Menu Close

Bab 5: Persatuan dan Pemilihan

       

Brian L. Huizinga

Introduksi

Ada dua hal yang akan saya sampaikan sebagai introduksi. Pertama, diperlukan spesifikasi terkait topik doktrinal dari artikel ini. Saya tidak akan mencoba untuk memberikan sebuah presentasi yang ketat, komprehensif, dan antitetis tentang doktrin yang sangat mendalam dan sering kali tidak disukai tentang kedaulatan, predestinasi ganda (pikirkan Roma 9:13: “Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau”) ini. Saya juga tidak akan mencoba untuk membahas distingsi antara supralapsarianisme dan infralapsarianisme, yang berkaitan dengan urutan logis dari dekrit-dekrit keputusan kehendak Allah terkait pemilihan. Selain itu, saya tidak akan mencoba memberikan sebuah pembahasan polemis terkait doktrin tentang pactum salutis, yang merujuk kepada sebuah pakta atau kesepakatan yang dibuat antara Allah Bapa dan Allah Anak di dalam kekekalan terkait keselamatan kita. Pre­destinasi ganda, distingsi antara supra dan infra, dan pac­tum salutis, memang berhubungan dengan topik saya, tetapi masing-masing adalah topik lain untuk kesempatan lain, karena buku ini dan bab saya berfokus pada persatuan dengan Kristus.

Kedua, bab ini akan memiliki empat bagian utama. Saya akan memulai dengan menjelaskan tentang persatuan kita yang hidup dengan Kristus, yang merupakan kebenaran fundamental yang ingin kita pahami di dalam buku ini. Kedua, saya akan menjelaskan tentang pemilihan kekal kita di dalam Kristus. Ketiga, saya akan mengaitkan pemilihan kekal kita di dalam Kristus dengan persatuan kita yang hidup dengan Kristus. Keempat, saya akan menutup dengan jaminan (kepastian) pribadi bagi pemilihan kekal kita di dalam Kristus.

        

Persatuan Kita yang Hidup dengan Kristus

Persatuan dengan Kristus adalah doktrin yang paling sering diajarkan di dalam Kitab Suci dengan frasa “di dalam Kristus.” Sebagai contoh, kita membaca di dalam 1 Korin­tus 1:30, “Tetapi oleh Dia kamu berada [di] dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.” Frasa “di dalam Kristus” muncul secara menonjol di dalam surat-surat Paulus dan kita bisa dengan mudah melewatkannya begitu saja ketika membacanya karena frasa itu sudah begitu biasa bagi kita. Tetapi betapa mengagumkannya kebenaran ini! Apakah orang-orang Filistin pernah mendeklarasikan, “Kami berada di dalam Dagon”? Apakah orang-orang Muslim mengklaim, “Kami berada di dalam nabi Muhammad”? Injil dari Kekristenan biblikal mendeklarasikan bahwa Anda berada “di dalam Kristus,” dan apa yang membuat kebenaran ini semakin menakjubkan adalah bahwa Kristus adalah Anak Allah yang kekal, sementara kita hanyalah cacing!

A. Secara Negatif

Tetapi apakah tepatnya persatuan dengan Kristus ini?

Pertama, persatuan kita dengan Kristus bukan terdiri dari proksimitas jasmaniah yang sangat dekat. Sebuah mata kapak besi dan gagang kayunya memiliki persatuan jasmaniah yang organis yang terdiri hanya dari proksimitas jasmaniah yang dekat. Mereka berbagi keterkaitan jasmaniah sebagai dua objek yang menempel bersama secara erat. Jika mata kapak itu terlepas dari gagang dan menancap di dalam tanah, mata kapak itu harus ditarik keluar dan disatukan kembali dengan gagangnya dengan menekan gagang itu kembali ke dalam mata kapak itu. Selama pelayanan Tuhan kita di bumi, beragam individu berbagi proksimitas yang serupa dengan-Nya: Simeon yang lanjut usia yang memeluk-Nya (Luk. 2:28), anak-anak yang dijamah oleh-Nya (Mat. 19:15), Yohanes, murid yang dikasihi itu, yang bersandar dekat kepada-Nya (Yoh. 13:23), dan Yudas si pengkhianat bahkan mencium Dia (Mat. 26:49). Contoh terakhir ini adalah bukti bahwa orang bisa memiliki proksimitas jasmaniah yang sangat dekat dengan Kristus namun tetap binasa karena tidak adanya persatuan yang menyelamatkan. Ketika Alkitab mengajarkan bahwa kita berada “di dalam Krisus” dan “dengan Kristus,” yaitu kita berada di dalam persatuan dengan Kristus, Alkitab bukan merujuk kepada proksimitas jasmaniah yang dekat. Akan tetapi, bukankah kita sangat mengharapkan bahwa satu hari kelak, ketika kita dipermuliakan di dalam surga, kita di dalam pengertian tertentu akan menikmati proksimitas yang dekat dengan Sang Juru Selamat, sehingga kita bisa melihat wajah-Nya dan memandang ke dalam mata-Nya?

Kedua, persatuan kita dengan Kristus bukanlah sebuah persatuan jasmaniah yang organis (hidup) seperti persatuan antara sebuah cabang dan pokoknya atau bahkan persatuan korpo­real antara bayi yang belum lahir dan ibunya. Terdapat persatuan yang paling luar biasa antara bayi yang belum lahir dan ibunya, sehingga dikatakan seorang bayi berada “di dalam ibunya” dan kedua manusia ini berbagi satu kehidupan biologis. Meskipun kaum Anabaptis menyangkalnya, Kristus sendiri secara aktual dipersatukan dengan perawan Maria di dalam persatuan seperti itu, karena Ia dikandung oleh Roh Kudus di dalam rahim Maria untuk mengambil bagian dari daging dan darahnya, dan itulah sebabnya disebut “buah rahim[-nya]” (Luk. 1:42; Pengakuan Iman Belanda 18). Akan tetapi, kita berada “di dalam Kristus ” bukan di dalam pengertian yang sama dengan keberadaan Dia di dalam Maria atau keberadaan bayi mana pun di dalam rahim ibunya. Doktrin Katolik Roma tentang transubstansiasi, yang mengajarkan bahwa tubuh jasmaniah Yesus berada di bawah penampakan roti di dalam Misa, secara esensial melibatkan persatuan seperti itu karena ketika wafer itu dimasukkan ke dalam mulut dan ditelan, hasilnya secara alamiah adalah sebuah persatuan biologis yang di dalamnya tubuh jasmaniah Kristus berpartisipasi, dicerna, dan dibawa melalui aliran darah. Persatuan kita yang menyelamatkan dengan Kristus bukanlah suatu persatuan jasmaniah yang organis berupa kehidupan biologis yang dimiliki bersama.

Ketiga, persatuan kita dengan Kristus bukanlah peleburan pribadi-pribadi kita. Persatuan ini bukanlah kasus di mana Anda sebagai satu pribadi terhisab secara mistis ke dalam pribadi Yesus atau Yesus yang terhisab ke dalam pribadi Anda, yang menyebabkan identitas-identitas personal yang berbeda itu terhapus. Jika itu benar, maka Anda akan menjadi Yesus dan Yesus akan menjadi Anda. Inilah ajaran dari beragam mistik. Secara esensial ini juga ajaran setiap orang yang mengaku Kristen yang menyangkal bahwa orang-orang yang percaya melakukan aktivitas-aktivitas spiritual yang kudus secara aktual, dan sebaliknya mengklaim bahwa Kristus di dalam diri mereka inilah yang melakukan tindakan memercayai itu bagi mereka, yang bertobat bagi mereka, dan yang berbuat baik bagi mereka, seakan-akan pribadi Yesus telah terhisab ke dalam pribadi mereka sendiri. Persatuan dengan Kristus bukanlah peleburan pribadi-pribadi.

Keempat, persatuan kita dengan Kristus tidak identik dengan komuni dengan-Nya. Persatuan mistis berdistingsi dari dan lebih mendalam daripada komuni dengan Dia. Sejumlah theolog tidak membedakan persatuan dan komuni, tetapi menggunakan istilah-istilah ini secara saling bergantian; akan tetapi, Katekismus Besar Westminster memang menjadikan komuni sebagai satu manifestasi dari persatuan.1 Komuni dengan Kristus adalah pengalaman yang sadar akan persekutuan yang manis dengan Dia, dengan mengenal Dia oleh iman sebagai Juru Selamat dan mendengarkan suara-Nya di dalam Injil. Persatuan dengan Kristus adalah sesuatu yang lebih mendalam sehingga, bahkan jika orang yang percaya untuk sementara waktu kehilangan penikmatan yang sadar akan komuni yang manis dengan Kristus ketika ia dengan angkuhnya terus berkubang di dalam dosa yang menjijikkan, atau jika ia mengalami kemerosotan ke dalam kelemahan selama satu masa waktu dan dikalahkan oleh keraguan dan ketidakpercayaan yang membuatnya kewalahan, dan menyangka Kristus telah meninggalkan dia, ia tidak pernah kehilangan persatuan dengan Kristus.

Kelima, persatuan dengan Kristus bukanlah sekadar sebuah persatuan legal yang di dalamnya Kristus adalah Kepala perwakilan kita. Vladimir Putin adalah kepala perwakilan dari orang-orang Rusia sehingga ketika ia berperang dengan Ukraina, entah orang-orang Rusia menyukai itu atau tidak, mereka semua berada di dalam perang dengan Ukraina. Sementara orang-orang Rusia mungkin terhimpun di dalam Putin secara perwakilan sebagai kepala negara mereka, mereka tidak berada di dalam dia secara organis sebagaimana Putin pernah berada di dalam rahim ibunya. Kita dipersatukan dengan Kristus, Kepala kita secara legal atau perwakilan, sebagaimana semua manusia seturut natur dipersatukan dengan kepala pertama, yaitu Adam, secara legal atau perwakilan (Rm. 5:12–21). Persatuan legal ini, yang di dalamnya Kristus adalah Kepala dari suatu kumpulan pribadi-pribadi, ditekankan di dalam Roma 8:1: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Akan tetapi, persatuan legal dengan Kristus yang niscaya dan penting ini berdistingsi dari persatuan kita yang hidup atau vital dengan Kristus.

Keenam, persatuan dengan Kristus bukanlah hanya persatuan dengan beberapa atau bahkan semua manfaat-Nya. Dengan dipersatukan dengan Kristus, kita adalah pengambil bagian dari semua manfaat-Nya yang menyelamatkan, seperti hikmat, kebenaran, pengudusan, dan penebusan (1Kor. 1:30). Akan tetapi, persatuan dengan Kristus bukanlah persatuan kita dengan sebuah doktrin atau sebuah berkat seperti pengudusan. Persatuan dengan Kristus melebihi dipersatukan dengan manfaat-manfaat.

B. Secara Positif

Persatuan kita dengan Kristus adalah persatuan yang riil, menyelamatkan, spiritual, dan hidup, yang dimiliki oleh setiap orang berdosa pilihan dengan Yesus Kristus Sang Juru Selamat dikarenakan masuknya Roh ke dalam hati kita. Sangat sulit untuk mendeskripsikan persatuan ini secara positif. Para theolog biasanya menyebut ini sebagai persatuan mistis. Ini adalah sebuah persatuan spiritual yang melampaui indra-indra kita dan melebihi pemahaman kita yang terbatas. Untuk membedakannya dari persatuan kita yang kekal dengan Kristus di dalam pemilihan dan persatuan legal kita dengan Kristus sebagai Kepala perwakilan kita, saya akan merujuk kepada persatuan ini sebagai persatuan kita yang hidup dengan Kristus.

Yang paling penting untuk memahami pesatuan kita yang hidup dengan Kristus adalah kebenaran bahwa Roh Kudus menciptakan, dan bahkan kita bisa mengatakan secara esensial bahwa Roh Kudus adalah, persatuan ini.2 Di dalam 1 Korintus 6:16–17, kita membaca, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: ‘Keduanya akan menjadi satu daging.’ Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Laki-laki yang bercabul memiliki tubuh, ia menemukan seorang perempuan cabul yang memiliki tubuh, dan laki-laki itu berhubungan seksual dengan perempuan itu sehingga menciptakan sebuah persatuan yang sang rasul sebut “satu tubuh.” Ini adalah sebuah persatuan daging. Tetapi orang yang disatukan dengan Tuhan adalah “satu roh.” Sebagai seorang manusia, saya memiliki sebuah roh di dalam pengertian sebuah kehidupan spiritual, sebuah jiwa. Kehidupan saya entah diarahkan kepada Allah di dalam kasih atau menjauh dari Allah di dalam kebencian. Kristus memiliki Roh Kudus-Nya. Persatuan antara saya dan Kristus adalah spiritual, dan diciptakan ketika Roh-Nya memasuki jiwa saya sehingga Kristus dan saya, oleh ikatan Roh, menjadi “satu roh.” Kami berbagi niat-niat, kerinduan-kerinduan, dan afeksi-afeksi kudus yang sama bagi Allah. Mazmur 42 dan 63 menyediakan, di dalam deskripsi mereka tentang orang percaya yang bernapas, megap-megap, dan rindu akan Allah, ekspresi-ekspresi terbaik dari apa maksudnya berada di dalam persatuan dengan Kristus sebagai “satu roh” (“napas”). Karena dipersatukan dengan Kristus, saya merindukan Allah seperti Kristus.

Senada dengan itu, di dalam Yohanes 14:16–18, Yesus mengajarkan,

Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.

Kristus datang kepada kita dan mempersatukan diri-Nya kepada kita oleh Roh-Nya, yang berada di dalam kita dan berdiam bersama kita untuk selama-lamanya.

Meskipun Anda tidak bisa melihat atau menangkap persatuan ini dengan indra-indra kita, ini adalah persatuan yang riil, hidup, dan spiritual, yang sama riil dan hidupnya seperti Roh Kudus yang tidak kasatmata ini adalah riil dan hidup. Roh membentuk persatuian ini sehingga ketika Kristus menapaskan Roh-Nya ke dalam hati kita pada saat regenerasi, meskipun Anda bahkan tidak sadar tentangnya, Anda dalam sekejap sudah dipersatukan dengan Kristus untuk selama-lamanya. Ia berada di dalam Anda dan Anda berada di dalam Dia. Sebelum Roh datang ke dalam hati Anda, tidak ada persatuan yang hidup dengan Kristus. Seorang manusia bisa begitu dekat secara jasmaniah dengan Yesus sampai-sampai ia bisa mencium-Nya seperti yang dilakukan oleh orang yang telah ditentukan untuk binasa itu, tetapi, jika Roh Kudus tidak berdiam di dalam dirinya, tidak ada persatuan yang menyelamatkan. Secara ajaib, Roh tidak menyatukan orang-orang berdosa pilihan dengan manfaat-manfaat, tetapi kepada Kristus Yesus, satu pribadi, yang membuat pengalaman yang sadar akan komuni oleh iman menjadi mungkin, ketika kita menikmati sebuah hubungan kasih yang mutual dan familiaritas yang bahkan lebih dekat daripada yang dimiliki oleh seorang suami dan istrinya.

Yang paling menghibur dari segalanya, ini adalah persatuan yang tidak bisa terputus, tidak bisa terurai, dan kekal. Mata kapak mungkin bisa terlepas dari gagang—persatuan itu terputus. Bayi akan keluar dari rahim ibunya dan tali pusarnya dipotong—persatuan itu terputus. Suami dan istri akan terpisah ketika salah satu dari mereka meninggal—persatuan itu terputus. Tetapi tidak ada apa pun yang bisa memutus persatuan Anda dengan Kristus. Roma 8 menyimpulkan, “kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (ay. 39). Seperti yang Kristus sendiri katakan tentang Roh-Nya, Ia akan “Ia menyertai kamu selama-lamanya” (Yoh. 14:16).

         

Pemilihan atas Diri Kita di dalam Kristus

Sekarang setelah kita memiliki suatu pemahaman akan persatuan kita yang hidup dengan Kristus, kita perlu melihat apa yang ada di baliknya: pemilihan atas diri kita di dalam Kristus. Mari kita kembali sampai sebelum kelahiran kita, sebelum kelahiran Kristus, sebelum penciptaan Adam, “sebelum” awal dari Kejadian 1:1, ketika Allah meletakkan dasar alam semesta dalam menciptakan langit dan bumi. Mari kita melihat ke kekekalan masa lampau ketika belum ada ciptaan dan belum ada waktu, dan belum ada satu pekerjaan pun di luar Allah. Mari kita melihat ke dalam realitas keputusan kehendak Allah yang Kitab Suci deskripsikan sebagai “sebelum dunia dijadikan” (Yoh. 17:24; Ef. 1:4). Kita harus memahami dua hal terkait kekekalan.

A. Pemilihan atas Kristus

Pertama, Alkitab mengajarkan bahwa di dalam kekekalan Allah Tritunggal telah memilih Yesus Kristus sebagai Kepala dan Pengantara. Objek dari pemilihan kekal ini adalah Sang Pengantara, Yesus Kristus. Objek dari pemilihan ini bukanlah Anak Allah, Pribadi Kedua dari Trinitas kudus, per se. Allah Bapa tidak memilih Allah Anak. Allah tidak dapat menjadi objek dari pemilihan; Allah tidak dapat dipilih dan ditunjuk. Allah—Allah Tritunggal: Allah, Anak, dan Roh Kudus—selalu merupakan subjek yang bertindak di dalam pemilihan. Oleh karena itu, Allah Anak tidak mungkin bisa menjadi objek dari pemilihan. Objek dari pemilihan kekal ini juga tidak mungkin gereja sebagai sejumlah orang tertentu yang Kitab Suci identifikasikan sebagai “orang-orang pilihan” (Rm. 8:33), di dalam distingsi dari kaum reprobat. Objek pertama dari pemilihan adalah Yesus Kristus, Firman yang kekal yang menjadi daging dan berdiam di dalam kita.

Kitab Suci mengajarkan tentang pemilihan kekal atas Kristus. Pertama, ini terimplikasikan di dalam ajaran biblikal bahwa kita dipilih di dalam Kristus (Ef. 1:3–4). Sebagaimana baru bisa ada penanaman pohon di halaman jika pertama-tama ada sebuah halaman, maka baru bisa ada pemilihan di dalam Kristus jika pertama-tama ada Kristus. Kedua, di dalam Yesaya 42:1, Allah menyatakan, “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.” Meskipun “hamba-Ku” merujuk kepada Israel Perjanjian Lama, sebutan ini secara ultimat teraplikasi pada Kristus, sebagaimana begitu jelas dan tidak bisa keliru dari fakta bahwa Roh mengaplikasikan Yesaya 42:1 kepada Yesus di dalam Matius 12:16–18.3 Tentang Yesus Kristus, yang datang untuk melakukan pemberitaan dan mukjizat-mukjizat di bumi, Allah berfirman, “Hamba-Ku … orang pilihan-Ku.” Ketika, 1 Petrus 2:6 mengatakan tentang Kristus, “Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: ‘Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.’” Keempat, Kristus sendiri mengatakan berulang kali di dalam Kitab Wahyu, “Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa” (Why. 1:8; bdk. 1:11, 21:6, 22:13). Kristus adalah sang awal, sang awal yang kekal, sumber yang kekal dari semua yang akan kita ketahui dan nikmati di dalam kovenan Allah, karena Ia adalah yang pertama di dalam dekrit Allah tentang pemilihan. Yang terakhir, Wahyu 21:27 mendeskripsikan pemilihan sebagai “tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu.” Akan tetapi, sebelum nama siapa pun dituliskan di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu, nama Sang Anak Domba tertulis pada sampul kitab itu. Ini adalah kitab-Nya; Ia adalah yang pertama dipilih oleh Allah.

Kristus dipilih, sepasti Anda dan saya. Akan tetapi, Ia dipilih sebagai yang pertama. Kristus dipilih bukan untuk keselamatan yang penuh anugerah dari dosa, sebagaimana kita di dalam Dia. Sebaliknya, Ia dipilih untuk menjadi Kepala yang di dalam-Nya kaum pilihan akan dipilih dan diselamatkan. Ia dipilih untuk menjadi Pengantara yang akan datang ke dalam daging kita dan menggenapi keselamatan kita yang penuh anugerah. Ketika Kristus ditetapkan sebagai Kepala dan Pengantara kaum pilihan-Nya, Ia ditetapkan sebagai sang manusia, sang sahabat, dan sang hamba dari Yehovah par excellence. Kristus akan memiliki keutamaan sehingga di dalam Dia segala kepenuhan akan berdiam (Kol. 1:18–19). Kristus adalah sang gambar dari Allah yang tidak kasatmata sehingga, meskipun Allah pada mulanya menciptakan Adam menurut gambar-Nya, Adam tidak pernah menjadi sang gambar. Adam harus minggir dan memberi jalan bagi Dia yang selalu merupakan yang pertama di dalam keputusan kehendak Allah, karena Adam hanya dijadikan “gambaran Dia yang akan datang” (Rm. 5:14).

Karena pilihan Allah di dalam pemilihan selalu dilaksanakan di dalam kasih, Ia telah memilih Kristus di dalam kasih: “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan” (Yes. 42:1). Sejak segala kekekalan, Allah Tritunggal berdiam di dalam kebahagiaan dan kasih yang sempurna, karena Bapa dan Anak bersuka atas satu sama lain di dalam Roh; tetapi juga di dalam kasih yang tidak bisa dipahami secara tuntas sehingga ketiga Pribadi kekal yang dipersatukan secara sempurna—Bapa, Anak, dan Roh Kudus—mendapatkan kesukaan dalam menetapkan Kristus sebagai Kepala dan Pengantara kaum pilihan. Yesus di bumi mengenal dan mengakui kasih ini,

Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan (Yoh. 17:24).

B. Pemilihan atas Diri Kita di dalam Dia

Kedua, ketika kita melihat ke dalam kekekalan masa lalu, kita melihat pemilihan atas diri kita di dalam Kristus. Setelah mengajarkan bahwa semua berkat surgawi ada di dalam Kristus Yesus (Ef. 1:3), sang rasul melanjutkan, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya [di dalam kasih]” (ay. 4). Allah telah memilih kita di dalam Kristus. 2 Timotius 1:9 mengajarkan, “[Allah] yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman.” Di dalam pelayan-Nya, Kristus berulang-ulang berbicara tentang orang-orang yang telah Bapa berikan kepada-Nya (Yoh. 6:39; 17:7, 9, 11). Sebagai contoh, Ia mengatakan di dalam Yohanes 17:24, “Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku.” Bapa telah memberikan mereka kepada Kristus di dalam kekekalan.

Bahwa kita dipilih secara kekal “di dalam Kristus” tidak berarti bahwa Kristus adalah dasar dari pemilihan kita, sebab kita dipilih bukan karena Kristus. Secara ketat, dasar dari pemilihan kita adalah kerelaan kehendak Allah yang kekal (Ef. 1:5); kita telah dipilih hanya karena Allah berkenan. Sebaliknya, pemilihan atas diri kita di dalam Kristus berarti bahwa, di dalam keputusan kehendak Allah yang kekal, Ia tidak pernah memandang kita secara individual­ atau bahkan secara korporat di luar Kristus, melainkan selalu sebagai satu dengan Kristus. Tidak pernah ada waktu di mana kita tidak berada di dalam Kristus. Pemilihan yang kekal tidak pernah merupakan pemilihan yang apa adanya dan abstrak atas pribadi-pribadi tertentu, tetapi selalu merupakan pilihan Allah yang penuh kasih atas gereja sebagai tubuh bagi Kristus, Sang Kepala. Karena Kristus adalah Sang Juru Selamat, Allah telah memilih kita untuk keselamatan yang kekal di dalam Kristus.

Dengan dipilih di dalam Kristus, gereja memuliakan Kristus, Kepalanya. Kristus adalah segala-galanya bagi gereja. Ia memiliki keutamaan di dalam gereja. Ia diberitakan oleh gereja. Ia adalah sumber segala kehidupan dan sukacita di dalam gereja.

        

Pemilihan atas Diri Kita di dalam Kristus dan Persatuan Kita dengan Kristus Berkaitan

A. Secara Negatif

Hal yang penting bagi pemahaman yang lebih mendalam tentang pemilihan atas diri kita di dalam Kristus adalah sebuah pertimbangan tentang kaitannya dengan persatuan kita yang hidup dengan Kristus. Meskipun kita dipilih secara kekal di dalam Kristus, kita tidak memiliki persatuan yang mistis, menyelamatkan, dan hidup dengan Kristus sampai Roh masuk ke dalam hati kita. Pemilihan kekal atas diri kita di dalam Kristus tidak boleh disamakan dengan persatuan kita yang hidup dengan Kristus. Pemilhan terjadi di dalam kekekalan dan merupakan penetapan kita kepada keselamatan; persatuan kita yang hidup dengan Kristus terjadi di dalam waktu dan adalah keselamatan kita.

Surat Paulus kepada orang-orang Efesus yang terinspirasi menjadikan hal ini sangat jelas. Ia mengajar orang-orang Efesus yang percaya bahwa mereka telah dipilih secara kekal di dalam Kristus (1:4). Akan tetapi, ia juga mengajar mereka, “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu” (2:1). Ada masa di dalam kehidupan orang-orang Efesus yang percaya ketika mereka belum menjadi percaya; Mereka belum hidup secara spiritual di dalam Kristus, melainkan di luar Kristus dan mati. Selain itu, ia menyatakan,

Bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh,” sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus. (ay. 12–13).

Ada masa ketika mereka tidak berada bersama Kristus dan Allah, tetapi berada di luar Kristus dan jauh dari Allah (bdk. 5:8). Menurut keputusan kehendak Allah yang kekal, kita selalu berada di dalam Kristus, sejak kekal sampai kekal. Tetapi menurut eksistensi aktual kita di bumi ini di dalam waktu dan sejarah sebagai ciptaan, kita seturut natur adalah mati di dalam dosa dan terpisah dari Kristus, tidak memiliki persekutuan yang hidup dengan Kristus dan tanpa keselamatan di dalam dia, sampai Roh membentuk ikatan itu.4

Menggunakan ilustrasi yang akrab yang biasanya dipakai untuk menjelaskan distingsi ini, ketika seseorang membangun rumah, ia pertama-tama menggambar rancangannya. Bagian dari rancangan itu adalah menghubungkan rumah dengan jaringan listrik melalui kabel, sehingga ia bisa mendapatkan listrik untuk membuat rumahnya hangat dan terang. Meskipun itulah rancangannya, rumah itu belum secara aktual memiliki daya apa pun sampai terhubungan dengan jaringan listrik melalui kabel. Demikian juga, merupakan rencana Allah yang kekal untuk menyelamatkan kita di dalam Kristus, tetapi kita belum mengambil bagian secara aktual dari kehangatan dan terang keselamatan di dalam Kristus sampai kita dihubungkan dengan-Nya oleh Roh. Setelah itu barulah melalui alur kehidupan kita, kita secara sadar mendapat manfaat dari Kristus oleh iman.

B. Secara Positif

Karena kita dipilih secara kekal di dalam Kristus, persatuan kita yang mistis dan hidup dengan Kristus oleh Roh adalah pasti secara mutlak. Pemilihan di dalam Kristus berada di balik persatuan kita yang hidup dengan Kristus sebagai akar atau fondasi atau penyebabnya dan, oleh karena itu, menjaminnya. Atau jika disampaikan secara berbeda, Allah yang melakukan pemilihan itu sendiri adalah sumber dan penyebab yang berdaulat dan penuh anugerah dari persatuan kita dengan Kristus dan seluruh keselamatan kita. Ia akan menggenapinya. Tidak seperti yang Arminianisme ajarkan, pemilihan dan keselamatan tidaklah bersyarat. Allah tidak terlebih dahulu melihat ke masa depan untuk mengetahui apakah kita akan mempersatukan diri kita sendiri kepada Yesus dengan memilih untuk percaya di dalam Dia berdasarkan apa yang disebut sebagai kehendak bebas kita sendiri.5 Allah tidak menetapkan kita kepada keselamatan dikarenakan adanya hal apa pun yang layak di dalam diri kita. Allah memilih kita secara tidak bersyarat di dalam Kristus dengan hasil bahwa keselamatan di dalam pengaruniaan pertamanya dan keselamatan di dalam pengaplikasiannya yang terus berlanjut tidak pernah bergantung pada tindakan apa pun dari kehendak kita, nilai apa pun di dalam diri kita, atau perbuatan apa pun yang kita lakukan sebagai syarat-syarat. Seluruh keselamatan kita mengalir dari Kristus dan secara ultimat dari kehendak Allah yang memilih sebagai sumbernya. Pengemis yang paling rendah dan orang yang berdosa yang paling keji bisa diselamatkan karena keselamatan tidak pernah bergantung pada kita. Dari regen­erasi (kelahiran kembali) sampai glorifikasi (pemuliaan), momen demi momen, keselamatan kita bergantung pada kerelaan kehendak Allah yang telah memilih kita sejak kekekalan di dalam Kristus.

Pemilihan di dalam Kristus menggarisbawahi kedaulatan mutlak Allah di dalam keselamatan dan menjamin penggenapan persatuan kita yang aktual dan hidup dengan Kristus. Manusia memiliki banyak rencana di dalam pikirannya yang tidak pernah terealisasi. Tetapi Allah adalah Allah. Semua orang yang Ia pilih secara kekal di dalam Kristus, Ia pasti akan persatukan dengan Kristus oleh Roh, dan di dalam iman yang sejati dan hidup.

        

Jaminan Personal dari Pemilihan

A. Mengetahui Pemilihan atas Diri Kita di dalam Kristus

Kita bisa mengetahui pemilihan pribadi atas diri kita di dalam Kristus dan hal ini paling menghibur bagi jiwa. Pengetahuan ini didapatkan bukan dengan mencoba untuk naik ke surga untuk membuka paksa kitab kehidupan Anak Domba untuk melihat apakah nama Anda tertulis di dalamnya, atau dengan mencari kode rahasia tertentu di dalam Kitab Suci, atau dengan mencari pengalaman pertobatan yang aneh dan mencengangkan. Jika kita berada di dalam persatuan dengan Kristus dan percaya di dalam Dia, maka kita terpilih, karena iman adalah buah yang pertama dan pasti dari pemilihan. Ketika Injil diberitakan, selalu ada dua tanggapan. Ada tanggapan iman dengan merangkul Yesus Kristus secara pribadi sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya, dan tanggapan ketidakpercayaan dengan menolak Kristus. Bagaimakah Anda menanggapi Injil?

Jangan memberikan tempat kepada Iblis, dan membiarkan dia merumitkan hal ini dan menimbulkan keraguan. Jangan berkata, “Hmm … ya saya percaya, tetapi iman saya tidak selalu begitu kuat, jadi mungkin saya tidak percaya? Mungkin saya hanya menipu diri sendiri seperti yang dilakukan oleh banyak orang. Mungkin Allah bahkan tidak menginginkan saya untuk percaya?” Apakah Anda percaya di dalam Yesus? Hai orang berdosa yang celaka, apakah Anda percaya di dalam Dia saja?6 Jangan memperumit hal itu! Dengarkanlah Kanon-Kanon Dordt:

Kaum pilihan pada waktu yang ditetapkan, meskipun dengan beragam derajat dan di dalam ukuran yang berbeda-beda, mendapatkan jaminan akan pemilihan mereka yang kekal dan tidak bisa berubah ini, bukan dengan penuh rasa ingin tahu mencari hal-hal milik Allah yang rahasia dan tersembunyi, tetapi mengamati di dalam diri mereka sendiri, dengan sukacita yang rohaniah dan kegirangan yang kudus, buah yang tidak mungkin salah dari pemilihan ini yang ditunjukkan di dalam Firman Allah—seperti iman yang sejati di dalam Kristus, rasa takut sebagai anak, dukacita yang saleh atas dosa, lapar dan haus akan kebenaran, dll. (I:12).

Ada beragam derajat jaminan (kepastian) antara orang yang satu dan orang yang lain dan bahkan di dalam diri orang yang percaya itu sendiri dari waktu ke waktu, tetapi Allah memberikan kepada anak-anak-Nya jaminan ini: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku [menurut keputusan kehendak-Nya yang kekal] akan datang kepada-Ku [di dalam iman], dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang” (Yoh. 6:37). Datanglah kepada Kristus di dalam iman. Ia tidak akan pernah membuang Anda. Datang di dalam iman adalah bukti untuk pemilihan, karena iman adalah buah yang pertama dan pasti dari pemilihan, dengan buah-buah lain akan menyusul.

Janganlah dibuat takut oleh kebinasaan orang-orang seperti Yudas Iskariot, orang telah ditentukan untuk binasa itu, yang memang seorang munafik (Yoh. 17:12). Jika Anda tidak dengan senang hati hidup seperti dia—tidak percaya dan kedagingan, memercayai daging Anda sendiri yang rusak—janganlah gemetar karena keraguan mengenai apakah Anda seorang reprobat seperti dia. Orang-orang yang bergumul dengan keraguan

janganlah menjadi gelisah karena penyebutan tentang reprobasi, dan jangan pula menempatkan diri mereka di antara kaum reprobat, tetapi bertekunlah dengan rajin di dalam penggunaan sarana-sarana, dan dengan keinginan-keinginan yang sungguh menantikan dengan khidmat dan rendah hati waktu anugerah yang lebih berlimpah (Kanon-Kanon I:16).

B. Mengenal Kasih Allah

Sebagai orang-orang yang percaya, kita bisa dan memang mengetahui pemilihan pribadi atas diri kita di dalam Kristus, dan, dengan mengetahui itu, kita mengetahui bahwa Allah telah mengasihi kita sejak kekekalan. Di dalam pemikiran Allah yang tidak terhitung jumlahnya, yang melebihi pasir di laut, Ia selalu memikirkan kita, namun Ia tidak pernah memikirkan kita sebagai diri kita sendiri. Ia selalu memiliki pemikiran-pemikiran yang penuh damai di dalam Kristus.

Bayangkanlah Ishak dan Ribka berjumpa untuk pertama kalinya. Kejadian 24 menyampaikan bagimana ia dan hamba Abraham tiba ke tempat Ishak dengan menunggangi unta. Ribka turun dan mereka berjumpa. Ishak membawanya ke kemah Sara, dan Ribka pun menjadi istrinya. Sekarang bayangkan Ribka mendengar Ishak berkata untuk pertama kalinya, “Ribka, saya mencintaimu.” Tetapi bagaimanakah jika Ishak berkata, “Saya sudah mencintaimu selama bertahun-tahun.” Dengan mengabaikan kemustahilan hal itu, karena Ishak baru saja mengenal Ribka, bayangkan apa artinya itu bagi Ribka. Ia pasti akan merasa begitu spesial dan memiliki kepastian dengan mengetahui bahwa bahkan sebelum ia mengenal Ishak, Ishak telah memperhatikan dia, memikirkan dirinya dengan kasih sayang yang hangat dan sepenuh hati kepadanya sebagai orang yang berharga baginya. Ketika Allah mendeklarasikan kepada kita di dalam Injil, “Aku mengasihimu,” kasih itu bahkan sudah ada di dalam pemilihan-Nya yang kekal atas diri kita di dalam Kristus.

Seolah-olah itu belum cukup untuk menggerakkan kita kepada ibadah yang penuh sukacita dan ucapan syukur, pertimbangkanlah bahwa Allah telah secara kekal membenci sejumlah orang dan mereprobasi mereka kepada kebinasaan di dalam jalan dosa mereka. Reprobasi bukan hanya mendukung pemilihan; reprobasi juga mendukung apresiasi kita terhadap pemilihan atas diri kita (Mal. 1:2–5). Tidak ada perbedaan antara Yakub dan Esau, antara Yohanes dan Yudas Iskariot, antara Anda and tetangga Anda yang tidak percaya dan binasa. Lalu, mengapakah Allah menetapkan kasih-Nya pada Anda dan menolak yang lain? Inilah pertanyaan terbesar dari semua pertanyaan. Mengapa? Apakah yang menggerakkan Dia? Itu hanyalah kerelaan kehendak-Nya. Betapa luar biasanya bahwa kita dikasih oleh Allah dan kita mengetahui itu! Betapa manis jaminan yang kita dapatkan di dalam doktrin yang tinggi dan surgawi tentang pemilihan kekal atas diri kita di dalam—dan di dalam persatuan yang hidup dan tidak bisa terputus dengan—Kristus!

Untuk bahan-bahan lain dalam bahasa Indonesia, klik di sini.

_______________________________________

1 Katekismus Besar Westminster:
P. 65. Manfaat-manfaat khusus apakah yang anggota-anggota dari gereja yang tidak kasatmata ini nikmati karena Kristus?
J. Anggota-anggota dari gereja yang tidak kasatmata ini karena Kristus menikmati persatuan dan komuni dengan Dia di dalam anugerah dan kemuliaan.
P. 66. Apakah persatuan yang kaum pilihan miliki dengan Kristus ini?
J. Persatuan yang kaum pilihan miliki dengan Kristus ini adalah pekerjaan anugerah Allah, yang dengannya mereka secara spiritual dan mistis, namun secara rill dan tidak terpisahkan, disatukan dengan Kristus sebagai kepala dan suami mereka; yang dilakukan di dalam panggilan yang efektual atas diri mereka.
P. 69. Apakah komuni di dalam anugerah yang kaum pilihan miliki dengan Kristus ini?
J. Komuni di dalam anugerah yang kaum pilihan miliki dengan Kristus ini adalah mereka mengambil bagian dari perantaraanNya, di dalam pembenaran, pengadopsian, dan pengudusan mereka, serta hal lain apa pun, di dalam kehidupan ini, memanifestasikan persatuan mereka dengan-Nya.”
2 Herman Bavinck mengajarkan bahwa Roh menciptakan persatuan mistis ini: “Akan tetapi, persatuan mistis ini bukan langsung, melainkan dijadikan ada oleh Roh Kudus” (Reformed Dogmatics, Vol. 4: Holy Spirit, Church, and New Creation [Grand Rapids, MI: Baker, 2008], hlm. 251; terjemahan bahasa Indonesia di ambil dari Dogmatika Reformed, Jilid 4: Roh Kudus, Gereja, dan Ciptaan Baru [Surabaya: Pusat Literatur Kristen Momentum, 2025], hlm. 310–11). John Calvin mengajarkan bahwa Roh adalah persatuan itu: “Roh Kudus adalah ikatan yang dengannya Kristus secara efektual mempersatukan kita kepada diri-Nya sendiri” (Institutes of the Christian Religion, ed. John T. McNeill, trans. Ford Lewis Battles, 2 jld. [Philadelphia, PA: The Westminster Press, 1960], 3.1.1; terjemahan bahasa Indonesia diambil dari: Institutio Christianae Religionis: Ajaran-Ajaran Agama Kristen [Surabaya: Momentum Christian Literature, 2023], 3.1.1).
3 Di sana kita membaca bahwa Yesus “dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: ‘Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa.’”
4 John Calvin: “Selama Kristus tetap berada di luar kita, dan kita terpisah dari-Nya, semua yang telah Ia derita dan kerjakan demi keselamatan umat manusia tetap tidak berguna dan tidak berharga bagi kita. Oleh karena itu, untuk membagikan kepada kita apa yang telah Ia terima dari Bapa, Ia harus menjadi milik kita dan berdiam di dalam diri kita. Untuk alasan inilah Ia disebut ‘Kepala’ kita [Ef. 4:15], dan ‘yang sulung di antara banyak saudara’ [Rm. 8:29]” (Institutes 3.1.1; terjemahan bahasa Indonesia diambil dari Institutio, 3.1.1).
5 Kesalahan Arminian ini ditolak di dalam Kanon-Kanon Dordt I: Penolakan terhadap Kesalahan-Kesalahan.
6 Di dalam kata-kata “Form for the Administration of the Lord’s Supper”: “Agar setiap orang memeriksa hatinya sendiri, apakah ia sungguh-sungguh memercayai janji yang setia dari Allah ini bahwa semua dosanya diampuni atasnya hanya demi sengsara dan kematian Yesus Kristus, dan bahwa kebenaran Kristus yang sempurna diimputasikan dan dikaruniakan secara cuma-cuma kepadanya sebagai miliknya sendiri, dengan begitu sempurna seakan-akan ia di dalam dirinya sendiri telah memberi pemuasan keadilan bagi semua dosanya dan menggenapi segala kebenaran” (The Confessions and the Church Order of the Protestant Reformed Churches [Grandville, MI: Protestant Reformed Churches in America, 2005], hlm. 268).
Show Buttons
Hide Buttons