Menu Close

Bab 8: Persatuan dan Pernikahan

       

David J. Engelsma

Ayat Kitab Suci: Efesus 5:21–33

Introduksi

Setidaknya ada empat kekeliruan yang umum tentang persatuan dengan Kristus dan pernikahan yang akan saya koreksi di dalam bab ini. Yang pertama adalah bahwa hubungan utama, jika bukannya satu-satunya hubungan, dari pernikahan bumiah kita dan persatuan kita dengan Kristus adalah bahwa pernikahan kita merupakan sebuah simbol bagi kita untuk persatuan gereja dengan Kristus. Tentu saja memang benar bahwa pernikahan kita, yaitu lembaga pernikahan bumiah di antara kita, adalah sebuah tanda, atau gambaran, bagi kita untuk hubungan Kristus dan gereja dan dengan demikian tanda dan gambaran bagi kita untuk hubungan Kristus dengan setiap orang yang percaya. Sebagaimana persatuan suami yang percaya dan saleh dengan istrinya, demikianlah persatuan Kristus dan gereja. Ini seakan-akan pernikahan bumiah adalah yang pertama sedangkan pernikahan Kristus dan gereja, yang untuknya pernikahan bumiah ini menjadi simbol, baru menyusul kemudian.

Hal yang terluputkan adalah bahwa adalah juga benar bahwa persatuan dengan Kristus dan gereja menentukan natur dan perilaku suami dan istri. Inilah pemikiran Efesus 5:32: “Rahasia (misteri) ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat (gereja).” Orang mungkin berpikir bahwa misteri yang besar ini adalah hubungan suami dan istri. Faktanya, ini adalah hubungan Kristus dan gereja. Kristus dan gereja adalah pernikahan yang pertama, fundamental, dan riil. Pernikahan bumiah hanyalah simbol dari pernikahan yang riil itu. Pernikahan Kristus dengan kita menentukan pernikahan kita. Pernikahan kita mengikuti penikahan Kristus dan gereja.

Kedua, sebuah kekeliruan yang umum adalah beranggapan bahwa panggilan-panggilan dasar untuk suami dan istri di dalam pernikahan adalah dua kewajiban yang terpisah dan mandiri. Suami harus mengasihi; istri harus tunduk. Keduanya adalah dua kewajiban yang tidak berkaitan. Kebenarannya adalah bahwa panggilan untuk suami adalah yang pertama, sebagai dasar bagi panggilan untuk istri. Sebuah aspek yang penting dari ketundukan istri adalah bahwa ketundukan ini dikarenakan, dan bergantung pada, pemenuhan suami akan panggilannya. Kebenaran mengenai pernikahan ini sangat jelas di dalam perbandingan pernikahan kita dengan persatuan Kristus dengan gereja: gereja tunduk karena Kristus mengasihi.

Ketiga, merupakan kesalahan yang umum dari para suami untuk membaca panggilan untuk mereka di dalam Efesus 5 seakan-akan sang rasul berhenti di ayat 25 dengan perkataan, “kasihilah istrimu.” Mereka mengabaikan bagian yang selebihnya dari ayat 25 itu: “sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat (gereja),” dan penjelasan lebih lanjut tentang kasih di dalam ayat 26–29. Jika demikian kasih suami kepada istri hanyalah bersifat seksual, perasaan romatis, dan penyediaan akan kebutuhan-kebutuhan bumiah istrinya.

Keempat, merupakan kekeliruan yang umum pada saat ini untuk beranggapan bahwa semuanya baik-baik saja dengan pernikahan di dalam gereja karena gereja melarang perceraian dan pernikahan kembali. Faktanya, terjadi kejahatan besar terkait pernikahan di antara kita, termasuk semua gereja konservatif dan Reformed. Ini adalah kejahatan pelecehan terhadap istri. Kejahatan ini secara sengaja diabaikan dan bahkan disangkal—bisa dikatakan gereja menutup mata terhadapnya. Maka keadaan kita “sebelah luarnya memang bersih tampaknya” tetapi di dalamnya penuh dengan “tulang belulang [laki-laki maupun perempuan]” (Mat. 23:27). Kesalahan inilah yang ingin saya bahas dan juga koreksi.

        

Injil Biblikal yang Indah

Surat Efesus adalah sebuah surat yang penting tentang gereja, termasuk persatuan gereja dengan Kristus. Ini mengingatkan kita bahwa, di dalam kajian kita tentang persatuan umat Allah dengan Kristus, kita tidak boleh meluputkan aspek persatuan yang terdiri dari persatuan Kristus dengan gereja. Ini mengimplikasikan persatuan yang mengikutinya, yaitu persatuan orang percaya dengan gereja dan dengan anggota-anggota gereja lainnya.

Perikop-perikop di dalam Surat Efesus yang mengungkapkan beragam aspek dari persatuan dengan Kristus dan gereja termasuk yang berikut. Gereja telah “dipilih” di dalam Kristus (1:4). Gereja “diciptakan” di dalam Kristus Yesus (2:10). Orang-oang Kristen bukan-Yahudi, yang dulunya jauh, telah “menjadi dekat” dengan orang-orang percaya yang Yahudi di dalam Kristus Yesus (ay. 13); melalui Yesus Kristus, baik orang Kristen yang Yahudi maupun yang bukan-Yahudi bersama-sama “dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa” (ay. 21).

Aplikasi praktis dari persatuan Kristus dengan gereja di dalam Surat Efesus secara khusus adalah persatuan anggota-anggota yang Yahudi dan yang bukan-Yahudi. Perbedaan itu merupakan ancaman yang sangat serius terhadap persatuan ini. Ancaman ini membuat semua perbedaan lain yang mengancam di antara kita menjadi tidak ada apa-apanya. Dibandingkan dengan perbedaan-perbeadaan antara anggota-anggota gereja yang Yahudi dan bukan-Yahudi, perbedaan-perbedaan yang ada di antara kita sebagai laki-laki dan perempuan, kaya dan miskin, berkulit hitam dan berkulit putih, dan keturunan bangsa ini dan bangsa itu, sangat tidak berarti.

Perbedaan-perbedaan antara orang-orang Yahudi dan bukan-Yahudi adalah topik dari Efesus 2 secara khusus: tidak bersunat/bersunat (ay. 11); kewargaan Israel/bukan (ay. 12); “telah mempersatukan kedua pihak (yaitu orang Yahudi dan bukan-Yahudi) dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan” (ay. 14); dan “keduanya” (ay. 15).

Sang rasul menggunakan beberapa kiasan di dalam Surat Efesus untuk merepresentasikan ke-satu-an gereja dikarenakan persatuannya dengan Kristus. Salah satunya adalah kepala manusia dengan tubuhnya: Kristus adalah Kepala dan gereja adalah tubuh-Nya (1:22–23). Kiasan yang lain adalah tentang batu penjuru dan bangunan yang dibentuk oleh batu penjuru itu dan bersandar padanya (2:20–21). Kiasan ketiga adalah tentang pernikahan (5:22–33). Yang terakhir ini adalah kiasan atau simbol bumiah untuk persatuan dengan Kristus yang menjadi topik bab ini.

Jelas bahwa Roh Kudus membandingkan persatuan kita dengan Kristus dengan persatuan suami dan istri di dalam pernikahan: berulang-ulang sang rasul menggunakan kata pembanding “sebagaimana.” Istri harus tunduk kepada suaminya “sebagaimana jemaat (gereja) tunduk kepada Kristus” (ay. 24). Suami harus mengasihi istrinya “sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat (gereja)” (ay. 25).

Begitu eratnya perbandingan itu sehingga di dalam pernikahan suami dan istri menjadi satu daging—begitu intimnya mereka dipersatukan!—sebagaimana Kristus dan gereja adalah satu entitas di dalam persatuan mistis yang diciptakan oleh Roh Kudus (ay. 31). Sang rasul di sini memaksudkan Kejadian 2:24, dengan mendeskripsikan pelembagaan Allah akan pernikahan dengan persatuannya yang indah pada saat pernikahan. Meskipun aspek seksual dari pernikahan merupakan pengungkapan dan penikmatan tertinggi dari pesatuan di dalam pernikahan ini, aspek seksual ini bukanlah satu-satunya aspek. Meskipun mereka adalah dua pribadi yang berbeda, mereka berbagi satu kehidupan—sebuah persatuan di dalam dukacita maupun sukacita, pergumulan dan kekecewaan, berpikir dan merencanakan, keberhasilan dan kegagalan, dan khususnya kekayaan dan kemiskinan spiritual. Yang paling akhir ini—kesehatan spiritual suami dan istri di dalam pernikahan—secara khusus merupakan tanggung jawab suami, yang mencerminkan perhatian Kristus kepada kesejahteraan spiritual gereja (Ef. 5:25–28): “Demikian juga suami harus mengasihi istrinya” (ay. 28).

Oleh karena itu, perilaku suami yang melakukan pelecehan benar-benar berlawanan dengan panggilan itu. Ia menghancurkan istrinya, secara spiritual, dengan pelecehan psikologis dan jasmaniah terhadapnya!

Sungguh benar jika para hamba Tuhan mengajari anggota-anggota mereka yang sudah menikah dan akan menikah tentang pernikahan dari Efesus 5. Suami adalah kepala yang berotoritas; istri adalah tubuh yang tunduk. Panggilan untuk suami adalah untuk mengasihi; panggilan untuk istri adalah untuk tunduk. Meskipun tidak dikatakan apa pun secara eksplisit tentang permanennya setiap pernikahan untuk seumur hidup atau tentang perceraian dan pernikahan kembali, perikop ini secara jelas mengimplikasikan bahwa pernikahan adalah untuk seumur hidup, yaitu sebagaimana persatuan Kristus dengan gereja adalah persatuan yang langgeng, bahkan kekal.

Yang juga terimplikasi secara jelas adalah bahwa perceraian dilarang (sebuah larangan yang dikualifikasi oleh pengecualian yang disebutkan oleh Kristus di dalam Matius 5:32 dan 19:9: percabulan salah satu pihak di dalam pernikahan itu). Perbandingan pernikahan bumiah dengan persatuan Kristus dan gereja mengimplikasikan larangan mutlak terhadap pernikahan kembali selama suami atau istri yang semula masih hidup, sebuah kebenaran tentang pernikahan yang dijadikan eksplisit oleh perikop lain di dalam Kitab Suci (Mrk. 10:1–12; Luk. 16:18; Rm. 7:2–3; 1Kor. 7:10–11, 39). Kristus tidak menceraikan gerejanya, atau anggota-anggota individual gereja-Nya, untuk menikahi yang lain. Kasih-Nya juga tidak mengizinkan seorang anggota gereja menceraikan Dia, untuk menikahi tu[h]an dan kekasih lain. Iman Reformed mengakui ini sebagai doktrin tentang pemeliharaan atas orang-orang kudus, yang juga bisa disebut doktrin tentang permanennya pernikahan yang riil atau ikatan pernikahan yang tidak bisa diputus.

      

Efesus 5 sebagai Injil tentang Pernikahan yang Riil

Meskipun perikop ini teraplikasikan pada pengajaran terkait pernikahan bumiah yang dimiliki oleh orang-orang kudus, hal yang sering terluputkan adalah bahwa Efesus 5 secara terutama bukanlah pengajaran tentang pernikahan bumiah, tetapi tentang Injil keselamatan kita yang indah. Kepada hal inilah kata pembanding “sebagaimana” di dalam perikop tersebut bersaksi. Inilah yang diungkapkan oleh ayat ketiga puluh dua yang mengejutkan dari perikop ini. Di akhir penjabaran yang intim dan erat tentang ke-satu-an pernikahan, dan nasihat tentang kewajiban-kewajiban utama suami dan istri, sang rasul berseru, “Rahasia ini besar.”

Pembaca akan berpikir bahwa sang rasul merujuk kepada pernikahan bumiah. Sungguh, ada sesuatu yang misterius tentang pernikahan bumiah. Setiap suami dan istri yang percaya mengalami misteri pernikahan. Ada lebih banyak hal di dalam ke-satu-an pernikahan ini daripada yang bisa orang jelaskan atau pahami. Sambil berlinang air mata, ibu saya yang sudah berusia lanjut menangisi kematian ayah saya, “Separuh diriku mati bersamanya.”

Tetapi sang rasul bukan berbicara tentang pernikahan bumiah di dalam Efesus 5, bukan hanya dan bukan terutama; ia berbicara tentang “hubungan Kristus dan jemaat (gereja)” (ay. 32). Realitas pernikahan bumiah, pernikahan orang-orang yang percaya, dan lembaga pernikahan itu sendiri, adalah persatuan Kristus dan gereja. Pernikahan kita bukanlah pernikahan yang riil; pernikahan yang rill adalah pernikahan Kristus dan gereja. Allah bukan terlebih dahulu melembagakan pernikahan bumiah dan baru kemudian memutuskan bahwa itu akan cocok untuk menjadi simbol dari persatuan Kristus dan gereja. Tetapi Allah pertama-tama mendekritkan persatuan Kristus dan gereja. Kemudian Ia menciptakan pernikahan bumiah sebagai gambaran yang samar namun cocok bagi persatuan-Nya dengan kemanusiaan kovenan di dalam Yesus Kristus.

Di balik, dan terpancar secara samar, dari pernikahan kita adalah Injil yang indah tentang persatuan Kristus dengan gereja-Nya. Di dalam kasih kepada kita yang murni karena anugerah—perkenanan kepada kita yang sama sekali tidak elok dan tidak berharga ini—Kristus menikahi kita. Pernikahan ini penuh anugerah, menurut Efesus 5:25, karena Ia harus memberi diri-Nya bagi gereja di dalam kematian di atas salib yang mengerjakan pendamaian. Gereja tidak elok, menurut perikop ini, karena Kristus harus membuatnya elok, dengan menyucikan (menguduskan) dan memandikannya (ay. 26). Kasih Kristus bagi gereja adalah memberi, bukan mengambil; berkorban, bukan menuntut. Dan kasih ini adalah kasih yang efektual: Ia menempatkan gereja di hadapan-Nya sebagai gereja yang “cemerlang” (“mulia”) (ay. 27).

Inilah respons terhadap suami yang merasa tidak puas, yang merasa istrinya berada di bawah standar atau keinginannya—tidak cukup cantik, tidak cukup mampu, tidak cukup berbudaya, dan lain sebagainya, dan dengan semua ini ia merasa istrinya tidak layak bagi dirinya. Kristus tidak menikahi istri yang berharga. Bahkan sekarang Ia hidup di dalam kasih yang berlimpah dengan istri yang pada dirinya sendiri jauh dari kemuliaan sejati yang dimiliki oleh Suaminya.

Menurut Efesus 5, Kristus mencurahkan kasih-Nya kepada mempelai perempuan-Nya, menjamin kasih-Nya kepadanya dan menyatakan itu kepadanya. Menurut ayat 29, Ia mencukupi dan menghargai mempelai perempuannya, yaitu gereja. Tepatnya inilah yag sedang Ia lakukan bagi gereja di sepanjang zaman Perjanjian Baru. Efesus 5 adalah perkataan kasih-Nya kepada gereja.

Injil yang indah tentang pernikahan Kristus dan kita tercermin di dalam pernikahan kita. Pernikahan Kristus menentukan pernikahan kita. Pasangan-pasangan yang menikah di dalam gereja memiliki hak istimewa, dan dipanggil, untuk menunjukkan persatuan Kristus dan gereja. Dunia bisa melihat persatuan Kristus dan gereja di dalam pernikahan orang-orang yang percaya. Pernikahan kita adalah firman Allah yang hidup, penuh kuasa, dan tidak terelakkan kepada dunia, ketika mereka tidak mau mendengar apa pun yang kita katakan.

Dan betapa besarnya skandal—saya menggunakan kata ini dengan sengaja—jika mereka tidak melihat pernikahan yang demikian, melainkan pernikahan yang berisi pelecehan.

Beberapa tahun yang lalu, ketika saya membahas tentang pernikahan di antara orang-orang Kristen, pada titik ini saya akan berbicara tentang kejahatan perceraian dan pernikahan kembali. Sekarang saya harus membahas tentang kejahatan pelecehan. Para pengajar di dalam gereja harus menjawab permasalahan yang sedang terjadi.

       

Skandal Pelecehan

Pada saat ini terjadi serangan demonik terhadap lembaga pernikahan Kristen. Serangan tersebut mengancam banyak pernikahan, dan menyelewengkan Injil tentang persatuan Kristus dan gereja yang seharusnya dicerminkan oleh pernikahan Kristen di antara kita. Sekalipun tidak disebut epidemik, pastinya serangan terhadap pernikahan ini tersebar luas. Serangan ini ditemukan di dalam semua gereja, termasuk yang paling konservatif dan yang paling ortodoks secara doktrinal. Serangan ini tidak diragukan lagi telah menjadi kejahatan di dalam gereja di masa lalu, tetapi baru belakangan ini benar-benar dibongkar sebagaimana adanya.

Saya teringat akan sebuah insiden yang saya saksikan ketika saya masih kecil, bertahun-tahun yang lalu, yang sekarang saya ketahui sebagai pelecehan terhadap istri. Begitu mencengangkannya peristiwa pelecehan itu, sekalipun pada waktu itu saya belum mengetahui apa yang disebut pelecehan, sehingga peristiwa itu tertanam di dalam pikiran saya selama tujuh puluh tahun ini, dan masih sejelas seperti baru terjadi kemarin. Kedua orang tua saya sedang melakukan kunjungan di Minggu sore setelah ibadah, yang merupakan kebiasaan pada waktu itu. Dan karena alasan tertentu, saya akhirnya duduk di ruang tamu bersama para orang dewasa. Orang tua saya dan suami dari pasangan orang Belanda yang sudah berusia lanjut yang kami kunjungi itu meneruskan percakapan tentang hal-hal spiritual, selama sekitar satu setengah jam. Istrinya yang berusia lanjut [yang di dalam bahasa Belanda disebut oude juffrouw] tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Akhirnya, ketika percakapan itu terus belanjut, wanita tua yang saleh itu mengatakan sesuatu, sesuatu yang biasa-biasa saja. Namun suaminya memelototi dia dan menggeram, “Anna, diam!” Ia tidak memukul wanita tua itu, istrinya itu, tetapi ia melecehkannya dengan kejam. Itu terjadi tujuh puluh tahun yang lalu di dalam sebuah gereja yang ortodoks, yang memiliki ajaran dan aturan yang baik tentang pernikahan. Baru pada saat ini kita mengenali dosa itu sebagaimana adanya.

Kejahatan yang merusak pernikahan di dalam gereja adalah kejahatan pelecehan terhadap istri. Ini bukanlah sekadar kejahatan bahwa suami terkadang memperlakukan istri secara buruk—berbicara kasar terhadapnya, menunjukkan sikap tidak berterima kasih kepadanya, atau, secara umum, gagal mengasihi dia seperti Kristus mengasihi gereja. Perilaku-perilaku yang tidak pantas seperti itu menjadi masalah dari setiap pernikahan. Itu adalah dosa—dosa yang darinya kita harus bertobat dan yang baginya istri dipanggil untuk memberikan maaf. Tetapi ini bukan pelecehan.

Pelecehan adalah penghancuran yang disengaja dan berkelanjutan terhadap perempuan, hari lepas hari, tahun lepas tahun, dengan kritik verbal yang kejam, dengan ancaman kekerasan jasmaniah (yang sedirinya sudah merupakan tindakan kekerasan), dan tentu saja dengan tindakan kekerasan jasmaniah yang aktual seperti memukul, mencekik, gerakan-gerakan yang mengancam, dan tindakan-tindakan lain yang menyakiti.

Menurut Katekismus Heidelberg, pelecehan adalah pembunuhan, pembunuhan yang berkelanjutan.

P. 105. Apakah yang Allah tuntut di dalam perintah keenam?
A. Agar aku, baik di dalam pemikiran maupun di dalam perkataan dan sikap, apa lagi di dalam tindakan, tidak menghina, membenci, melukai, atau membunuh sesamaku …

Dan ini adalah perilaku yang teramat jahat dari orang yang menyebut dirinya Kristen dan yang memegang keanggotaan di dalam sebuah gereja yang benar. Inilah tindakan dari seorang yang perilakunya seharusnya mencerminkan perilaku Kristus terhadap istri-Nya, gereja.

Yang semakin memperparah kejahatan di dalam gereja ini adalah bahwa para penatua, hamba Tuhan, dan gereja patut dipersalahkan karena penanganan yang keliru atas kejahatan di tengah-tengah kita ini. Tentu saja ini tidak terjadi pada semua, tetapi penanganan yang keliru sudah tersebar cukup luas dan menjadi hal umum, sehingga kita perlu menyerukan perhatian kepada penanganan yang keliru dan patut dipersalahkan ini. Salah satu contoh penanganan yang keliru ini adalah bahwa para hamba Tuhan dan penatua menyangkali begitu saja realitas kejahatan ini. Mereka menutup mata terhadap kejahatan ini di dalam kongregasi mereka. Ada istri yang datang sambil menangis kepada hamba Tuhan, dan biasanya ini berarti ia telah mengalami bertahun-tahun pelecehan, dan hamba Tuhan itu menasihati dia untuk pulang ke rumah dan “lebih tunduk” kepada suaminya yang melakukan pelecehan itu. Ini sama saja dengan menyuruhnya “lebih tunduk” kepada pelecehan.

Mungkin hamba Tuhan itu menemui suami dan istri itu bersama-sama hanya satu kali, menasihati si suami (yang berdusta tentang pelecehan yang dilakukannya namun diam-diam memutuskan bahwa ia akan membuat istrinya membayar mahal karena sudah membuat dosanya diketahui oleh hamba Tuhan itu) untuk mengasihi istrinya, membaca Alkitab dan berdoa, dan bagi hamba Tuhan itu inilah akhir dari perkara itu.

Kemudian, ketika perempuan itu mencari pertolongan yang sesungguhnya di luar gereja dan para pejabatnya, hamba Tuhan itu mengecam perempuan itu karena mencari pertolongan “di dalam dunia.”

Hamba Tuhan itu mungkin melaporkan kepada konsistori bahwa ia telah menangani sebuah “masalah pernikahan.” Tetapi ini bukan sebuah “masalah pernikahan.” Ini adalah sebagai kasus pelecehan. Laporan kepada konsistori seperti demikian mengindikasikan bahwa hamba Tuhan itu tidak menganggap serius masalah pelecehan. Ia tidak menimbangnya dan mengatasinya sebagai pelecehan, sebagai pembunuhan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, ia mungkin menjumpai pasangan itu beberapa kali, membicarakan tentang kewajiban suami dan istri. Ia akan menegur mereka agar berperilaku dengan benar. Kemudian, tanpa ketetapan untuk menindaklanjuti tentang kehidupan pernikahan mereka, ia akan menyuruh mereka pulang, di mana pelaku pelecehan itu akan menyerang istrinya dengan lebih parah daripada sebelumnya. Tidak ada upaya yang terkonsentrasi dan berkelanjutan dengan suami yang melakukan pelecehan itu untuk memastikan pengakuan dosanya dan perubahan perilakunya, dan tidak ada pengawasan atas pernikahan itu untuk memastikan perlindungan bagi pihak istri. Hasilnya adalah bahwa si istri dibiarkan di dalam sengsaranya di rumah bersama suami yang buas itu.

Konsistori-konsistori harus mewaspadai siasat favorit para suami yang melakukan pelecehan. Sering kali, ketika dipanggil untuk memberikan penjelasan, suami yang melakukan pelecehan akan berupaya membenarkan perilakunya dengan mengklaim bahwa itu harus ia lakukan untuk memaksa istrinya tunduk kepadanya, sebagai kepala rumah tangganya. Kesalahan ada pada pihak istri karena ia tidak tunduk kepada otoritasnya.

Di sini pun, pada apa yang sering kali merupakan titik yang krusial di dalam penanganan gereja terhadap pelecehan, suami menunjukkan dirinya bodoh di dalam kaitan dengan pernikahan, di dalam terang Efesus 5. Pertama, dalihnya bagi dirinya sudah merupakan pengakuan atas dosa pelecehan. Ia memberi dalih bagi dosa itu tetapi mengakuinya. Kedua, ia menunjukkan dirinya tidak memiliki pengetahuan tentang pernikahan yang riil yang harus menjadi pola bagi pernikahannya sendiri. Kristus tidak memukuli istri-Nya sampai rela untuk tunduk kepada-Nya. Tetapi Ia mengasihi istri-Nya supaya istrinya tunduk. Panggilan dari Efesus 5 kepada suami Kristen adalah, “Kasihilah istrimu supaya ia tunduk!”

Dan hal yang sangat mencengangkan adalah bahwa terlalu sering konsistori justru mempersalahkan pihak istri yang dilecehkan. Suami yang melakukan pelecehan biasanya adalah pendusta yang hebat. Sering kali ia adalah anggota kongregasi yang menonjol. Konsistori memiliki kecenderungan untuk berpihak pada suami, bahwa istrinya “tidak waras,” atau “terganggu secara emosional.”

Ketika suami yang melakukan pelecehan itu akhirnya membuat istrinya pergi dari rumah, konsistori menuduh istrinya berdosa karena “meninggalkan” suaminya. Di dalam kenyataannya, ia bukan “meninggalkan” di dalam pengertian biblikal dari kata itu. Suaminyalah yang membuat dia pergi. Dosa perpisahan itu bukanlah pada si istri; itu adalah dosa si suami. Secara biblikal, dosa yang bisa diaplikasikan di dalam kasus-kasus seperti itu adalah bahwa suami telah “menceraikan” (1Kor. 7:11), karena si suami, yang menunjukkan dengan perilakunya yang melecehkan dan tanpa pertobatan bahwa ia tidak percaya, tidak bersedia untuk tinggal bersama istrinya (ay. 13). Perilaku memukuli seorang istri sampai babak belur, menjambak rambutnya dan menyeretnya di sepanjang tangga sampai tulang-tulangnya patah, mengancam akan membunuhnya dan anak-anaknya, dan mengacungkan senapan lantak ke kepalanya sudah pasti menunjukkan ketidakbersediaan si suami untuk tinggal bersama istrinya.

Penyebutan senapan lantak ini bukan hipotetis dan hiperbolik. Di dalam tahun-tahun awal pelayanan saya, ketika keprihatinan terkait pelecehan terhadap istri masih berada jauh di masa depan, dan ketika perhatian saya kepada pernikahan masih terbatas pada menghidupi secara benar pernikahan saya sendiri yang baru dilembagakan, seorang perempuan muda dari kon­gregasi saya mengetuk pintu ruang kerja saya. Ia menangis dan gemetar, sambil menggendong anaknya yang masih bayi. Di dalam luapan kemarahan, suaminya yang mabuk telah mengeluarkan senapan lantak dan mengancam akan membunuh perempuan ini dan anak itu—padahal itu juga anaknya sediri—dan, untuk menunjukkan bahwa ancamannya tidak main-main, ia menembakkan senapan itu di ruang tamu, melubangi langit-langit, dan membuat istrinya ketakutan, apalagi anaknya. Perempuan muda itu melarikan diri dan mencari gembala sidang dan dengan demikian bisa dikatakan mencari gereja. Karena mengetahui aturan denominasi yang kuat tentang pernikahan, ia bertanya, “Apakah saya harus pulang dan tetap tinggal dengan orang itu di dalam rumah itu?” Akal sehat yang dikuduskan mengarahkan saya untuk menjawab, “Tidak!” Tanpa ragu! Saya pergi bersama perempuan itu ke rumahnya, di mana suaminya masih duduk, dengan gayanya yang jantan, sambil memegang senapannya, dan memperhatikan perempuan itu mengambil barang-barang yang akan ia butuhkan untuk hidup di luar rumahnya sementara waktu dan terpisah dari suaminya. Tetapi perempuan ini tidak “meninggalkan” suaminya. Demikian pula saya, ketika membantunya, juga bukan membantunya untuk “meninggalkan” suaminya. Jika pada saat itu saya menasihati perempuan itu untuk kembali ke rumah di dalam keadaan seperti demikian, saya akan bersalah atas pelecehan itu sendiri dan bahkan mungkin juga atas pembunuhan, jika laki-laki celaka itu mengarahkan senapannya kepada istrinya dan bukan ke langit-langit. Dengan pelecehan yang dilakukannya, di dalam kasus ini dengan senapan yang berisi, si suami mengungkapkan bahwa ia tidak bersedia tinggal dengan istrinya, menggunakan bahasa 1 Korintus 7.

Gereja-gereja telah begitu keliru di dalam menangani dosa pelecehan. Mereka tidak menolong istri yang tertindas. Mereka justru membantu suami yang melakukan pelecehan. Maka mereka gagal menangani secara tepat serangan serius yan terjadi saat ini terhadap pernikahan di antara kita. Saya bisa menambahkan bahwa bukannya tidak pernah terdengar bahwa gereja-gereja bahkan mengkritik orang-orang yang mencoba untuk menolong para istri yang dilecehkan.

Pelecehan adalah sebuah skandal di dalam gereja-gereja. Ini adalah kejahatan yang sedang menghancurkan pernikahan di dalam gereja. Suami yang melakukan pelecehan sedang mengusir istri mereka dari rumah mereka dan dari diri mereka sendiri. Bahkan jika istri tetap tinggal di rumah, demi anak-anak dan penghidupannya sendiri, pernikahan itu hanyalah cangkang yang kosong. Jika gereja merasa puas dengan hanya menekankan agar istri tinggal di dalam bangunan yang sama dengan pelaku pelecehan, seakan-akan itulah yang benar bagi pernikahan di antara kita, maka gereja bersalah atas kemunafikan orang Farisi: gereja menjadikan pernikahan “sebelah luarnya memang bersih tampaknya” tetapi di dalamnya penuh dengan “tulang belulang [laki-laki maupun perempuan” (Mat. 23:27).

Kedua, pelecehan adalah sebuah skandal karena menghancurkan para perempuan anggota gereja. Pelecehan menghancurkan mereka secara jasmaniah, psikologis, dan spiritual. Mereka merasa putus asa. Mereka minum alkohol berlebihan. Mereka melukai diri. Dan saya pikir mereka bahkan memikirkan untuk melakukan bunuh diri. Yang terburuk dari semuanya, pelecehan adalah penyebab ditolaknya gereja, ditolaknya Yesus Kristus, dan kemurtadan yang terjadi pada sejumlah orang. Mereka terhilang: “Jika ini adalah gereja, saya akan berpaling darinya dan dari Yesus Kristus.”

Saya sengaja berbicara tentang “skandal” pelecehan di dalam pengertian harfiah dan biblikal dari kata “skandal.” Sebuah “skandal” bukan hanya kejahatan yang menjijikkan dan ofensif. Tetapi sebuah “skandal” adalah tindakan yang jahat yang menyebabkan seseorang tersandung ke dalam kebinasaan karenanya. Ini adalah kata yang Yesus gunakan di dalam Matius 18:7: “memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.” Kata yang Authorized Version (KJV) terjemahkan sebagai “offences” and “offence” (TB = “penyesatan”) secara harfiah adalah “skandal.”

Perilaku suami yang melecehkan adalah sebuah “skandal” bagi istrinya, membuat istrinya binasa secara kekal. Ini benar-benar berlawanan dengan panggilan untuk suami, yang harus menjadi pendukung dan pembimbing spiritual bagi istrinya. Betapa bertolakbelakangnya perilakunya dengan perilaku Yesus terhadap istri-Nya, gereja: “Dialah yang menyelamatkan tubuh” (Ef. 5:23).

Ketiga, pelecehan adalah sebuah “skandal,” karena pelecehan memberikan cerminan yang keliru tentang Yesus Kristus di hadapan dunia orang yang tidak percaya yang memperhatikan. Dunia melihat perilaku kita di dalam pernikahan kita. Dunia mengejek gereja karena para suami di dalam gereja yang melakukan pelecehan, dan di dalam pernikahan yang berisi pelecehan itu dunia menemukan pembenaran bagi penolakannya terhadap gereja dan berita yang gereja sampaikan: “Inilah pernikahan Kristen; tidak lebih baik daripada pernikahan kita; beginilah Yesus memperlakukan istri-Nya.”

       

Peringatan yang Keras

“Skandal” pelecehan di dalam gereja menuntut peringatan yang keras. Pertama, ada peringatan kepada para pemudi yang belum menikah. Ketika berpacaran dengan para pemuda di dalam gereja, mereka harus mewaspadai tanda-tanda yang tidak mungkin keliru dari laki-laki yang bisa melakukan pelecehan. Tanda-tanda ini termasuk kemarahan yang tidak terkendali, atau bahkan kemarahan yang terkendali, khususnya ketika dirinya tidak menjadi pusat perhatian; ancaman-ancaman ketika si pemudi tidak mengikuti kemauannya; tindakan-tindakan kekerasan jasmaniah dan lain sebagainya. Ketika seorang pemudi melihat semua, atau bahkan sebagian, dari gejala-gejala natur pelaku pelecehan ini, ia harus berlari, bukan berjalan, keluar dari hubungan itu. Banyak, jika bukannya mayoritas, dari para perempuan yang mendapati diri mereka berada di dalam sebuah pernikahan yang melecehkan mengakui dengan penyesalan bahwa mereka telah melihat tanda-tanda itu tetapi mengabaikannya. Para orang tua harus mengawasi hubungan pacaran putri-putri mereka, dan memperhatikan ada tidaknya tanda-tanda dari natur dan perilaku yang bisa melalukan pelecehan pada pemuda-pemuda yang mereka pacari.

Kemudian ada peringatan yang keras kepada para suami Kristen. Kristus adalah teladan yang harus kita ikuti. Perilaku-Nya terhadap gereja adalah pola bagi perilaku kita sendiri di dalam pernikahan. Ia mengasihi mempelai perempuan-Nya. Ia mengorbankan diri-Nya baginya. Ia memelihara dan menghargai istri-Nya. Perilaku ini juga bukan dikondisikan pada kelayakan istri-Nya—keelokannya, kemampuan-kemampuannya yang menyenangkan, atau bahkan ketaatannya kepada panggilannya untuk tunduk kepada-Nya. Semoga suami Kristen, khususnya suami yang condong melakukan pelecehan, menanyakan kepada dirinya sendiri pertanyaan ini, “Bagaimanakah jika kasih Kristus kepada saya dikondisikan pada kelayakan saya sendiri?” Efesus 5—perikop yang agung tentang pernikahan ini—menekankan keburukan dan ketidaklayakan natural kita. Kita perlu dimandikan dan disucikan karena dosa kita.

Ketidaktaatan suami yang melakukan pelecehan kepada panggilannya menyebabkan murka Allah turun atas dirinya: suami pelaku pelecehan yang tidak bertobat akan dihukum. Dasar penghukumannya adalah perilakunya sendiri yang melakukan pelecehan itu. Selain itu, Ia telah menghancurkan istrinya. Ditambahkan lagi pada dasar-dasar penghukumannya itu, di dalam banyak kasus, adalah kehancuran anak-anak keluarganya.

Juga ada peringatan keras kepada gereja-gereja. Gereja-gereja harus berkhotbah melawan pelecehan dan khotbah itu harus memasukkan peringatan terhadap suami yang melakukan pelecehan bahwa mereka sedang membawa diri mereka sendiri ke dalam penghakiman yang berat dari murka Allah. Gereja-gereja harus mengkhotbahkan pernikahan, bukan hanya sebagai ikatan yang tidak bisa diputus, tetapi juga sebagai ikatan yang hidup yang di dalamnya para suami hidup bersama istri mereka sebagaimana Kristus hidup bersama gereja. Sebagai sebuah ikatan kasih yang sejati dan spiritual, ikatan pernikahan dipolakan menurut ikatan pernikahan Kristus sendiri.

Sedangkan bagi para penatua dan hamba Tuhan yang menutup mata terhadap pelecehan, yang puas untuk memberikan kepada kejahatan itu tanggapan yang seadanya, dan yang menolong dan mendukung pelaku pelecehan, mereka menoleransi “skandal” itu, sehinggga menjadikan diri mereka sendiri bersalah atas kebinasaan baik istri yang dilecehkan yang meninggalkan iman maupun suami yang melakukan pelecehan yang terus melakukan dosa itu tanpa bertobat. Mereka menoleransi cerminan yang seperti demikian di dalam gereja dan di hadapan dunia bagi pernikahan Kristus dan gereja. Pujian yang nyaring bagi pernikahan, bahkan bagi pernikahan sebagai sebuah ikatan yang tidak bisa diputus, oleh para pejabat gereja seperti ini hanyalah kebisingan.

Dengan berkhotbah dan pendisiplinan, kita harus mencabut pelecehan dari gereja sampai ke akar-akarnya, sehingga pernikahan di antara kita benar-benar menggambarkan Kristus dan gereja, dan bersaksi bagi Kristus yang mengasihi gereja dan telah memberikan diri-Nya baginya.

Suami kita bukan pelaku pelecehan.

Untuk bahan-bahan lain dalam bahasa Indonesia, klik di sini.

Show Buttons
Hide Buttons