Brian L. Huizinga
Oleh karena itu, jika seseorang berada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: hal-hal lama telah berlalu; lihatlah, segala sesuatu menjadi baru” (2 Korintus 5:17, KJV).
Introduksi
2 Korintus 5:17 adalah sebuah perikop Kitab Suci yang kuat yang di dalam konteksnya mengikat bersama tiga realitas yang penting: kebangkitan Kristus secara badaniah, persatuan kita dengan Kristus, dan kelahiran kembali (regenerasi) kita sebagai sebuah penciptaan kembali (re-kreasi) dikarenakan persatuan kita dengan Kristus yang telah bangkit. Rasul Paulus yang diinspirasi mengidentifikasikan peristiwa-peristiwa historis dan redemtif dari kematian dan kebangkitan Kristus di akhir ayat 15: “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” Di dalam dua ayat yang langsung mengikuti ayat 15 ini, Paulus menonjolkan dua buah dari kematian dan kebangkitan Kristus. Pertama, yang negatif: “Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian” (ay. 16). Yaitu bahwa karena Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, kita tidak lagi mengenal Dia, dan kita juga tidak mengenal orang lain mana pun, menurut standar bumiah dan dari perspektif duniawi, misalnya seperti cara orang-orang Israel mengenal Saul dan ingin menjadikan dia raja. Kemudian buah yang positif dari kematian dan kebangkitan Kristus bagi kita dinyatakan: “Oleh karena itu, jika seseorang berada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru” (ay. 17, KJV). Di dalam Kristus, setiap orang yang percaya adalah ciptaan baru.
Ada perikop-perikop lain dari Kitab Suci yang mengajarkan bahwa orang berdosa pilihan menjadi ciptaan baru di dalam persatuan dengan Kristus yang telah bangkit. Galatia 6:15 mengajarkan, “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.” Sama dengan ini, Efesus 2:10 menyatakan, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Roma 6:4 juga mengajarkan bahwa kita memiliki sebuah kehidupan yang baru sebagai ciptaan baru: “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Katekismus Heidelberg, Hari Tuhan 17 menjelaskan bahwa salah satu manfaat dari kebangkitan Kristus adalah bahwa “kita juga dibangkitkan kepada kehidupan yang baru oleh kuasa-Nya,” dan Kanon-Kanon Dordt III/IV:12 mengawali dengan, “Dan inilah kelahiran kembali yang begitu dirayakan di dalam Kitab Suci dan disebut sebagai ciptaan baru.”
Meskipun perikop-perikop lain dari Kitab Suci mengajarkan doktrin yang sama dengan 2 Korintus 5:17, saya ingin mendasarkan pemahaman kita tentang persatuan dengan Kristus dan penciptaan kembali (re-kreasi) yang spiritual atas diri kita di dalam perikop ini, karena penyampaian kebenaran di sini sangat kuat sampai-sampai hampir terdengar hiperbolik. Setelah pembacaan awal atas teks ini, orang akan berpikir bahwa sang rasul entah sedang mendeskripsikan dunia dari surga yang baru pada hari Yesus Kristus atau orang percaya yang dipermuliakan di dalam surga. Tetapi sang rasul sebaliknya sedang mendeskripsikan permulaan dari keselamatan orang yang berdosa di sini, di bumi ini. Sang rasul bukan sedang berbicara tentang alam semesta sebagai ciptaan baru, tetapi tentang orang yang berdosa. Paulus juga bukan sedang berbicara tentang langkah terakhir dari urutan keselamatan kita (pemuliaan/glorifikasi), melainkan langkah pertama (kelahiran kembali/regenerasi). Begitu menakjubkannya kebangkitan Yesus dan persatuan kita dengan-Nya sehingga, oleh Roh-Nya, kita sudah menjadi ciptaan baru bahkan di dalam kehidupan sekarang ini. Sang rasul sendiri begitu terpukau dengan kebenaran yang mencengangkan dan sangat mengagumkan ini, sehingga ia berseru, “hal-hal lama telah berlalu; lihatlah, segala sesuatu menjadi baru.”
Penciptaan dan Kejatuhan
Untuk memahami apa maksudnya bahwa kita adalah ciptaan baru, kita harus kembali kepada penciptaan pertama manusia dan kemudian kejatuhannya ke dalam dosa. Di dalam pengertian tertentu, adalah tepat untuk mengatakan bahwa, ketika Allah menjadikan manusia Adam pada hari keenam, Ia membawa sebuah “ciptaan baru” ke dalam alam semesta. Seluruh ciptaan yang menjadi ada oleh firman kuasa Allah adalah ciptaan baru, yang belum penah eksis sebelumnya. Tetapi dengan sebuah cara yang khusus ciptaan terakhir ini dijadikan oleh Allah—manusia—adalah sebuah ciptaan baru.
Allah telah menjadikan terang, cakrawala, daratan kering, pepohonan, matahari, bulan, bintang-bintang, ikan, burung, ternak, binatang melata, dan binatang hutan, dan ada gerak maju dan perkembangan dari benda-benda mati kepada makhluk-makhluk hidup. Misalnya, burung-burung yang hidup, bergerak, dan bernapas jauh lebih maju daripada cakrawala di mana mereka terbang. Akan tetapi, ketika Allah menjadikan manusia, ada suatu lompatan yang sangat besar di dalam perkembangan. Dengan pengecualian para malaikat, yang adalah roh-roh yang tidak kasatmata yang diciptakan pada suatu waktu selama minggu pertama itu dan yang berada di kelas tersendiri sebagai makhluk-makhluk surgawi, semua ciptaan yang Allah jadikan bisa dipandang inferior terhadap manusia. Tidak ada apa pun yang seperti manusia.
Ketika Allah menjadikan manusia, sungguh ada sebuah ciptaan baru. Manusia memiliki daya-daya yang mencengangkan! Manusia dijadikan menurut gambar Allah sendiri. Manusia bisa berhubungan dengan Allah, mengenal Allah, mengasihi Allah, dan berbicara dengan Allah. Allah telah menciptakan sahabat di dalam satu ciptaan bumiah ini, yang berjalan bersama-Nya dan berbicara dengan-Nya pada waktu hari sejuk. tidak seperti ciptaan lain mana pun, manusia memiliki hati, yang merupakan inti dari eksistensinya sebagai satu ciptaan yang rasional dan moral, dan merupakan tempat dari kehidupan spiritualnya. Dari hati itu muncul semua aliran kehidupannya ketika ia dengan penuh kasih mengonsekrasikan segenap keberadaannya bagi Allah. Manusia adalah seorang raja dan Allah telah memberinya kekuasaan atas segala sesuatu di dalam Taman Eden, sehingga Allah melalui raja Adam memerintah atas segala sesuatu. Jika keberadaan-keberadaan lain, katakanlah para malaikat, bisa menjadi penonton dan penilai untuk mengamati seluruh minggu penciptaan itu, maka ketika mereka melihat Allah menjadikan Adam dari debu tanah dan mengembuskan napas kehidupan ke dalam hidungnya sehingga ia menjadi jiwa yang hidup, mereka pasti akan berseru, “Apakah yang telah Allah jadikan ini? Lihatlah, sebuah ciptaan baru!”
Tetapi Adam terjatuh ke dalam dosa oleh hasutan Iblis, dan ketragisan kejatuhannya menandingi kemuliaan penciptaannya. Segenap keberadaannya menjadi rusak. Hatinya, sebagai inti dari eksistensinya, menjadi licik melebihi segala sesuatu dan sudah membatu (Yer. 17:9); semua yang dibayangkan oleh pemikiran-pemikiran hatinya hanyalah kejahatan yang terus-menerus (Kej. 6:5); dari hatinya keluar pemikiran jahat, pembunuhan, perzinaan, percabulan, pencurian, kesaksian palsu, dan hujatan sebagai hal-hal yang menajiskan manusia (Mat. 15:19–20). Secara spiritual, ia telah mati dan menjadi rusak secara total; kehendaknya telah menyimpang, pikirannya telah menjadi kedagingan dan dipenuhi dengan perseteruan melawan Allah, dan afeksi-afeksinya menjadi najis. Ia telah menjadi sahabat Iblis dan menyandang gambarnya, dan menjadi budak dosa. Karena Adam berdiri sebagai kepala perwakilan dan organis dari umat manusia, semua keturunannya telah mati di dalam dia: “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Rm. 5:12). Sekarang setiap manusia yang masuk ke dalam dunia ini masuk sebagai manusia yang bersalah dan rusak di dalam Adam. Tidak akan ada hal yang baru di dalam Adam atau keturunannya. Anak demi anak, laki-laki maupun perempuan, akan dikandung sebagai budak dosa yang membenci Allah dan sesama, sehingga Allah melihat dari surga dan mendeklarasikan, “Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak” (Rm. 3:12).
Penciptaan manusia yang mulia! Kejatuhan manusia yang menghancurluluhkan!
Sebuah Ciptaan Baru: Kelahiran Kembali
Pengharapan kita satu-satunya adalah Kristus. Dengarkanlah apa yang Firman Allah katakan tentang berada di dalam Kristus: “Oleh karena itu, jika seseorang berada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru.” Menurut iman Reformed, ketika Kitab Suci berbicara tentang orang yang berdosa menjadi ciptaan baru, Kitab Suci sedang mendeskripsikan dan merayakan keajaiban kelahiran kembali (regenerasi). Pada momen kelahiran kembali inilah Roh Kudus masuk secara berkuasa dan berkemenangan ke dalam hati yang mati dan gelap pada orang berdosa pilihan itu. Pada momen Roh berkontak dengan orang yang berdosa, Ia oleh kehadiran-Nya telah mempersatukan orang yang berdosa itu dengan Kristus, sehingga sekarang orang yang berdosa itu berada “di dalam Kristus” dan menjadi ciptaan baru, sehingga hal-hal lama telah berlalu dan segala sesuatu menjadi baru. Begitu mendalamnya dampak-dampak dosa pada manusia sehingga keselamatannya menuntut tidak kurang daripada sebuah penciptaan, ciptaan baru.
Kelahiran kembali adalah kedalaman-kedalaman yang ajaib yang tidak bisa kita ukur sepenuhnya. Dari sebuah sudut pandang tertentu, tidak terlalu sulit untuk menjelaskan penciptaan Allah akan manusia pada mulanya—manusia itu baik dan benar di dalam segenap keberadaannya dari kepala sampai kaki, dari dalam sampai luar, sampai inti spiritualnya yang terdalam. Tidak terlalu sulit untuk menjelaskan apa yang telah terjadi terhadap manusia di dalam kejatuhan—manusia menjadi jahat dan fasik di dalam segenap keberadaannya dari kepala sampai kaki, dari dalam sampai luar, sampai inti spiritualnya yang terdalam. Tidak terlalu sulit untuk menjelaskan apa yang akan terjadi pada manusia pada saat pemuliaan (glorifikasi)-nya di dalam surga—manusia akan dijadikan sempurna dengan kemuliaan surgawi di dalam segenap keberadaannya dari kepala sampai kaki, dari dalam sampai luar, sampai inti spiritualnya yang terdalam. Hal yang menjadi kesulitan adalah bentukan orang Kristen yang dilahirkan kembali, yang telah diciptakan kembali tetapi belum disempurnakan di dalam kemuliaan. Saya mengatakan bahwa topik ini sulit, tetapi 2 Korintus 5:17 pada dirinya sendiri tidak terlihat memiliki kesulitan apa pun. Permasalahannya? Orang berdosa yang dilahirkan kembali adalah ciptaan yang benar-benar baru, yang lama telah berlalu dan segala sesuatu dijadikan baru. Bagaimanakah sang rasul bisa lebih menyederhanakannya lagi? Anda mungkin berpikir bahwa sang rasul menyamakan kelahiran kembali dengan pemuliaan, tetapi semua bagian lain dari Kitab Suci dan pengalaman kita sendiri mengajarkan yang sebaliknya.
Sebuah Ciptaan Baru: Secara Negatif
Apakah adanya kita sebagai ciptaan baru? Apakah hal-hal lama yang berlalu itu? Di dalam pengertian mutlak tidak mungkin bahwa yang dimaksudkan adalah kehadiran dan kuasa dosa di dalam diri kita telah berlalu sehingga semua jejak dosa telah terhapus, karena bahkan setelah penciptaan kembali atas dirinya, orang yang berdosa akan terus berdosa. Sang rasul akan mengatakan di bagian selanjutnya dari surat ini, “Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (7:1). Jika 2 Korintus 5:17 memaksudkan bahwa semua dosa telah berlalu, maka orang-orang yang percaya di Korintus akan beranggapan bahwa Paulus sedang mengajarkan apa yang sekarang kita sebut “perfeksionisme,” dan mereka bisa menjadi sangat kebingungan dengan 2 Korintus 7:1, dan menyatakan, “Mengapa kita harus menyucikan diri jika semua dosa telah berlalu?”
Bagaimanakah dengan fakta bahwa kita adalah “ciptaan baru” dan bahwa “segala sesuatu telah menjadi baru” (KJV)? Apakah yang baru di dalam kelahiran kembali? “Baru” tidak mungkin bermakna bahwa kita adalah sebuah jenis ciptaan yang baru, sesuatu yang berbeda dari seorang manusia. “Hal-hal baru” ini tidak mungkin merujuk kepada sesuatu yang akan digantikan atau ditambahkan pada kemanusiaan manusia, sehingga mengubah identitasnya sebagai manusia. Bahkan sebagaimana Adam tidak menjadi sesuatu yang kurang daripada atau berbeda dari “manusia” ketika ia terjatuh, orang berdosa pilihan tidak menjadi sesuatu yang melebihi atau berbeda dari “manusia” di dalam kelahiran kembali (atau, di dalam hal ini, di dalam pemuliaan). Di dalam kelahiran kembali, tidak ada substansi atau kemampuan-kemampuan baru yang dimasukkan ke dalam kemanusiaan manusia. Sebagai contoh, ini bukan seolah-olah Adam telah diciptakan dengan sebuah kehendak (kemampuan yang dengannya ia membuat ketetapan-ketetapan), tetapi kemudian kehilangan kehendaknya di dalam kejatuhan dan mendapatkan kembali kehendaknya di dalam kelahiran kembali. Adam juga tidak mengenakan kemampuan tertentu yang sama sekali baru di dalam kelahiran kembali. Ketika manusia pilihan bergerak dari penciptaan ke kejatuhan ke penciptaan kembali ke pemuliaan, terdapat keberlanjutan diri sehingga Adam adalah Adam adalah Adam adalah Adam, dan terdapat keberlanjutan segenap natur manusia dengan segala kapasitas dan dayanya.
Mengenai yang baru ini, kita juga bisa mengatakan bahwa tidak ada perubahan fisiologis yang terjadi pada tubuh. Ini bukan seolah-olah seorang pemuda yang tulang punggungnya bengkok mendapatkan tulang punggung yang sempurna pada saat kelahiran kembali, atau seorang perempuan yang dulunya tidak memiliki kemampuan atletis di dalam tubuhnya tiba-tiba menjadi seorang pemenang medali emas Olympiade untuk dekatlon, atau anak yang alergi dengan kacang bisa makan selai kacang sesuka hati setelah kelahiran kembalinya, atau seorang berjenis kelamin laki-laki menjadi seorang berjenis kelamin perempuan dan sebaliknya di dalam kelahiran kembali.
Lalu apakah ciptaan baru ini, yang di dalamnya “hal-hal lama telah berlalu; lihatlah, segala sesuatu telah menjadi baru” (KJV)?
Sebuah Ciptaan Baru: Secara Positif
Apa pun yang termasuk ciptaan baru, kita diperhadapkan kepada sebuah tindakan kreatif yang terjadi satu kali untuk selamanya pada sebuah momen tertentu. Bentuk waktu (tense) dari verba “berlalu” (“passed away”) adalah bentuk lampau (past tense), yang mengindikasikan bahwa hal-hal lama bukan terus-menerus berlalu melintasi waktu, tetapi bahwa pada momen terjadinya ciptaan baru, yang lama itu telah berlalu satu kali untuk selamanya. Demikian juga, “telah menjadi baru” menggunakan bentuk verba perfect tense, yang bermakna bahwa pada momen tertentu di masa lampau segala sesuatu menjadi baru dan bahwa realitas itu berlanjut ke dalam masa kini. Ini bukan seolah-olah segala sesuatu terus-menerus menjadi baru, tetapi mereka telah menjadi baru satu kali untuk selamanya. Oleh karena itu, menjadi ciptaan baru berparalel dengan penciptaan kita yang pertama. Adam bukanlah sebuah proyek yang Allah kerjakan selama kurun waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun, dengan segala jenis komponen baru ditambahkan secara bertahap sebelum Allah menyelesaikan dia. Penciptaan adalah sebuah momen yang tertentu. Demikian pula, kelahiran kembali kita, yang sangat dirayakan di dalam Kitab Suci dan disebut penciptaan baru di dalam Kristus, terjadi pada sebuah momen yang tertentu, dan pada momen itu hal-hal lama berlalu dan segala sesuatu menjadi baru.
Penjelasan terbaik bagi kelahiran kembali adalah bahwa orang yang percaya menerima sebuah hati yang baru dan di dalam prinsip menjadi tidak berdosa secara sempurna. Dengan mengaplikasikan ide ini pada 2 Korintus 5:17, kita diciptakan kembali dengan hati yang baru dan bahwa hati yang baru itu sempurna secara mutlak. Semua yang lama telah berlalu dari hati itu dan di dalam hati itu segala sesuatu telah menjadi baru. Dikarenakan hati kita yang baru ini, kita di dalam prinsip adalah ciptaan baru.1
Ketika kita berbicara tentang hati, kita bukan hanya merujuk kepada kehidupan internal manusia yang spiritual di mana dosa masih berdiam. Sebagai contoh, Yesus mengajarkan bahwa “setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya” (Mat. 5:28). Yesus sedang merujuk kepada hati di dalam pengertian luas sebagai kehidupan internal manusia yang spiritual, di mana masih ada dosa di dalam diri orang yang percaya. Kita merujuk kepada hati secara lebih sempit sebagai inti yang terdalam, spiritual, dan moral dari segenap eksistensi manusia, pusat komando yang memberikan orientasi bagi tubuhnya dan semua kemampuan jiwanya. Setiap manusia memiliki satu hati. Jika seluruh natur manusia adalah sebuah kerajaan, yang terdiri dari hamparan tubuh dan jiwa yang luas, maka hati adalah takhta kerajaan itu, yang memberikan arah bagi kerajaan itu. Amsal 4:23 mengatakan tentang hati, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Apa adanya seorang manusia secara spiritual, etis, dan moral ditentukan oleh hatinya. Apa yang seorang manusia pikirkan dengan pikirannya, tetapkan untuk dilakukan dengan kehendaknya, rindukan dengan afeksi-afeksi jiwanya, dan laksanakan melalui instrumen tubuhnya di dalam ucapan dan perbuatan dan perilaku, ditentukan oleh hatinya.
Kelahiran kembali adalah pekerjaan yang berdaulat oleh Roh yang masuk ke dalam hati yang mati dan menjadikannya baru dengan mengisinya dengan kehidupan. Kristus sendiri masuk ke dalam hati itu oleh Roh-Nya. Kristus mencengkeram kuasa dosa dan melemparkannya dari takhta itu. Kemudian Kristus mendudukkan diri-Nya di atas takhta itu dan berkuasa di dalamnya. Yehezkiel 36:26 menjanjikan, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.” Di dalam hatinya, orang percaya yang dilahirkan kembali itu diciptakan kembali. Di dalam prinsip, dengan satu pemulaan yang satu hari kelak akan digenapi, orang yang percaya ini sekarang adalah ciptaan baru di dalam Kristus. Terkait dengan hatinya yang baru, orang yang percaya, di dalam prinsip, adalah sempurna secara moral sehingga ia berkata tentang dosa-dosa yang ia lakukan, “Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku” (Rm. 7:17).
Hal-hal lama telah berlalu dan segala sesuatu dijadikan baru di dalam hati! Kerusakan dan keangkuhan telah berlalu, dan kekudusan dan kerendahan hati sekarang bertakhta. Kebencian terhadap Allah dan sesama telah berlalu, dan kasih yang sejati sekarang bertakhta. Kebencian terhadap Injil Yesus Kristus telah berlalu, dan bakti yang seutuhnya kepada Kristus dan Injil-Nya sekarang bertakhta. Sorakan para rasul palsu ketika mereka memfitnah dan berniat buruk terhadap Paulus telah berlalu, dan sekarang keinginan untuk sekuat mungkin membela dan memajukan kehormatan dan kebaikan karakter hamba Allah sekarang bertakhta. Karena hati, di mana Roh sekarang bertakhta secara aktif, memengaruhi setiap inci dari hamparan luas manusia itu, maka terjadi perubahan di mana-mana di dalam natur manusia. Di dalam pikian spiritualnya, ia memikirkan pemikiran-pemikiran surgawi. Dengan kehendaknya yang diperbarui, yang digerakkan dan dipengaruhi oleh Allah, ia percaya dan bertobat. Dengan afeksi-afeksi jiwanya, ia bersuka di dalam Kristus. Dengan lidahnya, ia memuji Tuhan, Allahnya. Jadi, jika seseorang berada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru!
Akan tetapi, ini bukan akhir segala dosa, melainkan awal pergumulan internal yang sengit seperti yang diungkapkan di dalam Roma 7. Di dalam diri orang percaya yang dilahirkan kembali tetap terdapat daging yang fasik dan rusak total yang melekat padanya, sampai Allah melepaskannya dan menghapuskannya di akhir kehidupannya. Meskipun kita memiliki hati yang baru, gerakan-gerakan dosa yang tidak mau ditekan tetap ada di dalam dagingnya. Takhta itu adalah milik Roh sehingga Ia menempati posisi kekuasaan yang dominan di dalam diri kita, tetapi gerakan-gerakan dosa tetap bersembunyi di seluruh hamparan kerajaan tubuh dan jiwa kita yang luas itu. Setiap kali kesucian terpancar dari takhta itu ke dalam wilayah pengertian atau kehendak atau afeksi, kerusakan yang jahat selalu ada untuk melawannya secara langsung, sehingga peperangan yang sengit terjadi dan bergejolak di dalam diri kita yang menyebabkan kita berseru, “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (ay. 24). Bagaimanapun, karena hati sebagai pusat eksistensi kita dijadian baru, kita karena hati yang baru itu adalah ciptaan baru. Di dalam hati itu ada permulaan, sekalipun kecil, permulaan sejati dari konformitas yang sempurna kepada kehendak Allah.
Sebuah Ciptaan Baru: Secara Ultimat
Kita belum sampai pada makna ultimat ajaran Kitab Suci bahwa kita adalah ciptaan baru di dalam Kristus. Ada jauh lebih banyak lagi yang bisa diungkapkan di dalam adjektiva “baru” ini, yang berarti baru di dalam pengertian berbeda sepenuhnya. Kita hanya menjelaskan penciptaan kembali ini sebagai pembalikan terhadap kutuk, dan itu pun bukan pembalikan yang menyeluruh, karena dosa tetap ada di dalam diri orang percaya yang dilahirkan kembali, sehingga menjadikan dia inferior dibandingkan Adam yang pada mulanya diciptakan tanpa dosa di dalam seluruh keberadaannya.
Menurut 2 Korintus 5:17, Allah menempatkan kehidupan kekal dari dunia baru di dalam hati manusia di dalam kelahiran kembali sehingga ia benar-benar adalah ciptaan baru. Ajaran yang menakjubkan dari teks ini adalah bahwa teks ini mengaplikasikan pada manusia bahasa yang Kitab Suci gunakan di bagian lain untuk mendeskripsikan alam semesta yang akan diciptakan kembali pada hari Yesus Kristus. Kepada orang-orang Korintus, sang rasul sedang mendeskripsikan apa yang dinyatakan oleh bagian lain dari Kitab Suci sebagai kehancuran yang katastrofik (“yang lama telah berlalu!”) and transformasi kosmik (“segala sesuatu telah menjadi baru!”). Sebagai contoh, 2 Petrus 3:10–13 menyatakan,
Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.
Petrus berbicara tentang kehancuran katastrofik dan transformasi kosmik seluruh alam semesta! Senada dengan itu, Yohanes menyatakan, “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi” (Why. 21:1; bdk. Yes. 65:17). Di masa depan, akan terjadi perubahan radikal berskala kosmik pada seluruh alam semesta!
Dengan menginterpretasi Kitab Suci dengan Kitab Suci, kita mempelajari bahwa ketika Roh memberi kita hati yang baru di dalam kelahiran kembali, sehingga kita di dalam prinsip adalah ciptaan baru yang di dalamnya hal-hal lama telah belalu dan segala sesuatu telah menjadi baru, terjadi penghancuran yang katastrofik. Pikirkanlah itu. Tidak seorang pun yang pernah mengalami tindakan kelahiran kembali oleh Allah karena itu terjadi di bawah tingkat kesadaran kita; tidak seorang pun pernah mendengar apa yang terjadi di dalam kelahiran kembali karena suaranya tidak tertangkap oleh telinga manusia. Tetapi ketika Roh masuk secara dramatis ke dalam hati dan dengan penuh kuasa mencampakkan kuasa dosa dari takhta, pastilah ada suara “gemuruh yang dahsyat” yang Petrus bicarakan di dalam kaitan dengan penghancuran alam semesta! Pastilah terjadi tubrukan yang mahadahsyat yang bergema ke seluruh kerajaan kemanusiaan yang berdosa. Hal-hal lama telah berlalu! Terkadang keajaiban ini terjadi, seperti bagi anak kovenan, Yohanes Pembaptis, ketika orang yang berdosa itu masih seorang bayi di dalam kandungan. Terkadang perubahan ini terjadi belakangan di dalam kehidupan, seperti yang terjadi atas Saulus dari Tarsus pada perjalanan ke Damsyik (Damaskus). Setiap kali kelahiran kembali terjadi, ada penghancuran yang katastrofik dalam melemparkan Raja Dosa secara paksa dari hati!
Tetapi yang lebih penting lagi, kehidupan kekal dari langit yang baru dan bumi yang baru menerobos ke dalam dunia yang lama ini dan ditanamkan di dalam hati orang yang berdosa. Orang Kristen yang dilahirkan kembali lebih superior dibandingkan Adam sebagaimana ia diciptakan pada mulanya, karena orang Kristen bukan hanya memiliki kehidupan spiritual yang kudus, tetapi secara kualitatif memiliki kehidupan kekal dari dunia baru yang lebih tinggi, kehidupan kovenan baru yang disempurnakan. Orang yang menjadi ciptaan baru memiliki kebakaan sehingga di dalam hatinya ia tidak mungkin mati. Sebagai ciptaan baru, orang percaya yang dilahirkan kembali hidup di dalam dunia lama, yang terkutuk karena dosa, mengeluh, dan mengalami sakit bersalin yang akan segera berlalu, dan ia bergerak sebagai sebuah mikrokosmos dari ciptaan eskatologis yang baru. Ia adalah kesaksian yang hidup dan sebuah jaminan bahwa sebuah eksistensi surgawi yang baru dan lebih tinggi akan tiba bagi seluruh ciptaan dan bagi dia secara personal, ketika pada dia dikenakan kemuliaan dan kehormatan yang kekal di dalam kebangkitan secara badaniah dari kematian.
Kelahiran kembali begitu dalam! Kelahiran kembali bukan sekadar perbaikan, bukan sekadar reformasi, bukan sekadar renovasi, bukan sekadar pembalikan terhadap dampak-dampak kejatuhan; kelahiran kembali adalah menerobosnya dunia baru ke dalam dunia lama ini dan ke dalam hati orang yang berdosa. Jika seseorang berada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru.
Di dalam Kristus
Di dalam 2 Korintus 5:17, Paulus memperhitungkan semua kemuliaan yang menakjubkan ini kepada persatuan dengan Kristus yang telah bangkit. Jika ini tidak membuat Anda menghargai persatuan Anda dengan Kristus, saya tidak tahu hal lain apa lagi yang bisa. Jika seseorang berada “di dalam Kristus” (Kristus yang telah mati dan bangkit kembali, seperti yang ayat 15 sampaikan kepada kita), ia adalah ciptaan baru.
Sebelum Kristus bangkit dari antara orang mati, Ia harus berinkarnasi sebagai Anak Allah di dalam kemanusiaan kita yang bisa binasa. Di dalam pengertian tertentu dari perkataan itu, ada “ciptaan baru” di dalam alam semesta ketika Yesus Kristus lahir dari Maria sebagai Anak Allah yang kekal di dalam daging kita. Segenap ciptaan, termasuk para malaikat di surga, belum pernah menyaksikan hal apa pun yang menyerupai apa yang muncul dari rahim Maria ini. Yang berada di dalam palungan adalah ciptaan baru: seorang manusia yang bukan hanya benar secara sempurna tetapi juga adalah Allah. Firman yang kekal itu sekarang berada di dalam ciptaan di dalam daging manusia yang kasatmata. Hal yang niscaya dan fondasional bagi persatuan kita dengan Kristus adalah kepemilikan-Nya akan kemanusiaan yang sesungguhnya, sehingga kita bisa dipersatukan dengan Dia yang menyerupai kita.
Selain itu, Sang Anak Allah harus menjadi daging (manusia) agar Ia bisa berdiri di bawah Taurat demi orang-orang berdosa pilihan selama seluruh kehidupan-Nya dan khususnya di atas salib. Ia yang tidak mengenal dosa berdiri di bawah Taurat dan dijadikan dosa bagi semua kaum pilihan-Nya (ay. 21), menanggung sengsara yang tidak terperikan dari hukuman atas kutuk Allah di dalam tubuh dan jiwa-Nya, dan dengan demikian memuaskan tuntutan keadilan Allah. Tetapi Ia juga berdiri di bawah Taurat untuk memberikan ketaatan yang sempurna kepadanya yang tidak bisa diberikan oleh Adam maupun kita, sehingga memenuhi segenap kebenaran dan memuaskan keadilan Allah. Kristus yang disalibkan itu telah melunasi seluruh dosa kita dan mendapatkan bagi kita seluruh berkat keselamatan yang surgawi.
Ia kemudian bangkit dari kubur! Ketika Allah membangkitkan Dia dari kubur, tujuan Allah bukanlah memulihkan apa yang terhilang di dalam Adam dengan membangun kembali rumah lama yang sama yang telah terbakar di dalam api dosa. Kebangkitan Kristus bukanlah kembali kepada keadaan dan kehidupan-Nya yang sebelumnya, seperti yang terjadi pada kebangkitan Lazarus. Kristus bukan kembali kepada kemanusiaan-Nya yang lemah dan kepada kehidupan bumiah ini dengan hubungan, makan dan minum, kebutuhan, dukacita, pencobaan dan kematian yang ada di dalamnya. Kristus juga bukan bangkit dengan kemuliaan Adam pertama di dalam firdaus bumiah.
Tujuan Allah di dalam kebangkitan Kristus adalah mengangkat kovenan-Nya dan segala sesuatu kepada ketinggian-ketinggian yang baru, kekal, dan surgawi. Kebangkitan Kristus secara esensial adalah ciptaan baru. Kebangkitan adalah permulaan dunia baru, kelahiran kembali segala sesuatu di dalam kosmos dan kesempurnaan kekal kovenan Allah. Di dalam kebangkitan-Nya, Kristus, sebagai manusia kedua dan Tuhan dari surga, mengenakan tubuh dan jiwa dengan kehidupan yang baru, kekal, dan surgawi yang melampaui kemuliaan, hormat, dan kuasa manusia pertama yang “berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani” (1Kor. 15:47). Pada saat kebangkitan-Nya inilah Kristus menyatakan kepenuhan dari semua yang dikiaskan di dalam Adam sebagai satu tipe historis. Ketika Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, hal-hal lama dari kehidupan yang bisa salah dan bisa hilang itu telah berlalu, kematian telah ditelan di dalam kemenangan, dan Kristus dibangkitkan di dalam kebakaan kepada kehidupan tertinggi yang dimungkinkan. Kematian tidak pernah bisa menjamah-Nya. Di dalam kebangkitan Kristus, Allah telah membangun sebuah istana rajani dengan kemuliaan yang tidak bisa binasa sebagai ganti rumah tua Adam telah terbakar di dalam dosa. Di dalam kebangkitan, Allah telah menyatakan di dalam Kristus gambar diri-Nya yang sempurna sebagai Allah yang tidak kasatmata (Kol. 1:15). Di dalam kebangkitan, Kristus telah menjadi yang sulung dari setiap ciptaan (Kol. 1:15) dan yang pertama bangkit dari antara orang mati (Why. 1:5), sebagai Kepala yang pertama muncul dari rahim kematian ke dalam dunia baru dengan kehidupan yang kekal. Inilah tujuan kekal Allah di dalam keputusan kehendak-Nya sejak semula untuk menjadikan Kristus sebagai Kepala kaum pilihan: “sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi” (Ef. 1:10).
Lalu apakah yang bisa lebih baik daripada berada “di dalam Kristus?” Kita memiliki hati yang baru dan adalah ciptaan baru karena kita berada “di dalam Kristus.” Kita berada di dalam Dia secara perwakilan, sehingga ketika Ia mati, kita telah mati bersama Dia: ketika Ia bangkit kembali, kita telah dibangkitkan dengan-Nya. Kita juga berada di dalam Dia secara mistis dan secara vital oleh Roh Kudus. Ketika Roh dari Kristus yang bangkit ini berdiam secara kekal di dalam hati kita, maka kehidupan yang baru dari Kristus ditanamkan di dalam diri kita untuk selamanya. Dengan Firman Injil, Roh akan terus menggerakkan kehidupan di dalam diri kita. Karena kita berada di dalam Kristus, hal paling lama yang telah berlalu sekali untuk selamanya adalah persatuan kita dengan Adam. Barangsiapa mati di dalam Adam sebagai kepala yang mati, ia juga mati, dan ditetapkan bagi kebinasaan. Tetapi di dalam Kristus, kita dipersatukan dengan Tuhan yang hidup, yang adalah buah sulung dari kebangkitan dari antara orang mati. Oleh Roh-Nya, kita berbagi di dalam kebakaan kebangkitan-Nya, seperti yang Ia katakan kepada Marta,
Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini? (Yoh. 11:25–26).
Betapa besarnya perbedaan yang terjadi dengan berada “di dalam Kristus.” Tidak ada hal apa pun yang lebih penting. Sang rasul tidak berkata, “Jika seseorang berada di dalam gereja,” sungguhpun berada di dalam gereja memang penting, atau “Jika seseorang berada di dalam Kitab Suci,” sungguhpun berada di dalam Kitab Suci memang penting, atau “Jika seseorang berada di dalam perkenanan keluarganya,” sungguhnpun itu hal yang baik. Sang rasul berkata, “Jika seseorang berada di dalam Kristus.” Hanya di dalam persatuan yang menyelamatkan dengan Tuhan yang hidup barulah seseorang adalah ciptaan baru.
Lihatlah!
Untuk menarik perhatian para penerima suratnya, sang rasul menggunakan seruan, “lihatlah” (“behold,” KJV) ketika ia menyatakan “Jika seseorang berada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: hal-hal lama sudah berlalu; lihatlah, segala sesuatu menjadi baru” (KJV). Seruan ini dirancang untuk membuat kita berhenti, merenungkan, dan menjadi takjub akan sesuatu yang mendalam.
Pertama, lihatlah anugerah Allah yang berdaulat! Kaitan Anda dan saya dengan Kristus di dalam penciptaan kembali bisa dikatakan sebesar kaitan matahari dan ternak di dalam penciptaan mereka pada mulanya dari ketiadaan—ketiadaan yang mutlak. Keselamatan adalah sebuah mukjizat yang tidak kalah ajaibnya dibandingkan penciptaan alam semesta. Janganlah ada orang yang melupakan itu, agar jangan sampai kita mulai memperhitungkan keselamatan dan aktivitas spiritual kita kepada diri kita sendiri, seakan-akan kitalah sumber dan kekuatan yang layak dipuji bagi kehidupan kita sendiri. Hanya kuasa yang ilahi dan ajaib yang bisa menciptakan kembali Anda dan saya, dan secara konstan memberi kita energi spiritual sehingga kita percaya, bertobat, taat, beribadah, berdoa, dan menempatkan afeksi-afeksi kita pada hal-hal yang di atas sebagai warga dari dunia baru yang masih hidup di dalam dunia lama. Kepada Allah sajalah kemuliaan bagi penciptaan baru kita di dalam Kristus!
Kedua, lihatlah keajaiban penciptaan kembali diri Anda dan siapa adanya Anda di dalam Kristus! Kepada orang yang mengaku Kristen tetapi terus berada di dalam dosa seperti pelaku kejahatan yang duniawi dan membuat dalih-dalih dengan berkata, “Yah … apa yang Anda harapkan, bukankah saya rusak secara total,” Paulus berkata, “Lihatlah!” Kepada orang yang mengaku Kristen yang mengenakan busana hitam, mengarahkan wajahnya ke tanah, dan berjalan sambil mengeluh, “Apa yang bisa Anda katakan tentang saya adalah bahwa saya seorang berdosa yang mati dan membenci Allah,” Paulus berkata, “Lihatlah!” Kepada orang yang mengaku Kristen yang menutupi dirinya dengan kesalehan palsu dan mendeklarasikan secara dogmatis, tanpa kualifikasi apa pun, “Saya bukan apa-apa selain pengemis yang rusak secara total,” seakan-akan ia entah bagaimana menghormati Kristus dengan pemegahannya yang aneh itu, Paulus berkata, “Lihatlah!” Adalah satu hal—satu hal yang sangat niscaya—untuk berkata, “Seturut natur, di dalam Adam, terpisah dari anugerah, saya bukanlah apa-apa selain orang berdosa yang mati secara spiritual dan rusak secara total.” Adalah satu hal—satu hal yang sangat niscaya—untuk berkata, “Sampai hari Allah membawa saya kepada kemuliaan, saya memiliki daging yang rusak secara total yang melekat pada saya. Oh saya sungguh manusia yang celaka!” Setiap orang yang percaya memiliki perasaan akan kerusakan ini, sering mengeluh dan merindukan agar dilepaskan dari tubuh kematian ini. Tetapi merupakan hal yang sangat berbeda bagi seorang yang mengakui Kristen untuk berkata, tanpa kualifikasi, “Saya bukan apa-apa selain orang berdosa yang mati secara spiritual, rusak secara total, membenci Allah dan sesama.”
Lihatlah! Hai orang Kristen! Bukankah Anda berada di dalam Kristus? Kamu adalah ciptaan baru! Jika Anda bukanlah apa-apa selain apa yang senantiasa merupakan diri Anda di dalam Adam, maka berhentilah mengidentifikasikan diri Anda sebagai seorang Kristen; karena jika demikian keadaan Anda, Anda bukan Kristen. Lebih baik kita berhati-hati memperhatikan apa yang kita ucapkan, agar jangan sampai kita mendorong Kristus kembali ke dalam kubur dan menggulingkan kembali batu untuk menutupi kubur itu. Apakah Dia sudah bangkit atau belum? Apakah Anda dipersatukan dengan-Nya atau tidak? “Jika seseorang berada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru!” Maka, alih-alih diri Anda bukanlah apa-apa selain orang berdosa yang mati dan rusak secara total (titik!), jika Anda berada di dalam Kristus, Anda memiliki dunia kemuliaan kekal yang baru di dalam hati Anda!
Jangan biarkan ada orang yang menghambat Anda dari pengidentifikasian yang mulia ini, hai anak Allah yang percaya. Perhatikanlah bagaimana teks ini dimulai, “Jika seseorang.” Tidak peduli bagaimana Anda berpikir bahwa Anda sangat tidak menarik di dalam penampilan jasmaniah Anda. Tidak peduli dari negara mana Anda berasal, bagaimana hebatnya latar belakang Anda, bagaimana menonjolnya pekerjaan atau pendidikan Anda, entah Anda memiliki kerabat di dalam gereja Kristus atau tidak, entah Anda laki-laki atau perempuan, atau bagaimana orang lain mana pun, termasuk negara, mungkin mengategorisasikan Anda menurut status ekonomi Anda. “Jika seseorang,” dan tidak ada pengecualian-pengecualian, “Jika seseorang berada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru.”
Sekarang marilah kita menunjukkan bahwa kita adalah ciptaan baru di dalam Kristus dengan cara kita menjalankan kehidupan kita. Di dalam pertobatan setiap hari marilah kita berduka atas daging lama yang celaka yang masih melekat pada kita, dan marilah kita menetapkan afeksi-afeksi kita kepada hal-hal yang ada di atas di mana kita akan segera berada.
Betapa teberkatinya persatuan dengan Kristus yang telah bangkit!
Untuk bahan-bahan lain dalam bahasa Indonesia, klik di sini.
______________________________________

