Angus Stewart
(1) Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Merpati di pohon-pohon tarbantin yang jauh. Miktam dari Daud, ketika orang Filistin menangkap dia di Gat. (2) Kasihanilah aku, ya Allah, sebab orang-orang menginjak-injak aku, sepanjang hari orang memerangi dan mengimpit aku! (3) Seteru-seteruku menginjak-injak aku sepanjang hari, bahkan banyak orang yang memerangi aku dengan sombong. (4) Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; (5) di dalam Allah, yang firman-Nya kupuji, di dalam Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? (6) Sepanjang hari mereka mengacaukan perkaraku; mereka senantiasa bermaksud jahat terhadap aku. (7) Mereka mau menyerbu, mereka mengintip, mengamat-amati langkahku, seperti orang-orang yang ingin mencabut nyawaku. (8) Apakah mereka dapat luput dengan kejahatan mereka? Runtuhkanlah bangsa-bangsa dengan murka-Mu, ya Allah! (9) Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan? (10) Maka musuhku akan mundur pada waktu aku berseru; aku yakin, bahwa Allah memihak kepadaku. (11) Di dalam Allah, firman-Nya kupuji, di dalam TUHAN, firman-Nya kupuji, (12) di dalam Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? (13) Nazarku kepada-Mu, ya Allah, akan kulaksanakan, dan korban syukur akan kubayar kepada-Mu. (14) Sebab Engkau telah meluputkan aku dari pada maut, bahkan menjaga kakiku, sehingga tidak tersandung; maka aku boleh berjalan di hadapan Allah dalam cahaya kehidupan (Mzm. 56).*
Introduksi
Dari 150 Mazmur kanonis, Mazmur 56 adalah “Mazmur persatuan,” Mazmur yang berbicara paling banyak tentang beradanya kita “di dalam Allah.” Di dalam Mazmur yang relatif singkat ini, frasa “di dalam Allah” atau “di dalam TUHAN” yang signifikan ini bukan hanya satu atau dua atau tiga atau empat kali, tetapi sebanyak lima kali. Di satu tempat kita membaca “di dalam TUHAN” dan di empat tempat lainnya “di dalam Allah.” Baik di dalam bahasa Ibrani aslinya maupun di dalam terjemahan [bahasa Inggris], frasa kunci kita ditemukan pada awal lima penegasan yang menggema:
Di dalam Allah aku akan memuji firman-Nya, di dalam Allah aku menempatkan percayaku (ay. 5).
Di dalam Allah aku akan memuji firman-Nya, di dalam TUHAN aku akan memuji firman-Nya (v. 11).
Di dalam Allah aku telah menempatkan percayaku (v. 12).
Kelima rujukan kepada keberadaan “di dalam Allah” atau “di dalam TUHAN” ini dikelompokkan di dalam 2 klaster. Ada satu pasang di dalam ayat lima, dan ada tiga rujukan di dalam ayat 11 dan 12. Kelima pernyataan ini secara esensial hanyalah dua, karena dua pernyataan diulangi untuk penekanan dengan hanya sedikit variasi: “di dalam Allah/TUHAN aku akan memuji firman-Nya”—tiga kali; “di dalam Allah aku telah menempatkan percayaku”—dua kali.
Ketika menyebut Mazmur 56 sebagai “Mazmur persatuan,” saya tidak mengklaim, misalnya, bahwa Mazmur 56 berisi gambaran yang dikembangkan tentang persatuan mistis. Mazmur ini tidak berisi itu. Saya tidak mengatakan bahwa Mazmur 56 memberikan sebuah eksposisi yang mendetail tentang sukacita dari persatuan dengan Allah. Mazmur ini tidak berisi itu. Saya menyebut Mazmur 56 sebagai “Mazmur persatuan” karena frekuensi dan penekanan frasa-frasa kunci ini dengan preposisi vital “di dalam”: “di dalam Allah” atau “di dalam TUHAN.”
Ini menolong orang yang percaya mengidentifikasi Mazmur lain dari 150 Mazmur. Sebagai contoh, Mazmur 117 adalah Mazmur terpendek (2 ayat) dan Mazmur 119 adalah Mazmur terpanjang (176 ayat).1 Mazmur 23 adalah Mazmur gembala, Mazmur 56 adalah Mazmur persatuan. Sulit untuk mengingat keseluruhan 150 Mazmur itu, jadi ketika sebuah Mazmur tertentu semakin dikaitkan dengan sebuah ide yang spesifik, itu akan lebih membantu ingatan kita yang lemah.
Banyak dari tafsiran-tafsiran yang saya pelajari terkait Mazmur 56 mengabaikan frasa “di dalam Allah” atau bergumul dengan maknanya. Mengenai “di dalam Allah aku akan memuji firman-Nya” (v. 11), salah satu tafsiran mengatakan bahwa ini adalah sebuah “bentuk tutur yang tidak lazim,” karena kita biasanya tidak berbicara seperti itu.2 Jadi apakah maknanya? “Di dalam Allah aku akan memuji firman-Nya” bukan bermakna “Mengenai Allah aku akan memuji firman-Nya” atau “Melalui Allah aku akan memuji firman-Nya” atau “Tentang Allah aku akan memuji firman-Nya.” Frasa ini hanya bermakna seperti apa yang dikatakannya: “Di dalam Allah aku akan memuji firman-Nya.”
Berikut tiga alasan yang jelas bagi pandangan ini. Pertama, “di dalam ” adalah makna utama dari preposisi Ibrani ini. Kedua, ada konteksnya. Perhatikan ayat 5: “Di dalam Allah aku akan memuji firman-Nya, di dalam Allah aku telah menempatkan percayaku.” Pernyataan yang kedua, “di dalam Allah aku telah menempatkan percayaku,” sangat jelas bermakna, dengan menyusun ulang beberapa katanya, “Aku telah menempatkan percayaku di dalam Allah.” Preposisi Ibrani yang sama digunakan di dalam kedua bagian ayat tersebut, sebagaimana preposisi yang sama juga di dalam ayat 12, “Di dalam Allah aku telah menempatkan percayaku,” dan di dalam ayat 11, “Di dalam Allah aku akan memuji firman-Nya, di dalam TUHAN aku akan memuji firman-Nya.” Ketiga, pandangan ini memberikan pengertian yang baik tentang Mazmur ini, dan sepenuhnya sesuai dengan analogi iman dan kaya dengan theologi Perjanjian Lama, seperti yang akan kita lihat.
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
Apakah yang akan kita katakan dari Mazmur 56, Mazmur persatuan ini, tentang natur atau karakteristik persatuan dengan Allah, yang merupakan topik buku ini? Pertama, kita harus memperhatikan apa yang tidak dikatakan oleh Mazmur persatuan ini. Mazmur 56 tidak secara spesifik menyatakan bahwa kita dipersatukan dengan Allah yang hidup hanya di dalam dan melalui Yesus Kristus, Tuhan kita. Memang benar bahwa Dialah satu-satunya yang melalui-Nya setiap orang bisa berada “di dalam Allah,” tetapi Mazmur 56 tidak mengatakan hal tersebut secara aktual. Daud, yang menulis Mazmur 56 oleh Roh, adalah “seorang nabi,” yang mengetahui “Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya” (Kis. 2:30).3 Daud adalah orang yang menubuatkan di dalam Psalm 110 bahwa Tuhannya akan duduk di sebelah kanan Yehovah di dalam surga sebagai raja (ay. 1) dan menjadi “imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek” (ay. 4). Tetapi Mazmur 56 tidak menyatakan ini dengan banyak kata bahwa persatuan dengan Allah hanyalah melalui Mesias yang akan datang, Imam Besar Agung dan Raja kekal kita.
Kedua, Mazmur 56 tidak mengatakan bahwa kita dipersatukan dengan Allah hanya oleh Roh Kudus, meskipun itu adalah realitas. Daud bukan orang asing di dalam hal Roh Kudus. Di dalam adegan pertama di mana kita berjumpa dengan putra Isai ini (1Sam. 16:1–13), kita membaca bahwa, ketika nabi Samuel mengurapinya dengan minyak, “Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud” (ay. 13). Daud mengklaim bahwa ia berbicara oleh penginspirasian ilahi melalui Roh yang sama: “Roh TUHAN berbicara dengan perantaraanku, firman-Nya ada di lidahku” (2Sam. 23:2; bdk. Mat. 22:43; Mrk. 12:36; Kis. 1:16; Ibr. 3:7; 4:7). Daud mengetahui bahwa Allah mengerjakan pembaruan batiniah pribadinya hanya oleh Roh Kudus-Nya yang penuh anugerah (Mzm. 51:13–14; 143:10).4 Daud bukan hanya mengakui bahwa Roh ini mahahadir di dalam semua dunia ciptaan (Mzm. 139:7) dan, oleh karena itu, adalah Allah, tetapi ia juga memahami bahwa Roh Kudus yang sama adalah “kehadiran” Allah bersama dan di dalam dia (Mzm. 51:13). Akan tetapi, Daud tidak menyatakan di dalam Mazmur 56 bahwa kita hanya dipersatukan dengan Allah oleh Roh Kudus.
Dari Mazmur 56 ini kita tidak boleh menuntut adanya ajaran tentang persatuan dengan Allah di dalam Yesus Kristus saja dan oleh Roh Kudus saja. Kita tidak akan menemukan pernyataan-pernyataan dan doktrin tinggi yang eksplisit seperti itu di dalam Mazmur-Mazmur, karena mereka adalah bagian dari Kitab Suci Perjanjian Lama, bukan Perjanjian Baru. Di antara tulisan-tulisan kanonis, orang harus menantikan khususnya tulisan-tulisan Yohanes dan surat-surat Paulus untuk perkembangan doktrin ini. Bagaimanapun, persatuan dengan Allah di dalam Kristus dan oleh Roh baru bisa bergulir di dalam sejarah penebusan setelah inkarnasi, pendamaian, dan pemuliaan Yesus, dan pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakota. Ajaran yang lebih mendalam dari Perjanjian Baru mengenai persatuan dengan Allah yang hidup melalui Kristus dan oleh Roh-Nya akan ditemukan di dalam bab-bab di dalam bagian 3 dari buku ini.
Akan tetapi, Kitab Suci Perjanjian Lama jelas mengandung benih-benih dari ajaran yang nantinya berkembang penuh di dalam Perjanjian baru mengenai persatuan mistis ini. Allah berdiam di sebuah tempat kudus di tengah bangsa Israel di dalam kemah suci pada masa Musa, dan kemudian di dalam bait Salomo dan [kemudian] bait Zerubabel di Yerusalem. Tentu saja, bahkan bangunan-bangunan termegah seperti ini pun tidak dapat “menampung” TUHAN yang mahabesar (1Raj. 8:27; 2Taw. 2:6; 6:18; Yes. 66:1). Orang-orang kudus Perjanjian Lama diajari oleh para nabi dan memahami, oleh Roh, bahwa secara ultimat bukan bait jasmaniah yang merupakan tempat kudus mereka, tetapi TUHAN semesta alam sendiri! Yehovah mendeklarasikan bahwa “Ia akan menjadi tempat kudus,” bagi umat pilihan-Nya yang sejati di tanah perjanjian (Yes. 8:14).5 Mengenai kaum buangan di Babel, Allah kovenan ini berjanji,
Walaupun Aku membawa mereka jauh-jauh di antara bangsa-bangsa dan menyerakkan mereka di negeri-negeri itu dan Aku menjadi tempat kudus yang sedikit artinya bagi mereka di negeri-negeri di mana mereka datang (Yeh. 11:16).
Perhatikanlah resiprositasnya: Allah berada di tengah umat-Nya di dalam kemah suci/bait, dan umat-Nya berada di dalam Dia sebagai tempat kudus mereka. Sungguh, bukan hanya Allah adalah tempat kudus umat-Nya, tetapi mereka adalah tempat kudus-Nya, seperti yang Mazmur 114:2 nyatakan secara eksplisit, “Yehuda menjadi tempat kudus-Nya.” Selain itu, Mazmur 114 menjelaskan bahwa inilah kasusnya sejak eksodus Israel dari Mesir (ay. 1). Bahwa “Yehuda menjadi tempat kudus-Nya” diberikan sebagai alasan mengapa Laut Merah dan Sungai Yordan dijadikan kering untuk memberi jalan kepada Israel, dan mengapa Gunung Sinai berguncang (ay. 3–6).
Allah yang berada di dalam umat-Nya, dan yang dengan demikian menjadikan mereka kudus sebagai “tempat kudus-Nya,” berada di dalam kita oleh Roh Kudus-Nya yang menguduskan kita. Khususnya adalah nabi Yekezkiel yang memproklamasikan bahwa Yehovah menempatkan Roh-Nya “di dalam” atau “ke dalam” umat-Nya (36:27; 37:14) dan bahwa Ia melakukan ini pada saat regenerasi (kelahiran kembali) kita (11:19; 36:26).
Maka resiprositas dari keberdiaman ini diajarkan di dalam Perjanjian Lama, bukan hanya melalui gambaran kemah suci/bait tetapi juga di luar itu. Daud mengakui bahwa kita berada di dalam Allah (Mzm. 56:5, 11) dan Yehezkiel menubuatkan bahwa oleh Roh Kudus-Nya, Allah berada di dalam kita (36:27; 37:14).
Iman dan Jaminan
Sementara tidak membahas aspek-aspek Trinitarian atau sejarah penebusan dari persatuan kita yang menyelamatkan, Mazmur 56 jelas berbicara tentang persatuan dengan Allah oleh iman. Faktanya, Mazmur 56, Mazmur persatuan ini, menekankan pada kebenaran bahwa persatuan mistis hanyalah melalui iman. Mazmur ini menekankan hubungan yang intim dan tidak terpisahkan antara persatuan dengan Allah (5 rujukan) dan percaya di dalam Dia (3 rujukan), karena “percaya’” (“trust”) adalah salah satu kata biblikal yang utama untuk iman.
Waktu aku takut, aku akan percaya di dalam-Mu; (ay. 4).
Di dalam Allah aku akan memuji firman-Nya, di dalam Allah aku menempatkan percayaku (ay. 5).
Di dalam Allah aku akan memuji firman-Nya, di dalam TUHAN aku akan memuji firman-Nya (v. 11).
Di dalam Allah aku telah menempatkan percayaku (v. 12).
Tentu saja ini menolong kita untuk memahami bahwa, bahkan terkait Mazmur 56 di dalam Perjanjian Lama, persatuan ini bukan sekadar persatuan spasial. Ketika Mazmur 56 berbicara tentang Daud berada “di dalam Allah,” Mazmur ini bukan hanya mengatakan bahwa karena Allah yang tidak terbatas, tidak bermateri, tidak kasatmata adalah mahahadir, Daud berada “di dalam Allah.” Bagaimanapun, di mana lagikah ia bisa berada? Di dalam pengertian spasial itu, bahkan orang-orang yang tidak percaya pun berada “di dalam Allah,” seperti yang Paulus sampaikan kepada pendengarnya yang condong kepada filsafat di Bukit Mars: “Sebab di dalam Dia kita [yaitu Paulus, orang-orang Atena itu, dan umat manusia secara umum] hidup, kita bergerak, dan kita ada” (Kis. 17:28). Karena Allah berada di mana pun, semua manusia, bahkan yang tidak mengenal Allah, berada di dalam Allah secara spasial (karena tidak ada istilah lain yang lebih baik).
Persatuan iman dengan Allah yang non-spasial di dalam Mazmur 56 pasti memiliki sebuah dasar legal (dan benar), karena tidak mungkin persatuan iman ini ilegal (dan tidak benar). Fondasi legal bagi persatuan kita dengan Sang Kudus dari Israel terletak di dalam “penebusan yang banyak sekali” (Mzm. 130:7, KJV) dan pendamaian yang sempurna yang dikerjakan oleh Sang Anak Allah yang membayar harga bagi semua umat pilihan-Nya (Yoh. 10:11, 15). Maka anak Allah meninggikan, “Jika saya berada di dalam Yehovah, sebagai seorang yang percaya, saya memiliki sebuah hak legal dan sebuah klaim yang tidak mungkin gagal, oleh rahmat Allah dan melalui Yesus Kristus yang disalibkan, untuk pengampunan atas semua dosa saya dan pengimputasion kebenaran Allah di dalam pembenaran (Mzm. 32:1–2; Rm. 4:6–8; Pengakuan Iman Belanda 23), untuk status dan hak istimewa milik seorang anak laki-laki atau anak perempuan Allah di dalam pengadopsian, dan untuk sebuah warisan kekal di dalam langit yang baru dan bumi yang baru. Sebagai seorang yang dipersatukan dengan Allah oleh iman, saya memiliki hak di dalam Kristus atas semua berkat keselamatan—secara penuh anugerah dan secara legal.”
Persatuan kita dengan Allah oleh iman bukanlah hanya persatuan legal, tetapi juga persatuan yang hidup atau organis. Persatuan ini adalah suatu keadaan bebagi di dalam kehidupan Trinitas yang teberkati secara tidak terbatas melalui Tuhan Yesus yang sudah bangkit dan oleh keberdiaman Roh. Hal-hal yang ajaib ini tentu saja akan dibahas secara lebih penuh di dalam bab-bab selanjutnya dari buku ini yang [sebagian besarnya] membahas Kitab Suci Perjanjian Baru, tetapi di sini perlu disampaikan sesuatu dari perspektif Perjanjian Lama.
Daud mendeklarasikan bahwa persekutuannya yang hidup dengan Yehovah lebih berharganya baginya melebihi segala sesuatu,
Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya (Mzm. 27:4).
Di dalam 1 Samuel 25, Abigail, “seorang perempuan yang memiliki pemahaman” (ay. 3, KJV) yang akan segera menjadi istri Daud, menembus lebih dalam, melampaui persekutuan atau komuni dan sampai pada fondasi yang mendasarinya: persatuan. Di dalam bahasa kiasan yang indah, ia menanamkan jaminan jasmaniah dan kekal dari putra Isai itu di dalam persatuannya dengan Yang Mahatinggi: “nyawa tuanku akan terbungkus dalam bungkusan tempat orang-orang hidup pada TUHAN, Allahmu,” sedangkan “nyawa para musuhmu akan diumbankan-Nya dari dalam salang umban” (ay. 29).
Ketika berbicara tentang Yehovah sebagai “tempat perlindungan” dan “tempat perteduhan,” yang di dalam-Nya kita “bermalam” (atau “tinggal”) dan “duduk” (atau “berdiam”) Mazmur 91 bergerak di dalam dunia pemikiran tentang persatuan dan persekutuan dengan Allah kovenan kita:
Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”… Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok…. Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu (ay. 1–2, 4, 9).
Lebih lanjut ajaran Perjanjian Lama tentang persatuan mistis sebagai persatuan yang organis atau yang hidup ditemukan di dalam Kitab Yesaya. Allah yang kekal, “kudus,” “tinggi,” dan “mulia” tinggal dan berdiam “di tempat tinggi dan di tempat kudus” bersama umat-Nya “yang … rendah hati” (persatuan dengan Allah), sehingga Ia menghidupkan kita dan memberi kita semangat secara batiniah dan spiritual (persekutuan dengan Allah):
Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: “Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk (57:15).
Karena persatuan legal dan organis kita dengan Allah adalah persatuan oleh iman, persatuan ini juga merupakan persatuan yang sadar.6 Di dalam Mazmur 56, Daud menulis tentang persatuan mistis (ay. 5, 11, 12) di dalam hubungan yang intim dengan kepercayaan atau iman (ay. 4, 5, 12). Memercayai adalah sebuah aktivitas spiritual oleh hati dalam bersandar pada Yehovah untuk pelepasan oleh-Nya yang penuh rahmat (ay. 2, 14). Di dalam Mazmur 56, Daud menyatakan mengenai dirinya sendiri bahwa Ia berada “di dalam Allah,” yang mengindikasikan bahwa ia mengetahui, dan sadar serta yakin, akan persatuannya dengan Yehovah, sama seperti orang percaya Perjanjian Baru mengakui dengan sungguh-sungguh,
[Aku memiliki] suatu pengetahuan yang pasti … [dan] juga satu keyakinan yang teguh yang Roh Kudus kerjakan di dalam hatiku melalui Injil, bahwa bukan hanya bagi orang lain, tetapi juga bagiku, pengampunan dosa, kebenaran yang kekal, dan keselamatan telah dikaruniakan secara cuma-cuma oleh Allah, semata-mata oleh anugerah, hanya karena jasa Kristus (Katekismus Heidelberg, J. 21).
Siapa? dan Di Mana?
Mari kita mengambil dari sejumlah informasi di dalam judul Mazmur 56 untuk menjawab dua pertanyaan penting. Pertanyaan pertama adalah, “Siapa?” Siapakah dia yang berbicara tentang berada “di dalam Allah” di dalam Mazmur persatuan ini? Jawabannya adalah Daud, sebuah tipe yang mulia dari Yesus Kristus, Tuhan kita, sebagai raja: raja yang benar, raja yang menderita, raja pejuang, raja yang ditinggikan. Meskipun bukan seorang imam, pada momen-momen tertentu Daud menunjukkan sikap seorang imam. Sebagai contoh, ia “berbaju efod dari kain lenan” ketika tabut perjanjian dibawa ke Yerusalem (2Sam. 6:14; 1Taw. 15:27). Sebagai seorang nabi, Daud adalah “pemazmur yang disenangi di Israel” (2Sam. 23:1), penulis lebih dari separuh dari 150 Mazmur yang diinspirasikan. Daud adalah seorang yang berkenan di hati Allah (1Sam. 13:14; Kis. 13:22) dan, seperti Nuh dan Abraham misalnya, ia adalah salah seorang kepala kovenan yang dibicarakan di dalam Perjanjian Lama.
Daud inilah, seorang yang teramat saleh yang memegang jabatan yang sangat tinggi di Israel, gereja Perjanjian Lama, yang menulis Mazmur persatuan ini. Tentang hal ini orang yang percaya hanya bisa berseru, “Betapa sesuainya! Ini sungguh benar dan tepat.” Ketika membaca sejarah Perjanjian Lama dari kejatuhan Adam sampai nabi Maleakhi, kita hampir tidak bisa memiliki orang yang lebih baik untuk tugas menulis tentang persatuan mistis ini. Jika ada orang yang diperlengkapi, bahkan di dalam masa-masa Perjanjian Lama yang relatif lebih kelam, untuk berbicara tentang persatuan dengan Allah melalui aktivitas iman yang sadar, itu pastilah Daud, orang yang telah melalui begitu banyak hal di dalam perantauannya yang penuh peristiwa di dalam dunia ini (1Taw. 29:15; Mzm. 39:13), seperti yang tercatat di dalam sejarah eksternalnya yang ekstensif (1Sam. 16–1Raj. 2; 1Taw. 11–29) dan Mazmur-Mazmurnya yang menyentuh hati yang menyibakkan kehidupan internal jiwanya.
Pertanyaan kedua adalah, “Di mana?” Di manakah Daud berada ketika ia menulis Mazmur persatuan ini? Untuk sosok Perjanjian Lama, Daud sangat banyak berpindah-pindah, khususnya ketika ia dikejar-kejar dari satu tempat ke tempat lain di segala jenis tempat di tanah perjanjian itu: di hutan dan di padang gurun, di lembah dan diperbukitan, di padang dan di sungai, di dalam gua dan seputar batu karang. Kita melihat Daud di berbagai kota di Israel, seperti Betlehem, Gibea, Efes-Damim, Rama, Nob, Kehila, Karmel, Ziklag, Hebron, Yerusalem, Kiryat-Yearim, Bahurim, Mahanaim, dan Gilgal; dan juga di lokasi-lokasi lainnya: kamar tidurnya, istana-istana Saul dan Daud, kemah suci Allah, dan tempat pengirikan Arauna. Kita melihat Daud mengikuti domba-domba ayahnya, usungan jenazah Abner, dan tabut Yehovah. Ia juga mengunjungi Mizpa di Moab dan Raba di Amon, selain banyak tempat lain yang berkaitan dengan perang-perangnya melawan bangsa lain (2Sam. 8; 1Taw. 18).
Jadi, di manakah Daud berada ketika ia menulis Mazmur 56? Jawabannya adalah bahwa dari semua tempat yang mungkin, Daud menulis Mazmur persatuan ini di tanah bangsa Filistin yang tidak bersunat! Ia berbicara tentang dipersatukan dengan TUHAN semesta alam di dalam iman yang sadar sementara berada di wilayah musuh, bukan di tanah yang pada saat itu didiami oleh kedua belas suku. Ia menulis tentang dipersatukan dengan Yang Kudus dari Israel di tanah milik Dagon, dewa ikan bangsa Filistin.
Daud sedang mengajari kita bahwa persatuan dengan Yang Mahatinggi adalah penghiburan bagi kita terhadap semua penindasan oleh penyembahan berhala, bahkan ketika masyaralat kita menjadi pagan dengan semakin terbuka dan agresif. Karena pada masa kita, patut disayangkan bahwa dunia Barat sedang merosot kepada kondisi seperti sebelum Injil datang ke Eropa dan Amerika Serikat (dan bahkan lebih buruk!), khususnya di dalam pemberontakannya dan pandangan-pandangannya yang menyimpang tentang seksualitas.
Penghiburan bagi kita adalah bahwa kita dipersatukan dengan Allah bukan hanya ketika kita sedang mengalami waktu yang indah di konferensi BRF, bertumbuh di dalam pengetahuan kita akan kebenaran karena acara ini ada di dalam Yesus dan dikelilingi oleh sesama orang kudus, atau ketika kita sedang membaca sebuah buku Reformed yang membangun seperti buku ini. Tetapi kita juga dipersatukan dengan Allah di dalam aktivitas-aktivitas kita setiap hari di dalam masyarakat dan di tengah-tengah Babel dunia ini, seperti Daud yang berada di tanah Filistin ketika ia menulis Mazmur 56.
Lebih lanjut lagi, di daerah manakah Daud berada di Filistea di dalam Mazmur 56? Ia berada di salah satu dari lima kota dari Pentapolis Filistin. Kota itu bukan Asdod atau Askelon atau Ekron atau Gaza. Daud berada di Gat. Kitab 1 Samuel menunjukkan bahwa Daud berada di Gat pada dua kesempatan: yang pertama adalah sebuah kunjungan singkat (21:10–15) dan yang kedua dengan waktu yang lebih lama, selama 16 bulan (27:1–7). Sesuai judulnya, Mazmur 34 adalah Mazmur lain yang berlatarkan Gat, dan ditulis selama waktu pertama Daud berada di sana di dalam kondisi yang tidak terhormat.7 Mazmur 56 tidak secara jelas menunjukkan di dalam periode mana Mazmur ini ditulis.
Data biblikal apakah yang paling menonjol tentang Gat? Gat adalah kampung halaman si raksasa Goliat (1Sam. 17:4, 23)! Kitab Suci menyebut empat raksasa pagan lainnya yang adalah orang-orang Gat (2Sam. 21:15–22; 1Taw. 20:4–8).8 Gat pasti menjadi lingkungan yang memusuhi dan mengintimidasi bagi seorang anak Allah seperti Daud!9
Kata-kata populer di dalam dunia saat ini termasuk “tempat aman” atau “ruang aman.” Tentu saja, keberadaban dan kesopanan harus ada di dalam masyarakat, dan tempat-tempat publik harus terbebas dari kekerasan dan bahasa kotor. Akan tetapi, asal-usul dan sebagian besar dorongan untuk “ruang aman” berasal dari orang-orang yang mempromosikan dosa-dosa seksual yang najis, dan yang berupaya meniadakan kritik apa pun atau bahkan meniadakan kehadiran orang-orang yang tidak menyetujui mereka.10 Semakin dunia ini menciptakan “ruang aman” bagi perilaku fasik seperti itu, semakin banyak ruang di mana orang Kristen tidak disambut dan/atau dibungkam, dan semakin banyak ruang yang akan kita hindari (bdk. Ef. 5:11), karena tempat-tempat seperti itu “aman” bagi dosa namun berbahaya bagi orang-orang yang percaya.
Tetapi, jika kita menghilangkan bias anti-Kristen dan politis yang menjijikkan dari terminologi itu, “ruang aman” orang yang percaya, tempat di mana anak-anak Allah merasa aman, adalah berada “di dalam” atau dipersatukan dengan Yehovah. Mazmur 91:1 mengidentifikasi Yang Mahatinggi sebagai “tempat rahasia” (TB = “lindungan”). Musa mendeklarasikan, “Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal” (Ul. 33:27)!
Di dalam Mazmur 56, Daud berada di sebuah kota yang fasik, di mana juga terdapat raksasa-raksasa pagan, yang bisa dibandingkan dengan orang-orang percaya Perjanjian Baru berada di sebuah universitas yang sangat sekuler pada abad kedua puluh satu ini. Roh Allah bekerja atas jiwa putra bungsu Isai ini untuk menuiis tentang persatuan dengan Allah, karena itulah ikatan dan kebenaran yang ia perlu tarik dari lingkungan yang berbahaya itu. “Di dalam Allah aku telah menempatkan percayaku,” seru Daud (ay. 12). Dipersatukan dengan-Nya di tengah-tengah orang-orang Filistin yang adalah musuhnya, TUHAN adalah “ruang aman” Daud. Saudara-saudara yang terkasih, Allah kovenan kita juga adalah ruang aman bagi kita!
Tidak Akan dan Akan
Di dalam Mazmur persatuan ini, Daud memberi tahu kita bahwa ada sesuatu yang tidak akan ia lakukan dan bahwa ada sesuatu yang akan ia lakukan. Ia mendeklarasikan bahwa ia tidak akan takut dan bahwa ia akan memuji.
Sering kali di dalam Mazmur-Mazmur kita membaca tentang Daud memerangi rasa takut yang berdosa melalui iman di dalam Allah, seperti di dalam Mazmur 27:1: “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?”11 Tetapi Mazmur 56 ini distingtif karena di sini Daud mengingatkan akan persatuan mistis, kebenaran bahwa ia berada “di dalam Allah.” Di dalam Mazmur ini, Daud memberi tahu kita bahwa ia menghadapi serangan-serangan “setiap hari” (TB = “sepanjang hari,” ay. 2, 3, 6) dari “seteru-seteru” dan “musuh”-nya (ay. 3, 10).12 Akan tetapi, ia tidak akan menyerah terhadap kegentaran, karena ia berada di dalam persatuan yang sadar dengan Allahnya (ay. 5, 11, 12) dan bersandar pada-Nya:
Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu (v. 4).… di dalam Allah aku menempatkan percayaku, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? (v. 5).
… di dalam Allah aku menempatkan percayaku, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? (v. 12).
Ini adalah penalaran Daud yang percaya: “Aku tahu bahwa aku dipersatukan dengan Allah, maka aku tidak akan yakut. Kapan pun saya menyadari rasa takut muncul di dalam diriku, aku akan percaya di dalam Yehovah, bahkan di Filistea dan di Gat, kota para raksasa. Aku akan bersandar pada Allah. Oleh karena itu, aku tidak akan takut terhadap apa yang manusia atau daging belaka bisa lakukan terhadap aku. Aku akan percaya di dalam Dia dan aku tidak akan takut.” Sang pemazmur yang disukai di Israel ini adalah teladan bagi kita semua!
Selain memberi tahu kita apa yang tidak akan kita lakukan, Daud juga memberi tahu kita apa yang akan ia lakukan. Sebagai orang yang dipersatukan dengan Allah yang sejati dan hidup, Daud akan memuji Firman-Nya. Di sini Daud bukan bergirang karena pekerjaan yang telah TUHAN lakukan, tetapi karena Firman yang telah Ia ucapkan. Dengan “firman-Nya” (ay. 5, 11), putra Isai ini merujuk kepada ucapan-ucapan dari Allah yang diinspirasikan, khususnya ketika ucapan-ucapan itu berpusat kepada janji kepada Daud sendiri tentang kelepasan baginya dan pengangkatannya sebagai raja, yang, secara esensial, merupakan janji ilahi akan keselamatannya dan keselamatan kita di dalam Mesias. Mengenai Firman Allah yang teguh dan pasti, Daud mendeklarasikan bukan hanya bahwa ia akan memercayainya atau berpegang padanya atau menaatinya atau berbicara tentangnya. Sebagai orang yang menghidupi persatuannya dengan Allah dan bergantung pada-Nya, Daud berkata, “Aku akan memuji firman-Nya” (ay. 5). Daud sedang memproklamasikan, “Aku akan menyanjung, meninggikan, dan membesarkan Firman Allah sebagai firman kebenaran dan rahmat, firman yang membawa keselamatan dan penghiburan kepadaku dari ‘penebusku (Mzm. 19:14).”
Sekarang kita perlu melihat bahwa, di dalam Mazmur 56, Daud mempresentasikan hal ini di dalam bentuk sebuah pengakuan, yaitu sebuah janji atau nazar, sebanyak tiga kali:
aku akan memuji firman-Nya (v. 5).
Di dalam Allah aku akan memuji firman-Nya: di dalam TUHAN aku akan memuji firman-Nya (v. 11).
Sadar akan persatuan ini, Daud di sini menjanjikan bahwa ia akan memuji Firman yang diinspirasikan dari TUHAN, yang menyelamatkan dia dari semua takut dan sengsaranya. Saudara-saudara yang terkasih, ini adalah resolusi yang baik bagi kita semua!
Bagi kita pun ini adalah jalan, satu-satunya jalan, yang dengannya kita beribadah kepada Allah. Kita baru bisa dengan sungguh-sungguh memuja Yehovah ketika mengetahui bahwa kita dipersatukan denganNya. Agar ibadah kita sejati, kita harus memahami bahwa kita berada di dalam persatuan dengan Alllah yang pujian-pujian kepada-Nya kita nyanyikan. Jika tidak demikian, Ia hanyalah Allah yang jauh, bukan Dia yang datang untuk menjumpai kita di dalam Injil anugerah yang cuma-cuma dan yang bersekutu dengan kita di dalam Yesus Kristus. Seperti Daud, kita mendedikasikan diri kita kepada ibadah kepada Yehovah: “Nazar-nazar kepada-Mu [mengikat] aku, ya Allah: Aku akan mempersembahkan puji-pujian kepada-Mu” (ay. 13, KJV).
Demikian juga, persatuan yang sadar dengan Allah Tritunggal yang empunya langit dan bumi adalah satu-satunya jalan yang dengannya kita bisa memuji Firman Allah. Jika kita tidak memahami bahwa kita dipersatukan dan disatukan dengan Tuhan, ketika kita mendengar Kitab Suci dijelaskan kepada kita, itu hanyalah bunyi, hanya kalimat-kalimat, hanya informasi. Tanpa persatuan mistis, membaca Alkitab sendiri atau mendengarkan khotbah oleh seorang hamba Tuhan atau duduk di sekeliling meja untuk saat teduh keluarga hanyalah perkara coretan-coretan hitam pada sebuah halaman atau gema-gema suara di dalam telinga kita.
Tetapi dengan didiami oleh Roh Kudus dan disatukan dengan Tuhan oleh iman yang sejati, kita mengetahui bahwa Firman Allah “hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun” (Ibr. 4:12). Alkitab ini hidup bagi kita karena kita dipersatukan dengan Penulisnya. Kita berada di dalam Dia dan Ia berada di dalam kita. Seperti Daud yang kudus, orang Kristen berjanji, “Di dalam TUHAN aku akan memuji firman-Nya” (Mzm. 56:11), kecuali bahwa saat ini, tidak seperti putra Isai itu, kita memiliki dan membesarkan Perjanjian Baru dan seluruh 39 kitab dari Perjanjian Lama.
“Di dalam” dan “Bagi”
Selain “di dalam,” ada satu preposisi lain di dalam Mazmur 56 yang signifikan secara theologis, yaitu kata “bagi” (Ing. “for”): “God is for me” (ay. 9, KJV; TB ay. 10, “Allah memihak kepadaku,” atau secara harfiah, ”Allah bagiku”). Pernyataan bahwa Allah adalah “bagi” kita muncul di antara kedua klaster tentang persatuan dengan Allah, karena kata ini dijepit di antara ayat 5 dan ayat 11–12. Proklamasi Daud, “Allah bagiku,” muncul tepat sebelum klaster kedua, yang berisi tiga pernyataan tentang persatuan dengan Allah di dalam ayat 11–12.13
Jika berada di dalam Allah berarti kita dipersatukan dengan-Nya, maka keberadaan Allah bagi kita memberi tahu kita di pihak Siapa kita berada. “Allah bagiku. Ia berada di pihakku,” seru Daud. Dengan anugerah-Nya yang mahakuasa dan tidak bisa ditolak, Yehovah telah menempatkan seluruh umat pilihan dan tebusan-Nya di sisi-Nya, sehingga Ia berada di sisi kita dan bagi kita. Oleh karena itu, Ia akan menolong, mendukung, membela, dan melepaskan semua umat-Nya yang telah diregenerasikan yang, oleh Roh-Nya, sedang berjuang demi tujuan-Nya.
Semakin banyak orang di Israel mengakui bahwa meskipun Daud telah dipaksa untuk melarikan diri dari Saul, Allah adalah bagi Daud dan berada di pihaknya. Maka mereka semakin mendukung klaim-klaim putra bungsu Isai ini atas kerajaan itu dan berpihak kepadanya. Sebagai contoh, pada momen kunci di dalam naiknya Daud ke atas takhta, kita membaca tentang proklamasi Amasai yang diinspirasikan bahwa ia dan tentaranya adalah bagi Daud seperti orang-orang yang “memihak kepada Daud:”
Lalu Roh menguasai Amasai, kepala ketiga puluh orang itu: Kami ini bagimu, hai Daud, dan pada pihakmu, hai anak Isai! Sejahtera, sejahtera bagimu dan sejahtera bagi penolongmu, sebab yang menolong engkau ialah Allahmu! (1Taw. 12:18).
Inilah hubungan di dalam Mazmur 56: Saya berada “di dalam ” Allah dan Ia adalah “bagi” saya. Kita bahkan dapat menyimpulkan, karena saya berada “di dalam Allah,” Allah adalah “bagi” saya; dan karena Allah adalah “bagi” saya, saya berada “di dalam Allah,” karena Allah bukan “bagi” siapa pun yang tidak berada “di dalam ” Dia. Di dalam konteks Mazmur 56, Daud mengakui bahwa ia bergantung pada persatuannya dengan Yehovah karena ia pasti memiliki Allah “bagi”-nya. Daud membutuhkan Allah bagi dia, karena ia memiliki “banyak … seteru” yang “memerangi” dia (ay. 3) dan “mereka senantiasa bermaksud jahat terhadap[-nya]” (ay. 6). Khususnya pada masa-masa tertentu, inilah pengalaman orang Kristen: “TUHAN semesta alam pastilah bagiku dan menolongku, karena saya memiliki banyak musuh dan mereka melawanku.”
Karena Allah yang penuh rahmat adalah bagi Daud dan Daud berada di dalam Allah, semua “sengsaranya” di Israel, Moab (1Sam. 22:3–4), Filistea dan tempat-tempat lainnya dicatat dengan penuh kasih oleh TUHAN, dan setiap “air mata” Daud yang begitu banyak itu disimpan di dalam “kirbat” Allah dan dicatat di dalam “daftar”-Nya Banyak anak Allah yang telah menjadikan perkataan Pemazmur ini sebagai perkataan mereka sendiri: “Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?” (Mzm. 56:9). Mazmur persatuan ini memastikan bagi kita bahwa “sengsara ” kita ada di dalam “daftar” milik Yehovah dan “air mata ” kita ada di dalam “kirbat”-Nya karena Ia adalah bagi kita dan kita berada “di dalam Allah!”
Untuk bahan-bahan lain dalam bahasa Indonesia, klik di sini.
________________________________________

