Menu Close

Bab 2: Sang Anak Domba dari Allah Datang

      

Brian L. Huizinga

Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan berkata: “Lihatlah Sang Anak domba dari Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29, KJV).

Introduksi

Dengan teks Yohanes 1:29 ini, kita berdiri di hadapan Injil di dalam pengungkapannya yang paling sederhana, jelas, dan paling indah. Dengan begitu banyak hal yang berebut untuk mendapatkan perhatian kita di dalam dunia, di dalam gereja, dan di dalam kehidupan pribadi kita, betapa baiknya bagi kita untuk melihat ke dalam jantung dari Injil ini dan melihat Sang Juru Selamat yang teberkati, yang dengan-Nya Allah telah mmpersatukan kita dengan sebuah ikatan yang kekal.

Marilah kita mengenal konteksnya terlebih dahulu. Yohanes Pembaptis mengucapkan perkataan ini pada satu hari tertentu seperti yang diperhatikan oleh teks itu ketika mengawali dengan, “Pada keesokan harinya.” Sejarahnya adalah seperti ini: Yohanes berada di tepi Sungai Yordan dan melakukan pembaptisan. Yesus datang kepada Yohanes untuk dibaptis dan segera setelah itu pergi ke padang gurun seorang diri untuk dicobai oleh Iblis selama empat puluh hari. Sementara Yesus sedang dicobai, Yohanes terus membaptis dan berkhotbah, “Dia yang lebih besar daripadaku akan datang!” Orang banyak berkumpul di Betania (KJV = Bethabara) di seberang Sungai Yordan di mana Yohanes sedang membaptis. Menjelang akhir dari keempat puluh hari itu, Yohanes didatangi sebuah delegasi yang terdiri dari para imam dan orang Lewi yang bertanya kepadanya apakah ia adalah Kristus (Mesis). Yohanes menjawab dirinya bukan Mesias dan menegaskan kembali bahwa Mesias itu, yang lebih besar daripada dirinya, akan datang. “Pada keesokan harinya,” demikian teks ini memulai, “Yohanes melihat Yesus datang kepadanya.” Ketika Yesus berjalan kepada Yohanes di hadapan semua orang itu, Yohanes mengumumkan, “Lihatlah Sang Anak domba dari Allah!”

Di dalam ayat-ayat berikutnya, Yohanes akan menuturkan kembali bagaimana sebelumnya ia telah membaptis Yesus. Kemudian kita membaca di dalam ayat 35, “Pada keesokan harinya.” Hal yang menyusul setelah itu adalah sejarah Yesus memanggil para murid-Nya dan memulai pelayan publik-Nya.

Jika kita menempatkan semua peristiwa ini di dalam urutannya yang benar, kita bisa mengidentifikasi “hari” dari teks ini. Pada hari sebelum hari itu, Yesus telah menyelesaikan pencobaan-pencobaan pribadi-Nya. Pada hari setelah hari itu, Yesus akan memulai pelayanan publik-Nya. Tetapi pada satu hari yang khusus itu, Yohanes memberikan deklarasinya yang mulia, “Lihatlah Sang Anak domba dari Allah!” yang memperkenalkan Yudaea kepada Dia yang akan pergi berkhotbah dan mengajar.

       

Kedatangan Sang Anak Domba

Yesus adalah “Sang Anak Domba dari Allah.” Kedatangan-Nya mencakup penampilan-Nya secara harfiah dan kasatmata di hadapan Yohanes dan orang-orang Yahudi. Oleh karena itu, teks ini berkata, “Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya.” Namun, di dalam pengertian yang paling mendalam, kedatangan Yesus adalah penampilan-Nya sebagai perealisasian yang penuh dan mulia dari kiasan anak-anak domba di dalam Perjanjian Lama yang Allah gunakan untuk menunjukkan Israel kepada Sang Anak Domba. Untuk bisa memahami kedatangan Sang Anak Domba dari Allah, mari kita menelusuri sejenak Perjanjian Lama untuk melihat kiasan anak-anak domba pada empat titik terpenting di sepanjang jalan itu.

Pertama, pertimbangkan masa Habel (Kej. 4). Habel mempersembahkan kepada Allah buah sulung dari kawanan ternaknya, yang pastinya karena ia mengikuti ajaran orang tuanya kepadanya bahwa seekor anak domba harus dipersembahkan kepada Allah sebagai kurban bagi dosa dan di dalam pengharapan akan kurban yang lebih baik yang akan datang. Habel tahu bahwa ia adalah seorang yang berdosa dan bahwa dengan iman dosanya harus diletakkan pada anak domba sebagai pengganti. Ketika anak domba itu dipersembahkan dengan cara dibakar, kematiannya merepresentasikan pemuasan [bagi keadilan] ilahi dan ditutupinya dosa Habel di dalam pandangan Allah. Bahkan pada masa Habel, Allah sudah mengajarkan bahwa Mesias yang dijanjikan itu harus mati. Allah tidak bisa mati karena api, para malaikat surga pun tidak bisa. Keturunan perempuan itu (Kej. 3:15) harus bisa mati sebagai kurban bagi dosa.

Perhentian kedua kita adalah waktu Paskah di Mesir (Kel. 12), di mana Allah mengajarkan tiga kebenaran. Pertama, keniscayaan darah ditetapkan secara eksplisit. Anak domba yang menjadi kurban persembahan tidak boleh dibunuh dengan racun atau dicekik. Tenggorokannya harus disayat dan darahnya dikumpulkan di sebuah wadah, kemudian dilaburkan di tiang-tiang pintu rumah. Allah mengalihkan murka-Nya ketika Ia melihat darah. Darah menutupi dosa-dosa. Darah meluputkan anak sulung. Mesias tidak boleh mati dengan cara apa pun selain dengan mencurahkan darah. Kedua, Mesias bukan mati hanya bagi individu-individu seperti Habel, tetapi juga bagi keluarga-keluarga, karena seekor anak domba dipersembahkan untuk setiap keluarga. Ketiga, anak domba itu harus dimakan di dalam sebuah jamuan persekutuan. Orang-orang Israel memasak anak domba itu dengan api, menghidangkannya di atas meja, berkumpul dan makan, yang mengindikasikan bahwa kematian Mesias di masa yang akan datang itu akan menjadi alasan untuk bersukacita, bukan menangis, dan dasar bagi persekutuan di dalam rumah.

Perhentian ketiga kita adalah waktu di Gunung Sinai di mana Allah mengajarkan tiga kebenaran lagi melalui Taurat Musa. Pertama, Allah menuntut persembahan kurban yang kontinual, seekor anak domba di waktu pagi dan seekor anak domba di waktu petang, setiap hari (Kel. 29:38–39). Kedua, seperti yang berlaku bagi anak Domba Paskah, semua anak domba harus tidak bercela (Im. 22:19), yang mengajari Israel bahwa Mesias yang akan datang pastilah tanpa kesalahan dan kudus. Ketiga, Taurat mengajarkan bahwa kurban yang dipersembahkan di kemah suci bukanlah hanya bagi individu-individu atau keluarga-keluarga, tetapi bagi bangsa kepunyaan Allah, yang mengajarkan bahwa Mesias akan menjadi sebuah persembahan kurban bagi bangsa itu.

Perhentian terakhir kita terakhir adalah masa Yesaya (Yes. 53). Di sini penyataan sudah cukup menajam sehingga Yesaya bisa secara eksplisit menubuatkan bahawa anak domba adalah seorang pribadi, seorang laki-laki, hamba Yehovah, hamba yang menderita. Selain itu, hamba ini akan memiliki hati yang rela. Ia akan menderita ketidakadilan yang hebat, dan dibenci dan ditolak oleh orang-orang, tetapi ia tidak akan membalas seperti seekor hewan yang penuh kekerasan dan buas. Seperti anak domba, Ia lemah lembut dan sabar dan tidak akan membuka mulut-Nya. “Ia,” kata Yesaya, “seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya” (ay. 7).

Sekarang lihatlah kembali ke seluruh Perjanjian Lama. Anak-anak domba! Anak-anak domba yang jumlahnya tidak terhitung! Anak-anak domba yang mati bagi dosa di atas mezbah! Anak-anak domba Paskah dengan darah yang dipercikkan dan daging yang dimakan di dalam perjamuan! Anak-anak domba yang tidak bercela! Anak-anak domba di atas mezbah pada waktu pagi dan lagi di atas mezbah pada waktu petang! Anak-anak domba bagi individu-individu, anak-anak domba bagi keluarga-keluarga, anak-anak domba bagi bangsa! Satu demi satu anak domba yang kelu di bawah ke pembantaian di kemah suci dan bait Allah. Semuanya adalah anak-anak domba sebagai gambaran (kiasan) dan Israel mengetahuinya. Tidak satu pun dari anak-anak domba itu yang dapat menghapus dosa, membersihkan hati nurani, dan membuat orang yang berdosa bisa berdiri di hadapan Allah.

Menurut Anda, adakah momen yang lebih memuncak di dalam sejarah dunia sampai pada titik di mana Yesus berjalan ke arah Yohanes dan Yohanes mengumumkan, “Lihatlah Sang Anak Domba dari Allah!” Selama ribuan tahun Allah mengumumkan melalui gambaran-gambaran, “Anak Domba ini akan datang.” Dan sekarang Yohanes Pembaptis mendapatkan kehormatan untuk membuat pengumuman yang dinantikan oleh seluruh umat kovenan sejak masa Adam, Hawa, dan Habel. “Kapankah ya Tuhan?” tanya mereka. “Berapa lama lagikah, ya Tuhan?” doa mereka. Sekarang Yohanes mengumumkan, “Lihatlah Sang Anak Domba dari Allah telah datang!”

       

Yesus sebagai Sang Anak Domba dari Allah

Yesus adalah Sang Anak Domba karena Ia adalah Anak Domba “dari Allah.” Israel menantikan kedatangan Sang Anak Domba dari Allah. Pengidentifikasian tentang Dia ini menegaskan setidaknya enam kebenaran penting yang menjadi dasar bagi pekerjaan-Nya yang menakjubkan untuk menghapus dosa dunia.

Pertama, bahwa Ia adalah “Sang Anak Domba dari Allah” berarti bahwa Ia diperanakkan oleh Bapa. Ia bukan hanya memiliki sebuah natur manusiawi yang seturut dengannya Ia bisa menderita, berdarah, dan mati sebagai satu ciptaan, tetapi Ia juga memiliki satu natur ilahi. Ia adalah Allah dari Allah, sehingga Ia bisa melakukan satu persembahan kurban yang secara aktual memuaskan keadilan ilahi dan menghapus dosa dunia.

Bahwa Ia adalah “Sang Anak Domba dari Allah” berarti, kedua, bahwa Ia secara kekal ditetapkan oleh Allah untuk menjadi Sang Anak Domba yang kepada-Nya semua gambaran anak-anak domba menunjuk, sehingga sekarang semuanya bisa ditiadakan dan hanya Dia saja yang tetap tersisa. Daging-Nya kita makan dengan iman. Ia adalah pusat dari perjamuan kita dan objek dari pujian kita di dalam kekekalan. Layaklah Sang Anak Domba yang ditetapkan oleh Allah!

Ketiga, bahwa Ia adalah “Sang Anak Domba dari Allah” berarti bahwa Ia disediakan oleh Allah. Ia bukan datang karena kehendak dan pekerjaan manusia. Habel tidak dapat menyediakan Dia, tidak juga Yesaya, maupun seorang gembala atau seorang ibu di Israel. Bahkan Maria pun tidak menyediakan Dia. Allah—Allah pemelihara kovenan yang setia, yang janji-Nya adalah benar—yang menyediakan Dia di dalam anugerah-Nya.

Bahwa Ia adalah “Sang Anak Domba dari Allah” berarti, yang keempat, bahwa Ia memiliki kebenaran yang tidak bercela dari Allah. Ia bukan anak domba dari Adam, yang terjatuh dan rusak. Ia adalah Sang Anak Domba dari Allah. Oleh karena itu, Ia sama seperti Allah sendiri di dalam kebenaran yang tidak bercela, kesucian secara moral, dan ketidakberdosaan yang tanpa noda.

Kelima, bahwa Ia adalah “Sang Anak Domba dari Allah” berarti bahwa Ia dikualifikasi oleh Allah. Roh Kudus baru saja turun atas Dia pada saat pembaptisan-Nya, yang mengurapi dan mengualifikasi Dia bagi pekerjaan-Nya yang penuh sengsara untuk pergi ke pembantaian di tengah celaan, untuk menghapus dosa dunia.

Yang terakhir, bahwa Ia adalah “Sang Anak Domba dari Allah” berarti bahwa Ia dikasihi oleh Allah. Ingatlah kembali orang miskin di dalam perumpamaan Natan setelah Daud berdosa (2Sam. 12:1–4). Orang itu memiliki seekor anak domba betina yang kecil yang besar bersama anak-anaknya, makan dari suapnya, minum dari pialanya, dan tidur dipangkuannya. Orang itu begitu mengasihi anak dombanya. Sebagai Sang Anak Domba dari Allah, Yesus adalah yang dikasihi oleh Bapa-Nya. Ia pasti mengetahui itu atau Ia tidak akan pernah mampu turun ke dalam api dan asap dari mezbah murka Allah, untuk menghapus dosa dunia. Bahkan ketika Ia tidak mengalami kasih Allah, Ia pasti mengetahui bahwa Dialah yang dikasihi oleh Bapa.

Sang Anak Domba dari Allah telah datang!

        

Pekerjaan-Nya: Dunia

Karena Yesus adalah Sang Anak Domba dari Allah, Ia mampu melakukan pekerjaan yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh ciptaan lain apa pun di surga maupun di bumi. Teks ini menyakan bahwa Ia “menghapus dosa dunia.”

Dunia!

Katakanlah itu. Tanpa keraguan atau kegelisahan apa pun, katakanlah. Ini bukan Arminianisme. Ini adalah Injil. Katakan dengan berani bersama Yohanes, Ia “menghapus dosa dunia.” Tetapi pahamilah bahwa dengan kata “dunia” Yohanes Pembaptis bukan memaksudkan, tidak seorang pun di antara orang-orang yang mendengarkan dia salah memahami bahwa ia memaksudkan, Rasul Yohanes yang menulis kata-kata ini tidak memaksudkan, dan Roh Kudus yang menginspirasikan kata-kata ini tidak memaksudkan: “setiap manusia, satu demi satu, tidak seorang pun yang dikecualikan.”

“Dunia” tidak mesti berarti “setiap manusia.” Ketika Lukas 2:1 mencatat bahwa Kaisar Augustus mengelurkan sebuah perintah yang “menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia,” tidak ada orang yang pernah membayangkan bahwa Kaisar itu mencoba untuk memajaki setiap manusia di atas muka bumi, termasuk orang-orang yang berada di benua-benua yang jauh dan tidak diketahui. “Dunia” di sini dibatasi pada bangsa yang bisa dipajaki di wilayah Kekaisaran Romawi yang diketahui.

Mengatakan bahwa “dunia” di dalam teks ini berarti “setiap manusia” adalah ajaran sesat Arminian yang profan, yang mengubah Sang Anak Domba dari Allah yang mulia menjadi pengemis yang terkalahkan. Arminianisme mengajarkan bahwa Yesus mati bagi setiap manusia, tidak seorang pun yang dikecualikan. Tetapi bahwa kematian itu tidak secara aktual menghapus dosa setiap manusia dan menyelamatkan setiap manusia karena, seperti yang dinyatakan oleh Arminianisme, berjuta-juta orang yang baginya Yesus mati telah pergi ke neraka karena dosa-dosa mereka. Jika Kristus mati bagi semua manusia, mengapakah tidak semuanya diselamatkan?

Menurut Arminianisme, kematian Sang Anak Domba bisa menebus seorang yang berdosa hanya jika kematian itu diikuti oleh apa yang merupakan tindakan yang menentukan bagi keselamatan—pilihan sukarela oleh orang yang berdosa itu. Yesus mati untuk menghapus dosa-dosa setiap manusia, kemudian Yesus datang di dalam Injil dengan kasih kepada semua manusia, menawarkan diri-Nya secara bebas kepada semua manusia, dan memohon kepada semua manusia, “Aku telah melunasi dosa-dosamu, sekarang bukalah hatimu, buatlah pilihan untuk menerima Aku maka kamu bisa memiliki Aku.” Kemudian semua orang yang menggunakan apa yang disebut sebagai kehendak bebas mereka dan membuat keputusan untuk percaya kepada Yesus akan diselamatkan.

Akan tetapi, banyak orang menolak Yesus dan dihukum. Yesus menghendaki keselamatan mereka, mencurahkan darah-Nya bagi mereka, memohon kepada mereka, dan melakukan apa pun yang dapat Ia lakukan untuk menyelamatkan mereka, tetapi mereka menolak untuk percaya. Manusia menghalangi Yesus. Kehendak manusia menang atas Sang Anak Domba. Sang Anak Domba adalah pengemis yang terkalahkan yang darah-Nya tercurah dengan sia-sia.

Kita bisa memiliki hormat yang lebih besar kepada universalisme total yang mengajarkan bahwa Allah mengasihi semua manusia, Yesus mati bagi semua manusia, dan semua manusia akan pergi ke surga, karena setidaknya di dalam skema itu Allah lebih kuat daripada manusia dan persembahan kurban Sang Anak Domba memang menyelamatkan.

Teks ini sendiri menjadikan jelas bahwa Sang Anak Domba dari Allah mati bukan untuk dosa-dosa setiap manusia, tanpa seorang pun yang dikecualikan, ketika teks ini berkata bahwa Ia “menghapus” dosa. Sang Anak Domba bukan hanya bermaksud untuk menghapus dosa, akan menghapus dosa, atau berusaha untuk menghapus dosa. Sebagai Sang Anak Domba dari Allah, Ia secara aktual dan efektual menghapus dosa setiap manusia yang baginya Ia mati, sehingga pembayaran dilakukan, murka Allah diredakan, kebenaran didapatkan, dan semua berkat dari keselamatan (termasuk iman) di dapatkan dan akan dikaruniakan secara cuma-cuma.

Jika Sang Anak Domba menghapus dosa-dosa setiap manusia, maka setiap manusia akan diselamatkan, termasuk Kain, Esau, Yudas Iskariot, dan Antikristus, tidak seorang pun yang dikecualikan. Allah itu adil. Ia tidak akan menuntut siapa pun untuk membayar bagi dosa-dosanya jika Yesus telah membayar untuk mereka. Tetapi tidak semua manusia diselamatkan karena Sang Anak Domba tidak menghapus dosa-dosa setiap manusia. Sang Anak Domba menghapus dosa-dosa domba pilihan-Nya. “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh. 10:11).

Ketika teks ini berkata “dunia,” yang dimaksudkan adalah “seluruh organisme yang hidup dari umat manusia pilihan yang ditemukan di seluruh dunia.” Dunia! Menakjubkan! Yesus bukan hanya menghapus dosa individu-individu pilihan atau keluarga-keluarga dari anggota-anggota keluarga pilihan, atau sebuah bangsa yang terdiri dari orang-orang percaya pilihan, tetapi orang-orang Yahudi maupun bukan-Yahudi pilihan yang ditemukan di seluruh penjuru dunia. Yesus menghapus dosa dari orang-orang di belahan bumi selatan dan orang-orang di belahan bumi utara, orang-oang di “negara dunia ketiga” dan orang-orang di “negara dunia pertama,” orang-orang di wilayah kutub yang dingin dan orang-orang di wilayah tropis yang hangat, orang-orang yang hidup di tengah-tengah padang belantara yang luas dan orang-orang di pulau terpencil, orang-orang berkulit gelap dan orang-orang berkulit terang, orang-orang berbahasa Ibrani dan orang-orang berbahasa Inggris, orang-orang yang kaya dan orang-orang yang miskin, orang-orang yang terbelenggu dan orang-orang yang merdeka, termasuk Anda dan saya.

Dunia!

        

Pekerjaan-Nya: Dosa

Dosa!

Alkitab sering mengejutkan, seperti di sini, karena kita semua pasti memperkirakan bentuk jamak, yaitu “dosa-dosa.” Namun sebaliknya kita membaca, “yang menghapus dosa dunia.”

Bayangkan satu massa organis—sebuah massa kanker yang tumbuh lebih besar daripada awan jamur di atas Hiroshima di Jepang pada tanggal 6 Agustus 1945. Artinya, bayangkan satu massa yang teramat besar, tercemar, berbau busuk, kotor, menjijikkan, gelap, jahat, menakutkan, merusak, mematikan, mengutuk, menyebabkan kesalahan, menimbulkan aib, membawa akibat, menyebabkan sengsara dan penderitaan, menuntut penghukuman, menyalakan murka Allah, membenci Allah, dan dibenci oleh Allah. Namanya adalah “dosa.”

Massa yang teramat besar ini bermula di dalam dosa Adam dan terbentuk dari semua dosa dari organisme umat manusia pilihan yang disebut “dunia” di dalam teks ini. Termasuk di dalamnya adalah setiap pemikiran, perkataan, dan perbuatan yang berdosa oleh setiap orang pilihan yang berdosa, termasuk keberdosaannya. Termasuk di dalamnya adalah dosa-dosa Adam, Habel, Yesaya, Maria, Yohanes Pembaptis, saya dan Anda, dan dosa-dosa keturunan spiritual kita di dalam kovenan anugerah. Termasuk di dalam massa ini adalah semua dosa kita di masa kecil, remaja, pra-dewasa, dewasa kita; dosa-dosa rahasia, dosa-dosa publik; dosa-dosa sekolah, dosa-dosa gereja, dosa-dosa keluarga, dosa-dosa di dalam pekerjaan, dosa-dosa di dalam pernikahan; dosa-dosa yang berulang, dosa-dosa yang terus merongrong; dosa-dosa hati, dosa-dosa lidah; dosa-dosa ibadah-pelayanan, dosa-dosa saat ini; ribuan, jutaan, dan miliaran dosa. Mereka yang dosa-dosanya berkontribusi kepada massa itu jumlahnya lebih banyak daripada bintang-bintang di langit, dan masing-masing memiliki lebih banyak dosa daripada yang mampu ia hitung. Ini bukanlah massa yang terdiri dari dosa individual atau dosa keluarga atau dosa bangsa, melainkan dosa dunia.

Bisakah Anda bahkan membayangkan massa yang jahat dan berat itu menggantung di atas kepala Anda, dan Andalah yang bertanggung jawab atasnya? Anda pasti harus dihukum ke neraka bermiliar-miliar kali. Bisakah Anda bahkan mulai membayangkan intensitas kegeraman murka dari Allah yang kudus secara tidak terbatas ketika melihat massa yang jahat itu?

Dosa!

       

Pekerjaan-Nya: Menghapus

Sekarang dengarkanlah Injil di dalam pengungkapannya yang paling sederhana dan paling indah: “Lihatlah Sang Anak Domba dari Allah, yang menghapus dosa dunia.”

Ia menghapus!

Bahwa Yesus menghapus dosa dunia berarti, pertama, bahwa Ia mengambil dosa itu. Sang Anak Domba dari Allah ini datang, melihat massa yang jahat yang disebut dosa-dunia itu dan berkata, “Milik-Ku!” Allah mengimputasikan kesalahan dosa ini kepada Dia sebagai Kepala dari organisme umat manusia pilihan. Selain itu, Sang Anak Domba mengambil hukuman yang dituntut bagi dosa itu.

Teks ini tidak menggunakan bentuk waktu masa depan (future tense) untuk verba dan menunjuk ke depan kepada salib, dengan mengatakan , “yang akan menghapus,” tetapi menggunakan bentuk waktu kini (pre­sent tense), “menghapus.” Tentu saja benar bahwa semua kesalahan dan hukuman dari massa yang berat itu sepenuhnya ditimpakan pada kesadaran Yesus pada saat akhir, yang menjadi alasan mengapa Ia berkata, “Saat ini hati-Ku sangat sedih,” dan mengapa Ia mulai meneteskan peluh seperti tetesan-tetesan darah di Taman Getsemani. Pada akhirnya, para tukang cukur datang ke taman dan mengambil Sang Anak Domba, dan membawa Dia ke ruang pengadilan dan kemudian ke pembantaian di Golgota. Sementara Sang Anak Domba dibaringkan di atas mezbah-Nya yang membara, seluruh beban dari massa yang jahat yang disebut “dosa-dunia” itu dan seluruh beban kutuk Allah yang melawannya sedang ditimpakan pada tubuh dan jiwa-Nya dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga Ia berseru di dalam sengsara. Ia mengambil dosa dunia, khususnya pada saat akhir itu, namun bukan semata-mata pada saat akhir itu. Ketika Ia berjalan keluar dari padang gurun kepada Yohanes, pada perjalanan-Nya ke dalam pelayanan-Nya, Ia sedang membawa massa itu, dan mulai semakin sadar akan kesalahan-Nya di dalam keadaan perendahan. Ia mengambil dosa itu.

Tetapi Ia bukan hanya mengambil (Ing. “take”) dosa itu; perkataan Injil dari teks ini adalah bahwa Ia “menghapus” (Ing. “take away”) dosa itu karena hanya Dia yang mampu. Darah-Nya melunasi harga itu. Kehidupan-Nya yang tidak bernoda dan kematian-Nya yang rela memuaskan keadilan Allah. Seluruh dosa kita dilemparkan ke dalam jurang laut terdalam. Kebenaran didapatkan. Di salib massa itu dihapuskan satu kali untuk selamanya di dalam sebuah pengertian ob­jektif, dan ini menjamin bahwa karena Yesus Sang Anak Allah sekarang duduk di dalam surga, Ia akan mengaplikasikan manfaat-manfaat dari pekerjaan objektif ini pada umat-Nya dengan cara yang sub­jektif. Oleh Roh Kudus, Ia membuat kita sadar akan beban kesalahan kita dan Ia menyebabkan kita berseru, “Bapa, saya tidak mampu lagi mengambil satu langkah pun! Saya tertindas oleh beban kesalahan dosa saya, ampunilah saya!” Berdasarkan apa yang telah Yesus lakukan satu kali untuk selamanya di atas salib untuk menghapus dosa kita (secara objektif), Allah menghapus kesalahan kita di dalam pengertian subjektif, sehingga di dalam kesadaran kita, kita—orang-orang berdosa yang diampuni—merasakan beban itu terangkat.

Sungguh Injil yang menakjubkan! Sungguh sebuah gambaran yang menakjubkan! Sebuah massa yang sangat besar dan jahat, dan apakah yang ada di bawahnya? Bukan sebuah kota atau sebuah istana atau sebuah benteng atau sebuah pasukan yang terdiri dari seratus ribu prajurit, melainkan seekor anak domba—satu anak domba. Tetapi bukan anak domba biasa—“Sang Anak Domba dari Allah God, yang menghapus dosa dunia.”

        

Melihat Dia

Kita melihat Dia dengan mata iman, mengenal dan memercayai Dia. Teks ini berkata, “Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya.” Yohanes melihat Yesus datang. Tetapi Yohanes bukan hanya melihat Dia dengan mata jasmaniah, karena jika demikian Yohanes hanya akan melihat seorang manusia lain yang mengenakan jubah dan kasut, dan ia akan mengabaikan atau meremehkan Dia seperti yang dilakukan oleh banyak orang di dalam kerumunan orang-orang itu. Bahwa Yohanes berseru, “Lihatlah Sang Anak Domba dari Allah,” mengindikasikan bahwa Yohanes melihat Yesus dengan mata iman sebagai Juru Selamat pribadinya sendiri.

Yohanes juga ingin agar orang lain melihat Yesus, sehingga ia berseru, “Lihatlah,” dan dengan seruan itu ia memanggil semua orang yang hadir di sana agar berhenti dari apa yang sedang mereka lakukan dan mempertimbangkan Sang Anak Domba. Yohanes sedang menyuarakan panggilan Injil, “Percayalah!” Setiap kali Sang Anak Domba ditunjukkan di hadapan kongregasi atau di ladang misi di dalam pemberitaan Injil, seruan ini terdengar, “Lihatlah Dia! Percayalah kepada-Nya!” Berdasarkan kematian Sang Anak Domba, Roh Kudus membawa panggilan Injil ini, dan secara berdaulat dan tidak dapat ditolak membawa firman ini ke dalam hati orang berdosa pilihan, sehingga ia tidak mungkin tidak mengakui dengan sukacita akan Yesus sebagai Sang Anak Domba dari Allah dan memercayai Dia sebagai Juru Selamatnya.

Lihatlah Dia, hanya Dia. Jangan memfokuskan mata Anda dan menetapkan hati Anda pada yang lain, karena semua pengharapan lain akan menipu Anda. Jangan memfokuskan hati Anda pada pelayan mana pun, bahkan jika namanya adalah Yohanes Pembaptis. Yohanes selalu berkata, “Jangan melihat saya dan jangan menetapkan hatimu pada saya. Saya bukan Kristus. Saya tidak bisa menyelamatkanmu. Saya tidak layak untuk berlutut dan dan melepaskan kasut Kristus. Yesus harus bertambah—menjadi semakin besar di dalam pandanganmu. Saya, Yohanes, dan setiap pelayan lain, tidak peduli siapa dia, harus mengecil—menjadi semakin berkurang di dalam pandanganmu.” Injil tidak pernah berkata, “Lihatlah sang pelayan.” Injil selalu berkata, “Lihatlah Sang Anak Domba dari Allah.”

Jangan memfokuskan hatimu pada massa yang Anda miliki. Jika massa itu bersifat jasmaniah, yaitu tumor kanker, jangan memfokuskan hatimu padanya sehingga kondisi hatimu naik atau turun tergantung pada ada atau tidaknya massa itu. Lihatlah Sang Anak Domba. Jika massa yang Anda miliki adalah kesukaran tertentu yang menjadi beban yang Anda tanggung, jangan menetapkan hati Anda padanya, sehingga semua yang Anda pikirkan dan bicarakan adalah massa itu dan bukan Sang Anak Domba. Tetapi yang paling penting, jangan memfokuskan hati Ada pada massa dosa Anda. Anda harus melihat dosa Anda dan melihatnya sebagai apa adanya dan apa yang diakibatkannya terhadap Sang Anak Domba, dan menyesalinya di dalam pertobatan yang sejati. Tetapi janganlah terus berkutat dengan dosa Anda dan upah bagi dosa itu yang adalah maut di dalam neraka. Jangan terus menggali masa lalu Anda untuk mengeluarkan lagi dosa lama yang sudah Anda akui bertahun-tahun yang lalu dan kemudian terus berkutat dengan dosa itu. Mungkin saja Allah terkadang membawa dosa itu ke hadapan kesadaran Anda, tetapi janganlah Anda sendiri menggali-gali masa lalu Anda. Menyesal memang hal yang baik, tetapi apakah Anda percaya? Hai orang berdosa yang bertobat, jauhkanlah pandanganmu dari massa yang besar dan jahat itu, yaitu dosamu sendiri. Lihatlah Sang Anak Domba dari Allah, yang menghapus dosamu! Tetapkanlah hatimu pada Sang Anak Domba.

Setiap minggu kita memerlukan seruan “lihatlah” dari Injil ini untuk membangunkan dan mengguncang kita. Kita sudah menjadi begitu terbiasa dan begitu mengenal Injil, Sang Anak Domba, dan persembahan kurban itu. Kita bahkan mungkin menutup doa kita dengan berkata, “Ampunilah dosa-dosaku demi Yesus,” tetapi hati kita tidak ada di sana. Lihatlah! Sang Anak Domba dari Allah! Lihatlah Dia kembali sebagai apa adanya Dia dan apa yang telah Ia kerjakan! Kiranya Allah memenuhi hati kita dengan pengenalan akan Sang Anak Domba, dan memberi kita penghiburan dan damai sejahtera dalam memercayai Dia.

Untuk bahan-bahan lain dalam bahasa Indonesia, klik di sini.

Show Buttons
Hide Buttons