Menu Close

Bab 1: Pribadi Roh Kudus

         

Prof. David J. Engelsma

Ayat Kitab Suci: Yohanes 15:26–16:16

Introduksi

Topik tentang Roh Kudus dan Pekerjaan-Nya sangat tepat untuk keadaan saat ini dan patut dibahas. Ada ketertarikan yang sangat besar pada saat ini di dalam banyak lingkaran Kristen kepada spiritualitas dan pengalaman spiritual. Kebanyakan dari apa yang dianggap sebagai spiritualitas dan pengalaman spiritual di dalam kenyataannya adalah mistikisme—salah satu ancaman besar yang terus ada terhadap Kekristenan yang sejati. Roh Kudus adalah Allah yang berdiam di dalam diri kita dan Roh Yesus Kristus yang mengerjakan keselamatan di dalam diri kita, sehingga semua spiritualitas yang sejati dan semua pengalaman spiritual yang riil adalah karena Roh ini. Di dalam buku ini, kami mengajarkan spiritualitas dan pengalaman spiritual yang sejati. Ini adalah spiritualitas dan pengalaman spiritual yang disebabkan oleh Roh Kudus, yang Yesus sebut sebagai “Penghibur” di dalam Yohanes 14–16.

Alasan lain mengapa topik tentang Roh Kudus tepat untuk keadaan saat ini dan patut dibahas adalah karena kita hidup pada masa di mana pengajaran dan praktik yang palsu dan berbahaya terkait Roh Kudus dan kehadiran serta operasi-Nya begitu populer: gerakan neo-Pentakosta atau Kharismatik, yang belakangan ini telah mengambil bentuk sebagai gerakan “tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat.”1

Gerakan Kharismatik memiliki daya tarik yang sangat besar bagi gereja-gereja dan orang-orang Kristen individual, yang terlihat jelas dari popularitasnya yang sangat tinggi di seluruh dunia. Gerakan ini menarik gereja-gereja dan orang-orang Kristen Reformed. Sejumlah gereja Presbiterian dan Reformed di Amerika Utara telah mengambil keputusan bahwa karunia-karunia yang luar biasa belum berhenti (yang berlawanan dengan apa yang dideklarasikan oleh Reformasi!) dan telah menyetujui gerakan Kharismatik sebagai sebuah pekerjaan Allah yang sejati pada hari-hari terakhir (zaman akhir). Di Grand Rapids, Michgan di Amerika Serikat, yang secara historis merupakan sebuah pusat iman Reformed, ribuan umat Reformed Belanda, berusia tua maupun muda, telah pergi dari gereja-gereja Reformed dan meninggalkan iman Reformed demi gereja-gereja Kharismatik yang besar dan terus berkembang itu.

Daya tarik gerakan Kharismatik adalah janji yang diberikannya tentang kehidupan, kuasa, semangat, dan perasaan, yang kontras—demikian tuduhan yang dilontarkan oleh gerakan ini—dengan tidak adanya kehidupan, tidak adanya kuasa, kemonotonan, dan dinginnya denominasi-denominasi Protestan yang historis, khususnya gereja-gereja Reformed.

Apa yang dibutuhkan saat ini bukanlah hanya membongkar dan mengutuk gerakan neo-Pentakosta atau Kharismatik, tetapi juga memberi jaminan kepada orang-orang yang percaya dan anak-anak mereka mengenai kehidupan, kuasa, sukacita, dan pengalaman spiritual yang sejati.

Masih ada alasan lain mengapa sebuah kajian yang terkonsentrasi tentang Roh Kudus dan pekerjaan-Nya ini sangat tepat untuk keadaan saat ini dan patut dibahas, yaitu bahwa ada kemungkinan terjadinya pengabaian terhadap Roh Kudus dan pekerjaan-Nya di antara kita. Umat Reformed bisa ditipu oleh kehidupan, kuasa, semangat, dan perasaan Kharismatik karena mereka tidak mengetahui kehidupan, kuasa, dan pengalaman spiritual yang riil. Mereka membuka diri untuk roh dari gerakan Kharismatik karena mereka tidak mengenal Roh Kristus yang seharusnya mereka kenal.

Saya perlu segera menambahkan bahwa memang ada ketiadaan perhatian kepada Roh Kudus yang sepenuhnya benar. Yesus telah mengajarkan bahwa Roh yang akan Ia utus pada hari Pentakosta akan menarik perhatian bukan kepada diri-Nya sendiri, melainkan kepada Yesus. “Ia akan bersaksi tentang Aku” (Yoh. 15:26). “Roh Kebenaran … akan memuliakan Aku” (Yoh. 16:13–14). Sebuah bukti yang pasti bahwa gerakan neo-Pentakosta itu palsu adalah bahwa roh dari gerakan ini menarik perhatian kepada dirinya sendiri dan menempatkan Yesus Kristus ke latar belakang.

Meskipun demikian, tanpa mengaburkan Yesus Kristus barang sedikit pun, Kitab Suci menyatakan banyak hal tentang Roh dan pekerjaan-Nya. Jika kita menganggap tidak penting ajaran tentang Roh ini, atau bahkan mengabaikannya, dan begitu menekankan pada Bapa dan pekerjaan pemilihan oleh-Nya dan pada Anak dan pekerjaan penebusan oleh-Nya di dalam khotbah, studi, dan perenungan kita sampai-sampai meminimalkan Roh dan pekerjaan pengudusan oleh-Nya, maka konsekuensi-konsekuensinya adalah kurangnya spiritualitas, pengalaman Kristen yang sehat, dan kuasa untuk menjalani kehidupan yang kudus. Maka angin-angin Kharismatik akan bertiup masuk mengisi kekosongan itu.

Ada buku-buku komentar Reformed atas Katekismus Heidelberg yang membahas secara luas tentang bagian pertama dan kedua dari Katekismus itu, tetapi sangat sedikit di dalam pembahasan tentang bagian ketiga mengenai Roh Kudus dan pekerjaan-Nya di dalam anak Allah. Sejumlah khotbah Reformed bisa mengalami ketidakseimbangan yang serupa.

  

Ketertarikan Personal

Saya mengakui adanya ketertarikan saya yang khusus kepada Roh Kudus dan kasih saya kepada-Nya. Kongregasi pertama saya dipengaruh oleh theolog Hermann Friedrich Kohlbrugge (1803–1875), yang, meskipun lahir di Belanda, menjalankan pelayanannya di Jerman dan menulis sebagian besar karya theologisnya, termasuk sebuah komentar tentang Katekismus Heidelberg, di dalam bahasa Jerman. Meskipun memiliki penekanan yang kuat pada kerusakan manusia alami, Kohlbrugge lemah di dalam pekerjaan Roh yang memperbarui dan dan menguduskan.2 Sejumlah muridnya bahkan menyangkal pekerjaan Roh di dalam diri anak-anak Allah pilihan, seakan-akan kekudusan kehidupan merupakan ancaman bagi doktrin tentang pembenaran oleh iman saja. Oleh karena itu, panggilan saya secara khusus adalah mengajarkan kebenaran yang dideskripsikan di dalam Pertanyaan dan Jawaban 24 dari Katekismus sebagai “Allah Roh Kudus dan pengudusan kita.”

Selama periode penggembalaan saya yang pertama—pada tahun 1960-an dan awal awal 1970-an—meledaklah gerakan neo-Pentakosta atau Kharismatik. Hampir semua gereja lain di kota itu dan wilayah-wilayah sekitarnya menerima, mempraktikkan, dan dengan antusias mempromosikan gerakan neo-Pentakosta. Saya dipaksa untuk secara hati-hati menguji roh dari neo-Pentakosta itu, seperti yang Yohanes perintahkan di dalam 1 Yohanes 4:1. Dalam menguji roh dari neo-Pentakosta itu, saya harus menelaah ajaran Alkitab dan pengakuan-pengakuan iman mengenai kehidupan, pengalaman, sukacita, dan kuasa spiritual yang sejati.

Periode penggembalaan saya yang kedua pada tahun 1970-an dan 1980-an adalah di sebuah kongregasi di dalam sebuah komunitas yang mayoritas Reformed. Ada seorang pengkhotbah Reformed yang menonjol dan berkarunia yang mengklaim telah dibaptis dengan baptisan Roh menurut neo-Pentakosta. Ia menyatakan akan menyatukan doktrin Reformed dengan antusiasme neo-Pentakosta. Ini memaksa saya, demi kongregasi saya sendiri, dan juga demi komunitas Reformed tersebut, untuk menyelidiki secara cermat kemungkinan adanya “Kharismatik Reformed.”3

Lebih baru-baru ini, studi pascasarjana saya tentang hubungan antara Trinitas dan kovenan, tanpa saya maksudkan secara sengaja, menempatkan Roh Kudus, khususnya tempat-Nya dan aktivitas-Nya di dalam kehidupan Allah Tritunggal, sebagai hal yang utama di dalam pemikiran theologis saya.

Dengan ini, kita memulai buku kecil ini: Siapa adanya Roh Kudus, dan apa tempat dan aktivitas-Nya di dalam ke-Allahan.

Saya akan mendemonstrasikan bahwa alih-alih hanya bersifat abstrak dan tidak praktis, identitas Roh Kudus sebagai Pribadi Ketiga dari Trinitas Kudus adalah dasar dari segala sesuatu yang akan dikatakan mengenai Roh di dalam buku ini, dasar dari segala sesuatu yang bisa dikatakan secara tepat mengenai Roh di dalam forum apa pun, dan dasar dari segala sesuatu tentang apa adanya Roh dan apa yang Ia lakukan di dalam gereja dan di dalam diri orang percaya pilihan. Yesus menunjukkan ini di dalam Yohanes 15:26: “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.” Yesus bisa mengutus Roh kepada kita hanya karena Roh keluar dari Bapa. Karena di dalam ke-Allahan, Roh ini adalah Roh Kebenaran, pekerjaan terbesar Roh di dalam keselamatan adalah bahwa Ia bersaksi bagi Kristus. Dan hanya dengan bersaksi bagi Kristuslah Ia merupakan “Penghibur.”

       

Ajaran dari Kredo-Kredo

Saya memulai dengan sebuah survei ringkas dari pernyataan-pernyataan kredal mengenai Roh Kudus. Ada alasan yang baik untuk memulai seperti ini. Gereja pada saat ini harus membiarkan dirinya dipandu oleh gereja masa lalu di dalam pemahamannya akan kebenaran, khususnya oleh kredo-kredo atau konfesi-konfesi (pengakuan-pengakuan iman) gereja. Merupakan kelemahan yang serius pada banyak orang Kristen saat ini bahwa mereka tidak tahu-menahu tentang kredo-kredo. Merupakan kesalahan serius kebanyakan gereja bahwa mereka mengabaikan kredo-kredo. Hasilnya adalah bahwa orang-orang Kristen dan gereja-gereja menyimpang dari kebenaran. Di dalam perikop agung mengenai Roh Kudus—Yohanes 14-17—Yesus menjanjikan bahwa Roh Kudus akan memimpin gereja ke dalam seluruh kebenaran: “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yoh. 16:13). Satu aspek dari pekerjaan Roh ini adalah penulisan gereja akan kredo-kredonya.

       

Kredo Nicea/Constantinople (325/381 M)

Pernyataan pengakuan iman paling awal dan paling penting tentang Roh Kudus dan pekerjaan-Nya adalah Kredo Nicea (325 M). Di dalam kredo awal ini, Roh Kudus memastikan kesaksian bukan hanya tentang Yesus Kristus, tetapi juga tentang diri-Nya sendiri. Konsili ekumenis para uskup ini diselenggarakan untuk menyelesaikan kontroversi tentang apakah Yesus adalah Allah. Konsili ini mendeklarasikan bahwa Yesus adalah “dari substansi [yaitu esensi] yang satu dengan Bapa.”4

Semua yang dikatakan oleh Kredo Nicea pertama dari tahun 325 M ini tentang Roh Kudus adalah, “Dan [aku percaya] kepada Roh Kudus.” Meskipun singkat, pernyataan ini mengimplikasikan bahwa Roh Kudus adalah satu pribadi dan bahwa Ia adalah Allah.

Meskipun demikian, identitas Roh sebagai satu pribadi dan sebagai Allah tidak ditegaskan secara konklusif oleh deklarasi singkat pada tahun 325 M itu. Sekitar lima puluh tahun setelah Konsili Nicea, bergejolaklah kontroversi di dalam gereja Kristen terkait Roh Kudus. Isu-isu utamanya ada dua: Apakah Roh adalah satu pribadi, dan, jika Ia adalah pribadi, apakah pribadi ini adalah Allah? Sejumlah theolog menyangkal keduanya. Yang lainnya tidak memastikan. Ada yang berkata Roh hanyalah semacam kuasa; yang lain menyatakan bahwa Roh adalah satu ciptaan; yang lainnya lagi berpandangan bahwa Roh lebih dari sekadar ciptaan tetapi kurang dari Allah.

Salah seorang bapa gereja yang besar dari periode itu, Gregory dari Nazianzus, yang menulis pada tahun 380 M, secara terus terang mendeskripsikan kerancuan dan kontroversi di dalam gereja terkait Roh Kudus:

Dari orang-orang bijak di antara kita sendiri, beberapa telah berpikiran tentang Dia [yaitu Roh Kudus] sebagai sebuah aktivitas, beberapa memandang Dia sebagai satu ciptaan, beberapa memandang Dia sebagai Allah; dan beberapa tidak memiliki kepastian tentang apa sebutan untuk-Nya … Oleh karena itu mereka tidak beribadah kepada-Nya tetapi juga tidak memperlakukan Dia dengan sikap tidak hormat, tetapi mengambil posisi netral.5

Marilah kita mengapresiasi bahwa salah satu alasan bagi ketidakpastian dan perdebatan mengenai Roh Kudus adalah kebungkaman relatif Alkitab mengenai Ke-Allahan Roh. Dengarkan kembali Gregory: “[Kitab Suci sendiri tidak] secara jelas atau sering menyebut Dia dengan banyak perkataan sebagai Allah, seperti yang Kitab Suci lakukan pertama-tama mengenai Bapa dan kemudian mengenai Anak.”6

Konsili gereja di Constantinople yang diselenggarakan pada tahun 381 M menyelesaikan kontroversi tentang Roh Kudus ini, menjadikan eksplisit apa yang telah Konsili Nicea biarkan di dalam kondisi implisit terkait Roh, yaitu bahwa Ia adalah satu pribadi dan bahwa Ia adalah Allah. Pada pernyataan yang singkat di dalam Nicea tentang Roh, “Dan [aku percaya] kepada Roh Kudus,” Constantinople menambahkan deskripsi berikut: “Tuhan dan Pemberi Kehidupan; yang keluar dari Bapa; yang bersama Bapa dan Anak sama-sama disembah dan dimuliakan; yang berfirman melalui para Nabi.”

Dengan penambahannya pada Kredo Nicea ini, Konsili Constantinople secara jelas mengakui bahwa Roh adalah satu pribadi alih-alih sebuah energi atau daya yang tidak berpribadi. Constantinople menggunakan pronomina personal “yang” (Ing. “who”) dalam merujuk kepada Roh, bukan “itu” (“that”). Constantinople juga memperhitungkan kepada Roh aktivitas satu pribadi: Ia berfirman melalui para nabi. Konsili ini memaksudkan 1 Petrus 1:11:

[Para nabi] meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu.

Penambahan Constantinople pada Kredo Nicea juga mengakui bahwa Roh adalah Allah, yang dilakukan dengan menyebut Dia sebagai “Tuhan”; mendeskripsikan Dia sebagai “Pemberi kehidupan”; dan mengatakan tentang Dia bahwa Ia “disembah dan dimuliakan” bersama Bapa dan Anak.

Empat aspek dari pengakuan gereja mula-mula akan Roh Kudus ini harus diperhatikan. Pertama, di latar depan, sebagai pusat perhatian gereja, yang menjadi perikop utama dari Kredo Nicea sebagaimana dilengkapi oleh Konsili Constantinople, bukanlah Roh Kudus, melainkan Yesus Kristus. Ini bukan mengecilkan Roh. Inilah tepatnya yang Roh inginkan dan, di dalam faktanya, genapi. Di dalam perikop agung dari Alkitab tentang Roh—Yohanes 14–17—Yesus berkata bahwa Roh tidak akan bersaksi tentang diri-Nya sendiri, tetapi akan bersaksi tentang Yesus. Ini terbukti benar di dalam rumusan kredal bagi kebenaran tentang Trinitas.

Seandainya gerakan neo-Pentakosta yang merumuskan kredo, Roh Kudus akan berada di posisi depan dan tengah, dan Yesus akan berada jauh di latar belakang.

Kedua, aktivitas utama yang diperhitungkan kepada Roh oleh Kredo Nicea/Constantinople adalah berfirmannya Roh melalui para nabi—pelayanan pengajaran-Nya, khususnya pelayanan pengajaran-Nya tentang salib dan kebangkitan Yesus, seperti yang 1 Petrus 1:11 deskripsikan tentang pelayanan-Nya (“segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu”). Seandainya gerakan Kharismatik modern yang mendeskripsikan pekerjaan Roh Kudus yang luar biasa, betapa berbedanya penekanan mereka: bahasa lidah; tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat yang dilakukan oleh para anggota gereja; perasaan antusias dan bersemangat. Pengajaran tentang penderitaan Kristus dan kemuliaan yang diterima-Nya sesudah itu mungkin bahkan tidak akan disebutkan. Kalaupun disebutkan, itu pasti tidak akan dihormati sebagai pekerjaan utama Roh.

Ketiga, penambahan Constantinople pada Kredo Nicea mengatribusikan kepada Roh seluruh pekerjaan pengumpulan gereja dan pengaplikasian penebusan salib pada orang-orang berdosa pilihan. Menyusul deskripsi tentang Roh yang dikutip di atas, Constantinople mengatakan hal berikut:

Dan [aku percaya kepada] gereja yang satu, Kudus, Am, dan Rasuli. Aku mengakui satu Baptisan bagi penghapusan atas dosa-dosa; dan aku menantikan kebangkitan dari antara orang mati, dan kehidupan di dalam dunia yang akan datang. Amin.

Gereja, pengampunan atas dosa, kebangkitan, dan dunia yang baru adalah pekerjaan yang penuh anugerah, berkuasa, dan memperbarui oleh Roh Kudus.

Keempat, pengakuan iman Constantinople tentang “satu Baptisan bagi pengampunan atas dosa-dosa,” yang didasarkan pada Efesus 4:5, adalah penghakiman yang jelas terhadap ajaran fundamental gerakan Kharismatik tentang dua baptisan, yang salah satunya, dan yang lebih penting di dalam pandangan gerakan ini—“baptisan dengan Roh”—tidak ada hubungan sama sekali dengan pengampunan atas dosa-dosa. Dengan demikian, gerakan Kharismatik bukanlah kelanjutan dari Kekristenan yang historis dan kredal. Ini adalah gerakan yang sesat dan skismatik (menyebabkan perpecahan).

       

Kredo-Kredo Reformasi

Pengakuan-pengakuan iman Reformed, khususnya Tiga Dokumen Kesatuan dan Standar-Standar Westminster, mengadopsi doktrin tentang Roh Kudus yang dijabarkan di dalam Kredo Nicea/Constantinople. Maka, gereja-gereja Reformed menunjukkan bahwa mereka satu dengan gereja Kristen mula-mula.

Kami memercayai dan mengakui pula bahwa Roh Kudus dari kekekalan keluar dari Bapa dan Anak; dan oleh karena itu bukan dijadikan, diciptakan, maupun diperanakkan, tetapi hanya keluar dari Mereka berdua; yang di dalam urutan adalah pribadi ketiga dari Trinitas Kudus; dari esensi, keagungan, dan kemuliaan yang satu dan sama dengan Bapa dan Anak; dan oleh karena itu adalah Allah yang sejati dan kekal, seperti yang Kitab Suci ajarkan kepada kita.7

Di dalam kesatuan ke-Allahan terdapat tiga Pribadi, dari substansi, kuasa, dan kekekalan yang satu: Allah Bapa, Allah Anak, dan Roh Kudus. Bapa bukan berasal dari apa pun, juga bukan diperanakkan dan juga bukan keluar; Anak diperanakkan secara kekal dari Bapa; Roh Kudus keluar secara kekal dari Bapa dan Anak.8

Di dalam satu aspek yang teramat penting, pengakuan-pengakuan iman Reformed melampaui Kredo Nicea/Constantinople. Mereka menambahkan sebuah kebenaran tentang Roh Kudus yang tidak ditemukan di dalam Nicea/Constantinople, setidaknya, tidak secara eksplisit dan secara mendetail. Kebenaran tentang Roh ini akan saya tunjukkan dan jelaskan di dalam bab 3 dari buku ini mengenai Roh Kudus dan kovenan anugerah.

Sekarang saya akan memperhatikan secara lebih dekat dua aspek utama dari identitas Roh yang diputuskan oleh konsili Nicea dan Constantinople, yaitu bahwa Roh adalah satu pribadi dan bahwa Roh adalah Allah.

       

Satu Pribadi yang Ilahi

Konsili Constantinople memutuskan bahwa Roh Kudus adalah satu pribadi yang ilahi, seperti Bapa yang kekal dan Anak yang kekal, karena Kitab Suci mengajarkan hal ini. Di antara perikop-perikop yang lain, rumusan baptisan di dalam Matius 28:19 sangat meyakinkan bagi para bapa Constantinople: “baptislah mereka di dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus.” Ia yang dikaitkan sedemikian erat dengan Bapa dan Anak pastilah pribadi yang ilahi seperti Bapa dan Anak. Jika Roh Kudus berbagi “nama” yang satu itu dengan Bapa dan Anak, dan jika orang-orang yang percaya dan anak-anak mereka dibaptiskan ke dalam “nama”-Nya, Ia pastilah satu pribadi sekaligus Allah.

Sebuah perikop lain yang sangat penting bagi pengakuan Constantinople akan Roh Kudus adalah Yohanes 14–17. Perikop ini adalah pembicaraan perpisahan Yesus dengan para murid-Nya dan gereja menjelang kepergian-Nya dari kita (di dalam pengertian tidak adanya lagi kehadiran-Nya secara badaniah) di dalam penyaliban pada keesokan hari dan kemudian di dalam kebangkitan serta kenaikan ke surga. Perikop itu diawali dengan, “Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu” (14:2).

Tetapi perikop ini bukan sekadar pengumuman yang menyedihkan tentang kepergian-Nya. Sebaliknya, ini adalah janji Yesus tentang kehadiran dan persekutuan-Nya yang terus berlanjut dengan gereja, meskipun Ia tidak akan hadir bersamanya secara badaniah. Kristus akan hadir melalui Roh Kudus, yang akan Ia utus kepada gereja (15:26).

Oleh karena itu, perikop tersebut adalah salah satu perikop yang paling penuh dan penting tentang Roh Kudus di dalam seluruh Kitab Suci. Perikop ini berisi janji yang jelas tentang kedatangan Roh Kudus bagi gereja (14:16–18, 26; 15:26; 16:7, 12 dst.). Roh adalah nama yang diberikan yang menyatakan siapa adanya Dia dan apa yang Ia kerjakan: “Penghibur,” “Roh kebenaran,” “Roh Kudus” atau “Roh.” Pekerjaan-Nya di dalam kaitan dengan gereja diindikasikan: mengajar (14:26); bersaksi tentang Yesus, sehingga gereja juga akan bersaksi tentang Yesus (15:26–27); memimpin gereja ke dalam seluruh kebenaran (16:13). Ia juga memiliki pekerjaan terkait dunia yang fasik: menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman (16:8–11).

      

Satu Pribadi

Yohanes 14–17 mengajarkan bahwa Roh adalah satu pribadi, bukan suatu kuasa atau energi atau pengaruh yang tidak berpribadi. Kita harus jelas dengan apa yang selalu gereja maksudkan, dan apa yang harus kita pahami, dengan satu pribadi, khususnya di dalam pengakuan kita bahwa Roh adalah satu pribadi. Seperti Bapa dan Anak, Roh Kudus adalah subjek yang berkesadaran diri dari semua yang Ia pikirkan, kehendaki, dan kerjakan, dan yang secara sadar hidup di dalam hubungan dengan Pribadi-Pribadi yang lain. Roh dapat dan memang mengatakan, “Aku,” sadar akan diri-Nya di dalam hubungan dengan, tetapi berbeda dari, Pribadi-Pribadi lain di dalam ke-Allahan.

Roh berpikir—tentang diri-Nya sendiri, tentang Bapa, tentang Anak, tentang gereja, tentang Anda, tentang saya, tentang dunia yang tidak percaya. Ia menghendaki—kemuliaan Allah, kehormatan Yesus Kristus, keselamatan gereja pilihan, aib dan kebinasaan dunia yang fasik. Sebagai satu pribadi yang berpikir dan menghendaki, Ia bekerja—di dalam ke-Allahan yang kekal; di dalam inkarnasi dan pelayanan Yesus Kristus; di dalam penciptaan dan providensi; memerintah sejarah; melahirkan kembali setiap orang pilihan, menebus anak Allah; mengeraskan reprobat yang fasik.

Roh bukanlah suatu kekuatan yang bersifat evolusioner di dalam alam. Ia bukan suatu gerakan di dalam sejarah, misalnya suatu gerakan yang menyebabkan utopia sosialis dan Marxis. Ia bukan jiwa dari alam semesta. Ia bukan daya kasih.

Di dalam Yohanes 14–17, Yesus secara jelas mengajarkan bahwa Roh, yang akan Ia utus, adalah satu pribadi. Roh adalah satu “Penghibur,” seperti Yesus sendiri: “Penghibur yang lain.” Roh adalah “Penghibur yang lain” dengan melakukan apa yang hanya bisa dilakukan oleh satu pribadi, yaitu mengajar: “mengajarkan segala sesuatu kepadamu” (14:16, 26).

Yesus merujuk kepada Roh dengan pronomina personal “Ia”: “Ia akan bersaksi tentang Aku” (15:26). Secara harfiah, kata Yunani aslinya berarti, “Yang satu ini—pribadi yang satu ini” (akan bersaksi tentang aku). Rujukan Yesus kepada Roh dengan pronomina personal sangat signifikan karena nomina Yunani, “Roh,” bergender netral, yang secara gramatikal menuntut pronomina netral, “itu” (Ing. = “it”).

Di dalam Yohanes 16:7–16, Yesus memperhitungkan tindakan-tindakan oleh pribadi kepada Roh: menginsafkan, memimpin, mendengar, mengatakan, menunjukkan hal-hal kepada kita, memuliakan Kristus dengan menerima dan menunjukkan kebenaran tentang Kristus.

Tidak seorang pun boleh merespons, “Ini theologi yang dalam dan tidak praktis.” Sebaliknya, ini adalah theologi yang setiap orang Kristen bisa dan harus ketahui. Ini adalah doktrin yang sangat praktis. Hanya jika Roh adalah satu pribadi barulah doktrin Kristen tentang Trinitas itu benar, dan pada kebenaran tentang Trinitas bersandar seluruh iman Kristen. Saya memaksudkan bahwa seluruh struktur kebenaran Kristen bersandar pada, dan berpusat pada, Trinitas. Saya juga memaksudkan bahwa jika Roh bukan satu pribadi di dalam ke-Allahan, Bapa dan Anak tidak dapat memiliki persekutuan personal dengan satu sama lain, sehingga Allah bukan Allah yang hidup di dalam diri-Nya sendiri. Tanpa Roh yang berpribadi, Allah adalah monad yang tidak memiliki kehidupan dan terpecah. Intinya, penyangkalan terhadap peri-kepribadian Roh berarti kematian Allah.

Bahwa Roh adalah satu pribadi adalah kebenaran yang praktis di dalam kaitan dengan kehadiran dan pekerjaan-Nya di dalam gereja. Hanya sebagai satu pribadilah Ia mengetahui kebutuhan-kebutuhan gereja, termasuk setiap kongregasi yang sejati, dan dengan demikian menyediakan kebutuhan-kebutuhan itu. Suatu daya yang tidak mengetahui, entah kasih atau kuasa, tidak dapat memberikan kepada seorang hamba Tuhan perkataan yang sangat ia butuhkan pada waktunya, membuat seorang penatua yang secara alamiah ragu-ragu menjadi berani pada sebuah sesi yang sangat penting di sebuah sinode, merendahkan anggota yang angkuh yang menyebabkan perpecahan di dalam gereja atau memimpin sebuah kongregasi Reformed yang tergoda oleh ajaran sesat tentang anugerah Allah yang universal dan dapat ditolak—yang berpengaruh pada saat ini di dalam gereja-gereja Reformed dan Presbiterian yang menuju kemurtadan sebagai doktrin tentang “anugerah umum” dari Allah di dalam pemberitaan Injil—untuk mengambil pendirian yang tidak mengompromikan kebenaran tentang anugerah berdaulat yang partikuler.9

Di dalam kaitan dengan setiap orang yang percaya secara personal, Roh berdiam di dalam diri kita sebagai “Penghibur.” Bukanlah tujuan saya di sini untuk menjelaskan nama yang kaya makna ini. Kita bisa memahaminya sebagai “Penolong.” Roh menolong orang-orang yang berduka karena dosa-dosa mereka; yang dicobai oleh Satan, dunia, dan nafsu-nafsu mereka yang sangat kuat; yang digelisahkan oleh berbagai jenis kesukaran bumiah; yang takut akan kematian yang mendekat.

Pertolongan ini memerlukan satu pribadi—satu pribadi di dalam diri kita, namun tetap adalah satu pribadi—yang mengenal kesedihan, beban, pergumulan, kegelisahan, dan ketakutan kita—yang mengenali semuanya ini sebaik kita, bahkan lebih baik—dan yang, dengan hikmat yang tidak terbatas, mengetahui bagaimana mengaplikasikan obat dari Injil Yesus Kristus. Tidak ada daya atau kuasa yang kosong, tidak mengetahui, tidak berpribadi yang bisa menjadi “Penghibur/Penolong” kita.

Selain itu, hanya satu pribadi yang bisa melakukan pekerjaan yang luar biasa oleh Roh di dalam diri kita masing-masing secara personal. Pekerjaan itu tidak menjadikan kita keranjang emosi, seperti pekerjaan roh yang terjadi bukan hanya di dalam gerakan Kharismatik, tetapi juga gereja-gereja yang menekankan pada pengalaman-pengalaman dan perasaan-perasaan orang yang percaya alih-alih pada Yesus Kristus. Pekerjaan itu tidak menyebabkan para anggota gereja yang berdelusi menyemburkan ocehan tanpa makna, seperti pekerjaan roh di dalam gerakan gerakan Kharismatik. Pekerjaan itu bahkan bukan memberdayakan orang-orang untuk perbuatan-perbuatan yang luar biasa, seperti pekerjaan roh di dalam urusan tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat di dalam gerakan Kharismatik.

Yesus memberitahukan kepada kita apa yang menjadi pekerjaan utama Roh di dalam diri setiap orang Kristen di dalam perikop agung tentang Roh, Yohanes 14–17. Yohanes 17—doa Imam Besar Agung Yesus Kristus—adalah konklusi dari perikop tentang Roh. Dan apakah yang Yesus mintakan dari Bapa bagi Anda dan saya, sebagai pekerjaan agung dari Roh yang akan Ia utus? “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran” (ay. 17). Ini termasuk menjaga kita dari kejahatan (ay. 15).

Pekerjaan yang luar biasa oleh Roh adalah menjadikan kita kudus: membersihkan kita dari dosa dan menguduskan kita bagi Allah di dalam kasih kepada Allah, kasih yang mengungkapkan dirinya di dalam buah pekerjaan-pekerjaan baik, seperti yang Yesus ajarkan di dalam Yohanes 15:1 dst.

Ia yang menguduskan kita pastilah satu pribadi—satu pribadi di dalam diri kita, namun tetap adalah satu pribadi—yang mengetahui secara menyeluruh natur kita yang unik, kelemahan-kelemahan yang kita miliki, pencobaan-pencobaan yang kita hadapi saat ini, dan tempat khusus kita sekarang di dalam kerajaan, dan juga tempat yang telah Allah tetapkan bagi kita di dalam kerajaan yang kekal, dan yang kemudian secara penuh hikmat mengerjakan di dalam diri kita kekudusan dari Yesus Kristus yang telah bangkit.

Tidak ada kuasa yang tidak berpribadi yang dapat menguduskan kita.

Orang Kristen harus hidup di dalam kesadaran akan peri-kepribadian Roh yang berdiam di dalam diri kita. Betapa besar pekerjaan yang diakibatkannya! Para orang tua terkadang mengingatkan anak-anak mereka yang masih remaja, “Ingat, Allah melihat semua yang kamu lakukan!” Ini memang benar, dan ini bisa menjadi motivasi untuk melawan pencobaan. Tetapi Allah bisa jauh, sangat jauh, ketika kita memikirkan tentang Dia, entah sebagai seorang remaja yang sedang berpacaran di dalam mobil di malam Sabtu atau sebagai orang tua yang memasukkan video ke dalam alat main di kamar tidur setelah ibadah pada Minggu petang. Para orang tua dan remaja sama-sama harus mengingat bahwa pribadi ini, Roh Kudus, ada di dalam diri kita, siang dan malam, di dalam kehidupan pribadi kita, dan juga kehidupan publik kita. Ia mengetahui apa yang kita baca, apa yang kita tonton, bagaimana kita berperilaku ketika kita sendirian. Ia mengetahui pemikiran-pemikiran dan keinginan-keinginan kita: entah kita mengasihi orang yang bersaing dengan kita atau dengan sepenuh hati mengharapkan kegagalannya; entah kita bersuka dengan ibadah umum atau merasa bosan setengah mati; entah kita bergumul untuk murni secara seksual atau menyenangkan diri dengan pornografi (yang mirip dengan menyenangkan diri dengan ular beludak) atau bernafsu terhadap istri laki-laki lain atau suami perempuan lain; entah saya sedang menulis bab ini untuk memuliakan Allah atau hanya ingin mengejar suatu tujuan akademis.

Sang Rasul mengemukakan poin ini secara jelas—kesadaran kita bahwa Roh yang berdiam di dalam diri kita adalah satu Roh yang mengetahui, menghendaki, dan merasakan—di dalam Efesus 4:30: “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Teks ini menegaskan bahwa Roh adalah satu pribadi. Hanya satu pribadi yang bisa didukakan. Anda tidak bisa mendukakan kursi yang Anda duduki, bahkan dengan memalunya atau menghancurkannya menjadi berkeping-keping. Orang Kristen (dan hanya orang Kristen yang telah dilahirkan kembali yang bisa mendukakan Roh, seperti hanya sahabat yang bisa mendukakan sahabat) mendukakan Roh yang mendiami dan memeteraikan dirinya ini dengan kehidupan fasik yang disengaja, entah kepahitan terhadap Allah, atau kemarahan di dalam dirinya terhadap sesama orang kudus atau “pertikaian dan fitnah” yang dilampiaskan ke luar dirinya. Akibatnya adalah Roh membuat kita berduka; Ia membuat kita merasakan duka-Nya dengan menimbulkan duka tertentu pada diri kita: tidak adanya jaminan (kepastian) keselamatan, depresi, ketiadaan sukacita, kegelisahan, ketakutan. Daud, pezina yang bertobat itu, berseru di dalam Mazmur 51:13, “Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu,” dan menambahkan penjelasan, “Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu” (ay. 14).

         

Allah

Pribadi ini adalah Allah.

Tidak ada bagian di dalam Kitab Suci yang secara eksplisit menyebut Roh sebagai Allah, seperti halnya dengan Yesus. Kebungkaman Kitab Suci inilah yang menjelaskan sebagian dari kesulitan yang dialami sejumlah pihak di dalam gereja mula-mula terkait kebenaran tentang keilahian Roh, seperti yang Gregory Nazianzus tunjukkan. Meskipun begitu, di banyak tempat Kitab Suci mengajarkan ke-Allahan Roh dengan memperhitungkan kepada-Nya nama-nama dan kesempurnaan-kesempurnaan ilahi, dan juga dengan mengatribusikan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang bisa dilakukan oleh Allah saja.

Sebuah perikop yang penting bagi para bapa Constantinople, selain rumusan baptisan di dalam Matius 28:19, adalah Kisah 5:3–4, di mana Ananias and Safira dikatakan telah mendustai “Allah” dengan mendustai “Roh Kudus.” Saya menunjukkan secara sambil lalu bahwa perikop ini juga mengajarkan bahwa Roh adalah satu pribadi. Orang tidak bisa berdusta kepada anjingnya atau bahkan kepada alam semesta.

Yohanes 14–17 menyatakan secara konklusif tentang ke-Allahan Roh yang Yesus janjikan akan diutus-Nya. Menurut Yohanes 15:26, Roh keluar dari Bapa, yaitu berasal dari keberadaan Allah Bapa. Siapa pun yang berasal dari keberadaan Allah sendirinya pasti adalah Allah.

Roh yang keluar [dari Bapa] ini menggenapi pekerjaan-pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh siapa pun selain oleh Allah. Ia memimpin gereja ke dalam seluruh kebenaran (16:13). Ia menguduskan orang-orang yang berdosa, yang seturut naturnya mati di dalam dosa (17:17). Ia menciptakan kembali ke-satu-an gereja (17:21). Yang terakhir, dengan membangkitkan kita dari antara orang mati, Ia akan mencapai tujuan Yesus bagi kita: “Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku” (17:24).

Nama Roh ini sendiri—“Roh Kudus”—membuktikan keilahian-Nya (14:26). Hanya Allah yang kudus secara esensial seperti ini.

Betapa niscayanya, terkait pekerjaan-Nya, bahwa Roh adalah Allah!

Sebagai Allah, Ia mampu menguduskan orang-orang yang berdosa, dengan tujuan agar di dalam masa depan mereka yang kekal, mereka bisa berdiam bersama Yesus Kristus di rumah Bapa-Nya. Berdiamnya kita di rumah Bapa dari Yesus adalah awal sekaligus penutup pengajaran Yesus mengenai Roh di dalam Yohanes 14–17 (14:1–4; 17:24). Berdiam bersama Allah yang kudus menuntut agar kita dikuduskan. Hanya Allah Roh Kudus yang dapat membersihkan kita dari kecemaran dosa. Kita yang terbiasa melakukan kejahatan, tidak mampu lagi memunculkan perbuatan baik di dalam diri kita sendiri sebagaimana orang Etiopia tidak mampu mengganti warna kulitnya atau macan tutul mengubah mengubah belangnya (Yer. 13:23). “Oh hatiku, janganlah digelisahkan oleh keberdosaan natur yang melekat, yang tampaknya tidak terhapuskan, kotor, dan kuat itu! Roh yang menguduskan adalah Allah!”

Sebagai Allah, Roh mampu memelihara gereja. Inilah khususnya yang menjadi kegentaran para murid ketika Yesus akan meninggalkan mereka, dan alasan dari perkataan Yesus yang memberi jaminan yang menjanjikan Roh, di dalam Yohanes 14–17. Gereja ditinggalkan di dalam dunia. Dunia yang fasik memusuhi gereja. Dunia membenci gereja karena dunia membenci Yesus. Dunia menganiaya gereja. Di dalam bentuk gereja yang palsu, dunia mencoba untuk mendustai gereja yang sejati dengan kebohongan. “Dunia membenci kamu”; “mereka juga akan menganiaya kamu”; “Kamu akan dikucilkan” (15:19–20; 16:2).

Demikianlah gereja dibiarkan di dalam dunia yang memusuhi, tanpa kehadiran badaniah dari Kepalanya, kecil, lemah di dalam dirinya sendiri dan juga berdosa.

Saya juga bisa dengan mudah mengidentifikasikan diri dengan ketakutan para murid tentang gereja.

Meskipun demikian, janganlah membiarkan hati kita digelisahkan, atau takut, tentang gereja. Gereja akan bertahan. Gereja akan berkembang secara spiritual. Gereja akan bertahan melawan tekanan penganiayaan. Gereja akan terus percaya dan mengakui kebenaran sekalipun ada godaan ajaran sesat. Gereja akan dengan teguh bersaksi bagi Yesus Kristus. Roh yang mendiami gereja adalah Allah!

Oh marilah kita, mengikuti nasihat Constantinople, menyembah dan memuliakan Roh, bersama Bapa dan Anak, karena keselamatan kita yang berasal dari-Nya dan karena pemeliharaan-Nya atas gereja!

Setelah mengatakan bahwa Roh adalah satu pribadi dan setelah mengatakan bahwa Roh adalah Allah, kita belum selesai mengatakan semua yang dapat dan harus dikatakan mengenai pribadi—identitas—dari Roh ini.

      

Roh yang Keluar

Di dalam sebuah ajaran yang sangat penting tentang Sang “Penghibur,” Roh yang akan Ia utus pada hari Pentakosta, Yesus berkata bahwa Roh “keluar dari Bapa” (Yoh. 15:26). Ini mendeskripsikan hubungan Roh dan Bapa, Pribadi Ketiga dan Pribadi Pertama dari keberadaan Allah, secara kekal di dalam ke-Allahan. Keluarnya Roh adalah sebuah aktivitas yang sempurna secara kekal dan terus berlangsung secara kekal di dalam Allah. Keluarnya Roh adalah asal yang kekal dari Pribadi Ketiga, sebagaimana diperanakkan adalah asal yang kekal dari Pribadi Kedua.

Keluarnya Roh inilah yang menjadi properti pribadi dari Pribadi Ketiga, yang menjadikan Dia satu pribadi yang berbeda di dalam Allah, dengan kepribadian-Nya sendiri, yang berbeda dari Bapa dan dari Anak.

Roh adalah satu pribadi yang unik. Meskipun Ia berbagi keberadaan yang sama dengan Bapa dan Anak dan dengan demikian satu dengan Mereka, Ia tidak sama dengan Bapa dan Anak di dalam perihal pribadi.

Pengakuan iman Reformed menekankan perbedaan-perbedaan di antara ketiga pribadi dari Trinitas. “Ketiga pribadi berdistingsi secara nyata, benar, dan kekal, seturut properti-properti Mereka yang tidak dapat dikomunikasikan.”10

Hal, dan satu-satunya hal, yang membuat ketiga pribadi berbeda adalah properti-properti pribadi:

Ada berapa banyak Pribadikah di dalam ke-Allahan?

Ada tiga pribadi di dalam ke-Allahan, Bapa, Anak, dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah Allah yang satu dan kekal, sama di dalam substansi, setara di dalam kuasa dan kemuliaan; meskipun dibedakan oleh properti-properti pribadi Mereka.11

Bagaimanakah kita harus memikirkan tentang keluarnya Roh ini, khususnya agar konsepsi kita tentangnya tidak sama dengan konsepsi kita tentang diperanakkannya Anak?

Kitab Suci harus membentuk pemikiran kita yang tepat tentang keluarnya Roh, dan Kitab Suci melakukan itu melalui nama Roh Kudus. Nama-Nya adalah Roh. Makna dari nama ini di dalam bahasa Ibrani Perjanjian Lama maupun di dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru adalah “Napas.”12 Roh adalah Napas ilahi dan Ia adalah Napas yang berpribadi, tetapi Alkitab ingin agar kita memikirkan keluarnya Roh sebagai serupa dengan kita menapaskan keluar seembus udara. Seperti demikianlah Roh secara kekal keluar dari Bapa, seperti napas saya keluar ketika saya bernapas. Faktanya, kata Yunani untuk Roh, misalnya kata yang digunakan di dalam Yohanes 15:26, adalah pneuma, yang darinya kita mendapatkan kata “pneumatik” and “pneumonia,” yang merujuk kepada udara dan bernapas.

Terkadang Alkitab mendeskripsikan Roh sebagai angin, misalnya Yohanes 3:8, terkait Roh yang melahirkan kembali, dan Kisah 2:1 dst., tentang pencurahan Roh pada hari Pentakosta, tetapi kita harus selalu memahami angin ini sebagai angin yang unik, berpribadi, dan mahakuasa, yang adalah Napas Allah.

Di dalam Alkitab Authorized Version (KJV), “Ghost,” tentu saja bermakna sama dengan kata Inggris “Spirit” yang digunakan di dalam versi-versi lain, yaitu “Napas.”

Ketika kita memahami properti pribadi Roh berupa keluarnya Dia sebagai Napas Allah, banyak perikop penting dari Kitab Suci menjadi memiliki makna baru. Kejadian 1:2 mengajarkan bahwa Roh Allah bergerak di atas massa ciptaan yang masih tidak berbentuk sebagai Napas Allah yang akan menata ciptaan sehingga menjadi kosmos di dalam Kejadian 1:31. Napas yang Allah embuskan ke dalam hidung Adam, menurut Kejadian 2:7, adalah Roh yang memberi kehidupan. Angin di dalam Yehezkiel 37 yang membuat tulang-tulang kering menjadi hidup adalah Roh sebagai Napas Allah yang melahirkan kembali. Beberapa kali Alkitab Authorized Version (KJV) secara tepat menerjemahkan kata Ibrani yang bermakna “Roh” sebagai “breath,” misalnya ayat “Behold, I will cause breath to enter into you” (TB = “Aku memberi napas hidup di dalammu”). Karena rujukannya adalah kepada Roh, kata itu seharusnya diberi huruf besar. Yohanes 20:22 adalah pratinjau yang luar biasa dan jelas dari Pentakosta: Yesus mengembusi para murid dan berkata, “Terimalah Roh Kudus,” yaitu Napas Kudus milik Allah. Di dalam terjemahan Authorized Version (KJV), 2 Timotius 3:16 mendeskripsikan asal-usul Kitab Suci sebagai “yang diilhamkan Allah.” Bahasa Yunani aslinya adalah “Dinapaskan oleh Allah” atau “Diembuskan oleh Allah”: “Seluruh Kitab Suci dinapaskan/diembuskan oleh Allah.” Maka Alkitab dideskripsikan sebagai produk—Firman—bukan dari para penulis manusiawi, tetapi dari Allah Roh Kudus. Sebagaimana kita menapaskan/mengembuskan keluar kata-kata kita, Allah menapaskan/mengembuskan keluar Firman-Nya, yaitu Kitab Suci.

Kita bisa menarik sejumlah implikasi dari identitas pribadi Roh sebagai Napas Allah, yang secara kekal keluar dari Bapa.

Pertama, Ia adalah Napas kehidupan baik di dalam penciptaan maupun di dalam keselamatan, Napas Allah yang memberi kehidupan. Ia adalah sumber ilahi dari semua kehidupan jasmaniah di dalam alam, entah tumbuhan, binatang, atau manusia. “Thy Spirit, O Lord, makes life to abound” (“Roh-Mu, ya Tuhan, menjadikan kehidupan berlimpah”), demikian kita nyanyikan di dalam salah satu versi nyanyian dari Mazmur 104.13

Khususnya Roh adalah sumber dan yang mengerjakan kehidupan spiritual dari keselamatan di dalam Yesus Kristus. Pada hari Minggu Pentakosta, seperti kiasan yang telah Ia berikan melalui tindakan simbolis-Nya yang tercatat di dalam Yohanes 20:22, Yesus mengembuskan Napas Allah pada seratus dua puluh orang yang percaya dan menciptakan Perjanjian Baru, bentuk gereja yang matang. Kapan pun bagi seorang yang percaya, entah di masa kanak-kanak sebagai anak pilihan dari orang yang percaya di dalam kovenan, atau sebagai seorang dewasa di ladang misi, setiap orang yang percaya dilahirkan kembali oleh pengembusan Allah akan napas-Nya ke dalam diri orang itu. Dan setiap orang yang percaya terus hidup dan percaya, karena Allah tidak pernah berhenti mengembuskan Napas-Nya, yaitu Roh, di dalam dirinya. Pada hari kebangkitan yang agung itu, Yesus akan mengembuskan Roh pada debu kita dan kita akan bangkit dari kubur kita di dalam tubuh yang diciptakan kembali.

Kedua, Roh adalah Napas atau Angin yang mahakuasa. Ia adalah Napas dari Allah yang Mahakuasa. Angin topan yang umum terjadi di wilayah barat-tengah Amerika Serikat, yang di hadapannya tidak ada yang bisa bertahan, adalah sebuah indikasi bumiah dari kuasa yang dahsyat, bahkan tidak dapat dilawan, dari Roh sebagai Napas atau Angin dari Allah. Secara tidak dapat dilawan, Roh menata segenap alam semesta yang luas. Secara tidak dapat dilawan, Roh mengumpulkan, memelihara, dan menyempurnakan gereja. Secara tidak dapat dilawan, Roh menyelamatkan setiap orang berdosa pilihan. Secara tidak dapat dilawan, Roh mengerjakan keajaiban terbesar, inkarnasi Anak Allah yang kekal. “Kuasa Allah Yang Mahatinggi,” yang adalah “Roh Kudus,” menaungi Maria (Luk. 1:35). Oleh karena itu, “bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk. 1:37).

Ketiga, sebagai Napas Allah, Roh bisa menembus ke dalam gereja dan ke dalam diri setiap orang yang percaya—ke dalam relung kita yang terdalam—untuk berdiam di dalam diri kita dan menyelamatkan kita. Maka adalah lebih berguna jika Yesus pergi dan Roh datang, seperti jaminan Yesus sendiri kepada para murid yang bersedih dan gentar di dalam Yohanes 16:7: “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.” Kita membutuhkan kehadiran dan persekutuan Yesus di dalam diri kita, bukan di samping kita di kursi, di bangku gereja, atau di ujung meja di dalam ruang konsistori. Dan hanya Roh, sebagai Napas (yang berpribadi) dari Yesus, yang bisa berdiam di dalam diri kita.

Keempat, ada sesuatu yang untuk selama-lamanya bersifat misterius tentang Roh dan pekerjaan-Nya—bergeraknya Dia, datang dan perginya Dia—entah di dalam ciptaan, di dalam gereja, atau di dalam diri orang Kristen individual. Kristus merujuk kepada aspek dari operasi-operasi ini ketika, dengan membandingkan pekerjaan Roh dalam melahirkan kembali dengan bertiupnya angin, Ia berkata, “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh” (Yoh. 3:8). Tidak ada keraguan tentang fakta kehadiran dan operasi-operasi-Nya yang menyelamatkan. Seperti angin, Ia meninggalkan bukti yang konklusif. Di dalam kasus Roh, buktinya adalah kehidupan spiritual, kepercayaan kepada Kitab Suci, penglihatan akan kerajaan Allah, iman kepada Kristus, kasih akan Allah, dukacita karena dosa, dan kekudusan kehidupan.

Juga, sebagaimana orang bisa memastikan bahwa ia mendengar suara angin, orang bisa mendengar suara Roh karena ia bergerak melalui Firman Allah yang dikhotbahkan, Firman yang memiliki Kristus Yesus yang disalibkan dan yang dibangkitkan sebagai isinya.

Meskipun demikian, jalan-jalan Roh itu dalam, ajaib, dan tidak terselami, entah itu adalah dikandungnya seorang anak di dalam rahim ibunya atau kelahiran kembali anak itu di dalam hatinya. Kita merasa takjub dan menyembah, ketika kita tidak dapat memahami secara tuntas.

     

“Dan Anak”

Roh, yang keluar dari Bapa, juga keluar dari Anak. Frasa, “dan Anak,” yang ditemukan di dalam teks Kredo Nicea yang diakui oleh gereja-gereja Protestan (“yang keluar dari Bapa dan Anak”), tidak ada di dalam kredo asli dari tahun 325 M itu. Frasa ini juga tidak ditambahkan oleh [Konsili] Constantinople pada tahun 381 M. Frasa ini ditambahkan pada Kredo Nicea/Constantinople pada tahun 589 M oleh gereja Barat, meskipun Augustine telah mengajarkan tentang keluarnya Roh dari Anak ini jauh lebih awal.

Penambahan pada Kredo Nicea oleh gereja Barat ini kontroversial baik pada saat itu maupun sekarang. Ini adalah penyebab doktrinal dari skisma di dalam gereja pada tahun 1054 M yang memisahkan gereja Barat dari gereja Timur (Gereja Ortodoks Timur). Doktrin tentang keluarnya Roh dari Anak memecah Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Katolik Roma. Gereja-gereja Lutheran dan Reformed mengakui penambahan pada Kredo Nicea ini. Karena kata-kata “dan Anak,” adalah satu kata Latin, filioque, kontroversi tentang keluarnya Roh dari Anak dikenal sebagai “kontroversi filioque.”

Kebenaran yang diungkapkan oleh kata Latin filioque ini adalah bahwa di dalam keberadaan Allah, Roh keluar bukan hanya dari Bapa tetapi juga dari Anak. Bukan hanya Pribadi Pertama yang menapaskan Pribadi Ketiga, tetapi juga Pribadi Kedua, Anak yang kekal. Meskipun demikian, ini bukanlah dua tindakan bernapas yang berbeda. Sebaliknya, kedua napas itu adalah satu aktivitas yang sempurna dan berlangsung secara kekal. Bapa dan Anak menapaskan Roh secara simultan, di dalam satu aktivitas bernapas yang rangkap dua, meskipun di dalam urutan Trinitas tindakan Bapa adalah yang pertama dan tindakan Anak adalah yang kedua. Di dalam satu aktivitas bernapas yang rangkap dua ini, Roh sendiri secara aktif keluar dari Bapa dan Anak.

Karena merupakan kesalahan jika memahami perihal dinapaskannya Roh oleh Bapa dan Anak sebagai dua tindakan berbeda yang terpisah (yang menghasilkan dua Roh yang berbeda, satu dari Bapa dan satu lagi dari Anak), jugalah salah jika memahami perihal dinapaskannya Roh oleh Bapa dan Anak hanya sebagai asal yang kekal dari Roh. Tentu saja memang inilah adanya hal ini, sebagaimana hal diperanakkannya Anak oleh Bapa adalah asal yang kekal dari Anak. Tetapi perihal dinapaskannya Roh oleh Bapa dan Anak bersifat sangat relasional: Bapa menapaskan Roh kepada Anak, dan Anak menapaskan Roh kepada Bapa. Dan di dalam satu aktivitas bernapas yang rangkap dua ini, Roh sendiri secara aktif keluar di dalam satu aktivitas rangkap dua yang sempurna dan berlangsung secara kekal, dari Bapa kepada Anak dan dari Anak kepada Bapa.

Gereja Ortodoks Timur selalu berkeberatan terhadap doktrin tentang filioque dengan alasan tidak adanya dasar Alkitab untuknya. Gereja ini memperhatikan bahwa Yohanes 15:26 menyatakan bahwa Roh keluar dari Bapa: “yang keluar dari Bapa.” Akan tetapi, teks tersebut juga mengatakan bahwa Yesus mengutus Sang Penghibur, yaitu Roh ini. Meskipun pengudusan ini sudah pasti merujuk kepada pengaruniaan Roh pada hari Pentakosta, Yesus tidak dapat mengutus Roh pada hari Pentakosta itu kecuali, sebagai Anak yang kekal, Ia “mengutus,” atau menapaskan, Roh secara kekal di dalam keberadaan Allah. Kebenaran theologis yang melandasi penegasan ini adalah bahwa aktivitas-aktivitas fundamental dari pribadi-pribadi ke-Allahan di dalam keselamatan menyatakan, dan didasarkan pada, aktivitas-aktivitas pribadi-pribadi di dalam keberadaan Allah ini. Sebagai contoh, diperanakkannya Anak sebagai manusia di dalam rahim sang perawan menyatakan dan didasarkan pada diperanakkannya Anak secara kekal di dalam ke-Allahan. Demikian pula, Roh keluar dari Yesus pada hari Minggu Pentakosta karena Roh secara kekal keluar dari Anak di dalam keberadaan Allah.

Hal ini sajalah yang bisa menjelaskan fakta bahwa Alkitab menyebut Roh sebagai “Roh Kristus,” di dalam konteks langsung yang menyebut Dia sebagai “Roh Allah” (Rm. 8:9), dan “Roh Anak-Nya” (Gal. 4:6), di mana yang menjadi perhatian di sini adalah pribadi Anak yang kekal (ay. 4: “Allah mengutus Anak-Nya”).

Bukti Alkitab yang konklusif dan eksplisit bahwa Roh juga keluar dari Anak adalah tindakan dan perkataan Yesus sendiri di dalam Yohanes 20:22: “Dan sesudah berkata demikian, Ia (yaitu Yesus) mengembusi mereka dan berkata: ‘Terimalah Roh Kudus.’” Keluarnya Roh, Sang Napas Allah, seperti yang dinyatakan oleh nama Roh, adalah perihal Yesus menapaskan Roh ini. Dan adalah Yesus, Anak Allah yang kekal di dalam tubuh manusia, yang menapaskan Roh ini, seperti yang Ia sendiri nyatakan melalui tindakan simbolis ini beserta perkataan yang menjelaskannya. Manusia Yesus tidak mungkin, dan tidak bisa, melakukan tindakan yang begitu berani dan bahkan bisa dipandang menghujat ini jika Ia bukan Anak yang kekal, yang secara kekal menapaskan Roh dari Napas-Nya sendiri.

       

Signifikansi Filioque

Tetapi apakah doktrin yang kontroversial ini, tentang keluarnya Roh dari Anak juga, memiliki signifikansi nyata apa pun bagi pengenalan gereja akan Allah dan bagi kehidupan orang-orang yang percaya dan anak-anak mereka?

Sudah jelas ya, dan, pertama, bagi pengenalan gereja akan kehidupan Allah Tritunggal, yang harus menjadi pola bagi kehidupan spiritual gereja dan anggota-anggotanya. Keluar dari Bapa kepada Anak dan dari Anak kepada Bapa, Roh adalah persekutuan Allah yang hidup dan pribadi. Allah adalah Allah yang hidup, bukan Allah yang sekadar eksis, dikarenakan persekutuan kasih di antara ketiga pribadi. Persekutuan di dalam kasih ini adalah Roh Kudus, yang keluar dari Bapa kepada Anak dan dari Anak kepada Bapa. Bapa menapaskan Roh kepada Anak sebagai kasih-Nya yang pribadi, dan Anak menapaskan Roh kepada Bapa sebagai kasih timbal-balik-Nya yang pribadi. Dalam menapaskan Roh kepada Anak, Bapa memberikan diri-Nya, sebagai pemberian pribadi, kepada Anak, dan Anak, dengan menapaskan Roh kepada Bapa, memberikan diri-Nya, sebagai pemberian pribadi, kepada Bapa. Oleh Roh, Bapa ada di dalam Anak, dan Anak ada di dalam Bapa, seperti yang Yesus ajarkan di dalam Yohanes 17:21: “sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau”—persekutuan yang mendalam, intim, penuh sukacita, tidak terselami secara tuntas (walaupun dapat dipahami) dari Allah Trinitas.

Kehidupan milik Allah sendiri ini adalah kehidupan spiritual yang asli, dan kehidupan ini Allah bagi dengan gereja pilihan-Nya, dan setiap anggota dari gereja pilihan secara pribadi, dengan membuat kovenan-Nya dengan gereja dan anggota-anggotanya di dalam Yesus Kristus melalui Roh. Kovenan ini secara esensial adalah persekutuan dengan Allah, yang adalah kehidupan yang kekal, kebaikan dan kebahagiaan tertinggi.

Rasul Yohanes yang sama yang di dalam Injilnya menulis tentang keluarnya Roh dari Bapa dan dinapaskannya Roh oleh Yesus Sang Anak, memberi tahu kita di dalam suratnya bahwa tujuan penyataan tentang Yesus Kristus adalah “supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus” (1Yoh. 1:3). Persekutuan ini kita miliki melalui Roh. Sungguh, Roh adalah persatuan dan persekutuan kita dengan Allah.14

Alasan kedua mengapa doktrin tentang keluarnya Roh dari Anak teramat penting adalah berkaitan dengan pekerjaan Roh di dalam gereja dan di dalam diri setiap anak Allah pilihan yang melaluinya Roh mengukuhkan, mempertahankan, dan menyempurnakan kovenan itu dan mengaruniakan manfaat-manfaat dari kovenan tersebut. Sebagai Roh yang keluar dari Anak, Roh ini datang kepada gereja dan kepada setiap anggotanya mewakili Anak, untuk memberikan kepada gereja apa yang telah Anak dapatkan baginya dengan ketaatan seumur hidup-Nya dan kematian-Nya yang mendamaikan, untuk membuat Anak dikenal dan memuliakan Anak. Ini adalah ajaran Yohanes 14–17: “Ia (yaitu Roh kebenaran) akan bersaksi tentang Aku (yaitu Yesus)” (15:16). Roh tidak beroperasi secara terpisah dari Yesus Krisus; Ia tidak memiliki misi atau tujuan tersendiri; Ia tidak menarik perhatian kepada diri-Nya sendiri, untuk memuliakan diri-Nya sendiri.

Karena Anak adalah Firman Allah, menurut Yohanes 1:1 dst., Roh menggenapi pekerjaan-Nya yang menyelamatkan dengan dan oleh Firman Allah: Kitab Suci, pengkhotbahan Kitab Suci, doktrin yang benar, pengakuan-pengakuan iman gereja.

Dengan demikian terungkaplah apa agama dari Ortodoks Timur dan gerakan Kharismatik itu. Keduanya memutus Roh dari Anak sebagai Firman Allah; keduanya memproklamasikan pekerjaan keselamatan oleh Roh yang terpisah dari pengkhotbahan doktrin yang benar, yang diterima oleh iman saja; dan keduanya menjadikan Roh pusat perhatian, alih-alih Yesus Kristus yang telah disalibkan dan telah dibangkitkan.

Oleh karena itu, bukti yang tidak mungkin salah dari sebuah gereja yang dipenuhi oleh Roh bukanlah gereja yang penuh dengan beragam teriakan, “Roh, Roh.” Sebaliknya, buktinya adalah bahwa gereja itu mengkhotbahkan Yesus Kristus dan Ia yang disalibkan. Demikian pula, tanda dari orang Kristen yang dipenuhi oleh Roh bukanlah orang yang dengan angkuhnya mempertontonkan kuasa-kuasa Roh yang luar biasa. Sebaliknya ia mengenal, memercayai, mengakui, dan menaati Yesus Kristus.

“Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi [tentang Aku]” (Yoh. 15:26–27)!

Untuk bahan-bahan lain dalam bahasa Indonesia, klik di sini.

________________________________________

1 Untuk sebuah deskripsi dan kritik tentang gerakan neo-Pentakosta atau Kharismatik, lihat David J. Engelsma, “Try the Spirits: A Reformed Look at Pentecos talism” (South Holland, IL: South Holland Protestant Reformed Evangelism Committee, 2001); David J. Engelsma, Wilbur Bruinsma, dan Charles Terpstra, “Pentecostalism: Spirit-Filled Blessing … or Dangerous Heresy?” (Holland, MI: Evangelism Committee of the First Protestant Reformed Church of Holland, 2001).
2 Kelemahan Kohlbrugge tampak jelas di dalam pertanyaan dan jawaban pembuka dari komentarnya (di dalam bahasa Jerman) atas bagian ketiga dari Katekismus Heidelberg: “Welches ist das dankbarste Geschopf Gottes? Der hund” (“Ciptaan Allah yang manakah yang paling tahu bersyukur? Anjing”) (H. F. Kohlbrugge, Erlauternde und Befestigende Fragen und Antworten zu dem Heidelberger Katechismus [Elberfeld: Len & Wiegandt, 1922], hlm. 151).
3 Proyek pengkhotbah “Kharismatik Reformed” itu tidak berhasil. Ia segera meninggalkan doktrin-doktrin Reformed yang pernah ia terima, dengan sarkastis menyatakan ingin membuang “buku-buku doktrin Reformed milik saya yang sudah mengumpulkan debu.” Ia memberi penghiburan kepada seorang anggota gereja yang sedang sekarat dengan memastikan kepadanya bahwa ia akan akan segera membangkitkan jemaat ini dari kematian. Ini ia coba lakukan dengan sebotol minyak suci, sampai pengurus rumah duka mengusirnya. Iman dan kehidupan Kharismatik persis berlawanan dengan iman dan kehidupan Reformed. Gereja-gereja dan umat yang mengaku Reformed dengan bodoh dan fasiknya menyambut atau menoleransi agama Kharismatik, iman dan kehidupan Kharismatik akan menghancurkan atau menyingkirkan iman dan kehidupan Reformed.
4 Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai “dari satu esensi” adalah homoousion.
5 Dikutip di dalam Jaroslav Pelikan, The Christian Tradition: A History of the Development of Doctrine, jld. 1, The Emergence of the Catholic Tradition (100-600) (Chicago, IL and London: University of Chicago Press, 1971), hlm. 213.
6 Dikutip di dalam ibid., hlm. 212.
7 Pengakuan Iman Belanda (Belgic Confession) 11.
8 Pengakuan Iman Westminster (Westminster Confession) 2:3.
9 Untuk sanggahan terhadap doktrin tentang anugerah umum Allah yang merupakan doktrin palsu, khususnya di dalam pengkhotbahan Injil, dan apologi mewakili anugerah yang berdaulat, lihat Herman Hanko dan David J. Engelsma, The Five Points of Calvinism (Grand Rapids, MI: British Reformed Fellowship, 2008).
10 Pengakuan Iman Belanda (Belgic Confession) 8.
11 Katekismus Besar Westminster (Westminster Larger Catechism), P. & J. 9, di dalam The Confession of Faith, the Larger Catechism, the Shorter Catechism, the Directory for Publick Worship, the Form of Presbyterial Church Government (Edinburgh and London: William Blackwood & Sons, 1969), hlm. 52.
12 Kata Ibraninya adalah ruach, misalnya, di dalam Kejadian 1:2 dan Yehezkiel 37:14; kata Yunaninya adalah pneuma, misalnya, di dalam Yohanes 14:26 dan Yohanes 20:22.
13 Psalter No. 287, stanza 1, di dalam The Psalter (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1988), hlm. 249. Nyanyian Mazmur ini melanjutkan, “The earth is renewed, and fruitful the ground.”
14 Untuk penjelasan yang lebih lengkap tentang Roh Kudus di dalam ke-Allahan sebagai persekutuan Bapa dan Anak dan implikasi- implikasi bagi gereja dan anggota-anggotanya, bahkan bagi seluruh ciptaan, lihat buku saya, Trinity and Covenant: God as Holy Family (Jenison, MI: Reformed Free Publishing Association, 2006).
Show Buttons
Hide Buttons