Herman Hanko
Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah (2Kor. 7:1).
Introduksi
Ayat pertama dari pasal 7 dari Surat 2 Korintus ini menyambung pembahasan pasal 6. Ayat ini merujuk kepada “janji-janji itu.” Janji-janji yang dimaksudkan adalah yang disebutkan di dalam ayat 16–18 dari pasal 6. Setelah sang rasul menyerukan separasi spiritual, janji-janji Allah dideskripsikan:
Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku … maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.
Makna 2 Korintus 7:1 jelas: “Karena kamu memiliki janji-janji itu, hiduplah di dalam kekudusan di hadapan Allah.” Jelas bahwa sang rasul menujukan teguran itu kepada umat kovenan Allah yang memiliki janji-janji itu. Penekanan pada umat kovenan Allah ini diperkuat lebih lanjut dengan sebutan yang Paulus berikan kepada para penerima suratnya: “saudara-saudaraku yang kekasih.” Mereka adalah saudara-saudara yang kekasih bagi Paulus karena orang-orang kudus secara bersama-sama adalah anak laki-laki dan anak perempuan Allah.
Umat kovenan milik Allah di sini dipanggil untuk hidup sebagai umat kovenan di dalam dunia.
Karakter Umum Panggilan Ini
Ketika mempertimbangkan teks ini secara keseluruhan, jelaslah bahwa panggilan ini adalah panggilan untuk menguduskan diri kita. Menguduskan berarti membuat menjadikan suci secara spiritual. Kedua bagian dari teguran ini menekankan ide ini: Menyucikan diri dari segala kecemaran sudah pasti adalah menjadikan diri kita suci atau kudus secara spiritual, dan menyempurnakan kekudusan tidak lain adalah rujukan kepada pengudusan.
Pengudusan adalah pekerjaan Allah yang ajaib. Kita terlahir di dalam keadaan mati karena pelanggaran dan dosa. Ketika Kitab Suci mendeskripsikan diri kita dari sudut pandang kelahiran dan kehidupan alamiah kita, tidak ada kata-kata yang diperhalus untuk mendeskripsikan kerusakan yang menakutkan pada natur kita dan perbuatan-perbuatan busuk yang mampu kita lakukan. “Tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak,” seru Mazmur 14:3. “Segala kesalehan (yaitu segala perbuatan terbaik) [kita] seperti kain kotor (kain menstruasi),” kata Yesaya 64:6. Setiap perbuatan yang kita lakukan adalah pekerjaan kebencian terhadap Allah dan penyangkalan terhadap kekudusan-Nya yang tidak terbatas. Dari sudut pandang spiritual, kita mati dan tidak pernah menunjukkan tanda-tanda kehidupan apa pun (Ef. 2:1).
Tetapi kita adalah umat kovenan milik Allah. Menjadi umat kovenan milik Allah berarti hidup di dalam persekutuan yang erat dengan Allah. Persekutuan ini adalah persekutuan yang di dalamnya Allah mengklaim kita sebagai milik-Nya sendiri dan kita mengklaim Allah sebagai milik kita. Ini dideskripsikan sebagai hubungan ayah dengan anak-anak: intim, penuh kasih, penuh berkat. Persekutuan ini menuntut kekudusan seperti kekudusan Allah sendiri. Petrus memanggil umat Allah untuk kudus seperti Allah sendiri adalah kudus (1Ptr. 1:15–16).
Pekerjaan agung yang menjadikan kita cukup kudus untuk bisa hidup di dalam persekutuan dengan Allah yang hidup disebut pengudusan. Kata ini sendiri berarti “menjadikan kudus.” Ini adalah satu bagian dari pekerjaan keselamatan yang Allah lakukan di dalam anugerah-Nya bagi umat pilihan-Nya. Ia memberi mereka kehidupan baru dengan meregenerasi (melahirbarukan) mereka. Ia mengimputasikan (memperhitungkan) kepada mereka kebenaran Kristus ketika Ia menjustifikasi (membenarkan) mereka. Ia memberi mereka karunia iman yang dengannya mereka dipersatukan dengan Kristus. Ia memelihara mereka di dalam dunia ini sebagai umat-Nya. Ia mempermuliakan mereka pada saat kematian dan pada saat kebangkitan tubuh. Ia juga menjadikan mereka kudus sebagaimana Ia adalah kudus: inilah pengudusan.
Pengudusan ini (seperti halnya semua berkat lain dari keselamatan) adalah pekerjaan Allah. Kita tidak bisa dan tidak menguduskan diri kita sediri. Setiap berkat yang kita terima diberikan oleh anugerah, dan anugerah adalah perkenanan yang bukan dikarenakan jasa kita. Allah secara berdaulat membawa kita ke dalam kovenan-Nya dan menjadikan kita umat kovenan-Nya.
Tetapi, kita dipanggil untuk menguduskan diri kita sendiri. Ini adalah dorongan yang jelas.
Bagaimanakah keduanya bisa sama-sama benar?
Kaum Arminian menjawab bahwa pengudusan adalah pekerjaan kooperatif di mana baik Allah maupun manusia melakukan bagian masing-masing. Faktanya, kaum Arminian bahkan sampai mengatakan bahwa inisiatifnya ada pada manusia, sehingga Allah bergantung pada keinginan manusia akan keselamatan sebelum Allah bisa bertindak. Semua ini adalah theologi yang umum, tetapi sepenuhnya berlawanan dengan Kitab Suci dan pengakuan-pengakuan iman. Kitab Suci menegaskan hal yang sebaliknya di dalam Filipi 2:12–13: “… tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar … karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”
Tidak ada keraguan bahwa ini adalah sebuah pekerjaan yang Allah lakukan, tetapi yang di dalamnya Ia mengikutsertakan kita. Cara Allah melakukan itu memang misterius. Ketika Kanon-Kanon Dordt berbicara tentang pekerjaan ini di dalam pembahasan tentang regenerasi dan konversi (pembalikan), kredo ini menyatakan bahwa pekerjaan itu “misterius dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata” (Kanon III/IV:12). “Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata” di dalam bahasa Inggrisnya adalah “ineffable,” yang berarti pekerjaan Allah ini tidak terkatakan. Tetapi Allah bekerja seperti demikian karena dengan mengikutsertakan kita di dalam pekerjaan-Nya, Ia menyebabkan kita mengalami pekerjaan-Nya yang penuh berkat itu di dalam takaran yang lebih besar lagi.
Panggilan untuk Menyucikan Diri Kita
Ayat ini menunjukkan dua sisi dari panggilan kita kepada kehidupan yang kudus: sisi yang satu adalah menyucikan diri kita dari semua kecemaran daging dan roh; sisi yang lainnya adalah panggilan kepada kekudusan yang sempurna. Yang pertama adalah sisi negatif; yang kedua adalah sisi positif.
Di dalam teks ini dipresuposisikan fakta bahwa sementara kita dijadikan kudus oleh pekerjaan pengudusan Allah, pekerjaan yang secara prinsipiel sudah digenapkan di dalam regenerasi kita, pekerjaan ini belum lengkap dan akan tetap tidak lengkap selama kita masih berada di dalam dunia ini. Hati kita diregenerasi; natur kita tetap rusak secara total. Atau, sebagaimana Kitab Suci terkadang berbicara tentang ini, regenerasi menciptakan seorang manusia yang baru di dalam Kristus, meskipun manusia yang lama tetap merupakan satu bagian yang kuat di dalam diri kita. Pergumulan kehidupan dan kematian yang hebat antara manusia yang baru dan manusia yang lama di dalam diri kita dideskripsikan secara dramatis oleh Paulus di dalam Roma 7:14–25. Kita adalah pengidap skizofrenik spiritual.
Ketika berbicara tentang perlunya menyucikan daging dan roh kita, ayat ini sama sekali tidak meniadakan bagian-bagian tertentu dari natur kita. Pastinya kita tidak dipanggil untuk menyucikan hanya natur-natur kita yang berdosa, sementara membiarkan yang lainnya diperhatikan hanya jika dimungkinkan di lain waktu. Tidak, istilah-istilah itu cukup untuk merujuk kepada seluruh natur kita.
Kitab Suci menggunakan kata “daging” (“jasmani” di dalam Alkitab TB) dengan cara-cara yang berbeda. Di dalam perikop ini, seperti halnya di semua bagian lainnya, istilah ini merujuk kepada seluruh natur kita, tubuh dan jiwa, tetapi dari sudut pandang kerusakan dan kebobrokan natur itu. Kata “roh” (“rohani” di dalam Alkitab TB) adalah rujukan kepada hubungan kita dengan Allah. Allah menciptakan manusia yang bertubuh dan berjiwa. Jiwa manusia terdiri dari dua kemampuan, yaitu pikiran dan kehendak. Semuanya sudah rusak di dalam manusia yang sudah terjatuh. Ketika Allah menciptakan manusia dari debu tanah, seperti Ia menciptakan binatang (Kej. 1:24–25), Ia membentuk manusia yang bertubuh dan berjiwa. Ketika Allah mengembuskan napas kehidupan ke dalam hidung manusia itu, Allah memberinya sebuah roh (Kej. 2:7).
Jiwa dan roh pada dasarnya adalah satu bagian dari manusia sebagai ciptaan rasional dan moral. Tetapi sementara “jiwa” merujuk kepada pikiran dan kehendak manusia, kata “roh” merujuk kepada fakta bahwa jiwanya diciptakan dengan cara sedemikian rupa sehingga ia memiliki hubungan dengan Allah. Sebagai ciptaan yang kudus, manusia mengenal Allah, mengasihi Dia, dan menikmati persekutuan dengan-Nya. Sebagai seorang yang berdosa, manusia membenci Allah, melakukan segala sesuatu yang berlawanan dengan kehendak Allah, namun tidak bisa lolos dari tanggung jawab atas apa yang ia lakukan.
Kedua aspek ini, daging dan roh, berkaitan di dalam aktivitas-aktivitas mereka. Jika daging tercemar dan najis, hubungan yang kita miliki dengan Allah adalah hubungan perseteruan dan kebencian. Penyucian daging juga akan berarti penyucian hubungan kita dengan Allah: sebuah hubungan kovenan yang teberkati.
Teguran ini kuat dan sangat penting. Daging dan roh kita tetap berdosa dan tercemar secara moral. Kita harus menyucikan keduanya: menyucikan yang satu untuk menyucikan yang lainnya. Perintah ini serius dan intens. Ini adalah satu-satunya cara untuk masuk ke dalam persekutuan kovenan dengan Allah, karena tidak ada ruang bagi orang-orang yang cemar di dalam tempat kediaman Allah.
Ada dua implikasi yang tertanam di dalam teguran ini. Yang pertama terimplikasi di dalam kata “menyucikan.” Penggunaan kata ini oleh Kitab Suci sering kali merupakan rujukan kepada kuasa darah Kristus untuk menyucikan. Sungguh, kuasa untuk menyucikan hanya bisa ditemukan di dalam darah Kristus. Darah Kristus tercurah di salib sebagai pelunasan yang sempurna bagi utang kita kepada Allah, utang yang hanya bisa dilunasi dengan kekekalan di dalam neraka. Di Kalvari, Kristus, Anak Allah yang kekal di dalam daging, menderita menggantikan kita dan melunasi utang kita. Maka, kita menyucikan diri dari kecemaran daging dan roh kita dengan pergi ke Kalvari dan memegang kurban Kristus yang sempurna sebagai milik kita sendiri melalui iman kepada-Nya.
Kedua, kita menyucikan diri kita dengan berjalan (hidup) di dalam kuasa salib di dalam panggilan kita setiap hari. Kristus telah mati bukan hanya untuk melunasi dosa-dosa kita, tetapi juga untuk mendapatkan bagi kita kuasa spiritual untuk melakukan kehendak Allah. Ketika kita melalui iman bersandar hanya pada salib dan berpegang pada apa yang Kristus dapatkan bagi kita melalui penderitaan dan kematian-Nya, kita melawan kecemaran yang tetap ada pada kita dan kita setiap hari merendahkan diri di hadapan Allah di dalam pertobatan yang sejati.
Panggilan kepada Kekudusan yang Sempurna
Bagian positif dari panggilan kita adalah kepada kekudusan yang sempurna di dalam takut akan Allah.
Kata “menyempurnakan” berasal dari sebuah kata Yunani yang berarti “tujuan akhir” di dalam arti sasaran yang dicapai. Tujuan akhir dari sebuah perang adalah tercapainya sasaran berupa dikalahkannya musuh. Tujuan akhir dari perlombaan maraton adalah tercapainya sasaran berupa mencapai garis akhir dari perlombaan tersebut. Menyempurnakan kekudusan berarti mencapai kekudusan yang lengkap dan sempurna.
Kita tidak akan mencapai sasaran itu di dalam kehidupan di bumi ini, tetapi kekudusan yang sempurna sudah pasti akan menjadi milik kita ketika kita mati dan jiwa kita pergi ke surga, dan ketika Kristus datang kembali untuk membangkitkan tubuh kita untuk menjadikannya seperti tubuh-Nya sendiri di dalam kemuliaan.
Meskipun demikian, kita harus berjuang untuk sasaran itu. Kita tidak pernah bisa puas dengan penyucian parsial (sebagian) dari kecemaran moral dan spiritual. Bagaimanapun, kekudusan parsial adalah hal yang mustahil. Tubuh yang hanya dibasuh secara parsial di kamar mandi adalah tubuh yang tidak bersih. Sebagian kotoran memang terbasuh, tetapi orang itu tetap kotor. Demikian pula halnya dengan kekudusan. Kekudusan parsial adalah oksimoron, kontradiksi di dalam istilah-istilah. Allah melakukan pekerjaan yang lengkap yang telah Ia mulai di dalam regenerasi kita. Dan dengan demikian kita dipanggil untuk berjuang demi kekudusan yang lengkap dan sempurna.
Di dalam kehidupan praktis dan panggilan kita, ini berarti bahwa kita terus bertempur tanpa mengenal lelah melawan dosa yang tetap ada di dalam diri kita; bahwa ketika kita terjatuh, kita bangkit dan terus mengejar sasaran itu, yang baru akan kita raih di akhir kehidupan kita. Selain semua hal ini, penyucian berarti kita belajar untuk berdoa dengan sungguh-sungguh, “Datanglah, Tuhan Yesus! Ya, datanglah segera,” karena ketika Kristus datang, kita mendapatkan kekudusan yang sempurna.
Hal yang sangat mencolok adalah bahwa pada panggilan kita kepada kesempurnaan yang sempurna, ayat ini menambahkan kata-kata “dalam takut akan Allah.”
Takut akan Allah adalah sebuah kebajikan yang diberi tempat yang sangat penting di dalam daftar kebajikan-kebajikan Kristen yang ditemukan di dalam Kitab Suci. Singkatnya, takut ini terdiri dari dua aktivitas. yang satu adalah adalah bahwa kita begitu menyadari kemuliaan, kesempurnaan, dan kekudusan Allah yang tidak terbatas sehingga kita dipenuhi ketakjuban di hadapan Dia. Kita seperti Yesaya ketika ia, setelah melihat kekudusan Allah, berseru, “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir” (Yes. 6:5).
Kedua, takut akan Allah adalah kesadaran yang begitu meluap akan kasih dan rahmat Allah yang teramat besar kepada kita, orang-orang berdosa yang malang, yang menginspirasi kita untuk takut melakukan apa pun yang akan membuat Bapa kita yang penuh anugerah ini tidak berkenan, melanggar Dia, dan menyebabkan nama-Nya yang kudus dihina.
Tidak sulit untuk melihat mengapa takut akan Allah memiliki arti penting yang sangat besar bagi pemenuhan panggilan kita. Keajaiban keselamatan kita teramat besar sehingga kita hampir tidak mampu memahaminya. Tetapi itu benar, kita tahu itu benar, kita percaya itu benar.
Kemungkinan untuk Menaati Panggilan Ini
Dengan mendengarkan sekali lagi teguran yang datang kepada kita dari Kristus, dan dengan mengenal diri kita sendiri, kita mungkin sangat condong untuk berpikir bahwa ini adalah sebuah teguran yang memanggil kita untuk melakukan hal yang mustahil. Merasa putus asa karena dipanggil untuk melakukan sesuatu yang mustahil, kita mungkin dengan begitu saja membuang urusan ini dari pikiran kita dan melupakannya.
Kita tidak boleh melakukan itu. Di dalam kenyataannya kita bahkan tidak boleh berkata, Kita tidak mampu melakukannya, lalu apa gunanya mencoba?
Sementara di dalam teguran ini, seperti halnya di dalam semua teguran Kitab Suci, terimplikasi sebuah “harus” yang mendesak—kamu harus taat—di dalam kehidupan anak Allah, “harus” yang mengikatkan teguran-teguran ini pada diri kita akan menjadi, oleh anugerah, sebuah “bisa,” “mau,” dan “benar-benar.” Saya bukan hanya harus menaati perintah-perintah Allah, tetapi saya bisa menaati Dia, saya mau menaati Dia, saya benar-benar menaati Dia!
Ayat ini, dengan penuh penekanan, menunjukkan bahwa kita memiliki janji-janji ini. Ayat ini tidak mengatakan bahwa janji-janji ini akan menjadi milik kita hanya jika kita menaati teguran tersebut. Janji-janji Allah tidak bersyarat dan juga bukan bergantung pada kita untuk penggenapannya. Janji-janji itu menjadi milik kita bahkan di dalam kehidupan sekarang. Allah adalah Allah kita. Kita adalah umat-Nya. Ia adalah Bapa kita. Kita adalah anak-anak-Nya laki-laki dan anak-anak-Nya perempuan. Artinya, kita dibawa oleh Allah dengan penuh anugerah ke dalam kovenan-Nya yang kekal, yang telah Ia ikat dengan kita dan yang Ia pelihara dan pertahankan.
Maka, teguran dari ayat ini bukan hanya ditujukan kepada orang-orang yang sudah menjadi umat kovenan-Nya, tetapi ditujukan kepada orang-orang yang memiliki kemampuan untuk memenuhi teguran yang Ia tempatkan di hadapan kita. Menaati teguran ini adalah bagian dari kehidupan yang penuh rasa syukur yang kita jalani di dalam pengakuan yang rendah hati atas kekayaan anugerah Allah yang berdaulat, yang untuknya kitalah penerimanya.
Tetapi pada saat yang sama, realitas janji-janji Allah yang digenapi di dalam diri kita ini adalah kuasa yang dengannya kita memang benar-benar menuruti perintah-perintah-Nya dan menaati teguran-teguran-Nya. “Saya harus … karena saya adalah anak dari Bapa surgawi saya.” “Saya bisa … karena sebagai Bapa saya, Ia memberi saya kekuatan spiritual untuk menaati Dia.” “Saya mau … karena Ia membuat saya rela dan mampu mengasihi Dia.”
Kemampuan spiritual tiba dari Allah kepada kita melalui salib Yesus Kristus, yang di dalam darah-Nya kita dibasuh. “Saya harus … karena saya dibasuh di dalam darah Juru Selamat saya.” “Saya bisa … karena Ia telah mati demi saya.” “Saya mau … karena Ia telah begitu mengasihi saya sehingga Ia telah menyerahkan diri-Nya bagi saya, seorang pendosa yang malang dan terhilang.”
Saya harus dan bisa dan mau mengerjakan keselamatan saya sendiri karena Allahlah yang mengerjakan di dalam diri saya baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya (Flp. 2:12–13). Maka ketaatan kepada perintah-perintah Allah bukanlah sebuah tugas yang menekan, kewajiban yang berat, tuntutan yang kejam. Ini adalah hak khusus yang diberikan kepada kita oleh anugerah untuk hidup sebagai umat kovenan-Nya di dalam dunia.
Kita harus menantikan kesempurnaan penuh hal ini di dalam surga. Tetapi bahkan saat ini pun, ketika kita berdosa, kita mendapatkan pengampunan. Ketika kita lemah, Tuhan Yesus perkasa untuk menyelamatkan. Ketika beban kita menjadi berat, kita memiliki kekuatan yang mengalir dari Kalvari. Ketika kita berkecil hati, kita memiliki pengharapan akan kemuliaan. Kita memiliki kemenangan melalui Yesus Kristus, Tuhan kita. Amin.
Untuk bahan-bahan lain dalam bahasa Indonesia, klik di sini.

