara lain karena kesetiaan seksual suami dan istri) untuk memperkaya para orang tua itu secara rohaniah (yang sering terabaikan di dalam pembelaan kita bagi keluarga kovenan) dan untuk melindungi dan membesarkan anak-anak (belum lagi manfaat-manfaat yang mengalir kepada cucu dan cicit di dalam generasi-generasi keturunan orang-orang yang takut akan Allah dan menaati perintah-perintah-Nya).

Struktur keluarga dari gereja di dalam kovenan lama, sebuah struktur yang dikuatkan oleh kesetiaan seksual suami dan istri, adalah pesan dari Mazmur 128:3: “Istrimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu!”

Struktur kehidupan Kristen di dalam gereja Perjanjian Baru juga sama, seperti yang jelas di dalam Efesus 5:22–6:4. Gereja terdiri dari, sebagian besarnya, para suami, yang mengasihi istri-istri mereka; para istri, yang tunduk kepada suami-suami mereka; para orang tua yang membesarkan anak-anak mereka di dalam asuhan dan teguran Tuhan Yesus; dan anak-anak yang, oleh anugerah kovenan dari Allah, menaati orang tua mereka di dalam Tuhan Yesus.

Oh, betapa sederhananya! Betapa jelasnya! Betapa sesuainya dengan pengalaman! Betapa diberkati oleh Allah!

Dan kebenaran mutlak tentang seks ini mengimplikasikan bahwa penyalahgunaan seks, yaitu penggunaannya yang berlawanan dengan kehendak Allah, menyebabkan kehancuran keluarga.

Anak-anak lahir tanpa seorang ayah di dalam kehidupan mereka, tanpa struktur keluarga yang solid.

Atau ketidaksetiaan seksual orang tua memutus pernikahan itu, dan dengan begitu menghancurkan keluarga.

Akibatnya, seperti yang kita lihat di dalam semua bangsa Barat, adalah kekacauan di dalam masyarakat dan penderitaan, bahkan kehancuran, anak-anak.

Sejarah Perjanjian Lama, yang dituliskan untuk menegur kita, memberi peringatan tentang konsekuensi-konsekuensi destruktif dari dosa seksual terhadap keluarga di dalam gereja. Bagaimana Daud, orang yang berkenan kepada Allah, membawa perpecahan, penderitaan, dan hukuman ke dalam keluarganya karena perzinaannya dengan istri laki-laki lain (2Sam. 11–13)!

      

Simbol Keintiman Rohaniah

Masih ada kebenaran absolut ketiga tentang seks—signifikansinya seperti yang ditentukan oleh Allah. Sebagai ungkapan keintiman pernikahan, seks menunjuk kepada, dan menyimbolkan, keintiman rohaniah Yesus Kristus dan gereja-Nya. Sebagai ungkapan, dan penikmatan, akan persatuan satu-daging yang unik dari pernikahan, hubungan kasih antara suami yang saleh dan istri yang saleh—hubungan seksual—hanyalah sebuah refleksi bumiah dan pudar dari kerinduan gereja yang sepenuhnya rohaniah akan Kristus dan kerinduan Kristus akan gereja, dan penggenapan kerinduan itu, di dalam komuni (persekutuan) kovenan anugerah.

Inilah tema utama, dan kabar baik, dari Kidung Agung. “Aku kepunyaan kekasihku, dan kepunyaanku kekasihku” (Kid. 6:3). Ya, dan, “Kepunyaan kekasihku aku, kepadaku gairahnya tertuju” (Kid. 7:10).

Inilah kebenaran yang menjadi inti dari perbandingan antara pernikahan kita dan pernikahan Kristus di dalam Efesus 5:31–32:

Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.

Dan bahkan ini pun belum menyatakan sepenuhnya kebenaran mutlak tentang seks. Sebagai sebuah aspek fundamental dari pernikahan, yang menggambarkan pernikahan yang sesungguhnya—pernikahan Kristus dan gereja kaum pilihan—hubungan seksual memiliki maknanya yang mendalam dan tujuannya yang tinggi dalam menunjukkan kepada orang-orang percaya sesuatu dari persekutuan yang indah itu—kehidupan kovenan—antara pribadi-pribadi Trinitas di dalam ke-Allahan.

Tidak ada hal apa pun yang bersifat seksual, karena tidak ada hal apa pun yang bersifat jasmaniah, di dalam keberadaan Allah. Para malaikat pun tidak bersifat seksual. Juga tidak akan ada seks di dalam surga pada kaum tebusan, meskipun mereka akan memiliki tubuh. Di dalam kebangkitan, tubuh kaum tebusan akan menjadi bersifat rohaniah. “Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga” (Mat. 22:30).

Tetapi ada persekutuan di dalam kasih antara Bapa dan Anak di dalam Roh Kudus. Persekutuan ini bukanlah bahwa Bapa ada bersama Anak, atau dekat dengan Anak, setidaknya bukan hanya ini atau terutama ini. Tetapi persekutuan itu adalah bahwa Bapa ada “di dalam” Anak, dan bahwa Anak ada “di dalam” Bapa. Inilah realitas Trinitarian yang misterius, yang di dalam theologi disebut “perchoresis.” “Sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau” (Yoh. 17:21). Persekutuan rohaniah yang erat dan mendalam dari Roh tritunggal ini, yang adalah Allah, seperti persekutuan Kristus dan gereja-Nya, begitu bergairah, bersukacita, penuh kegirangan, dan memuaskan.

Persekutuan ini jugalah—persekutuan di dalam kasih yang bergairah, penuh kegirangan, dan memuaskan—yang diungkapkan dan direalisasikan oleh seks di dalam pernikahan, seperti yang terlihat jelas di dalam Kidung Agung. Seks bukan hanya sarana yang niscaya untuk menghasilkan anak-anak [kovenan].

Di dalam terang kebenaran ketiga tentang seks ini, semua penyimpangan dari signifikansi seks yang ditetapkan oleh Allah, dan praktik ketidaktaatan yang mengikuti penyimpangan itu, sudah pasti merusak kebenaran tentang kovenan anugerah dan kebenaran tentang ke-Allahan ini.

Melawan signifikansi rangkap tiga dari seks inilah dunia Barat sedang melakukan revolusi secara terbuka.

       

Revolusi Itu

Sudah sangat jelas bahwa apa yang sedang kita saksikan di Barat adalah upaya yang disengaja, sepenuh daya, dan radikal untuk meruntuhkan tatanan Kristen lama terkait seks, yang ditujukan untuk membangun tatanan baru yang sekuler dan demonik.

Pada puncak Revolusi Prancis, yang merupakan sebuah peristiwa historis yang berperan penting dalam membawa peradaban Barat ke dalam keadaannya yang sekarang (semua revolusi memiliki akar-akarnya di dalam sejarah masa lalu), laki-laki dan perempuan melakukan orgi percabulan di tempat kudus dan di bangku-bangku katedral di Paris. Itu lebih dari sekadar perilaku yang mesum. Itu adalah sebuah deklarasi, sebuah manifesto, melalui tindakan, dari kebebasan terhadap hukum Allah, dari independensi terkait seluruh kekangan ilahi, dari revolusi, bukan hanya melawan raja, imam, dan rejim kuno, tetapi juga, dan terlebih khususnya, terhadap Sang Pencipta.

Juga, ketika Richard Dawkins, biolog asal Britania, yang merupakan salah seorang yang sangat memusuhi Allah Kekristenan, memberikan “Sepuluh Perintah yang sudah di-amandemen” miliknya sendiri di dalam bukunya, The God Delusion, inilah perintah pertamanya: “Nikmatilah kehidupan seksmu sendiri (selama tidak merugikan orang lain), dan biarkan orang lain menikmati kehidupan seks mereka sendiri secara pribadi apa pun kecondongannya, yang bukanlah urusanmu.”[3] Dengan menjadikan ini sebagai perintah pertama dari apa yang secara sengaja disebut sebagai “Sepuluh Perintah” Dawkins, maka sudah jelas terlihat bahwa ketetapann tentang kebebasan seksual bukan hanya menghapus Perintah Ketujuh dari Sepuluh Perintah Allah yang sesungguhnya, tetapi juga Perintah Pertama.

Tentu saja, asumsi bahwa kebebasan seksual tidak merugikan siapa pun adalah benar-benar omong kosong, dan dibuktikan sebagai omong kosong oleh fakta-fakta yang kuat dari pengalaman manusia. Apakah dilahirkannya anak-anak yang tidak memiliki ayah tidak merugikan siapa pun? Apakah munculnya gang-gang di semua kota besar, dan bahkan semakin marak di kota-kota kecil, tidak pernah merugikan siapa pun? Apakah laki-laki yang gonta-ganti berhubungan dengan tidak tahu berapa banyaknya perempuan tidak merugikan para perempuan itu? Apakah penyebaran virus HIV dan semua penyakit seksual lainnya yang tidak terobati tidak pernah merusak siapa pun? Apakah pengenaan pajak-pajak yang lebih tinggi pada warga negara demi mendapatkan jumlah uang yang besar yang diperlukan untuk menyembuhkan AIDS dan membiayai perawatan kesehatan bagi orang-orang yang berperilaku seks bebas tidak merugikan warga negara pembayar pajak dan negara itu sendiri?

Sebagai pembohong di dalam hal eksistensi Allah yang merupakan perkara besar, Dawkins juga pembohong di dalam perkara-perkara yang lebih kecil seperti etika seksual.

Tetapi Dawkins memperkokoh barikade-barikade revolusi seksual.

Bahwa kaum intelektual Barat, termasuk seluruh sistem pendidikan negara, memaksudkan revolusi seksual sudah terlihat dengan jelas, ditambah lagi dengan pengadopsian dan penyebaran teori evolusi Darwinian. Ada alasan yang baik untuk memercayai bahwa tujuan utama Darwain dengan teori evolusinya persisnya adalah membebaskan laki-laki dan perempuan dari Perintah Ketujuh, dan bahwa ini jugalah yang menjadi alasan utama bagi penerimaan yang cepat dan luas atas evolusi. Tidak peduli apakah ini memang tujuan Darwin dan para sekutunya, hasil teori ini sama. Jika manusia hanyalah primata yang berevolusi, ia boleh memuaskan keinginan seksualnya sesuka hati. Jika Allah-Pencipta sudah terhapus, dan fondasi agama Kristen—penciptaan oleh Allah yang berdaulat—dinyatakan sebagai mitos, maka laki-laki dan perempuan boleh bercabul seperti binatang, atau seperti “keberadaan-keberadaan tertinggi” (yang menjadi hukum bagi diri mereka sendiri), menurut ajaran evolusi tentang diri mereka.

     

Program Revolusioner

Revolusi seksual maju dengan cepat mengikuti empat program yang saling terkait dan terkoordinasi.

Pertama, masyarakat-masyarakat dan bangsa-bangsa Barat sedang menghancurkan pernikahan, baik lembaga itu sendiri maupun jutaan pernikahan yang ada. Bersama penghancuran terhadap pernikahan itu, Barat menghancurkan keluarga. Pernikahan dan keluarga adalah sasaran utama revolusi itu. Pernikahan dan keluarga adalah kubu pertahanan terakhir dari struktur, soliditas, dan stabilitas di dalam masyarakat, dan juga benteng dari gereja sejati. Kedurhakaan akhir zaman berketetapan untuk merusak stabilitas semua masyarakat demi kepentingan negara Antikristen.

Hukum negara mengizinkan perceraian dengan mudah, dengan alasan apa pun. Media menjadikan perzinaan begitu gemerlap, menyenangkan, dan memuaskan. Gereja-gereja, termasuk yang menyatakan diri konservatif, dengan gigih menyangkal bahwa pernikahan adalah persatuan satu-daging untuk seumur hidup, dan menyetujui pernikahan kembali setelah perceraian. Sebagian besar menyetujui pernikahan kembali untuk orang-orang yang sudah bercerai dengan alasan selain perzinaan yang dilakukan oleh pasangannya, dan bahkan pernikahan kembali pihak yang bersalah, yaitu yang melakukan perzinaan.

Begitu banyak pernikahan diputus di dalam perceraian, dengan konsekuensi terurainya keluarga.

Dua puluh lima tahun yang lalu, profesor Allan Bloom, seorang bukan-Kristen dari University of Chicago, menulis bahwa perceraian

… Sudah pasti merupakan permasalahan sosial yang paling mendesak di Amerika. Tetapi tidak ada orang yang mencoba melalukan apa pun tentangnya. Arus pasang ini terlihat tidak bisa dilawan. Di antara banyak hal di dalam agenda pihak-pihak yang mempromosikan regenerasi moral Amerika, saya tidak pernah menemukan pernikahan dan perceraian.[4]

Dengan segala wawasannya, apa yang tidak terlihat oleh Bloom adalah bahwa kejahatan ini merupakan tujuan kaum durhaka di negeri ini, termasuk University of Chicago itu sendiri.

Kedua, bangsa-bangsa dan masyakat-masyarakat Barat bukan hanya tidak mencegah tetapi malahan secara aktif mempromosikan seks sebelum dan di luar pernikahan. Iklan, acara televisi pada jam tayang utama, film-film, musik populer, dan pendidikan di sekolah-sekolah negeri menyetujui dan mendorong pemuasan keinginan seksual yang kuat oleh anak-anak dan kaum muda.

Contoh-contoh dari kehidupan para pesohor—para idola dari dunia film, musik, olah raga, dan hiburan-hiburan lainnya—ditunjukkan secara glamor oleh media, yang semakin mendorong kehidupan seks bebas.

Mata pelajaran edukasi seks di sekolah-sekolah negeri memberikan ajaran terkait percabulan, termasuk percabulan sodomi dan lesbianisme.

Sedangkan pada orang-orang yang mengaku Kristen dan gereja-gereja Kristen nominal, para orang tua mengizinkan anak-anak mereka menyaksikan acara-acara, menonton film-film, mendengarkan musik, dan bersekolah di sekolah-sekolah negeri yang mengajarkan dan mendorong: “bercabullah! bercabullah! bercabullah!”

Gereja-gereja memainkan peran yang sangat perlu disesalkan di dalam revolusi seksual. Jelas-jelas meyakini bahwa kepuasan seksual lebih dipilih daripada hukum Allah, yaitu bahwa seks adalah allah, mereka menutup mata terhadap kaum muda mereka yang secara terang-terangan hidup bersama (kumpul kebo) sebelum dan di luar pernikahan; menyetujui pernikahan kembali para anggota mereka yang sudah bercerai (“Pastinya Allah tidak menghendaki siapa pun menyangkal diri secara seksual”); dan bungkam—di tengah-tengah revolusi seksual—terkait seruan Injil untuk kesucian, mungkin dengan pengecualian untuk meratapi, secara sangat umum dan netral, “kandasnya pernikahan di dalam masyarakat kita,” sehingga bisa menenangkan hati mereka sendiri.

Ketiga, bangsa-bangsa dan masyarakat-masyarakat Barat benar-benar berkubang di dalam pornografi. Pornografi, yang secara harfiah adalah tulisan yang berkaitan dengan pelacuran (pornee adalah kata Yunani untuk sundah di dalam 1 Korintus 6), adalah kenajisan seksual yang dihasilkan demi kesenangan orang yan membaca, mendengar, atau menonton kenajisan itu.

Orang-orang durhaka membanjiri Amerika Serikat dengan pornografi: majalah, video, film, televisi, kubangan hiburan dewasa, dan khususnya internet. Ketika mempersiapkan bab ini, saya memaksa diri untuk membaca sebuah studi akademis terkini yang diakui luas tentang pornografi, yaitu karya Pamela Paul, Pornified: How Pornography is Transforming Our Lives. Di sini saya cukup menyampaikan bahwa natur dan luasnya kenajisan seksual, yang tersedia bagi semua orang dan dinikmati oleh banyak orang, dan mayoritas oleh laki-laki, sangatlah mengerikan. Amerika Serikat sekarang adalah seperti Roma, Korintus, Sodom, dan Gomora kuno yang dijadikan satu, dan dikembangkan sampai ke ketinggian kejijikan seksual yang tidak pernah terbayangkan oleh orang-orang Kristen sejati.[5]

Asam pornografi sedang mengikis hubungan, jiwa, dan kehidupan banyak orang yang berkanjang di dalam ketidaksenonohan itu.

Keempat, bangsa-bangsa dan masyarakat-masyarakat Barat menyetujui dan mempromosikan homoseksualitas: sodomi dan lesbianisme. Kanada telah melegalkan “pernikahan” homoseksual (di dalam tanda kutip, karena tidak ada hubungan homoseksual yang mungkin dan bisa menjadi pernikahan, tidak peduli apa ketetapan negara atau gereja [palsu]; Allah telah menetapkan apa adanya pernikahan itu: persatuan seorang laki-laki dan seorang perempuan). Amerika Serikat tidak jauh ketinggalan, dan sedang mengerjakan undang-undang serupa. Bergantung pada hasil pemilihan umum nasional 2012, sangat mungkin akan ada hukum nasional yang mengakui “pernikahan” homoseksual, dengan berbagai ancaman hukuman bagi pihak-pihak yang melakukan “kejahatan kebencian” dengan secara terbuka mengutuk persatuan-persatuan yang menyimpang ini, di dalam empat tahun ke depan.

Tambahan lagi, media menabuh genderang demi legitimasi, bahkan kebaikan, homoseksualitas.

Bahkan para politikus yang dianggap konservatif dan berita-berita sayap kanan mengungkapkan persetujuan terhadap homoseksualitas, walaupun sebagian ragu untuk mendukung “pernikahan” homoseksual. Maka, tentu saja mereka menyetujui percabulan, yang merupakan seks di luar dan tanpa pernikahan.

Gereja-gereja dan gerejawan-gerejawan liberal adalah pendukung paling gigih bagi homoseksualitas. Beberapa gereja yang terkenal konservatif menyatakan bahwa “tendensi” atau “kecenderungan” homoseksual, yaitu hasrat homoseksual, adalah murni dan kudus, sekalipun untuk sementara waktu mereka melarang tindakannya—yang merupakan posisi yang salah secara doktrinal dan mustahil secara praktik.

Persetujuan yang tegas dan praktik yang terbuka oleh sebuah masyarakat bagi homoseksualitas merepresentasikan puncak perkembangan pemberontakan manusia yang telah terjatuh melawan Allah, dan juga titik nadir kemurtadan manusia yang rusak dari Allah, seperti yang Paulus ajarkan di dalam Roma 1:18–32. Kedurhakaan bergerak pesat sampai taraf yang sedemikian rupa sehingga secara membabibuta melawan hukum natural—hukum tentang laki-laki dan perempuan yang ditanamkan pada, dan dinyatakan oleh, alam sendiri di dalam tubuh-tubuh dari dua bagian jasmaniah yang fundamental dari umat manusia.

Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab istri-istri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan istri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka. (ay. 26–27).

Seperti peringatan yang diberikan oleh sejarah Sodom dan Gomora, akhir dari masyarakat homoseksual sudah begitu dekat di dalam murka Allah yang kudus (Kej. 19).

Di dalam seluruh revolusi seksual ini, kita mengamati sebuah hal yang ganjil dan kontradiktif. Di satu sisi, masyarakat yang pemberontak membangun satu allah seks. Sebagaimana sang rasul mengecam keras sejumlah orang pada masanya sebagai—“seteru salib Kristus”—yang “Tuhan mereka ialah perut mereka,” demikian juga kita pada saat ini mengecam keras banyak orang yang allahnya adalah organ seksual mereka. Dan entah laki-laki dan perempuan menyembah perut mereka atau organ seksual mereka, “kemuliaan mereka ialah aib mereka” (Flp. 3:18–19).

Penyembahan berhala pada abad kedua puluh satu adalah penyembahan kepada Manusia, dan penyembahan berhala selalu dibarengi dan dipromosikan dengan imoralitas seksual. Baal dan Asyera adalah ilah-ilah yang tidak senonoh, yang memperbolehkan dan bahkan mendorong kebebasan seksual.

Di sisi lain, masyarakat yang pemberontak menjadikan seks sebuah hal biasa, tidak berbeda dari makan dan minum. Itulah gagasan di Korintus ketika Injil tiba. Paulus melawan gagasan itu:

Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan…. Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh (1Kor. 6:13).

Seks bukan Allah, tetapi juga bukan fungsi tubuh yang biasa, seperti makan dan minum. Seks adalah hal yang khusus, yang menjadi bagian dari misteri pernikahan. Inilah makna seks, dan makna ini menentukan penggunaan dan penikmatannya.

Maka, gereja sejati dipanggil untuk mengajar, dan seperti ajaran itulah orang-orang percaya dan anak-anak mereka harus hidup, di tengah-tengah, dan berlawanan dengan, revolusi seksual.

 

Panggilan Gereja

Gereja sejati dipanggil untuk mengakui kebenaran tentang seks.

Gereja sejati harus mengajarkan signifikansi seks menurut Firman Allah.

Gereja sejati harus mengajarkan bahwa kaum muda Kristen yang belum menikah, dan semua orang percaya yang masih lajang, harus hidup di dalam kesucian, yaitu menahan diri dari relasi seksual, dan bahwa mereka mampu melakukan itu. “Sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku…. Jauhkanlah jalanmu dari pada [perempuan jalang], dan janganlah menghampiri pintu rumahnya” (Ams. 5:7–8). “Seorang istri tidak boleh menceraikan suaminya. Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya” (1Kor. 7:10–11).

Gereja sejati harus mengajari kaum muda untuk menikah, tidak menunda-nunda pernikahan terlalu lama, supaya mereka tidak sampai melakukan percabulan. “Bersukacitalah dengan istri masa mudamu” (Ams. 5:18). “Tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai istrinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri” (1Kor. 7:2).

Gereja sejati mengajarkan bahwa pernikahan adalah untuk seumur hidup, seperti yang dinyatakan dengan jelas oleh sang rasul tanpa menyisakan keraguan, di dalam 1 Korintus 7:39, meskipun (dikarenakan kekerasan hati manusia atau gelapnya pengertian mereka) tidak meniadakan semua kontradiksi: “Istri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya.”

Gereja sejati harus mengajarkan bahwa orang-orang yang sudah menikah harus saling setia secara seksual, yang merupakan implikasi positif dari Perintah Ketujuh.

Gereja sejati harus mengajarkan bahwa perceraian diizinkan—bukan diperintahkan—hanya dengan dasar ketidaksetiaan seksual salah satu pasangan. “Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina” (Mat. 5:32).

Gereja sejati harus mengajarkan bahwa semua pernikahan kembali setelah perceraian, ketika pasangan pertama masih hidup, adalah dilarang, karena pernikahan kembali yang demikian adalah perzinaan. “Setiap orang yang menceraikan istrinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zina; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zina.”

Gereja sejati harus mengajarkan bahwa aktivitas dan hubungan homoseksual adalah kekejian bagi Allah dan gereja-Nya, sehingga tidak seorang pun yang mempraktikkan sodomi atau lesbianisme yang boleh menjadi anggota gereja, atau akan masuk ke dalam kerajaan Allah pada hari Kristus.

Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! … banci, orang pemburit … tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (1Kor. 6:9–10).

Gereja sejati harus mengajarkan bahwa hawa nafsu homoseksual adalah dosa, sama seperti hawa nafsu seorang heteroseksual kepada seorang perempuan atau laki-laki lain yang bukan pasangannya di dalam pernikahan adalah dosa. “Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, … suami-suami … menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain…. Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk” (Rm. 1:26–28).

Seorang Kristen bisa mengalami hawa nafsu, atau “tendensi-tendensi,” homoseksual seperti orang Kristen lain mengalami hawa nafsu yang haram terhadap orang lain yang berjenis kelamin berbeda. Tidak ada bedanya entah hawa nafsu homoseksual itu dikarenakan kerusakan natur bawaan lahir seseorang, atau karena pengalaman-pengalaman di masa kecil; artinya, tidak ada berbeda entah hawa nafsu itu bawaan atau didapatkan. Seorang anak Allah bahkan mungkin telah mempraktikkan penyimpangan ini di masa lalu. Tetapi sebagai seorang anak Allah yang percaya dan dikuduskan, ia dipanggil oleh Allah untuk menyangkali dan menyalibkan hawa nafsu, atau “tendensi,” yang jahat itu dan menolak untuk tunduk kepadanya.

Untuk ini, anugerah Allah cukup. Di dalam 1 Korintus 6, sang rasul melanjutkan,

Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu (banci, orang pemburit, dua peran di dalam homoseksualitas). Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita (ay. 11).

Ketika Paulus, di dalam Roma 6:13, mengingatkan semua orang Kristen untuk tidak menyerahkan anggota-anggota tubuh mereka menjadi senjata kelaliman, ia juga memasukkan anggota tubuh seksual mereka.

Gereja harus mengajarkan bahwa setiap anggota, tua maupun muda, menikah maupun tidak menikah, dipanggil untuk menghindari dan menyalibkan pemikiran dan hawa nafsu yang tidak murni secara seksual, dan berpantang dari segala sesuatu yang membangkitkan pemikiran dan hawa nafsu seperti itu, entah di dalam diri sendiri atau di dalam diri orang lain. Ini termasuk kesopanan dalam berbusana.

Apakah Allah di dalam Perintah [Ketujuh] ini hanya melarang perzinaan dan dosa-dosa berat lainnya yang sejenis?

Karena baik tubuh dan jiwa kita adalah bait Roh Kudus, yang merupakan kehendak-Nya agar kita menjaga keduanya tetap murni dan kudus; oleh karena itu Ia melarang semua tindakan, sikap, perkataan, pemikiran, keinginan, dan hal apa pun yang tidak senonoh yang bisa menyeret orang ke dalam dosa itu (Katekismus Heidelberg, P. & J. 109).

Panggilan kepada gereja sejati untuk melawan revolusi seksual ini dengan mengakui kebenaran tentang seks mencakup tuntutan gereja kepada anggota-anggotanya sendiri untuk berjalan di dalam kebenaran, pendisiplinan gereja atas anggota-anggotanya yang mengajarkan atau hidup di dalam ketidaksenonohan, dan keberanian gereja untuk mengutuk kebohongan-kebohongan revolusi seksual. Pengakuan gereja sejati tidak boleh hanya positif, tetapi juga harus negatif secara tajam.

Di dalam konfliknya dengan revolusi seksual, gereja harus benar-benar waspada agar tidak terkecoh oleh permainan bahasa yang lihai yang dilakukan oleh para revolusionaris itu, yang merupakan bagian yang sangat penting dari revolusi tersebut. Gereja harus menyebut kejahatan-kejahatan seksual sesuai nama yang sebenarnya. Para laki-laki dan perempuan bukan melakukan “affair” (yang menyenangkan), mereka melakukan perzinaan (yang menjijikkan). Laki-laki yang melakukan seks bebas bukan “perayu perempuan” (setiap laki-laki Kristen yang sudah menikah adalah dan harus menjadi seorang perayu perempuan, di mana perempuan itu adalah istrinya), tetapi pecabul. Para homoseksual (yang mempraktikkan hubungan itu) bukan “gay”; mereka adalah pelaku sodomi, atau lesbian. Hubungan legal antara kaum homoseksual yang didukung oleh negara, entah yang sudah menjadi realitas di dalam bangsa-bangsa Barat, atau yang tidak terelakkan, bukanlah “pernikahan gay,” tetapi hubungan para pelaku sodomi dan lesbian.

      

Kesaksian Penderitaan

Ketika mengakui kebenaran Allah tentang seks, gereja mengetahui bahwa penganiayaan akan terjadi. Para revolusionaris menghancurkan dan membunuh pihak-pihak yang melawan revolusi itu. Semua revolusi menjalankan “kuasa teror.” Kebencian dari pihak-pihak yang mempromosikan homoseksualitas di Amerika Serikat terhadap pihak yang melawan mereka penuh dengan keinginan untuk membunuh.

Revolusi seksual membuat gereja menjadi sasaran. Semua lembaga lain entah dengan antusias bekerja sama dengan revolusi itu, atau menyerah kepadanya tanpa berkutik—media, partai-partai politik, pemerintah-pemerintah, dan gereja-gereja yang murtad. Satu lembaga, dan satu-satunya lembaga, yang melawan, tanpa kompromi dan gentar: kerajaan Yesus Kristus di bumi, yaitu gereja Yesus Kristus yang sejati, kasat mata, terlembaga, dan kudus.

Gereja ini harus menderita karena kesaksiannya bagi kekudusan Allah. Dua orang saksi akan mati “di atas jalan raya kota besar, yang secara rohani disebut Sodom”—Sodom (Why. 11:8)! Penderitaan gereja adalah satu aspek dari kesaksiannya.

Akan tetapi, dengan pengakuan dan pengajarannya, gereja menyelamatkan umat Allah yang terpilih di dalam keanggotaannya sendiri, khususnya anak-anak dan kaum muda di dalam kovenan.

Dengan kebenaran, gereja yang didandani dengan kemurnian, kesetiaan, dan keberaniannya mengumpulkan orang-orang lain, dari gereja-gereja yang sedang murtad dan dari dunia yang fasik, sebanyak yang telah Allah tetapkan untuk kehidupan kekal.

Dan gereja mempermuliakan Allahnya yang kudus di dalam dunia yang najis ini. Dengan demikian gereja menantikan kedatangan kembali Tuhan Yesus.

Revolusi seksual menandakan bahwa kedatangan kembali Tuhan sudah dekat. Kristus menyatakan bahwa bertambahnya kedurhakaan ini adalah satu tanda dari kedatangan-Nya kembali (Mat. 24:12). Ketika kota besar dari dunia yang fasik ini menunjukkan dirinya sebagai Sodom—sebagai Sodom—api akan segera turun, bumi akan terguncang, dan para saksi yang setia akan naik ke langit di hadapan semua orang (Why. 11).

Tuhan Yesus datang kembali untuk menghancurkan revolusi seksual itu, dan menghukum setiap revolusionaris. Revolusi itu akan gagal. Para revolusionaris akan dibinasakan, bukan oleh revolusi itu, tetapi oleh Allah yang mereka lawan. “Orang-orang keji … orang-orang sundal … akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua” (Why. 21:8).

Kristus kan memberi upah kepada mereka yang murni secara seksual, yang dibersihkan dari kenajisan seksual mereka sendiri oleh darah Sang Anak Domba. Upah itu adalah hidupnya kita bersama Kristus untuk selamanya di dalam keintiman dan sukacita dari pernikahan yang sesungguhnya.

Datanglah, Tuhan Yesus!

Untuk bahan-bahan lain dalam bahasa Indonesia, klik di sini.

______________________________________________

[1] Crane Brinton, The Anatomy of Revolution (New York: Random House, 1965), hlm. 155.
[2] Untuk penjelasan yang menyeluruh bagi 1 Koritnus 6 dan 7, lihat David J. Engelsma, Better to Marry: Sex and Marriage in 1 Corinthians 6 & 7 (Grand Rapids, MI: RFPA, 1993).
[3] Richard Dawkins, The God Delusion (London: Black Swan, 2007), hlm. 300.
[4] Allan Bloom, The Closing of the American Mind (New York: Simon & Schuster, 1987), hlm. 119.
[5] Pamela Paul, Pornified: How Pornography is Transforming Our Lives (New York: Times Books/Henry Holt, 2005).
Show Buttons
Hide Buttons